Yang “di atas”

Mengapa orang sering menyebut Tuhan/Allah dengan sebutan “yang di atas”? Anda pasti pernah dengan beberapa contoh kalimat berikut ini :

  • Kita serahkan lah sama yang di atas, mudah-mudahan semuanya lancar
  • Ya itu kan sudah kehendak yang di atas
    (biasanya ini keluar kalau ada yang mati lalu orang diminta komentarnya)

Apa sih susahnya menyebut “Tuhan” atau “Allah” atau apalah sebutan yang sesuai dengan kepercayaan Anda? Salah satu teman pernah berseloroh (selorohan yang sinis & lucu) tentang hal ini. Tiap kali mendengar lawan bicaranya menggunakan istilah “yang di atas”, teman saya akan mendongak ke atas. Sambil mendongak, teman saya akan sok bego bertanya sendiri : “siapa yang di atas? cicak atau lampu neon?” =))

Sinis, konyol, tapi cukup mengena selorohan teman saya itu. Mengingatkan pada kita mengapa harus “malu”, segan, dan mengganti sebutan Tuhan dengan “yang di atas”. Apa takut dituduh terlalu religius?

7 thoughts on “Yang “di atas”

  1. (biasanya ini keluar kalau ada yang “mati” lalu orang diminta komentarnya)

    Mati, mang kucing yang mati pak…
    bahasanya bagusan dikit pak, tar disangka ga diajarin J.S Kamdhi
    hehehehehe….

Leave a Reply