Standby Surabaya (part 6) – Selamat Lebaran

Selamat merayakan hari raya Idul Fitri bagi Anda yang merayakan.

Surabaya pagi ini terlihat masih cukup sepi. Saya keluar dari hotel sekitar pukul 7 pagi. Tadi pagi saya sudah bangun jam 5, minum kopi dulu. Enak kalau di kamar hotel disediakan teko pemanas air, saya bisa merebus air untuk menyeduh kopi Kapal Api sachet-an yang saya bawa sendiri 🙂 Saya kurang suka minum kopi instan semacam Nescafe yang disediakan secara cuma-cuma oleh hotel. Habis kopi, mandi, lalu bergegas sarapan. Sarapan di hotel Singgasana Surabaya memang top abis. Menu makanan beratnya pas di lidah saya. Sudah 5 hari menginap di sini, baru 2x saya makan pagi karena keseringan bangun siang 😀 . Untuk ukuran sarapan pagi, boleh dibilang makanan di sini wah. Ada daging sapi lada hitam, ayam goreng, udang saus, kakap goreng tepung, cumi-cumi, wah pokoknya enak-enak. Hari Minggu lalu juga makannya enak; ada daging sapi saus steak,  beef burger saus barbeque. Pagi ini saya sudah bersiap pergi ke Telkomsel, standby di sana.

Di beberapa tempat saya lihat sampah koran berserakan di jalanan. Di tempat itu sepertinya baru selesai dipakai masyarakat menunaikan ibadah sholat Id. Entah koran-koran itu disediakan oleh panitia masjid atau jemaah membawa sendiri. Tampak beberapa orang sedang sibuk membereskan sampah koran-koran itu. Cukup heran mengapa mereka malas sekali membersihkan koran-koran yang sudah mereka pakai untuk duduk.  Sebagian besar koran bahkan berserakan di tengah jalan. Ah mungkin mereka sudah tidak sabar berlebaran bersilahturahmi bersama keluarga sampai-sampai tidak sempat membereskan koran-koran itu. Bayangan opor ayam, rendang daging, dan ketupat mungkin juga sudah depan mata memaksa mereka melupakan koran-koran yang tadi sudah mereka pakai sebagai alas duduk. Ini fenomena yang biasa dilihat di pagi hari lebaran, jalanan ditutup karena dipakai masyarakat sholat Id. Untung saya melintas setelah sholat Id selesai, kalau tidak tentu taksi yang saya tumpangi harus memutar mencari jalan lain.

Fenomena lain yang saya perhatikan, banyak orang pagi ini yang mengendarai sepeda motor tidak menggunakan helm. Bisa jadi karena jalanan yang saya lewati adalah jalanan kompleks (bukan jalan pr otokol), makanya banyak pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm. Hal ini cukup menarik perhatian saya karena sejauh pengamatan saya, wilayah Jawa Timur khususnya Surabaya, masyarakatnya cukup patuh berlalu-lintas. Di jalanan biasanya saya lihat orang naik motor dengan helm lengkap. Helm yang dipakai biasanya minimal helm half face, jarang saya lihat di Surabaya orang naik motor dengan help proyek (helm yang asal nutup kepala). Makanya pagi ini saya cukup heran mengamati orang-orang bermotor tanpa memakai helm. Kebanyakan dari mereka sepertinya baru pulang dari sholat Id atau hendak pergi berlebaran. Bapak-bapak yang bermotor banyak yang menggunakan peci, ada yang masih bersarung & berbaju koko. Beberapa ibu juga terlihat berjilbab tanpa helm naik motor. Memangnya kalau sudah pakai peci kepalanya jadi kuat kah? Kalau jatuh dari motor siapa yang rugi? Atau dengan dalih “ah cuma pergi dekat saja kok, ngapain pakai helm” dibenarkan tidak memakai helm?

Pagi ini di televisi banyak menyiarkan liputan malam takbir di beberapa daerah, yang menarik bagi saya tentu kegiatan takbir keliling di Jakarta. Tadi pagi saya juga melihat berita beberapa orang di Sukabumi meninggal karena kecelakaan motor saat bertakbir semalam. Ada yang nekat naik di atas metromini, truk berkeliling Jakarta. Waduh, kok mereka senekat itu. Puluhan motor juga berkeliling ikut takbir, lagi-lagi saya lihat mereka tidak pakai helm. Padahal mereka yang berkeliling kan lewat jalan raya. Terlepas dari nyawa mereka yang double, kok mereka tidak takut ditilang Polisi? Atau karena Polisi terlalu sibuk mengamankan malam takbiran, sampai tidak sempat menangani peserta takbir yang tidak pakai helm? Hari biasa jangan harap bisa seenaknya melintas jalanan ibukota naik motor tanpa helm. Oh ya yang lucu adalah tertangkapnya seorang remaja bertakbir keliling sambil bawa clurit. Halah…mau takbiran atau mau tawuran Om?

He..he..he..postingan yang simpang siur ya 🙂

** foto ilustrasi di atas adalah foto beduk di depan pintu masuk hotel Singgasana Surabaya, baru diambil fotonya tadi pagi **

3 thoughts on “Standby Surabaya (part 6) – Selamat Lebaran

  1. Menjelang hari fitri sampai hari fitri ini memang kebanyakan sodara2 seiman yang muslim ini kebablasan dalam merayakan “kemerdekaannya” dan entah mengapa “tradisi” langgar hukum lalu lintas ini seperti ritual yang sering terjadi ketika malam takbiran, hari pertama Ied dan juga hari-hari kampanye terbuka saat pemilu yang herannya seperti mendapat angin dengan tidak tegasnya sebagian bapak pulisi walaupun semalam sebagian bapak pulisi ada yang bertindak tegas juga di lampu merah Bekasi Barat. Sayangnya fenomena ini tidak dibarengi dengan, misalkan, gerakan tebar zakat/sedekah bagi sodara2 kita yang kebetulan pada malam takbiran ada juga yang masih berpangkutangan tertidur disepanjang trotoar beralas semen keras, beratap awan pekat. Hanya satu penjelasan, komponen bangsa ini masih belajar yang moga2 bukan belajar jalan ditempat atau mundur kebelakang

  2. taqobalallahu minna wa minkum
    Mohon dimaafkan segala salah. Semoga Allah jadikan kita insan yg jauh lebih baik, lebih mulia, dan lebih berguna bagi sebanyak mungkin manusia. Amin

Leave a Reply