Jerman (part 15) – Tentang Anjing

Anjing rupanya memiliki kelas tersendiri dalam masyarakat Jerman. Di beberapa kesempatan (kalau tidak boleh disebut sering) saya melihat orang di mana-mana membawa anjingnya berjalan-jalan. Di taman, di objek wisata, di stasiun, di kereta api, di pusat perbelanjaan. Gila kan kalau dipikir-pikir. Coba saja Anda di Jakarta misalnya tuntun Doberman ke dalam mal. Pasti diusir satpam atau paling tidak dipelototi pengunjung lain :D .

Dari mulai anjing kecil seperti jenis Tekkel sampai anjing ras besar seperti Dalmantians, Pitbull, German sheperd; dari mulai membawa 1 anjing sampai yang membawa 3 anjing sekaligus semua saya lihat di Jerman. Bahkan di kereta maupun bis disediakan tiket khusus bagi orang yang membawa serta anjingnya dalam perjalanan. Di kereta ada gerbong khusus yang memperbolehkan penumpang mengajak serta anjingnya.

Ini salah satu tangkapan kamera saya di Dusseldorf; wanita cantik, modis, jalan-jalan eh masih aja sempat-sempatnya menuntun anjing.

Beberapa kali saya dan Manggar terkejut melihat anjing besar masuk mal. “Gila nih orang ke mal bawa anjing…gede lagi.” Kurang lebih seperti itu yang terlintas dalam pikiran saya melihat orang berjalan-jalan ke mal dengan menuntun binatang peliharaannya tersebut. Kemarin di Hannover misalnya, setidaknya kami melihat 3 kali anjing masuk Galeri Kauphof . Yang paling besar adalah anjing Dalmatians yang sempat mengagetkan saya. Anjingnya sih diam saja, saya saja yang kaget sendiri. Saya dan Manggar bahkan sempat berpikiran sama kalau melihat anjing besar melintas di pusat keramaian; “anjing atau babi tuh gede banget” :))

Tapi orang di sini memang lebih bertanggung jawab. Mereka yang membawa anjing ke ruang publik punya rasa tanggung jawab atas kebersihan tempat yang mereka kunjungi. Mereka tak segan memungut “kotoran” anjing mereka dengan memakai tisue untuk kemudian dibuang ke tempat sampah. Saya sempat melihat sendiri orang melakukan hal tersebut. Saya yang bukan penggemar anjing benar-benar heran melihat fenomena seperti itu. Kok niat-niatnya ya orang membawa anjing ke tempat umum. Kalau sekadar mengajak anjing jalan-jalan di taman saya bisa mengerti. Tapi kalau sudah masuk ke mal/pusat perbelanjaan itu benar-benar di luar pengertian saya.

Mungkin benar apa yang salah satu rekan saya katakan, anjing mendapat kehormatan tersendiri di mata orang bule. Bahkan katanya dalam bahasa Inggris menyebut anjing sebagai pihak ketiga tidak menggunakan “it” tapi menggunakan “she” (kalau anjingnya betina) atau “he” (kalau jantan). Berbahagialah anjing-anjing yang dipelihara oleh orang bule; diperlakukan lebih baik dan diberi kesempatan menikmati pusat-pusat perbelanjaan dan tempat-tempat wisata ;))

11 thoughts on “Jerman (part 15) – Tentang Anjing

  1. Kalau di Indonesia pun ada juga yang memperlakukan anjingnya sebagai bagian dari keluarga. Bahkan memiliki panggilan khusus seperti “my baby……my darling…”

  2. Supaya beritanya lebih lengkap: di Jerman memelihara Anjing atau kucing di pajak mahal sekali. Lagi wajib cek kesehatan ke dokter hewan. Ada sertifikatnya. Jadi lebih mahal dari dari biaya seorang bayi. Lalu seperti kebiasaan di beberapa kota ada kuburan resmi binatang piaraan tersebut. Dan para pemiliknya mengunjunginya setiap minggu, membawa bunga dan lilin. Fotonya kapan-kapan saya upload ya. :))
    Saya tinggal di kota Muenster – Westfalen.

  3. hebat pak, banyak pengalaman yang di dapat di jerman…
    enaknya kerja kayak u, dapet trainning + jalan2 menikmati dunia…
    pengen dong… hahahahha….

  4. Soal mengajak anjing jalan-jalan, kalau di Indonesia kayak di Jerman dengan senang hati saya akan mengajak anjing saya jalan-jalan kalau saya lagi keluar rumah.

    Bukan karena terlalu sayang dengan anjing-nya, tapi memang ada bbrp keuntungan kalau anjing boleh/bisa ikut sewaktu kita jalan-jalan.

    1. Anjing jadi bisa bersosialisasi dengan orang selain keluarga pemelihara. Dengan mereka terbiasa berada di sekitar orang asing membuat anjing lebih nyaman berada di dekat orang asing sehingga kemungkinan anjing menggigit orang yang tidak dikenal bisa diminimalkan.

    2. Lebih mudah untuk melatih anjing agar bersikap sopan kepada manusia kalau anjing tersebut banyak bertemu manusia yg berbeda-beda dan di tempat yg berbeda. Satu hal yg susah untuk dilakukan di Indonesia.

    3. Beberapa jenis anjing memiliki ikatan yg kuat dengan orang yg memeliharanya dan biasanya suka stress kalau ditinggal lama-lama. Sewaktu sendirian suka menyalak sehingga tetangga kiri-kanan jadi terganggu.

    Selain itu anjing yg stress suka berulah. Kalau pergi terlalu lama, bisa-bisa pulang ke rumah, pot-pot sudah pada digali dan tanamannya berhamburan keluar.

  5. Kita disini bawa anjing sampai ke mall karena gak ada waktu untuk sekedar jalan2 di taman..
    banyangin aja kalau tiap hari habis pulang ngantor ngajak anjing jalan2.. jadi pas pasan mau keluar aja ajak anjing jalan sekalian..

    Kadang kita disini emang pengen aja ajak si doggie.. they need refreshing juga kan window shopping hihi ^^)

    dimana2 kalo dia buang kotoran tentu saya ambil, jangan begitu, untuk sampah kecil aja disini gak seperti di indonesia main lempar sana sini..

    dan orang2 disini lebih careless sama urusan org, kalo di indo.. anjing saya saya taro di tas, mereka mencibir2 kaya apaan tau gak jelas -,-) aneh tapi nyata itulah indonesia.

    Saya tinggal di Köln

Leave a Reply