Kamu Punya Esia Gak?

Judul di atas adalah pertanyaan yang sering ditanyakan orang pada saya saat mau menelepon saya. Statusnya yang punya kepentingan adalah dia, bukan saya. Lantas kenapa kalau saya tidak punya Esia? Tidak jadi telepon saya…ya sudah bukan urusan saya itu. Gila, dia yang butuh kok saya yang harus punya Esia? Teman saya yang seorang pengusaha agrobisnis pun punya cerita yang sama. Rekannya yang punya kepentingan bisnis dengannya (dengan orang tuanya tepatnya) bertanya apakah ada nomor Esia yang bisa dihubungi. Ya ampun, dah jadi pengusaha besar kok masih mikirin telepon murah urusan uang ribuan rupiah.

Saya tahu Esia memang murah (meskipun sekarang operator lain pun tak kalah murahnya. Mungkin karena Esia menjadi operator pertama yang berani menawarkan tarif murah (jauh lebih murah dari kompetitornya). Akibatnya sudah kepalang banyak orang yang pakai Esia dan brand image bahwa Esia adalah telepon murah sudah demikian kuat.

Saya sendiri memilih menggunakan Telkom Flexi. Dari dulu saya tidak pernah punya keinginan untuk menggunakan Esia. Seringkali nomor Esia susah untuk dihubungi. Promo-promo yang ditawarkan (Rp50/menit lalu jadi Rp1000/jam) juga banyak bohongnya. Lah bagaimana mau jadi seribu, wong belum sampai 1 jam sudah call dropped alias putus koneksi. Saya tahu dari cerita beberapa teman pengguna Esia. Ada anekdot katanya Esia cocok untuk orang yang lagi pacaran :-p …halah….mungkin benar juga sih, biar telepon sampai kuping panas ya murah. Ya mungkin karena saya tidak pacaran juga jadi saya tidak jadi pengguna Esia =)).

Di luar kejelekannya, saya harus mengakui kehebatan Esia menjaring pasar. Orang “dipaksa” tetap bertahan dengan layanannya yang pas-pasan. Bahkan dengan cara pemasaran seperti itu, Bakrie Telecom sukses “mencuci otak” para pengguna Esia, sampai-sampai mereka selalu latah “kamu punya Esia gak?”  Dengan efek-efek tadi pun sukses memaksa seorang blogger menulis tentang Esia…ya saya ini yang sebal kalau ditanya “kamu punya Esia gak?” =)) .

4 thoughts on “Kamu Punya Esia Gak?

  1. Ya…Memang cocok buat yang pacaran tapi tidak mau keluar modal besar alias ngirit (sesuai hukum ekonomi, keluar dikit dapat banyak) Tapi … Ya itu deh, kalau yang tidak ada pacar itu yang repot… Mau beli juga buat apa? Wong ndak ada yang mau di telepon… 🙂

Leave a Reply