Puasa Kok Ribut

Dua berita yang membuat saya geleng-geleng pagi ini saat melihat berita di televisi. Yang pertama adalah berita tentang aksi anarkis Front Pembela Islam di Ciamis. Mereka melakukan sweeping terhadap warung makan dan minuman yang masih beroperasi di bulan puasa ini. Aksi ini diwarnai aksi anarkis dengan memecahkan kaca warung, memukuli warga yang tertangkap basah sedang berada di warung tersebut (kabarnya yang satu ini adalah preman yang kedapatan sedang teler). Terus terang saya kesal melihat aksi pengrusakan yang dilakukan grup ini.

Seorang rekan saya yang muslim pernah bercerita pada saya bahwa tidak makan dan minum selama bulan puasa adalah hanya sebagian kecil dari ibadah puasa yang sesungguhnya. Menurut rekan saya lagi, orang kadang lebih melihat puasa sebagai tidak makan dan tidak minum. Padahal jauh lebih banyak hal yang harus “dipuasakan” selama bulan puasa, mulai dari memuasakan pikiran dari hal-hal negatif, mengendalikan hawa nafsu, dll. Saya memang bukan orang yang berpuasa tapi saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan teman saya. Ada juga slogan di masyrakat kita bahwa hormatilah orang yang berpuasa. Jangan makan minum di depan orang yang berpuasa. Bagaimana dengan sebaliknya? Mengapa orang yang berpuasa tidak menghormati orang yang tidak berpuasa? Ini saya dapat waktu melihat Tukul di televisi. Ada satu pernyataan Tukul yang bagus sekali menurut saya, katanya kita yang puasa justru harus menghormati yang tidak puasa. Mengapa mereka malah mengganggu orang yang sedang berdagang? Mungkin saja kan orang yang sedang berdagang makanan itu sedang berusaha mengumpulkan uang untuk Lebaran misalnya.

Menurut saya ibadah puasa tentu baru terasa kalau di saat orang makan minum di depan Anda tapi Anda tetap bertahan menjalankan ibadah tidak makan dan minum. Kalau Anda sebatas menahan makan minum, dan melarang orang-orang makan minum, melarang orang membuka warung karena takut mengganggu orang yang puasa, dimana arti puasanya? Orang yang melarat tidak punya uang sepeser pun sering melakukannya, tidak makan dan tidak minum karena memang tidak ada uang untuk membeli makanan. Kalau memang niatnya puasa, puluhan makanan dan minuman tersaji di depan mata Anda tentu tidak akan membatalkan niat Anda berpuasa. Tolong jangan bilang kalau saya bukan muslim maka saya tidak layak membicarakan hal ini….saya menuliskan ini dari sudut pandang hati nurani. Ada yang tidak “klik” dengan logika saya melihat aksi sweeping terhadap warung-warung makan.

Yang kedua adalah demo warga Pluit menentang pembangunan jalur busway yang melintas di Pluit. Kalau tidak salah ini adalah jalur busway koridor IX. Saya sekarang jadi sering heran melihat demo semacam ini. Minggu-minggu lalu juga ada demo serupa di daerah Pondok Indah. Warga Pondok Indah menentang pembangunan jalur busway yang melintasi kawasan Pondok Indah. Warga Pluit menolak busway alasannya karena akan menimbulkan kemacetan, kesemrawutan di daerahnya, lebih-lebih dikhawatirkan akan mengundang banjir. Warga Pondok Indah beralasan bahwa pembangunan jalur busway akan menghilangkan pepohonan yang ada di sepanjang jalan Pondok Indah. Kabarnya juga jalan raya Pondok Indah itu adalah jalur pribadi yang dibangun oleh pengembang wilayah tersebut yang kemudian dihibahkan kepada Pemda DKI Jakarta. Lucunya warga Pondok Indah mengklaim lebih dari 70% penghuni Pondok Indah adalah kaum ekspatriat yang notabene bukan termasuk calon konsumen busway…lucu kan? Pemerintah sekarang seperti kehilangan wibawa di depan masyarakatnya. Masyarakat yang katanya semakin demokratis menurut saya malah sedikit kebablasan, kesannya kok mereka eksklusif.

12 thoughts on “Puasa Kok Ribut

  1. hihihi baru tau kalo FPI itu skem? ya gitulah mas.. mereka kan berlindung dan dilindungi oleh kepentingan segelintir elit pulitik…. dan kayaknya sudah lamaa banget ga dapet publisitas, jadi sudah saatnya cari-cari popularitas lagi hehehe

  2. skem = scam šŸ˜€

    itu nanti sudah masalah gosip menggosip.. makruh hukumnya di bulan puasa =))
    yang jelas monggo diliat saja siapa petinggi2 di FPI dan dekat dengan siapa mereka itu hihihi

  3. mas tedy, analisa anda soal puasa saya sepakat sekali dan saya pikir FPI sudah bertindak secara melawan hukum.
    tapi soal demo saya nggak sepakat. tanpa partisipasi warganya justru pemerintah akan semakin ngaco. lihat selama dibawah pemerintahan yang tertutup dan otoriter, korupsi begitu banyak dan kita yang harus menanggungnya. banjir adalah salah satu contoh salah urus Jakarta

  4. @ Anggara : betul memang warga harus berpartisipasi tapi kok yang saya tangkap mereka itu egois. Membangun fasilitas umum kok dihalang-halangi….bagaimana nasib orang-orang yang hidupnya bergantung pada transportasi umum?

  5. ada persoalan mendasar dalam suatu pembangunan, yaitu adanya syarat-syarat yang harus dipenuhi secara hukum. dalam konteks pemberitaan memang jadinya terlihat sangat egois. namun, harus diingat, Jakarta sendiri tidak punya rencana memindahkan orang yang bermobil ke angkutan umum. Jakarta baru punya rencana memindahkan pengguna angkutan umum yang “tidak” aman dan nyaman ke transjakarta. pada titik pandang ini saya menilai, keberatan warga disana bisa sedikit dimaklumi. dan lagian kapan lagi bisa melihat kelompok kelas atas melakukan aksi demo =))

  6. @ Anggara : syarat-syarat apa yang harus dipenuhi secara hukum? dari mana Anda tahu kalau Jakarta tidak punya rencana memindahkan orang “bermobil” ke angkutan umum?

  7. @tedy
    misalnya yang diatur dalam UU LH dan juga RTRW setempat.
    nah kalau itu sih gampang indikatornya, jumlah pemakai kendaraan pribadi tiap tahun meningkat atau tidak dan prioritas pemerintah buat tranportasi umum atau buat jalan tol?

  8. Hmm… gua juga agak kesal sih mendengar hal ini. Sayang banget rasanya. Gua berusaha menempatkan diri aja jadi pedagang-pedagang itu. Gua pasti lagi bingung banget dan dendam pula karena hal ini.

    Ya sudahlah… everything happens for a reason kan yah…

  9. Selamat Tinggal, Bulan penuh Kemunafikan
    oleh Karim Amir

    Pada February 22, 2007, blogger Mesir Abdel Karim Nabil Suleiman, yang lebih dikenal dengan nick Internetnya Karim Amir, dihukum empat tahun penjara karena mengkritik Islam dan Presiden Mesir Husni Mubarak dalam blog pribadinya.

    Artikel dibawah ini adalah terjemahan dari sebuah entry yang dia publikasikan setelah Ramadhan tahun 2006.
    ———————————————

    Untuk pertama kalinya sejak berumur lima tahun, saya kini menemukan cukup keberanian utk menolak puasa dibulan Ramadhan tahun ini, meski ditimpa segala macam kesulitan, halangan dan tantangan. Hal ini mengembalikan kebebasan diri saya yang dicabut ketika saya masih memaksakan diri tunduk dan melakukan praktek2 dan tindakan2 dengan pendirian yang tidak kuat. Hanya dgn bantuan mereka yang ada disekeliling sayalah, saya akhirnya bisa.

    Saya muncul dari pengalaman sukses ini dengan pandangan baru mengenai masyarakat munafik tempat saya tinggal ini, dimana tiap individu ditakdirkan untuk memamerkan kemunafikannya agar ia mendapatkan persetujuan dari orang sekitarnya, meski didalam dirinya dia sebenarnya sama sekali berbeda dgn apa yang kelihatan diluar.

    Beberapa tahun lalu, seorang anggota parlemen Mesir mengusulkan sebuah rancangan UU yang menghukum siapapun yang terang-terangan makan disiang hari di bulan Ramadhan; sebuah hukum yang jelas memaksa orang2 yg tidak puasa agar bermunafik saja dengan meyakinkan masyarakat sekitar mereka bahwa mereka juga puasa.

    Walau ritual puasa adalah masalah pribadi antara sang individu dengan Tuhannya, islamisasi masyarakat kita menyebabkan puasa berubah dari tindakan pribadi menjadi sebuah kebiasaan yang harus ditunjukkan keluar agar tidak menjaga perasaan mereka yang puasa; seakan mereka yang tidak puasa harus menahan diri dari makan dan minum DEMI menolong mereka yg berpuasa !

    Meski rancangan ini tidak pernah jadi UU, tapi hukum semacam itu sudah diterapkan satu dan lain cara di jalan2 Mesir, sebagai bagian dari gaya hidup Ramadhan. Kita lihat kafe2 dan restoran2 menutup pintu sampai waktu buka puasa. Toko2 fast food & minuman dilarang berdagang selama puasa dengan alasan tiap orang harusnya puasa, dan orang yang tidak puasa harus menjauh dari pandangan orang2, sembunyi dibawah tanah seakan dia kena penyakit menular.

    Bulan Puasa diubah menjadi Lelang Umum Kemunafikan. Tiap orang, dgn berbagai macam cara, berlomba2 membuktikan bahwa mereka lebih munafik dari orang lain.. Sangat alami utk menemukan banyak orang yang tidak berpuasa dengan berbagai alasan baik kesehatan dll, dan dengan begitu mereka makan. Atau bisa saja mereka tidak puasa karena mereka tidak merasa yakin akan puasa itu sendiri, atau karena mereka tidak percaya akan islam, atau karena mereka bukan muslim. Meski demikian, orang2 yg tidak berpuasa ini dipandang dengan dengki dan dipaksa agar berpura-pura puasa demi menghindari sorotan mata Muslimin yg penuh dengki.

    Kalau ada orang yg secara terbuka tidak puasa, maka jangan tanya lagi bentuk2 hinaan yang dia terima, baik langsung maupun lewat pandangan orang2 sekitarnya yang memandang dengan pandangan berapi-api dan sangar. Pandangan ini membuat orang yang tidak puasa merasa jadi diserang dan seakan orang yang memandang setiap saat bisa berubah menjadi belati yang lalu menusuk dia hingga mati.

    Ketika saya kecil, masih di SD, teman sekelas saya suka mengejek orang yang tidak puasa dengan lagu berikut:

    Ya faater Ramadan,
    ya khaaser deenak!
    Sikkeenat al-jazzaar,
    tiqta’ masaareenak!

    [Oh orang yg tidak puasa dibulan Ramadan,
    O pecundang iman!
    (semoga) pisau jagal,
    Memotong organ2mu!]

    Itulah cara kami dididik; dengan lagu kejam yang berharap agar organ kelamin orang yg tidak puasa dicincang2. Ini mencerminkan sorotan mata yg diterima mereka yg tidak berpuasa dari masyarakat sekitar.

    Jumā€™at kemarin, saya berada di Kairo bersama seorang teman. Sesaat sebelum waktu buka, kami lapar shg kami putuskan utk makan ditempat yang pertama kita temukan dalam perjalanan. Kelihatannya nasib membawa kita kesebuah cabang Kentucky Fried Chicken. Kami beli dan beranjak ke meja makan. Tidak terpikir oleh kami bahwa waktu buka belum lagi tiba. Saya terkejut ketika melihat ruang makan ternyata sudah penuh oleh keluarga2 yang sedang bersiap2 utk makan menunggu waktu buka. Teman saya dan saya duduk ditengah2 kerumunan orang dan cuek saja makan. Yang terjadi berikutnya tidak akan saya lupakan; semua orang berpaling dan memandangi kami shg kami jadi tontonan sampai kami kesulitan utk mengunyah dan menelan. Tiap telanan terasa spt menelan batu.

    Dimalam Idul Fitri, saya kirim surat ucapkan selamat pada teman2, “Kullu ‘aamin wa antum bikhair.” [“May you be well every year.”] Saya juga mengucapkan selamat kpd seorang teman non-muslim. Dia terkejut dan berkata dia bukan muslim, tapi saya jelaskan posisi saya dengan berkata bahwa saya memberi selamat dlm rangka berakhirnya bulan penuh kemunafikan, bukan utk hal lainnya.

    Kepada setiap manusia yang harus memamerkan wajahnya yang berbeda dari wajah aslinya pada setiap bulan Ramadhanā€¦

    Kepada tiap orang yang menderita karena sorotan mata orang2 dan komentar2 pedas dan menghina, karena tidak mengikuti mereka berlaku munafikā€¦

    Kepada setiap manusia yang menghargai dirinya sendiri dan murtad dari Islamā€¦

    ā€œSEMOGA SELAMAT DAN SEHAT2 SAJA SEPANJANG TAHUNā€

  10. Yap… aku setuju kalau makan minum depan orang yang sedang puasa itu tidak apa2.. toh faktanya puasa itu memang urusan setiap pribadi dengan Tuhannya…. Q ngrasain sendiri di kasih wejangan habis2an gara2 minum susu di kantor…. They said..” Mingini ” ckckckck
    kok kayak balita…

Leave a Reply