Padang (part 2) – Tentang Minangkabau

Ini cerita tentang asal usul kata Minangkabau yang saya dapat dari Bang Roni (supir taksi yang tadi mengantar saya ke bandara). Awalnya saya iseng saja tanya, sebenarnya apa sih arti kata Minangkabau. Lalu dia bercerita lebih kurang seperti ini :

Minangkabau (minang + kabau) katanya berarti “menang kerbau”. Dulu katanya ada dongeng tentang asal usul nama Minangkabau, ada orang Padang (atau Sumatra Barat tepatnya) yang menang perlombaan adu kerbau. Katanya dulu saat ada pertandingan adu kerbau, orang dari Padang pakai akal-akalan supaya bisa menang dalam perlombaan adu kerbau. Tidak jelas juga siapa lawan orang Padang ini. Si Padang memilih untuk menggunakan anak kerbau yang masih menyusu. Tentu ini hal yang aneh karena umumnya orang akan menggunakan kerbaunya yang besar, kekar, dan kuat supaya bisa menang adu kerbau. Tapi si Padang memang punya 1001 akal supaya bisa menang. Anak kerbau yang masih menyusu dengan induknya, sengaja tidak diberi kesempatan menyusu selama beberapa hari.

Di hari pertandingan, lawan orang Padang tadi membawa kerbau betina besar yang kuat dan sepintas terlihat pasti menang pertandingan adu kerbau. Ah mungkin ini tragis, masa ada kerbau besar & kuat lawan anak kerbau yang masih menyusu. Tapi akal si Padang memang sadis (sadis apa licik ya? 😀 ), dipasanginya kepala si anak kerbau dengan sebilah pisau. Terus apa hubungannya dengan menang lomba? Berhubung si anak kerbau belum menyusu selama beberapa hari, ketika dilepas bertarung si anak kerbau ini malah mengejar lawannya untuk mencari susu. Akibatnya tentu sudah bisa diduga, saat si anak kerbau mencoba menyusu pada kerbau lawannya; pisau yang ada di kepalanya merobek perut kerbau besar tadi. Menanglah si Padang dalam lomba tadi, dapat hadiah kerbau. Dari situ muncul istilah “minang + kabau” (terjemahan bebasnya memenangkan kerbau).

He..he..he…rupanya begitu sejarahnya. Entah benar atau tidak lah wong ini cuma cerita versinya Bang Roni. Mungkin kalau ada orang Padang asli yang baca blog ini & punya versi yang lebih akurat bisa beritahu saya.

Oh ya, cerita di atas sekaligus menjawab keheranan saya mengapa rumah adat Sumatra Barat selalu beratap lancip. Lihat saja contohnya pada foto atap bandara internasional Minangkabau di samping ini. Katanya lancipnya atap rumah adat Padang itu menggambarkan kepala & tanduk kerbau. Hmm…masuk di akal sih kalau dihubungkan dengan cerita asal usul kata Minangkabau tadi. Lihat juga logo Semen Padang, juga menggunakan gambar kepala kerbau.

Rupanya kerbau mendapat tempat tersendiri dalam arsitektur rumah adat di Indonesia. Rumah adat lain yang saya tahu berkaitan dengan kerbau adalah rumah adat Toraja. Di Toraja Sulawesi, rumah adatnya berhiaskan tanduk-tanduk kerbau yang disusun ke atas. Nyambung gak sih sama cerita tentang Minangkabau? Yah yang penting ada kerbaunya lah :))

Hmm..saya baru sampai di rumah sekitar pukul 10 malam ini. GA165 yang saya tumpangi delay 1 jam lebih. Sore tadi sekitar pukul 4 saya ditelepon petugas Garuda Padang, dia mengabarkan bahwa pesawat akan mengalami delay sekitar 30 menit dari jadwal semula 18.25. Padang sore tadi hujan deras, petir juga ikut meramaikan suasana. Sepanjang penerbangan ada lebih kurang 3x saya lihat petir dari dalam pesawat. Ah..benar-benar perjalanan yang tidak menyenangkan.

4 thoughts on “Padang (part 2) – Tentang Minangkabau

  1. Salam kenal mas Tedy…
    Saya sangat senang sekali sebagai orang Minang, mas Tedy udah sempat bertandang ke kampung kami walaupun hanya di kota Padang. Apabila mas punya kesempatan lagi ke Sumatera Barat, silahkan kontak saya di deddy80_asmardi@yahoo.com. Dengan senang hati saya akan menemani mas jalan2 di Sumbar…(bukan promosi loh). Ato ada waktu luang liat2 juga blog kita Palanta.org-go!ranahminang.web.id dan masih banyak lagi.

    Sekian dari saya.
    Ogga

  2. tidak heran jika orang minang dijuluki “suku yang terkenal akan kelicikannya”, terbukti dengan cerita adu kerbau diatas…(menurut cerita lawannya adalah suku jawa).

Leave a Reply