Ambulans vs. Macet

Kemarin sore saat pulang kantor saya lewat di samping hotel Shangrila. Di tengah-tengah kemacetan jalan menuju Pejompongan, ada ambulans di tengah kemacetan jalan. Sirine ambulans itu terus meraung-raung. Tepat di samping pintu masuk Shangrila hotel, ambulans tadi tak berkutik melawan antrian kendaraan yang memang tiap sore memacetkan jalan…eh tahukah Anda kalau jalan di samping hotel Shangrila ternyata bernama Jalan Jendral Sudirman juga. Gara-gara mau menulis postingan ini saya mencari tahu dulu lewat Google 🙂

Melihat ambulans itu terjebat di tengah kemacetan, pikiran saya jadi mereka-reka siapa yang dibawa di dalam mobil ambulans itu. Apa jadinya kalau yang dibawa dalam mobil ambulans itu orang yang sedang sekarat butuh di bawa secepatnya ke rumah sakit. Gila kan? Bisakah Anda bayangkan kalau orang yang dibawa oleh ambulans itu adalah korban kecelakaan yang butuh dibawa ke rumah sakit secepatnya? Atau orang yang baru terkena serangan jantung dan berkejaran dengan waktu untuk memperoleh pertolongan medis secepatnya? Bisa-bisa “lewat” nyawanya kalau perjalanan mobil ambulans dihadang kemacetan Jakarta yang makin menggila.

Selain ambulans saya juga pernah melihat mobil pemadam kebakaran yang terhadang kemacetan di dekat pasar Tanah Abang. Ini juga ironis. Perjalanan mobil pemadam yang harusnya sesegera mungkin tiba di lokasi kebakaran malah jadi lama perjalanannya.Terjebak di tengah kemacetan sambil tak bisa berbuat apa-apa. Jangan heran kalau mendengar berita kebakaran di Jakarta pasti pemadam kebakaran datang terlambat. Apalagi kalau lokasi kebakaran berada di daerah padat penduduk yang akses jalannya sempit, macet.

Bagi ambulans dan pemadam kebakaran yang dilengkapi sirine, di Jakarta sepertinya sirine tidak berfungsi. Tapi ada juga kemungkinan unsur iseng dari pengemudi mobil maupun pemadam kebakaran. Mereka mungkin saja tidak dalam tugas dan iseng membunyikan sirine berharap supaya diberi kemudahan akses jalan cari kesempatan di tengah kesempitan gitu lah…:-p .Sirine yang seharusnya bisa menjadi sinyal pembuka jalan, meminta pengguna jalan lain mengalah juga tidak ada artinya. Tidak menutup kemungkinan ada pengguna jalan lainnya ada yang tergerak hatinya untuk memberi jalan bagi mereka, tapi apa mau di kata mereka sendiri terjebak di tengah kemacetan…mau beringsut ke mana? Ke atas?

Kira-kira bagaimana ya solusi yang tepat untuk kondisi di atas? Menyediakan jalur darurat untuk kendaraan semacam ambulans dan pemadam kebakaran? Ah sepertinya tidak akan berguna. Lihat saja di jalan tol dalam kota Jakarta, jalur paling kiri katanya dipakai untuk keadaan darurat. Jalur paling kiri (bahu jalan) katanya dipakai untuk mobil derek atau jalur bagi petugas Jasa Marga bila ada keadaan darurat. Faktanya? Dipakai juga oleh pengguna jalan tol.

Mungkin solusi yang paling bagus adalah mengganti mobil ambulans dan mobil pemadan kebakaran dengan helikopter =)) Dijamin bebas macet kan. Eh tunggu dulu..kalau mobil pemadan kebakaran diganti dengan helikopter dimana mendaratnya kalau tempat kebakarannya pemukiman padat penduduk? 🙁 Susah juga ya…ya sudah lah serahkan saja pada ahlinya ;))

3 thoughts on “Ambulans vs. Macet

  1. Waduh kalau sanak saudara saya atau orang terdekat saya sedang sekarat dan butuh ambulan dan ambulannya nggak kunjung datang karena macet, kasian banget ya. Udah macet, kadang kalau sirine sudah dipasang mobil. apalagi sepeda motor pada males minggir, semuanya berebut untuk tetap terdepan karena terburu-buru dengan ursusan masing-masing tanpa memikirkan nyawa orang lain. Belum lagi kalau sang sopir nggak tau alamatnya dan mesti tanya dulu. Bisa berabe tuh, ya itulah Indonesia…

  2. @ evelynpy : nah itu dia susahnya…semua orang di Jakarta punya kesibukan masing-masing. Boro-boro mikirin orang lain…kita yang mau kasih jalan juga kadang bingung mau minggir kemana…

Leave a Reply