Powerfull Battery
Yesterday I also bought new batteries and charger for my Canon Speedlite. I chose Sanyo Eneloop AA batteries. It has been proved in quality & durability. My friend has compared Eneloop with other brand, you can read his review here. I’ve also used this brand on my pocket. Since 2008 until now, Eneloop batteries on my Nikon Coolpix L14 still perform excellent power.
My Canon Speedlite uses 4 AA batteries. So I bought 4 plus the big charger. Despite I’ve Eneloop charger, my old charger only has 2 compartment. So to charge 4 AA batteries, I must do it twice in a row
To avoid that, I choose the charger with 4 compartment like you see at the picture. The charger is fast when perform its jobs. Highly recommend gadget.
New Toys
Finally today I’ve 2 new toys. I’ve just bought two Canon accessories for my Canon EOS 1000D. They are Canon Lens 50mm f/1.8 II and Canon Speedlite 430EX II. I bought it from here : http://daldigital.blogspot.com. The site belongs to Mr Elyudien. I bought my Nikon Coolpix L14 last year also from him. Very good seller. He provides the delivery services. Just order the goods from him and he will deliver it to you…in Jakarta area for free. Mr Elyudien give the competitive prices. For the price and delivery service, Mr Elyudien is very recommended seller.
Ok back to my story about new toys, I think both of them are excellent. The 50mm lens is a standard lens for DSLR with cropping factor 1.6x like my EOS 1000D. Some people say 50mm lens is a portrait lens, very suitable for take human portrait. I like the maximum aperture of that lens, f/1.8 is wide enough to taking picture in low light (combined with high ISO as well). With big aperture, it’s possible to create the nice depth of field when taking portrait picture. In other words, I can isolate object and let the background be blurred. Canon 50mm is the cheapest Canon’s lens. It has fixed focal length, just 50mm. To get zoom in, simply just walk ahead close to the object ![]()
The second gadget I bought is Canon Speedlite 430EX II, it’s Canon’s mid range external flash. I’m very amazed with Speedlite’s capabilites. Although my Canon 1000D has built in flash, it cannot be compared with the external flash like 430EX. With external flash, I can bounce the light to the ceiling or to the wall. Using internal flash, I must satisfied with direct light into the object. Sometimes using internal flash will make the object too bright and has the shadow behind it. For example, if I want to take picture of my friend that sitting just 2 meters away from me. Suppose the room has not enought light for photographic purpose, in other words I must using internal flash. Using internal flash the light with directly strike to my friend’s face. The result will not good enough. Ken Rockwell give very nice example to compare the photo taken using internal flash and with external flash. With external flash, I can set the light to strike the reflector first before hit the object. With bouncing technique, the lighting will looks more natural. After tried my Speedlite this evening, I was realize what Ken Rockwell mentioned in his article, lighting is the most important technical aspect of any photograph.
Few weeks ago, I just want to buy 70-200mm lens. The big one, that can zoom over hundred metres. Lately after read some article, I changed my mind. Which one I need more, big zoom lens or a external light. For infrequent photographer (maybe not photographer…just photo enthusiast), when I can used the big zoom lens? It might be usefull if I use it at zoo or when go travelling. So I think it’s more usefull if I buy something that I can used in any situation. Any situation that I might attend, any situation that has more possibilty to happen
Should I bring 70-300mm lens just to take photo in dinner party? Absolutely not. Most of the occasion I attend was happen in indoor room. So spend the money to buy external flash is wisely than buy big zoom lens. But not wise enough compare to saving my money
But who’s care?
Ok, I’ll stop long story now. Thinking what to buy next…hmm….buy a battery grip? I don’t think so ![]()
Pidgin YM Login Problem Solved
Since last week, I’ve problem with my Pidgin. It couldn’t used for accessing Yahoo Messenger. From the several website, I knew that the problem located on Yahoo Messenger server. Yahoo change the authentication system for Yahoo Mesenger user. Many blogger also have same problem with me. For couple days, I was using Meebo to using Yahoo Messenger. Maybe you already know Meebo is web based IM client that can used for access several IM services (like MSN, YM, AOL, etc).
This evening, I’ve just tried to get rid my Pidgin’s problem. My friend at office give me update that Pidgin developer has release the update for resolve YM login problem. Open the Pidgin official website, I read the annoucement right on their website about YM problem. Pidgin version 2.5.7 has been released to resolve Yahoo Messenger problem…it just like the screenshot I attached on this post. Hmm glad to read that. I followed the instruction and it’s works like a charm. I’m be able to used Pidgin to open Yahoo Messenger again. I don’t know why Yahoo change the authentication method, too many security attack to YM servers? Just a simple guess
But the next question is why web based IM client like Meebo doesn’t get impact like Pidgin got. Meebo has update their system more quick than Pidgin? Again…another fool asumption ![]()
Update June 25th, 2009 :
seems that the new version of Pidgin cannot cooperate with pretty look notification system in Ubuntu Jaunty ![]()
Command to do that :
# sudo apt-key adv --recv-keys --keyserver keyserver.ubuntu.com 67265eb522bdd6b1c69e66ed7fb8bee0a1f196a8
# sudo -s
# echo "deb http://ppa.launchpad.net/pidgin-developers/ppa/ubuntu jaunty main" >> /etc/apt/sources.list
# apt-get update
# apt-get purge pidgin
# apt-get install pidgin
Warung Sate Pak Naryo
Siang ini saya menemukan warung sate yang enak di Bintaro. Enak tapi sayang jauh
Siang tadi saya pergi instalasi server di Gedung XL Bintaro. Pas jam makan siang saya pergi cari makan dengan rekan kantor. Putar-putar Bintaro saya lihat ada asap & tulisan Warung Sate Kambing “Tongseng” Pak Naryo. Namanya aneh, kata tongsengnya dibuat dalam huruf besar semua & ditulis dalam tanda kutip. Maksudnya nama warungnya itu “Tongseng” atau memag jualan tongseng. Langsung saya coba, bukan penasaran dengan namanya sih tapi memang ingin saja makan sate kambing. Masuk ke warung, di meja sudah ada daftar menu lengkap dengan harganya. Kaget juga lihat harganya…kok murah. Di Jakarta sate kambing yang enak harganya paling tidak Rp25.000,- seporsi. Seporsi sate kambing (10 tusuk) harganya cuma Rp15.000,- Sama halnya dengan sate hati kambingnya.
Waktu saya tanya ternyata sate kambing harga Rp15.000,- itu bukan daging semua, tapi campur lemak. Saya minta daging polos semua, pelayannya bilang harganya lain Pak. Saya pikir beda jauh, ternyata sate kambing tanpa lemaknya seporsi cuma Rp20.000,-. Saya langsung pesan 20 tusuk; 10 sate kambing daging polos dan 10 sate hati….maksudnya biar rekan saya juga bisa mencicipi. Rekan saya cuma pesan tongseng kambing. Proses bakarnya cukup lama, katanya sih kalau lama bakar satenya rasanya biasanya enak rasanya ![]()
Begitu datang satenya langsung saya coba satu. Hmm ternyata empuk dagingnya. Baru mulai makan beberapa sendok, saya pikir sate ini layak direkomendasikan. Berhenti makan sejenak, ambil kamera (masih kebiasaan lama ke mana-mana bawa kamera DSLR…eh salah…kamera saku maksudnya) foto dulu sebelum keburu habis satenya. Yah maklum saja kalau hasil fotonya jelek, yang penting terdokumentasi dan bisa dimuat di blog ![]()
Warung sate ini tidak cukup luas. Lebarnya hanya seukuran 3m, cukup untuk 2 meja ditaruh berjajar. Memanjang ke dalam hanya ada 4 deret meja. Tempat bakar satenya di luar dekat trotoar, sudah umum memang warung sate meletakkan tempat bakar satenya di depan. Tentu itu juga jadi iklan tidak langsung kan. Hmm kecuali mungkin Sate Senayan yang cukup elegan tidak mempertontonkan asap dan adegan bakar sate.
Ok balik lagi tentang warung sate di Bintaro tadi. Warung sate ini ada di Jalan Bintaro Utama Raya Sektor 3A No 41. Ada nomor teleponnya juga loh, 021-71521770. Siapa tahu anda sedang mencari kambing guling untuk pesta atau perlu kambing untuk aqikhah bayi Anda
Hehehe soalnya di bagian bawah bonnya ada tulisan itu : menerima pesanan bla bla bla. Ternyata warung sate ini cuma cabang saja. Pusatnya sendiri ada di Jalan Raya Serpong Km 8. Mungkin di sana lebih besar (lah memangnya pusat selalu lebih besar ya…ga juga sih
). Pak Naryo ini rupanya sudah punya 4 cabang, sayang semuanya seputaran BSD dan Bintaro.
Sayang hari ini instalasi terakhir di XL Bintaro. Kemungkinan balik lagi ke Bintaro jadi kecil, susah deh balik lagi makan di warung sate enak ini. Kecuali diniatkan makan sate ini naik taksi ke sana paling tidak Rp80.000,-; bolak balik berarti sudah Rp160.000,- …halah masa lebih mahal taksinya daripada satenya
Yah mudah-mudahan ada proyek lagi di XL Bintaro, jadi bisa sering-sering makan di sana. Rekomen sekali tempatnya, terutama untuk Anda pecinta sate kambing.
Pake BB
Kemarin ada rekan saya yang jarang bertemu mengirim pesan singkat lewat Yahoo Messenger. Isinya seperti ini :
“pake bb ya Pak? online terus…”
Waks???
bb? what the hell is that? Ah rupanya rekan saya itu mengira saya pakai BelekBeri sehingga bisa terlihat online terus. Halah-halah…saya mah belum kelas pakai belekberi. Kan bakal jomplang kelihatannya kalau saya makan di warteg bawa-bawa belekberi. Mungkin juga bisa memancing orang-orang di warteg mengernyitkan kening sambil mikir “pasti bb-nya boleh kridit”
Ga pantes juga naik ojek sambil utak-atik belekberi ![]()
Ada-ada saja teman saya itu, lucu juga pertanyaannya. Memangnya yang bisa online 24 jam cuma yang pake bb ya. Lah saya kan cuma modal laptop & Speedy di kamar. Anytime laptop saya ketemu akses internet, YM saya pasti nyala tuh.
Ibu Prita VS Manohara
Dari minggu lalu saya baru tahu tentang kasus yang menimpa Ibu Prita Mulyasari. Curhatnya lewat media internet soal pelayanan yang buruk di rumah sakit Omni Internasional berbuntut panjang. Dia terpaksa ditahan pihak berwajib karena pihak rumah sakit menuntutnya dan menjeratnya dengan pasal pencemaran nama baik UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik). Halah saya benar-benar kaget membaca berita soal Ibu Prita ini. Kasihan sekali rasanya, mungkin seperti sudah jatuh tertimpa tangga, tangganya digilas kuda, kudanya hamil kembar dua belas.Berita lengkapna Anda bisa membacanya di Surat Pembaca Detik.com. Saya pun dulu pertama kali tahu kasus ini karena membaca berita di Detik.com itu. Tak menyangka belakangan banyak dibahas kalau Ibu Prita itu malah diadukan ke pengadilan oleh pihak rumah sakit. Dan lebih kaget lagi setelah tahu kalau Ibu Prita ditahan pihak berwajib selama proses pemeriksaan.
Hmm pasal pencemaran nama baik memang multiinterprestasi. Banyak sekali celah yang bisa dijadikan cara untuk menjegal lawan/pihak yang berseberangan. Kasus yang menimpa Ibu Prita itu benar suatu bukti bahwa menjegal orang lain dengan pasal pencemaran nama baik UU ITE bisa dilakukan terlepas dari fakta & latar belakang siapa yang benar dan siapa yang salah. Jangan-jangan tulisan-tulisan saya seperti misalnya review hotel bisa bernasib sama
Siap-siap balik lagi ke era serba tutup mulut kalau begitu. Kemarin saya juga sempat melihat banyak blogger-blogger terkenal di Indonesia sudah menuliskan keprihatinan mereka soal Ibu Prita. Sampai-sampai ada yang membuat situs khusus untuk menggalang keprihatinan dan protes keras atas tindakan ketidakadilan yang dialami oleh Ibu Prita, situsnya adalah http://ibuprita.suatuhari.com. Saya juga sudah ikut pasang banner-nya di blog ini : Selamatkan Ibu Prita Mulyasari.
Tapi herannya sepanjang pengamatan saya, di televisi jarang ada berita soal Ibu Prita ini. Entah saya yang kurang nonton TV atau memang benar tidak ada. Minggu ini saja, televisi sibuk beramai-ramai membahas yang namanya Manohara. Kasus ini sepertinya lebih menjadi favorit. Entah mana yang lebih penting, tapi menurut saya pribadi kasus Ibu Prita ini sungguh lebih pantas di-blow up ke masyrakat luas daripada kasusnya Manohara. Media memilih yang lain, kasus Manohara benar-benar jadi idola di hampir semua media massa. Lihat saja hampir semua stasiun televisi baik acara berita maupun entertainmen memberitakan model satu itu.
Saya pribadi malah tidak punya rasa simpati apa-apa dengan kasusnya Manohara, jauh berbeda dengan rasa simpati saya dengan kasusnya Ibu Prita. Sejatinya kasus Manohara dalam benak saya hanya kasus kekerasan dalam rumah tangga. Kebetulan terjadi di luar Indonesia sehingga proses perlindungan hukum sedikit tersendat. Lebih itu tidak. Perjuangan ibunya Manohara pun tidak menarik simpati saya. Kalau ABG bilang “lebay”, berlebihan lah… Ibunya mendadak jadi selebritis. Wajahnya muncul terus di televisi, sampai bosan dilihat. Disambut oleh Laskar Merah Putih di bandara Soekarno Hatta, Manohara disambut bak pahlawan negara…geli saya melihatnya. Diberi topi dan rompi loreng-loreng (mungkin pakaian kebesaran Laskar tsb)…lebay kan? Ya suka-suka mereka sih bagaimana mengadakan penyambutan. Tapi di situ memang ironisnya…saya melihat keberpihakan media pada berita yang bakal menyedot rating tinggi. Salah? Tidak juga sih, namanya juga media tentu ingin bisa menampilkan siaran yang menarik banyak pemirsanya. Sepertinya masih banyak kasus kekerasan yang menimpa warga Indonesia tapi kalah populer dengan Manohara. Berapa banyak TKI yang mendapat kekerasan di luar negeri, belum lagi kasusnya David mahasiswa asal Indonesia yang terbunuh di Singapura…sepertinya masih kalah dengan kisahnya Manohara.
Ironis….banyak yang ironis. Yang sakit & dirugikan malah ditangkap, yang bermasalah dengan rumah tangganya malah disiarkan seheboh itu.
Update 25 Juni 2009 :
Hari ini Ibu Prita dinyatakan bebas oleh Pengadilan Negri Tangerang. Semua biaya pengadilan ditanggung negara. Saatnya menghapus banner “Bebaskan Ibu Prita Mulyasari” dari blog saya.
Soal Potong Kuku
Dari kecil salah satu hal yang saya benci adalah soal potong kuku. Rasanya malas sekali potong kuku. Setelah potong kuku, ujung jari terasa tidak enak…gatal dan sedikit perih. Mungkin cara potong kuku yang salah, pokoknya dulu saya malas sekali potong kuku. Katanya guru-guru sekolah sering memeriksa kuku, tapi jaman saya sekolah dulu tidak ada pemeriksaan kuku loh. Entah sekarang bagaimana, apakah masih ada budaya memeriksa kuku oleh ibu guru di sekolah dasar. Jadi dulu saya potong kuku kalau orang tua saya sudah ribut soal kuku yang panjang dan kotor.
Sekarang saya punya “alarm” sendiri tentang kapan harus potong kuku. Kalau kuku saya sudah mulai memanjang, kegiatan mengetik di keyboard jadi terganggu. Saat itulah saya harus segera potong kuku. Kecepatan mengetik jadi terganggu kalau kuku mulai panjang. Ada kalanya kuku yang panjang nyangkut di sela tombol-tombol keyboard. Kecepatan mengetik jelas menurun karena yang sering menyentuh tombol keyboard bukan ujung jari melainkan ujung kuku. Ah sudah saatnya potong kuku kalau sudah begitu. Apalagi kalau mengetik di keyboard-nya Lenovo Ideapad yang kecil itu. Rasanya enak sekali mengetik di keyboard setelah potong kuku
Biarpun sedikit sakit setelah potong kuku, tapi namanya kebutuhan ya mau gimana lagi. Hal yang sama seperti ini kemungkinan besar juga dialami oleh pemain gitar. Cuma mungkin pemain gitar hanya kuku-kuku di salah satu tangannya saja yang bisa jadi alarm. Alangkah susahnya bermain gitar dengan kuku panjang, pasti sulit menekan string dengan kuku panjang.
Mungkin kegiatan potong kuku ini memang butuh treatment khusus. Sampai-sampai ada perawatan manicure padicure. Sering dengar istilah ini tapi saya baru tahu (baru saja setelah buka Wikipedia
) bedanya manicure dan pedicure. Di Wikipedia dijelaskan kalau manicure adalah kegiatan kosmetik untuk perawatan tangan dan kuku. Sementara pedicure adalah perawatan semacam manicure hanya saja objeknya adalah kaki dan kuku-kuku kaki. Keduanya sama-sama berasal dari bahasa Latin. Manicure berasal dari kata manus (yang artinya tangan) dan cura (yang artinya perawatan). Pedicure berasal dari kata pedis (kaki) dan cura. Entah apakah perawatan semacam ini hanya untuk wanita saja. Ada gak ya laki-laki yang pergi mencari perawatan manicure/padicure di salon?
Kalau saya sih yang penting dapat gunting kuku habis perkara
.
SMS Iklan
Belakangan saya sering sekali menerima pesan singkat dari Telkomsel tentang penawaran Iphone (produknya Apple). Hampir setiap hari ada saja SMS iklan ini. Mungkin Telkomsel sedang gencar-gencarnya memasarkan Iphone. Apa saya dianggap potential buyer oleh Telkomsel, sampai-sampai saya dikirimi SMS ini terus menerus. Kalau saya pikir-pikir ngeledek juga kalau terus menerus terima penawaran Iphone ini. Gaji cukup makan di Warteg saja kok ditawari beli Iphone sekian juta rupiah….ngeledek kan namanya
Tidak masalah tapi cukup menyebalkan. Orang bule bilang “annoying“. Apalagi saat mood sedang jelek seperti sore ini.
Sebenarnya sudah dari minggu lalu saya merasa cukup terganggu dengan SMS ini. Tadi baru saja saya terima lagi SMS yang sama seperti yang ada di foto ini. Langsung saya telepon 111 customer service-nya Telkomsel. Saya komplain tentang SMS tersebut. Saya minta diblok saja SMS iklan semacam itu. Saya disuruh menunggu sekitar 4 menit setelah saya ceritakan komplain saya itu. Entah apa yang dilakukan si Mbak customer service itu. Mungkin dia menanyakan prosedur untuk melayani laporan pelanggan ini. Saya tidak tahu apa banyak juga di antara Anda yang kesal tiap kali menerima SMS iklan semacam itu. Setelah disuruh menunggu lama akhirnya si Mbak terdengar lagi suaranya, katanya laporan saya akan diproses 3×24 jam di hari kerja. Si Mbak lalu bilang dengan permintaan seperti ini saya tidak akan dikirimi lagi SMS pemberitahuan tentang even-evennya Telkomsel. Langsung saya jawab : “ya tidak apa, lama-lama nyebelin juga terima SMS macam itu”.
Ada lagi yang serupa, beberapa minggu belakangan saya sering menerima SMS promo dari QBilliard. Yang diskon sekian persen atau pemberitahuan tentang even apalah. QBilliard adalah salah satu tempat biliar (yang muahal) yang ada di EX Plasa Indonesia dan di Senayan City. Tapi kalau yang ini saya sendiri tidak bisa komplain. Ini salah saya sendiri karena memberikan nomor telepon saya pada QBilliard saat main di QBilliard Senayan City tahun lalu. Ceritanya mereka mungkin ingin menjalin keakraban dengan pelanggannya, menanyakan & mencatat nama serta nomor telepon saya. Yah apa boleh buat, terima saja lah iklan-iklan yang dikirimkan itu. Sepertinya masih ada lagi SMS iklan yang pernah mampir ke ponsel saya. Tapi saya lupa siapa pengirimnya, yang saya ingat iklan tentang nonton bareng F1. Seingat saya pula kartu Halo itu jarang ada SMS macam itu, entah mengapa belakangan jadi muncul SMS seperti itu. Kalau kartu prabayar seperti Flexi saya itu masih saya maklumi. Yah namanya juga kartu pra bayar. Telkom Flexi juga sering sekali mengirimkan SMS iklan. Yang sering saya terima adalah SMS tentang undian. Biasanya SMSnya diawali dengan kata-kata “Dapatkan Innova, Yamaha Mio…bla..bla..bla…segera ketik REG…kirim ke…” Gubrak….ternyata ajakan ikut undian.
Dari sisi hubungan customer dan provider, mungkin salah satu cara menjaga hubungan adalah dengan cara memberitakan even semacam itu. Tapi bagaimana ceritanya kalau yang menerima SMS adalah orang seperti saya? Saat sibuk-sibuknya kerja ada SMS masuk, saya pikir SMS penting…eh ternyata cuma iklan (ah tapi masa iya ada orang sibuk sampai baca SMS saja tidak sempat
). Apalagi yang menyebalkan saat tidur ada SMS masuk, begitu dibaca hanya iklan
Teman saya sempat menyarankan matikan saja henpon-mu kalau tidak mau tidurnya terganggu. Tapi saya kok tidak “tega” mematikan ponsel saat ingin tidur. Ponsel menurut saya memang perangkat yang handal, buktinya dari sejak dibeli jarang sekali saya matikan. Kalau dihitung-hitung ponsel saya itu saya matikan kalau naik pesawat saja (dan kalau di tengah jalan kehabisan batere). Nah loh kok jadi ngomongin handphone?? ![]()
Betahkah Saya Di Jakarta
Ada pertanyaan kemarin dari salah seorang teman saya : betahkah kamu tinggal di Jakarta? Jakarta kan macet & panas. Kemarin saya jawab ini tuntutan kerja. Kalau saja di Bandung ada perusahaan yang mau menggaji saya sama seperti yang saya terima sekarang, mungkin saya akan pilih kerja di Bandung. Sampai saat ini menurut saya Bandung “the best” lah untuk tinggal, untuk cari kerja sepertinya Jakarta masih lebih baik. Memang kalau dihitung-hitung mungkin ujung-ujungnya sama saja, biaya hidup di Jakarta kan pasti lebih besar daripada Bandung.
Seorang sepupu saya ada juga yang urung kerja di Jakarta setelah melihat (dan merasakan sendiri) bagaimana macet dan “semrawut”-nya Ibukota. Dia dari lahir sampai SMA tinggal di Semarang, melanjutkan perguruan tinggi di Salatiga. Ketika lulus dan dalam tahap mencari kerja, ada salah satu perusahaan yang mengundangnya interview di Jakarta. Tinggallah dia beberapa hari di rumah kakaknya di Jakarta. Sambil interview dan mencoba mengenal Jakarta. Ah rupanya dia malah takut dengan keramaian Jakarta. Interviewnya gagal, dan dia pun memutuskan pulang lagi ke Semarang. Sekarang dia kerja di kota Kudus. Oh ya saya lupa menyebutkan kalau saudara sepupu saya tadi itu laki-laki loh ![]()
Minggu lalu rekan saya juga cerita hal yang sama. Katanya temannya memilih pulang ke Medan, gak tahan kerja di Jakarta. Temannya memilih lebih baik digaji lebih rendah daripada tinggal di Jakarta dengan gaji yang lebih besar. Sebegitukah tidak enak kah tinggal di Jakarta. Ah mungkin uangnya sudah banyak, digaji kecil pun tidak jadi masalah. Nah saya kan butuh masa kesempatan bagus ditinggalkan
Salah seorang kenalan saya pun demikian, baru dipanggil interview ke Jakarta saja sudah pusing 7 keliling. Kalau yang ini masih bisa dimaklumi, anak perempuan satu-satunya….wajar kalau sedikit takut dan grogi pergi ke Jakarta. Saya dengar sampai diantar bapaknya ke Jakarta. Terakhir saya dengar dia pilih kerja di Bandung.
Dulu saat masa akhir kuliah, saya pun tidak berpikir kerja di Bandung. Pikiran saya satu, kerja di Jakarta bagaimana pun caranya….mental karyawan kali ya
Bersyukur pula sebulan setelah lulus, saya sudah dapat kerja di Jakarta. Waktu itu September 2006 saya pertama kali kerja dan menetap di Jakarta. Untungnya saya bisa beradaptasi dengan segala kesemrawutan Jakarta. Macetnya lah, panasnya lah. Lalu apa hubungannya denganfoto di atas? Sebenarnya tidak ada hubungannya…tadi saya bingung cari foto ilustrasi untuk tulisan ini
Buka buka folder foto, sepertinya yang paling nyambung foto “pantat” Metromini itu. Paling tidak itu yang bisa mewakili ruwetnya jalanan Jakarta. Anda yang ke mana-mana naik motor, pasti sudah kenyang dengan semburan asap knalpot Metromini. Anda yang kemana-mana naik mobil, mungkin juga sering dipotong jalannya oleh Metromini. Paling tidak sudah pernah macet tepat di belakang Metromini.
Jadi kalau ditanya betahkah saya di Jakarta, saya akan bilang : betah. Tapi untuk masalah tempat tinggal saya lebih memilih Bandung. Cirebon, kota kelahiran saya sendiri, saya malah taruh di urutan 3. Cirebon terlalu panas, Jakarta bosan dengan macetnya. Jadi betahnya saya mungkin cuma karena di Jakartalah saya dapat pekerjaan dengan gaji yang saya ingini.
**Sepertinya ada yang aneh dengan tulisan saya kali ini…tapi apa ya?
**
See, Imagine, and Shoot
In my head, photography concept is just simple concept like this : SEE, IMAGINE, & SHOOT. You see something interesting, you imagine how good is that in the frame, and finally you shoot it. Don’t believe my concept, I’m not photography expert…just ordinary people who like to capture & documented everything.
The model in the picture above is a middle age man on Mekarsari Tourism Park. I saw him yesterday on flying fox arena, he was walking around bring his camera like I did. There is something interesting about him, I take his picture in candid mode
(if you see this post, sorry to publish your photo Sir…but your expression was good to be captured).





