Surabaya (part 2) – Ditanam Dulu

Menyambung tulisan sebelumnya soal Surabaya, sampai saat ini saya masih di Surabaya. Kemarin seharusnya saya pulang dengan penerbangan jam 7 malam. Berhubung masih menunggu hasil investigasi dari Fujitsu Siemens Jerman, saya diminta bertahan dulu di Surabaya sampai ada perintah dari Fujitsu Siemens Jerman untuk mengganti spare part Primepower 1500-nya Telkomsel. Jadi sekarang judulnya bukan lagi “liburan gratis” tapi “ditanam dulu” di Surabaya.

Hari Minggu kemarin saya benar-benar jobless…gak ada kerjaan. Siang saya keluar dari hotel, niatnya mau cari tempat biliar. Saya naik Bluebird pergi cari tempat biliar. Menurut rekomendasi sopir taksi yang saya naiki dari bandara ke hotel Sabtu malam lalu, di mall AJBS ada tempat biliar yang besar. Saya nurut saja ke sana…eh sial sudah tutup. Untung sopir Bluebirdnya baik mencarikan informasi ke teman-temannya lewat radio. Akhirnya saya diantarkan ke tempat biliar yang namanya Nine Ball. Adanya di dekat Tunjungan Plasa. Kalau tidak salah Nine Ball ada di jalan Kombes Duriyat. Halah gara-gara salah informasi di awal, tarif taksinya saja sudah mahal hampir sama dengan biaya saya main biliar.

Tempat biliar ini bagus dan luas. Mejanya banyak tempatnya pun nyaman. Satu yang aneh adalah ini adalah tempat biliar pertama yang saya kunjungi yang bebas asap rokok khusus. Biasanya tempat biliar itu semuanya smoking area (kecuali yang saya kunjungi di Paderborn bulan lalu). Tapi Nine Ball itu hanya smoking free kalalu hari Minggu, itupun hanya sampai jam 5 sore.Tempat ini mematok harga Rp21000,-/jam. Cukup worthed. Satu kelemahan fatal adalah cue stick yang disediakan. Semua cue stick-nya berlapis fiber glass. Gila kan…masa cue stick dilapisi fiber glass. Kerasnya bukan main, serasa main biliar dengan break cue aja. Memang sih semua cue-nya relatif lurus tapi nyebelin lah main dengan stick model begitu. Pelajaran buat saya, kalau ke Surabaya lagi harus bawa cue stick sendiri. Main 2 jam saya lalu pulang.

Dari tempat biliar tadi saya pergi ke Genteng mau beli oleh-oleh. Sebenarnya bukan oleh-oleh sih, tapi titipan rekan saya. Rekan saya titip ledre. Ledre itu kurang lebihnya adalah keripik pisang. Nanti saya upload foto seperti apa ledre itu. Ya sudahlah segitu saja postingan kali ini, bertahan dulu di Surabaya sampai disuruh pulang sama si Bos.

One thought on “Surabaya (part 2) – Ditanam Dulu

  1. Pingback: Blognya Tedy Tirtawidjaja » Surabaya III (part 1) - Posh Pool and Lounge

Leave a Reply