Soal Tidur

Kapan Anda bisa menikmati saat-saat tidur yang lelap/pulas? Saya sering sekali mendapat tidur yang nyenyak saat berada di perjalanan. Nah di postingan ini saya akan bercerita sedikit tentang saat-saat saya tidur selama di perjalanan.

Salah satu saat tidur yang benar-benar saya nikmati adalah tidur di dalam taksi. Di Jakarta saya sering bepergian dengan menggunakan taksi. Perjalanan di dalam kota tentu hanya butuh waktu sebentar, kalau macet itu lain lagi ceritanya. Di dalam taksi saya sering mendapat tidur yang benar-benar nyenyak. Memang kalau bepergian di siang hari saya kadang membaca buku, tapi kalau otak sedang lelah, mata ngantuk, saya lebih memilih untuk tidur. Mungkin karena alam bawah sadar saya tahu kalau perjalanannya singkat, sehingga pikiran bawah sadar saya yang memerintahkan otak dan badan untuk benar-benar menikmati kesempatan tidur yang sebentar itu. Perjalanan dari/ke bandara misalnya, bisa jadi saat-saat tidur yang menyenangkan bagi saya. Perjalanan yang normalnya 40 menit dari tempat saya ke bandara, bisa jadi waktu yang cukup untuk sekadar memejamkan mata 😀 Beberapa kali saya tidur di taksi menuju bandara Soekarno Hatta dan bangun setelah si supir bertanya : “Pak, terminal berapa?”. Biasanya supir bertanya setelah masuk gerbang tol bandara, setelah lewat patung Soekarno Hatta.

Kalau perjalanan saya pulang ke rumah lewat Slipi, saya biasanya dibangunkan supir saat hampir perempatan Tomang. Itu karena si supir bingung harus pilih jalur yang mana di perempatan Tomang. Memang bagi yang tidak biasa melintas perempatan Tomang dari arah Slipi, perempatan tadi cukup membingungkan. Ada jalur yang lurus menuju Taman Anggrek, ada jalur yang dipakai untuk putar balik menuju Slipi lagi, ada juga 2 jalur yang menuju Tomang. Dua jalur itu yang kadang membingungkan karena dipisahkan oleh tiang jalan layang menuju Tangerang. Loh kok malah ngomongin jalur jalan, tadi kan lagi cerita tentang tidur :-/

Tadi sore  misalnya, saya baru saja pulang dari Plasa Semanggi sekitar pukul 19.00 setelah main biliar dari jam 2 siang. Lagi-lagi saya bisa tidur dengan nyenyak sekali di taksi. Saya baru terbangun ketika taksi sudah berada di dekat perempatan Tomang. Itu pun karena supir taksi bertanya, “Pak, lurus atau belok kanan?” Ah kalau saja supir taksi tadi tidak bertanya macam itu, saya bisa dapat tidur yang sedikit lebih lama. Mungkin enak kalau punya supir pribadi, sepanjang jalan bisa tidur dan baru dibangunkan setelah sampai rumah. Ah ngimpi kamu, cuma engineer kok mau pakai supir pribadi….lagian mana mobilnya? Tidurnya di taksi tadi kok sampai di rumah masih ngimpi ya :))

Tidak hanya perjalanan dengan taksi saja, perjalanan di pesawat, kereta api, bus juga bisa menciptakan suasana yang nyaman bagi saya untuk tidur sejenak. Saya sering sekali tidur di perjalanan antar kota. Di pesawat saya sering tidur begitu pesawat take off. Rasanya enak sekali bisa terlelap sampai nanti terbangun gara-gara pramugari membagikan makanan (kalau naik Garuda loh ya, kalau naik yang lain mah tidur terus lah wong gak dibagiin makanan). Waktu tidur yang pendek tapi lelapnya benar-benar sempurna.

Di kereta api juga sama, kalau saya pulang ke Cirebon dengan kereta api biasanya saya baru bisa tidur selepas stasiun Jatinegara. Itu karena di stasiun Jatinegara, kereta hampir dapat dipastikan berhenti di sana mengangkut penumpang yang naik di Jatinegara. Nah selepas Jatinegara barulah tenang tidak ada lagi penumpang yang naik ke kereta. Bagaimana dengan perjalanan dengan bus? Hmm ini dulu sering sekali saya lakukan saat masih kuliah di Bandung. Dari Bandung saya biasanya pulang naik bus patas. Dulu saya masih ingat, biasanya mulai tertidur saat bus melewati Jatinangor dan terbangun saat masuk Sumedang. Itu juga karena bus cenderung banyak mengerem ketika masuk jalanan kota. Kalau pergi numpang mobil teman biasanya saya tidak pernah tidur, paling tidak menemani yang punya mobil ngobrol 😀

Ada tidur yang memang saya niatkan sejak awal perjalanan, ada juga yang terjadi tanpa sengaja. Nah paling kesal kalau sudah meniatkan untuk tidur, tapi ada gangguan sepanjang jalan. Mulai dari supir taksi yang sok akrab membuka percakapan, penumpang sekitar yang ngobrol terus-terusan dengan suara kencang, penumpang sebelah yang ajak saya berbincang-bincang, supir yang suka menginjak pedal rem mendadak, sampai anak kecil yang menangis sepanjang jalan. Jadi memang paling enak adalah tidur-tidur yang tidak saya rencanakan, tiba-tiba ngantuk, merem sebentar, lesssss langsung tidur….. I-)

Bagaimana dengan Anda? Sering mendapat kesempatan tidur yang tidak terduga-duga?

One thought on “Soal Tidur

  1. Pingback: Blognya Tedy Tirtawidjaja » Blog Archive » Naik Taksi Termahal

Leave a Reply