Butuh Atau Gaya Doank?

Tulisan ini sengaja saya beri judul yang mirip dengan tulisan saya sebelumnya “Doyan Atau Cuma Life Style”. Ini sekaligus menjawab pernyataan rekan saya, katanya saya ganti ponsel untuk gaya doank.

Minggu 14 September lalu saya akhirnya memutuskan membeli ponsel baru. Tadinya budget yang ada adalah budget untuk membeli kamera DSLR D60…ternyata kurang budget-nya :(( Jadi beli ponsel aja lah. Pilihan jatuh pada Nokia E51. Berangkat ke Roxy Square dengan rekan saya, susah juga mencari Nokia E51 ini. Rupanya E51 termasuk ponsel favorit, jarang toko yang punya stok E51. Untung masih ada toko yang bisa menyediakan Nokia E51. Tawar menawar tidak berlangsung lama, yang lama justru menunggu yang punya toko mengambil stok ponselnya. Saya tinggal belanja dulu ke Superindo daripada bengong duduk-duduk di counter hape.

Dari dulu saya selalu sayang mengeluarkan uang banyak untuk membeli ponsel. Saya pikir untuk apa ponsel mahal-mahal, toh hanya untuk SMS dan telepon saja. Kan yang penting pulsanya ada terus. Buat apa ponsel mahal-mahal, canggih-canggih tapi pulsa di kisaran ribuan rupiah saja :-p Selain itu kok rasanya saya kurang pantas berponsel mahal. Malu sama slip gaji kayaknya kalau pakai ponsel mahal :)) Sebelum beli ponsel pun saya sempat bertanya sama beberapa teman dekat : “pantes gak sih saya pake ponsel mahal?”

Dari dulu saya selalu pakai ponsel murah, yang harganya berkisar setengah jutaan. Ponsel pertama yang saya beli adalah Siemens A35, saya beli tahun 2001. Tidak lama saya tukar tambah Siemens A35 saya dengan Siemens M35. Saya masih ingat Siemens M35 yang dulu saya pakai, bodynya dilapisi karet dengan warna kuning & biru yang mencolok. Tahun 2002 saya ganti lagi tukar tambah dengan Siemens C35. Ponsel ini cukup lama saya pakai selama kuliah. Siemens C35 warna hitam dengan antena di kiri atasnya. Ponsel ini berakhir umurnya tahun 2004. Saya ingat momen ganti ponsel ini karena waktu itu bertepatan dengan awal masa kerja praktek saya di RS Hasan Sadikin Bandung. Siemens C35 ini istirahatkan dan berganti dengan Nokia 2100. Sekian lama pakai Siemens, akhirnya saya beralih juga pakai Nokia. Sekitar bulan April 2005 saya tambah 1 ponsel lagi, Nokia 6585 CDMA. Saya beli Nokia CDMA ini untuk berinternet. Awal-awal 2005, internet dengan CDMA sedang mulai ngetrend.

Ponsel kelima saya beli pertengahan tahun 2005. Saya ingat beli Motorola C380 setelah dapat honor mengajar training komputer untuk para dokter se-Kotamadya Bandung di Lab Biomedika ITB. Motorola C380 itu saya beli di BEC (Bandung Electronic Centre). Ah, Motorola ini juga cukup lama melayani saya. Sampai saat saya kerja di Jakarta ponsel ini masih saya pakai. Berakhir nasibnya saat saya lempar ke tembok ๐Ÿ˜€ pecah berantakan….tes ketahanan dan terbukti Motorola C380 kalah lawan tembok =)) Sementara saya istirahat pakai GSM, saya pakai Nokia 6585 saya saja. Sampai kemudian akhir tahun 2007 saya beli ponsel Nokia 1600. Murah meriah, Rp450ribuan. Kenapa balik lagi pakai GSM? Cape juga pakai CDMA untuk urusan kerja. Kalau saya pergi-pergi saya harus mengaktifkan nomor CDMA di kota lain. Ah repot, jadi saya putuskan untuk membeli lagi ponsel GSM. Cari yang benar-benar murah dan hanya bisa telepon & SMS.

Saat orang mengidam-idamkan ponsel canggih, berkamera, bisa MMS, berlayar warna, bisa putar musik, bisa nonton video, dll….saya enjoy aja (loh kok kaya iklan?) menggunakan ponsel murahan. Ah itu sih elo aja yang miskin ga sanggup beli ponsel mahal :-p Ya mungkin juga benar begitu, saya lebih memilih membeli barang lain daripada sekadar membeli ponsel. Saya lebih memilih membeli stik biliar, kamera digital, dll. Gampangnya, ponsel canggih bukan salah satu barang yang saya idam-idamkan. Balik lagi seperti yang saya tulis di atas, lebih baik ponsel jelek tapi pulsa banyak (gak takut kehabisan pulsa) daripada ponsel mewah tapi krisis pulsa terus ๐Ÿ˜€ .

Lalu mengapa akhirnya saya perlu ponsel yang lebih “canggih” daripada ponsel Nokia 1600 saya? Paling tidak ada 3 alasan dan “gaya” tidak termasuk di dalamnya :

  • Saya perlu HP dengan phonebook lebih besar
  • Saya perlu HP yang bisa menyimpan banyak SMS
  • Saya perlu HP yang bisa dipakai sebagai modem 3G/HSDPA. Ini penting karena belakangan saya sering pergi ke luar kota dan tak jarang kesulitan memperoleh akses internet.

Terus kenapa akhirnya saya memutuskan membeli Nokia E51? Selain 3 kemampuan di atas, E51 dilengkapi dengan wireless network adapter. Dengan fitur wifi ini, saya bisa memanfaatkan E51 untuk browsing saat dapat hotspot gratis bila tidak memungkinkan menggunakan notebook untuk berinternet (alasan yang dicari-cari ya ๐Ÿ˜€ ). Fitur-fitur lain ( kamera, musik/video player, radio) bagi saya bukan hal yang prinsip. Dulu saya selalu geli kalau ada orang yang bilang : “pengen punya henpon yang ada kameranya” (beli kamera digital aja donk, geus puguh hasilnya bagus); geli juga kalau dengar orang bilang : “pengen punya henpon yang bisa nyetel MP3” (beli MP3 player atau iPod donk geus puguh bagus suaranya.)

Apa yang aneh dari Nokia E51 ini?

  • Di phonebook, saya bisa menuliskan nama orang terpisah antara nama depan & nama belakangnya. Tampilan phonebook (Contact) pun bisa diatur untuk menampilkan nama depan dulu baru diikuti oleh nama belakang. Tapi anehnya saat menerima SMS, nama yang muncul justru dalam urutan terbalik (nama belakang ditaruh di depan :-/ ).
  • Sejak dibeli satu minggu lalu, ponsel ini sudah beberapa kali gagal menampilkan menu utama. Ketika tombol menu utama ditekan, tampilan menu tidak muncul. Alih-alih menampilkan menu utama, layar tetap menampilkan nama provider dan lain-lain (persis seperti saat ponsel tidak digunakan).
  • Baterenya sepertinya kurang bertenaga. Kalau ponsel ini dipakai untuk memutar lagu, mendengarkan radio, apalagi dipakai berinternet dengan wifi, baterenya cepat sekali kosong.
  • Tombol Delete yang diletakkan di bawah tombol navigasi, kadang-kadang tidak sengaja tertekan saat saya akan menekan tombol navigasi bawah. Tapi memang dedicated delete button ini banyak juga manfaatnya, lebih mudah menghapus huruf saat sms, menghapus sms, menghapus menu, dll.
  • Saat digunakan untuk memotret, saya tidak bisa mematikan suara shutter. Jadi tidak mungkin memotret secara diam-diam ๐Ÿ˜€ Utak-atik sampai sekarang belum menemukan di mana menu untuk mematikan shutter sound itu. Ah bukan kendala berarti, toh saya tidak suka memotret dengan kamera ponsel ini. Heran juga dengan orang yang memasukkan fitur kamera ponsel saat memilih ponsel…kamera ponsel mana sih yang bagus hasil fotonya :-/
  • Susah juga kalau mau menyisipkan nomor kontak orang ke dalam SMS. Saya harus masuk ke Contact lalu melakukan Copy dan Paste, atau ada cara lain yang lebih cerdas? Lebih sederhana Nokia 1600 saya, ada menu Insert Number..bisa comot langsung nomor kontak orang dari dalam phonebook. Ah itu sih dasar lu aja gaptek pake ponsel canggih.

Jadi gaya doank atau memang kebutuhan? Hmm…sepertinya sih kebutuhan. Paling tidak berponsel mahal juga diimbangi dengan pulsa yang cukup (ya iyalah elo kan pake Halo tagihannya bayarnya di belakang X-( )

9 thoughts on “Butuh Atau Gaya Doank?

  1. Sejak dibeli satu minggu lalu, ponsel ini sudah beberapa kali gagal menampilkan menu utama. Ketika tombol menu utama ditekan, tampilan menu tidak muncul. Alih-alih menampilkan menu utama, layar tetap menampilkan nama provider dan lain-lain (persis seperti saat ponsel tidak digunakan)==> awalnya doang…kesana2nya sih udah ga…punya gw jg gitu ted..tiba2 aja dah ga pernah kambuh lagi..gw jg binun..huehehehe

  2. cukup puas dengan samsung J200… kapasitas SMS 500 :)) terbukti loh
    3G, kamera lumayan 1.3MP, 1 name 4 number plus email and pic-ID…over all 900 rebu doang :d

  3. aku juga baru beli E52 nih, lancar jaya wifi na. KEbetulan juga dah upgrade nih firmwarena, soale BM dari singapur, =)), nyari murah. cuman 1,7jt setelah beradu mulut dengan penjualna yang cewek (hayo ngeres kabeh!!) Voip lancar dengan Frings, Youtube, Yahoo Go 3.0, ebuddy, opera mini, office suite full version, de el el.
    Top Margotop deh E51

Leave a Reply