Demo Atmajaya & Cueknya Saya

Sore tadi saya diajak teman saya Erny pulang bareng naik mobilnya. Kantor Erny di BRI2 Semanggi, katanya Jakarta sedang macet parah di mana-mana. Belakangan saya baru tahu dari Erny kalau ada demo besar di depan Unika Atmajaya Jakarta. Katanya ada mobil yang dibakar. Waduh…buru-buru saya buka Detik.com, hari ini saya tidak buka Detik.com….sibuk (halah…pasti Anda bilang saya boong banget ya =)) ). Loh bagus kan kalau gak tahu berita. Kalau ada karyawan di kantor, seharian gak keluar kantor, tapi selalu tahu kondisi di luar justru harus diwaspadai. Lah berarti dari tadi dia ngapain aja, baca Detik, atau chating sama temannya sampai tahu persis situasi di luar kantornya :-p (mode ngeles is ON)

Fenomena seperti ini memang sesuatu yang biasa di Jakarta. Tingkat “kecuekan” orang di Jakarta memang cukup tinggi. Orang bisa tidak tahu apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya sendiri. Mungkin ada korelasinya juga dengan tingkat kesibukan orang di Jakarta. Mungkin Anda pernah mengalami ada teman Anda di luar daerah yang tiba-tiba menghubungi Anda lalu bertanya : “eh Jakarta rusuh ya?” atau “eh Jakarta banjir ya?”; lalu dengan polosnya Anda malah bertanya-tanya : “oh ya, di mana emang?” Saya pernah mengalaminya, sayang lupa konteksnya apa. Orang yang di luar Jakarta malah kadang lebih update beritanya daripada orang Jakarta sendiri. Dipikir-pikir memang betul juga, orang yang berada di luar Jakarta kadang lebih memperhatikan situasi Jakarta lewat media massa daripada kita yang berada di Jakarta. Dulu waktu belum tinggal di Jakarta juga sama halnya bagi saya, saya kadang mengontak teman saya yang menetap di Jakarta. Pokoknya boleh dibilang berita tentang Jakarta lebih cepat menyebar di luar Jakarta.

Kejadian tadi sore juga saya anggap mirip. Saya yang seharian di kantor malah tidak tahu situasi yang terjadi di Jl. Sudirman. Bapak kos saya saja (yang Om-nya Sofia Latjuba itu) tahu persis runtutan/kronologis kejadian di Sudirman sore ini. Mulai dari mahasiswa yang ditabrak mobil polisi sampai mobil Avanza yang dibakar massa. Lah saya? Sore-sore malah sibuk makan bakso malang sama Manggar, Jessi, & Yudi :)) Malam ini sekitar pukul 7 malam, Jl.Jend Sudirman masih padat, terutama dari arah HI menuju Semanggi. Saya sempat lihat dari jendela kantor, kendaraan di jalur lambatnya tidak bergerak sama sekali. Saya coba foto, tapi jelek hasilnya (Coolpix L14 saya tidak bisa diset untuk memotret dengan kecepatan tinggi pada situasi dengan pencahayaan kurang)…kurang lebih seperti ini suasana macet malam ini :

Ok balik lagi ke topik tentang demo. Saya juga bingung sebenarnya demo kali ini meributkan soal apa. Ada yang bilang ini demo menentang harga BBM, ada juga yang bilang ini aksi solidaritas pada mahasiswa Unas yang meninggal beberapa hari yang lalu. Demonstrasi yang katanya wujud kehidupan demokrasi bukan benar-benar buah dari demokrasi. Katanya demokrasi itu untuk rakyat/kepentingan orang banyak. Lah sore ini tuh lihat berapa ratus orang yang ngantor di Sudirman kesulitan pulang karena angkutan umum tidak bisa lewat Jl.Sudirman? Lalu lihat juga berapa banyak supir angkutan umum yang biasa lewat Sudirman yang kehilangan penumpang alias kehilangan setoran sore ini? Memang sih ada juga yang bisa meraup untung akibat demo ini, mereka adalah tukang ojek yang katanya malah kebanjiran rejeksi sore ini.

Tapi balik lagi ke soal kepentingan orang banyak, orang banyak mana dulu sih sebenarnya yang diperjuangkan? Toh banyak juga orang yang malah terganggu aktivitasnya, terganggu penghasilannya gara-gara demo. Belum lagi kemacetan yang mengular di mana-mana. Anda tahu kan kalau di Jakarta kemacetan itu buntutnya bisa luar biasa panjang? Sore ini saja tol dalam kota macet total karena kabarnya akibat pagar pembatas tol di depan gedung DPR/MPR dirobohkan macet jadi kian puadat. Nah gila kan kalau jalur bebas hambatannya saja sudah padat. Berapa banyak orang yang terganggu aktivitasnya kalau demikian. Jadi apa itu yang namanya kepentingan orang banyak? Yah mungkin ini memang hanya pandangan saya saja yang terlalu cuek dengan kehidupan sosial. Mohon dimaafkan atas kecuekan saya ini 😀

17 thoughts on “Demo Atmajaya & Cueknya Saya

  1. Mungkin saya memiliki penilaian lain………………..
    Bentrok antara mahasiswa dengan aparat, dan demo yang mengganggu masyarakat.Membuat sebaguan masyarkat menyalahkan mahasiswa. Di anggap biang kekacauan.

    Pertanyaannya adalah kenapa demonstrasi model seperti itu terjadi?

    Menurutku karena menghadapi rezim yang sama dengan yang dulu,
    suka membohongi rakyat
    yang buta mata dan hatinya
    yang sampai sekarang masih bobrok karena korupsinya.

    Demonstrasi dengan tertib justru menjadi olok-olok oleh pemerintah, dibilang “paling cuma begitu saja” kata wapres.

    Sementara kita juga masih melihat setiap hari betapa bobroknya negeri ini karena para pemimpinnya sudah tidak mau lagi menggunakan hati nurani.

    Korupsi masih merajalela, bahkan kejaksaan dan pengadilan juga penuh dengan mafia. Semnatar anggota DPR juga hanya mencari pamor dan popularitas, selain kekayaan.

    Sementara kita tahu pemerintah mengelola dana APBN (Duit rakyat) hampir 1000 (seribu) Trilyun (T) setiap tahunnya. Dana yang sebenarnya sangat besar kalau mampu mengelolan secara efektif dan efisien.

    Namun, masih terdengar dan terlihat dengan jelas bagaimana proyek-proyek pemerintah ditenderkan dengan penuh akal-akalan dan kolusi dengan mitra pengusahanya. Sehingga jalan, jembatan, gedung-gedung sekolah dan lain sebagainya dibuat dengan kualitas yang buruk, karena proyeknya yang terlalu banyak dikorupsi.

    Berapa kali ada demo anti korupsi, nyatanya diabaikan begitu saja. Karena demonya dianggap kecil.
    Butuh orang yang benar=benar berani berkorban untuk terus menyuarakan negeri ini agar menjadi lebih baik. Dan mahasiswa adalah bagian dari kelompok yang memang masih berani melakukannya.
    Mantan aktifis, barangkali sudah mulaiu banyak pertimbangan dan menghitung untung rugi, sehingga tidak memiliki keberanian seperti dulu lagi. Untuk memperjuangkan sesuatu yang lebih baik.

    Problemnya adalah suara mahasiswa benar-benar tidak di dengar kalau demnstrasinya dengan cara yang tertib (terkesan disepelekan oleh pemerintah). Sehingga muncul antipati terhadap pemerintah.
    Namun sebenarnya hal ini masih lebih baik dari pada yang muncul justru kemarahan rakyat yang lebih luas, karena bisa menjadi revolusi sosial.

    Revolusi sosial yang lahir karena antipatinya rakyat terhadap pemerintah, karena kemiskinan dll, justru akan penuh anarkisme dan kekacauan. Dan biayanya justru lebih mahal.
    Semoga bangsa ini bisa menjadi lebih baik, sehingga tanpa revolusi namun tetap bisa memperbaiki dirinya untuk menjadi bangsa yang besar.

  2. <p>@ MMFaozi : wah panjang bener komentarnya…thanks anyway. Btw saya gak menyalahkan mahasiswa loh ya..saya pun malas mengomentari benar salahnya suatu demonstrasi. Saya coba bahas dari sudut pandang lain, bahwa tidak ada sebenarnya demokrasi yang benar-benar 100% untuk kepentingan orang banyak (toh banyak juga rakyat yang dirugikan). Dan bahwa orang Jakarta sendiri kadang malah gak tau situasi Jakarta dibandingkan orang luar Jakarta. Thanks deh atas komennya…Anda aktivis ya? 😀 salut deh buat pandangannya.</p>

  3. Kk, ktny dulu2, sblm tahun 98 sd 98, mhsw kalo demo tuh slrh mhsw ind bersatu krn mereka memang mempunyai data yg jls mengenai kesalahan pemerintah. Kl mhsw2 skg bnyk yg berbeda pemikiran. Ad yg realistis, ad yg dreamer. Ms mhsw gr2 bbm naik trs demo. Bkny subsidi pem k bbm bs msk rekor dunia. Skg dmn letak kesalahan pem? Namany jg demokrasi. Bukan yg benar yg menang. Tp yg bnyk yg benar. Tp bgmnpun pem, kl sy sendiri sih wajib taat ma mereka (selama dlm kebaikan). Secara gw orang islam gt. Kl mereka didemo sampe ga bs kerja, woh.. negara pasti kacau. Siapa yg mw ngehandle urusan negara? Mhsw? Oh iy y, scr skg nyari kerjaan susah. Udah sekolah mahal2, ga dpt krj lg. Turunin aj presiden RI, ntar kn jd ad lowongan. Lumayan tuh, gajiny gede.

  4. btw jadi inget tadi, temen juga tetangga lum balik padahal biasanya siang menjelang sore dah balik, taunya di depan kampusnya (atmajaya) ada demo, mungkin tu anak ngungsi kali yah, mpe skrng lum ada kbrnya tu anak

  5. saya juga salah satu korban kemacetan kemarin. Dan seperti mas, awalnya saya benar ga tau tuh kalau ada demo yang ricuh di MPR dan Atma. celingak-celinguk.. bingung kenapa yah macet begini. sampai akhirnya tau kalau ada mobil terbakar, setelah dengar berita di radio. he he he, payah dah! orang Jakarta yang ga tau kondisi Jakarta ^_^.

  6. saya juga korban kemacetan dan demo kemaren, karena adanya demo dan macet dimana2, akhirnya saya makan bakwan malang dulu diparkiran belakang gedung sama om wiriady dan pak arif jati…terus akhirnya karena takut gak dapet taxi, dengan sukarela dan senang hati saya nebeng pak arif sampe deket rumah melalui jalur seperti biasa ( manggarai-bukit duri-cipinang) yang memang tidak kena imbas demo dan macet… 😛
    saya juga kena imbas demo yang vandalism dan anarkis kemaren pagi ini, karena ulah2 mahasiswa itu, tadi pagi saya naek taxi muter di semanggi lancar dan polisi diatas semanggi tidak sebanyak biasanya, mungkin karena mobil “pos” di semanggi yang dirusak oleh para demonstran kemaren itu jadi pagi ini tidak ada mobil karavan pos itu 😀 hehehehehe….

  7. Iya tuh… saya setuju dengan anda… mereka pengennya memperjuangkan rakyat, eh malah nyusain rakyat. Gara-gara kemacetan kan semuanya jadi terkapar, belum lagi yang penurunan “paksa” para penumpang bus pemprov dan bakar-bakaran… low-end banget kesannya 😛

  8. Hehehehe, anda pernah ikut demo Ted? percaya deh kompleksnya gerakan mahasiswa itu tidak sesederhana yang kita lihat 🙂 untung-rugi sudah jelas pasti ada yang terkena imbasnya (pekerja,mahasiswa,polisi,masyarakat)dalam setiap pergerakan yang tinggal jadi perbincangan adalah “how//why/who/where much/many the casualties are” “bad news is good news”, “whose the next president” . Gerakan mahasiswa kedepannya bakalan lebih besar sepertinya, dengan gerakan kecil seperti itu saja hak angket terrealisasi kok :D. Semoga saja tetap dalam koridor Ahimsa.

  9. @ Jesie : lah orang cuek ama gua mana mau suruh ikutan demo. Ngapain juga demo, emang ngefek ya kita demo apa gak.kayanya gak ada efek tuh demo apa gak, harga naik ya naik aja tuh

  10. saya pernah demo, termasuk pendemo angkatan 98 lho * bangga * ( sambil ngupil ) … tapi bukan aktivis, soalnya percuma jadi activis yang sok2an anti tapi bgitu ntar di tawarin posisi sama partai oposisi diterima dan jadi gak anti 😀
    mending demo minta kenaikan gaji 😛

  11. teddy…
    kalo activis, dia active banget :p , yg gak aktiv namanya pasivis 😛 huehueheuhe….
    pendemo kan cuma meramaikan dan ikut2an activis..sebenernya yg gw sebut ‘activis’ disini adalah lebih ke politik praktisnya mahasiswa2…mereka yg arrange activitas demo dan kearah mana demo ini mau dibawa…
    kalo cuma sekedar ‘pendemo’, ya meramaikan kegiatan itu aja dan juga jadi power buat bargain si activis itu 😀
    klo oportunis, itu banyak dan rata2 banyak orang yg menjadi oportunis baik di dunia politis maupun di kantor…tapi gw suka ama elo ted, elo kartunis 😛

  12. btw, gw denger dari temen gw, sbnernya waktu itu anak atma banyakan lagi pada ujian, n katanya yg demo banyakan tukang becak, mie, bakso, dll
    n katanya mereka ada yg bayar, coz ama anak atma diminta kartu tanda mahasiswa mereka banyakan ga punya, n katanya juga dapet 11 orang penyusup digebukin ama anak atma coz bikin rusuh demo

Leave a Reply