Makassar (part 1) – Boeing 737-900ER

Pagi ini saya berangkat lagi ke Makassar. Sabtu kemarin Dwidaya Travel mengirimkan tiket ke rumah atas permintaan Pak Rully bos saya. Dapatnya Lion Air lagi πŸ™ … penerbangan jam 8.40 pagi. Tadi pagi di bandara sambil tunggu antiran check-in (yang antrinya panjang & lama), saya membuat daftar tentang hal-hal yang membuat saya sebel kalau disuruh pergi dengan Lion Air. Sambil ngopi di kafe, saya tuliskan beberapa hal tersebut di kertas biar gak lupa :

  • Proses check-in lama, antriannya pun panjang. Entah karena penumpang Lion Air yang selalu membludak atau karena petugasnya lambat bekerja.
  • Delay, seperti yang sudah saya tuliskan di postingan sebelumnya Lion Air cukup populer dengan budaya delay-nya.
  • Ruang tunggu terminal1A ramai sekali. Tidak jarang susah sekali mendapat tempat duduk di dalam ruang tunggu keberangkatan. Mirip-mirip terminal bis jadinya, atau mungkin mirip pasar?
  • Susah cari makan. Gak ada Hoka-hoka Bento, gak ada Starbuck. (Yang ini sih dipas-pasin alasannya πŸ˜€ )
  • Lion Air tidak memberikan penumpangnya minum apalagi makan secara cuma-cuma. Cukup menyiksa untuk penerbangan jarak jauh. Kalau naik Lion Air sebisa mungkin perut harus kenyang & cukup minum.
  • Gak ada point reward :-p Kalau naik Garuda kan lumayan tuh dapat milleage untuk ditukar dengan terbang gratis (norak gak sih saya ini? :)) )

Tapi saya cukup terhibur pagi ini walaupun harus pergi dengan Lion Air. Hiburan pertama, boarding tepat sesuai schedule. Jam 8.20 kami semua dipersilakan masuk pesawat…sesuai jadwal yang tercetak di boarding pass. Hiburan kedua, penerbangan ke Makassar menggunakan pesawat baru Lion Air…Boeing 737-900 ER. Lumayan menghibur karena dapat kesempatan mencicipi terbang dengan pesawat baru kebanggaan Lion Air; dulu katanya Lion Air adalah maskapai yang pertama kali mengoperasikan pesawat baru keluaran Boeing tersebut.

Memang enak sih naik pesawat baru, gak kotor dan masih rapih interiornya. Dapat kursi lumayan belakang, 36A. Naik & turun pesawat ini cukup mulus (itu sih mungkin karena skill pilotnya kali ya?). Tapi cukup ngeri waktu pesawat direm, runway bandara Hasanuddin tidak terlalu panjang jadi sepertinya pilot ngerem sekuat-kuatnya. Sepanjang penerbangan ke Makassar, saya habiskan dengan membaca novelnya Dan Brown yang saya beli Sabtu lalu, Digital Fortress. Cukup menarik ceritanya, jadi bisa membunuh bosan di perjalanan. Sampai di Makassar tepat pukul 12.04 waktu setempat (lebih cepat 1 jam dari Jakarta). Hmm..tulisan macam ini bisa memicu keberangkatan berikutnya diberi Lion Air lagi nih πŸ™

7 thoughts on “Makassar (part 1) – Boeing 737-900ER

  1. hhmmm…kemungkinan sih memicu “Perkutut Air” jg sih Ted, khusus buat elu…ngohahahahahaha.

    kalo kata Superman ” statistically, flying is the safest transportatin” hihihii, kalo di amrik sono kyknya

  2. Pingback: Blognya Tedy Tirtawidjaja » Surabaya (part 2) - Boeing 737-800 NG

Leave a Reply