Surabaya III (part 2) – Kapten, Saya Titip Toolkit Ya

Dulu saya pernah cerita tentang membawa toolkit (obeng dkk) di dalam tas ke dalam kabin pesawat. Sabtu kemarin (saat akan terbang ke Surabaya) saya “ketangkap” juga, saya disuruh mengeluarkan toolkit dari dalam tas saya. Kontan saja saya komplain : “lah Pak kemarin-kemarin kok gak pernah nangkap saya bawa toolkit?” Lucu jawabannya : “iya mungkin waktu itu terlewat dari pengamatan kami”. Waduh…kalau begitu petugas scanning kadang-kadang teliti, kadang-kadang lalai donk? Banyak kali masuk bandara Soekarno Hatta bawa toolkit saya gak pernah dilarang bawa toolkit masuk kabin. S

Saya disuruh balik lagi ke counter check in untuk memasukkan tas kecil berisi toolkit ke dalam bagasi. Saya diam saja tidak mau pergi. Tidak lama ada petugas lain yang kelihatannya lebih senior menengahi, sudah disuruh titipkan ke crew kabin aja…katanya begitu. Hmm, saya jadi berpikir mungkin karena petugas yang sore itu menggeledah saya masih mudah jadi mungkin masih taat aturan kali ya, alias idealis. Jadi detil sekali kerjanya. Kalau sudah senior mungkin sambil lalu saja kerjanya 😀

Akhirnya saya diantar oleh petugas yang tadi menggeledah tas saya ke pintu F5 (saya boarding lewat F5). Di sana saya dilayani oleh petugas lain, saya diminta memperlihatkan boarding pass dan menandatangani formulir macam begini :

Petugas tadi menjelaskan pada saya kalau barang saya aman dan setibanya di Surabaya saya tidak perlu menunggu lama untuk mengambilnya kembali. Katanya barang-barang tersebut dititipkan pada pilot & krunya. Jadi di Surabaya saya harus mengambilnya di loket Lost & Found (alias barang loket barang ketinggalan). Ini lebih cepat daripada harus memasukan tas saya ke dalam bagasi. Ini pelajaran bagi saya kalau pergi naik pesawat dengan membawa toolkit.

Lagian suruh siapa pergi bawa-bawa toolkit ;)) Lah saya kan cuma “tukang enjiner”, masa pergi kerja gak bawa toolkit.

Leave a Reply