Tedy Dengan 1 “D” dan 1″Y”

Di banyak kesempatan saya melihat orang salah menuliskan nama saya. Yang cukup sering terjadi adalah kesalahan menuliskan “tedy” menjadi “teddy” (salah satu contohnya ini 😀 ). Ini belum seberapa, yang paling parah adalah kalau orang menuliskan nama saya menjadi “tedi”. Di salah satu milis yang saya ikuti pun, banyak orang yang menyebut (menulis) nama saya menjadi “teddy”. Ini lucu, karena mereka tahu alamat email saya. Di alamat email saya jelas mengandung kata “tedy” kok mereka bisa juga salah. Pernah juga saya mendaftar sebuah acara dan diminta mengisi formulir pendaftaran. Saya isi dengan benar nama saya di formulir tersebut. Tapi eh ternyata setelah daftar peserta keluar nama saya ditulis “teddy”. Biasanya saya berseloroh kalau “tedy” yang “d”nya dua itu “teddy bear” =))

Saya termasuk orang yang memperhatikan betul masalah penulisan nama seseorang. Misalnya ketika bertukar nomor handphone dan akan menyimpannya ke dalam memori, sekiranya nama orang tsb memiliki beberapa kemungkinan penulisan saya pasti akan konfirmasi dulu sebelumnya. Contoh nama yaang punya beberapa kemungkinan penulisan :

  • Nama yang diakhiri dengan bunyi “i” misalnya : “budi”, “rudi”, “joni”. Saya pasti bertanya, pakai “i” atau pakai “y”. Karena mungkin saja penulisan namanya bukan seperti itu tapi seperti ini : “budy”, “rudy”, “jony”.
  • Nama yang mengandung bunyi “h” di tengah-tengah; misalnya : “ahmad”, “rahmat”. Dua contoh nama tersebut punya banyak variasi penulisan; misalnya ditulis seperti ini : “akhmad”, “rakhmat”, “rachmad”.
  • Nama yang diawali suku kata “su”; mislanya “sugi, sumaryadi”, “sutrisno”. Ini penting jangan-jangan yang bersangkutan masih menggunakan ejaan lama : “soegi”, “soemaryadi”, “soetrisno”.

Di antara contoh-contoh di atas, yang paling sering terjadi adalah penulisan nama dengan akhiran “i” atau “y”. Ini yang paling banyak terjadi, karena mungkin banyak nama orang yang diakhiri dengan bunyi “i”. Jadi menurut saya, hal yang mungkin bagi banyak orang dianggap sepele ini adalah suatu hal yang penting. Bahkan menurut saya, menuliskan nama orang dengan benar adalah bentuk penghargaan kepada orang tersebut.

UPDATE : nama belakang saya juga susah untuk ditulis dengan benar oleh orang lain. Makanya kalau ada yang menanyakan nama lengkap saya saya selalu bilang : ” Tedy Tirtawidjaja, pake 1 d, pake y, widjajanya pake ejaan lama dja-ja” 😀

33 thoughts on “Tedy Dengan 1 “D” dan 1″Y”

  1. he.he. jadi inget ‘tata cara penulisan EYD’ pas skripsi. Yang mana kata serapan, kata asing dan kata asli dlm Indonesia. Lha kalo nama anda masuk yg mana. Mungkin ‘tedi’ = kata asli dlm Ind, ‘teddy’ = kata asing, ‘tedy’= kata serapan. Ha.ha..

  2. @ udienz : bau atau baru nih? =)) iya donk udah gak under construction lagi.

    @ jesie : ntar kalau punya anak kasih namanya jangan ribet-ribet, kasian orang ntar salah sebut terus 😀

  3. Saya juga… Rudolph jadi Rudolf. padahal khan ada email saya… jelas2 email saya schneider_kreuznach. gak ada sama2nya khan???

  4. @ Allan : nama anda juga pake 2 L apa gak pernah ada orang salah tulis tuh? 😀 Salah orang tua donk…kan yang kasih nama orang tua saya bukan saya yang mau begitu. Orang Indonesia sendiri yang pake nama Indonesia juga sering bingung nulisnya…U ditulis OE, semacam itu lah

  5. Klo org salah wkt nulis nama qt mgkn tu dh bysa..
    Klo penglmanq ni..
    Namaq kn LISTINA.
    Gampang bgt kn bacany..Tp,msh adaaa aja yg keliru bc jd LISTIANA..Pdhl,LISTINA n LISTIANA bedanya jauh bgt.Kbngeten bgt kn klo smpe salah..

  6. “Ini belum seberapa, yang paling parah adalah kalau orang menuliskan nama saya menjadi “tedi”
    INI KUTIPAN ASLI PAK TEDI SAYA BACA JADI KETAWA, GELI, KALO ANDA AHLI BAHASA MUSTINYA NGERTI DOOOOOOONG, DALAM BAHASA INDONESIA HURUF “Y” DAIBACA “YE” (ITU KONSONAN)BUKAN VOKAL MENJADI BUNYI “I” , KALAU ORANG MENULIS NAMA ANDA “TEDI” ITUYANG BENER PAK!!!!! KECUALI ANDA WARGANEGARA USA,UK,ATAU AUSTRALIA. KALAU ANDA LEBIH BANGGA PAKAI (TEDY ) BUKAN TEDI ALANGKAH NAIFNYA ANDA? SAYA TAHU ANDA HANYA SOK KEBARAT BARATAN TAPI TIDAK PAHAM AKAN BAHASA. TERUS DIMANA RASA NASIONALIS ANDA? OK KALAU BAHASA INGGRIS ITU BETUL TAPI ANDA ORANG INDONESIA.SAYA SARANKAN BAPAK LEBIH BAYAK BELAJAR, ATAU SEKOLAH LAGI. MAAF KALAU KUPING ANDA MERAH

  7. TERUS SAYA TANYA SAMA PAK TEDI, SEJAK KAPAN HURUF “Y” BERUBAH BUNYI MENJADI “I’ DALAM BAHASA INDONESIA??????????? KALAU ADA TUNJUKAN REFERESINYA, DAN MULAI KAPAN HURUF “Y” KONSONAN BERUBAH MENJADI VOKAL “I”? KALAU ADA TUNJUKAN REFERESINYA.
    JANGAN MARAH INI KRITIK MEMBANGUN OK! INGET KALAU KRITIK BAGUS NAMANYA PUJIAN OK

  8. TIDAK SEWOT BAPAK….SAYA RESPEK SAMA BLOG BAPAK SEMATA MATA UNTUK MEMACU BAPAK MENULIS YANG LEBIH BAGUS LAGI DAN TELITI. SALAM KENAL SAYA TUNGGU TULISAN BEKUTNYA. PAK JAWABYA JANGAN KAYA ANAK ANAK GITU DONG OK

  9. @ SAIJO : Anda juga harus memperhatikan soal penulisan nama. Apa yang tertulis di akta lahir kan sudah pasti hukumnya. Yang saya permasalahkan dalam postingan saya di atas adalah bagaimana orang kurang menghargai nama orang lain. Aneh juga kalau Anda “menuduh” saya kebarat-baratan, lebih2 sampai mempertanyakan nasionalisme saya. Saya bangga berbahasa Indonesia loh. Dari tadi saya pikir Anda sewot, karena belum apa-apa sudah menuduh yang bukan-bukan. Kalau mengikuti teori Anda maka ribuan (atau mungkin jutaan) orang dengan nama berakhiran Y harus berbondong-bondong ganti akte lahir untuk mengupdatenya jadi berakhiran I. Kalau Anda minta saya tunjukan referensi soal pemakaian huruf Y, sebaiknya Anda saja yang tunjukan referensi mana yang menyebutkan aturan penulisan nama orang. Setahu saya nama ada sesuatu yang privat, hak prerogratif si empunya nama (atau mungkin tepatnya hak si pemberi nama). Ok salam kenal….saya agak kurang respek saja Anda menulis komentar dalam huruf besar semua. Sudah jadi konsensus umum (banyak orang menyebut netiket – etika berinternet) kalau menulis sesuatu dalam huruf besar semua seperti yang Anda lakukan itu seolah2 Anda teriak-teriak.

  10. mohon maaf yang sebesar besarya kalau masalah huruf besar saya terus terang sama sekali tidak tahu,tiap orang punya persepsi yang berbeda, tapi percayalah itu hanya cara (trik) saya saja untuk memancing komentar dari empunya blog,kalau komentanya biasa2 saja ngga seru kan?.coba kalau tidak ada komentar sepi kan pak Tedi? (kalau tadi aku pakai huruf besar jujur saya tidak ada maksud negatif sama sekali) kalau masalah nasionalisme itu tadi mohon maaf juga, tapi intinya saya begaul dengan siapapun tidak pandang suku,agama,dan ras (boleh percaya boleh tidak). ok lah kita ambil hikmahnya saja komentah bodoh dan konyol tadi untuk menjadikan kita lebih dewasa dan beretika. pesan saya
    ” Cintailah Musuhmu,karena musuhmu akan meberitahukan (menelanjangi) kelemahan kamu” saya tidak meragukan anda untuk menterjemahkan kalimat diatas.
    Jangan diartikan musuh PENTUNG PENTUNGAN loh…. he..he…he to be conti…

  11. Sebelumya saya hormati nama Anda Tedy itu hak sepenuhnya anda. Saya hanya mengkaji dari sisi edukatifnya secara ilmiah.
    Ejaan yang Disempurnakan
    Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik. Pada 23 Mei 1972, sebuah pernyataan bersama telah ditandatangani oleh Menteri Pelajaran Malaysia pada masa itu, Tun Hussien Onn dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Mashuri. Pernyataan bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan Ejaan Yang Disempurnakan. Pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden No. 57, Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin (Rumi dalam istilah bahasa Melayu Malaysia) bagi bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Di Malaysia ejaan baru bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB). Selanjutnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarluaskan buku panduan pemakaian berjudul “Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”.
    Pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan buku “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah”. Perbedaan-perbedaan antara EYD dan ejaan sebelumnya adalah:

    1. ‘tj’ menjadi ‘c’ : tjutji → cuci
    2. ‘dj’ menjadi ‘j’ : djarak → jarak
    3. ‘j’ menjadi ‘y’ : sajang → sayang
    4. ‘nj’ menjadi ‘ny’ : njamuk → nyamuk
    5. ’sj’ menjadi ’sy’ : sjarat → syarat
    7. ‘ch’ menjadi ‘kh’ : achir → akhir
    Saijo : dari keterangan diatas sudah sangat jelas lihat No.3 dulunya . ‘j’ menjadi ‘y’
    Jadi huruf (Y) = Ye itu konsonan bukan vokal “ I ”
    Kalau nama anda (Tedy) bacanya = Tedye yang bener tulisanya itu “Tedi”(bahasa Ind)
    Kalau toh anda mengacu pada bhs Inggris itu pun salah yang bener = Teddy no Tedy
    Kalau anda mengacu dan berlindung itu hak saya, Ya sudah titik.
    Saya analogikan SBY = esbeye apakah anda pernah dengar orang bilang -esbei ?
    Kalo anda balikin lagi ke saya apakah saijo pernah denger orang panggil Tedye?
    Saya jawab tidak pernah, tapi saya dengar bunyinya Tedi.

    Masing masing bahasa punya karakternya sediri2 jadi tidak bisa dicampur2.
    Bhs inggris dan bahasa indonesia punya huruf yang sama tapi bunyinya berbeda.
    Bhs Mandarin satu suku kata bisa lima bunyi lima arti.
    Bhs Korea tiap bunyi punya lambang huruf sendiri walau bedanya tipis, tapi kalau lafalya salah bisa berakibat fatal.

    Kalau tadi yang anda tanyakan referensi secara spesifik untuk nama orang dan benda lainya (anda bisa bayangkan)peraturannya terlanlu panjang dan rumit, kan kepres no.57 tahun 1972 mengatur sistem penulisan untuk ejaan latin untuk bahasa Indonesia secara jelas termasuk nama orang, hewan, dan segala sesuatu yang yang ada di Indonesia. jadi sudah inkud.

    Kalau tadi anda berlindung dengan kata : “Apa yang tertulis di akta lahir kan sudah pasti hukumnya” itu betul 100% saya dukung.
    Tapi menurut saya hukum yang mengesahkan tulisan yang salah, kaprah terus menjadi sesuatu yang biasa.
    Kemungkinanya:
    1.Pegawai catatan sipil yang tidak memahami EYD ? tidak peduli? (sdm nya)
    2.Orang tua kita yang kurang paham ?
    3.Orang tua kita yang paham tapi mungkin dianggap kurang keren? Misalnya :
    Roni kurang keren menjadi Ronny
    Dedi kurang keren menjadi Deddy
    Kalau dobel konsonan menjadi satu referensinya ada dibawah.
    Kalau Y bunyi i (u/asing ) Indonesia menjadi( i) bukan (y) referensinya ada dibawah.

    Seluruh bahasa yang ada didunia pasti ada serapan dari bahasa lain, makanya ada
    Bahasa Serapan
    Bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah di Indonesia maupun dari bahasa asing seperti Inggris, Belanda, Arab, dan Sanskerta. Unsur pinjaman tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar: unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap, serta unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.

    “Dibawah ini referesi yang saya kutip hanya yang behubungan dengan topik kita
    Penyesuaian ejaan
    a. Tanpa perubahan
    y, jika lafalnya y. Contoh: yen → yen.

    b. Dengan perubahan

    aa (Belanda) → a. Contoh: octaaf → oktaf.
    ae → e, jika bervariasi dengan e. Contoh: haemoglobin → hemoglobin.
    c → k, jika di muka a, u, o, dan konsonan. Contoh: crystal → kristal.
    c → s, jika di muka e, i, oe, dan y. Contoh: cylinder → silinder.
    cc → k, jika di muka o, u, dan konsonan. Contoh: accumulation → akumulasi.
    cc → ks, jika di muka e dan i. Contoh: accent → aksen.
    ch dan cch → k, jika di muka a, o, dan konsonan. Contoh: saccharin → sakarin.
    ch → s, jika lafalnya s atau sy. Contoh: machine → mesin.
    ch → c, jika lafalnya c. Contoh: check → cek.
    ç[1] (Sansekerta) → s. Contoh: çāstra → sastra.
    ee (Belanda) → e. Contoh: systeem → sistem.
    gh → g. Contoh: sorghum → sorgum.
    gue → ge
    ie (Belanda) → i, jika lafalnya i. Contoh: politiek → politik.
    oe (oi Yunani) → e
    oo (Belanda) → o. Contoh: komfoor → kompor.
    oo (Inggris) → u. Contoh: cartoon → kartun.
    oo (vokal ganda) tetap. Contoh: zoology → zoologi.
    ph → f. Contoh: phase → fase.
    q → k
    rh → r. Contoh: rhetoric → retorika.
    sc → sk, jika di muka a, o, u, dan konsonan. Contoh: scriptie → skripsi.
    sc → s, jika di muka e, i, dan y. Contoh: scenography → senografi.
    sch → sk, jika di muka vokal. Contoh: schema → skema.
    t → s, jika di muka i. Contoh: ratio → rasio.
    th → t. Contoh: methode → metode.
    uu → u. Contoh: vacuum → vakum.
    v (Sanskerta) → w atau v
    x → ks, jika tidak di awal kata. Contoh: exception → eksepsi.
    xc → ksk, jika di muka a, o, u, dan konsonan. Contoh: excavation → ekskavasi.
    y → i, jika lafalnya i. Contoh: dynamo → dinamo.
    konsonan ganda menjadi konsonan tunggal, kecuali jika dapat membingungkan. Contoh: effect → efek, mass → massa.

    Penyesuaian akhiran
    Tanpa perubahan
    -anda, -andum, -endum
    -ar
    -ase, -ose
    -ein
    -ein. Contoh: protein → protein.
    -et
    -or. Contoh: dictator → diktator.
    -ot
    Dengan perubahan
    -(a)tion, -(a)tie (Belanda) → -(a)si. Contoh: action, actie → aksi.
    -aat (Belanda) → -at. Contoh: plaat → pelat.
    -able, -ble → -bel
    -ac → -ak
    -acy, -cy → -asi, -si
    -age → -ase. Contoh: percentage → persentase.
    -air → -er
    -al, -eel (Belanda), -aal (Belanda) → -al. Contoh: formeel → formal.
    -ance, -ence → -ans, -ens (yang bervariasi dengan -ancy, -ency)
    -ancy, -ency → -ansi, -ensi (yang bervariasi dengan -ance, -ence)
    -ant → -an. Contoh: accountant → akuntan.
    -archy, -archie (Belanda) → -arki. Contoh: anarchy, anarchie → anarki.
    -ary, -air (Belanda) → -er. Contoh: primary, primair → primer.
    -asm → -asme
    -ate → -at
    -eel (Belanda) → -el, jika tak ada padanan dalam bahasa Inggris.
    -end → -en
    -ete, -ette → -et
    -eur (Belanda), -or → -ur, -ir. Contoh: director, directeur → direktur.
    -eus (Belanda) → -us
    -ic, -ique → -ik
    -icle → -ikel
    -ics, -ica → -ik, -ika. Contoh: logic, logica → logika.
    -id, -ide → -ida
    -ief, -ive → -if. Contoh: descriptive, descriptief → deskriptif.
    -iel, -ile, -le → -il. Contoh: percentile → persentil.
    -ific → -ifik
    -isch, -ic → -ik. Contoh: elektronic → elektronik
    -isch, -ical → -is. Contoh: optimistisch, optimistical → optimistis
    -ism, -isme (Belanda) → -isme. Contoh: modernism, modernisme → modernisme.
    -ist → -is. Contoh: egoist → egois.
    -ite → -it
    -ity → -itas
    -logue → -log. Contoh: dialogue → dialog.
    -logy, -logie → -logi. Contoh: analogy, analogie → analogi.
    -loog (Belanda) → -log. Contoh: epiloog → epilog.
    -oid, -oïde (Belanda) → -oid. Contoh: hominoid, hominoide → hominoid.
    -oir(e) → -oar. Contoh: trottoir → trotoar.
    -ous ditanggalkan
    -sion, -tion → -si
    -sy → -si
    -ter, -tre → -ter
    -ty, -teit → -tas [2]. Contoh: university, universiteit → universitas.
    -ure, -uur → -ur. Contoh: premature, prematuur → prematur.

    Penyesuaian awalan
    Tanpa perubahan
    a-, ab-, abs- (”dari”, “menyimpang dari”, “menjauhkan dari”)
    a-, an- (”tidak”, “bukan”, “tanpa”)[3]
    am-, amb- (”sekeliling”, “keduanya”)
    ana-, an- (”ke atas”, “ke belakang”, “terbalik”)
    ante- (”sebelum”, “depan”) [4]
    anti-, ant- (”bertentangan dengan”)
    apo- (”lepas”, “terpisah”, “berhubungan dengan”)
    aut-, auto- (”sendiri”, “bertindak sendiri”)[5]
    bi- (”pada kedua sisi”, “dua”)[6]
    de- (”memindahkan”, “mengurangi”)
    di- (”dua kali”, “mengandung dua …”)
    dia- (”melalui”, “melintas”)
    dis- (”ketiadaan”, “tidak”)
    em-, en- (”dalam”, “di dalam”)
    endo- (”di dalam”)
    epi- (”di atas”, “sesudah”)
    hemi- (”separuh”, “setengah”)
    hemo- (”darah”)
    hepta- (”tujuh”, “mengandung tujuh”) [7]
    hetero- (”lain”, “berada”)
    im-, in- (”tidak”, “di dalam”, “ke dalam”)
    infra- (”bawah”, “di bawah”, “di dalam”)
    inter- (”antara”, “saling”)[8]
    intro- (”dalam”, “ke dalam”)
    iso- (”sama”)
    meta- (”sesudah”, “berubah”, “perubahan”)
    mono- (”tunggal”, “mengandung satu”)[9]
    pan-, pant-, panto (”semua”, “keseluruhan”)
    para- (”di samping”, “erat berhubungan dengan”, “hampir”)
    penta- (”lima”, “mengandung lima”)[10]
    peri- (”sekeliling”, “dekat”, “melingkupi”)
    pre-(”sebelum”, “sebelumnya”, “di muka”)[11]
    pro- (”sebelum”, “di depan”)
    proto- (”pertama”, “mula-mula”)
    pseudo-, pseud- (”palsu”)
    re- (”lagi”, “kembali”)[12]
    retro- (”ke belakang”, “terletak di belakang”)
    semi- (”separuhnya”, “sedikit banyak”)
    sub-[13](”bawah”, “di bawah”, “agak”, “hampir”)
    super-, sur- (”lebih dari”, “berada di atas”)
    supra- (”unggul”, “melebihi”)
    tele- (”jauh”, “melewati”, “jarak”)
    trans- (”ke/di seberang”, “lewat”, “mengalihkan”)
    tri- (”tiga”)
    ultra- (”melebihi”, “super”)
    uni- (”satu”, “tunggal”)
    [sunting] Dengan perubahan
    ad-, ac- → ad-, ak- (”ke”, “berdekatan dengan”, “melekat pada”)
    cata- → kata- (”bawah”, “sesuai dengan”)
    co-, com-, con- → ko-, kom-, kon- (”dengan”, “bersama-sama”, “berhubungan dengan”)
    contra- → kontra- (”menentang”, “berlawanan”)
    ec-, eco- → ek-, eko- (”lingkungan hidup”)
    ex- → eks- (”sebelah luar”, “mengeluarkan”)
    exo-, ex- → ekso-, eks- (”di luar”)
    extra- → ekstra- (”di luar”)
    hexa- → heksa- (”enam”, “mengandung enam”)
    hyper- → hiper- (”di atas”, “lewat”, “super”)
    hypo- → hipo- (”bawah”, “di bawah”)
    poly- → poli- (”banyak”, “berkelebihan”)
    quasi- → kuasi- (”seolah-olah”, “kira-kira”)
    syn- → sin- (”dengan”, “bersama-sama”, “pada waktu”)

    Penyerapan dengan penerjemahan
    a- → tak-. Contoh: asymetric → tak simetri
    ante- → purba-. Contoh: antedate → purbatanggal
    anti- → prati-. Contoh: antibiotics → pratirasa
    auto- → swa-. Contoh: autobiography → swariwayat
    de- → awa-. Contoh: demultiplexing → awa-pemultipleksan
    bi- → dwi-, bi-. Contoh: bilingual → dwibahasa
    inter- → antar-, inter-. Contoh: international → antarbangsa
    mal- → mal-, mala-. Contoh: malnutrition → malagizi, malnutrisi
    post- → pasca-. Contoh: postgraduate → pascasarjana
    → purna-. Contoh: purnawirawan
    pre- → pra-. Contoh: prehistory → prasejarah
    re- → -ulang. Contoh: recalculate → hitung ulang
    -ble → laik-. Contoh: edible → laik-santap
    -like → lir-, bak-. Contoh: jelly-like → liragar
    -less → nir-, awa-, mala-, tan-. Contoh: seedless → nirbiji; colourless → awawarna, tanwarna
    sumber: http://basindo.edublog.org

  12. @ SAIJO :

    Kalau nama saya sekarang di akte lahir sudah tercantum “Tedy”, di KTP, di paspor juga demikian…apa harus saya mengubah jadi “Tedi”. Dasar penulisan nama dalam EYD tidak mengatur bagaimana orang memberi nama. Sah sah saja kalau orang tua memberi nama anaknya tidak sesuai EYD. Hanya penulisan nama saja, bukan aturan memberi nama. Bayangkan kalau nama marga keluarga masih menggunakan ejaan yang tidak sesuai EYD, masa anaknya yang lahir di era EYD harus memiliki nama yang lain karena menyesuaikan dengan EYD. Boleh percaya atau tidak, kalau perlu mari kita sama-sama pergi ke Pusat Bahasa. Anda tinggal di mana? Kalau di Jakarta mari kita atur waktu pergi bersama ke Pusat Bahasa.

    Soal SBY, Anda salah ambil analogi. Jelas kita akan mengucapkan SBY sebagai “esbeye” karena memang namanya Susilo Bambang Yudhoyono. Yudhoyono ‘kan memang pakai huruf Y. Jadi singkatannya pasti juga disebut “esbeye”. “ye” mewakili Y dalam kata Yudhoyono. Sekali lagi saya ingatkan, inti postingan saya adalah bagaimana orang kurang menghargai nama orang lain. Nama saya sesuai akte lahir memang Tedy Tirtawidjaja, entah siapa yang salah…petugas catatan sipil kah atau siapa.

    Saya tunggu tanggapannya.

  13. Saya sengaja mencari topik penulisan nama orang ini karena ingin mencari tahu sebenarnya ejaan penulisan nama orang karena hal ini pun terjadi dengan saya. Rekan kerja saya sempat mempermasalahkan penulisan nama saya yang seharusnya menurut akte kelahiran jacob dan biasanya juga saya tulis jacob, tetapi oleh rekan saya ditulis dengan yakub atau yacob dengan alasan bahwa EYD yang benar memang Y dan bukan J. Jadi jelas saya penasaran, karena rekan saya tersebut tetap menerapkan pendapatnya berdasarkan EYD bahkan di buku teleponnya juga sama ditulis yakub. Namun setelah saya membaca pengulasan tentang penulisan nama saya pun lebih paham dan sebenarnya penulisan jacob yang benar karena itu sesuai akte kelahiran dan saya dilahirkan pada tahun 1967 sebelum EYD 1972. Mohon tanggapan atau bantuan dari para pihak yang memahami hal ini. Saya ucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuannya.

  14. @ Jacob : tidak ada relevansinya antara tahun kelahiran dengan EYD. Nama ada hak private/prerogatif si pemberi dan si pemilik nama. Terserah sepenuhnya pada si pemberi nama untuk memutuskan bagaimana ejaan dan cara penulisan yang dikehendaki. Adalah sesuatu yang aneh (dan menurut saya pribadi menjadi keliru) kalau sampai orang mengatasnamakan EYD dan mengubah penulisan nama Anda Pak.

  15. To. Bp Jakop ,kalo penulisan Nama Jakob atau Yakob , Yakub itu mau sudah EYD maupun sebelum tidak masalah yang pasti sudah memposisikan huruf Konsonan sebagai mana mestinya, betul kata Saijo jangan memposisikan konsonan jadi VOKAL ( contoh Tedy), karna seperti itu hanya terjadi dalam bahasa Inggris,kalau bahasa Indonesia kan sekarang sudah jelas vokal ya vokal konsonan ya konsonan. huruf dobel juga tidak ada dalam bahasa Indonesia. contoh Deddy (ing) Dedi (Ind). tq

Leave a Reply