Makassar (part 4) – Tentang Predator

Di kalangan pehobi biliar, merek Predator adalah salah satu merek yang mungkin paling banyak dikenal. Predator adalah merek cue stick biliar yang cukup tersohor. Awalnya semua cue stick Predator dibuat di Amerika. Belakangan saya dapat info dari teman saya yang penjual stik, katanya semua cue Predator dibuat di China meskipun quality control tetap dilakukan di Amerika. Merek dengan logo “harimau merunduk” ini termasuk cue stick mahal. Belum tahu logonya Predator? Kurang lebih seperti terlihat pada foto di bawah ini :

Rata-rata cue stick Predator berharga lebih dari 4 juta rupiah, dari mulai dari tipe 4K1, 5K1 yang hitam polos sampai dengan tipe dengan motif yang rumit. Katanya beli Predator adalah sama dengan beli gengsi. Di Indonesia sendiri sepertinya memang benar, Predator sudah memiliki brand image yang di kalangan pehobi biliar. Saya juga baru ngeh kalau memang demikian adanya ketika beberapa kali bertemu orang di daerah. Beberapa kali bertemu dengan orang di luar Jakarta, mereka sepertinya hanya tahu cue stick mahal adalah Predator. Padahal ada banyak merek cue stick yang harganya sama bahkan lebih mahal dari Predator. Misalnya cue stick merek TAD yang harganya bisa puluhan hingga ratusan juta rupiah karena benar-benar dibuat tangan (hand made). Kalau menurut Ferry Danuarta, rekan saya yang importir cue, banyak cue yang bagus (kualitas & hit-nya) selain Predator. Dengan harga 1 jutaan saja sudah ada merek Player yang cukup bagus kualitasnya. Memang Predator unggul dalam teknologi pembuatan shaft-nya, 314 itu loh. Jadi memang selain kualitas, ada gengsi tersendiri bagi seorang pecinta biliar untuk memiliki cue stick Predator.

Kenapa tiba-tiba saya menulis soal Predator? Hmm ini hanya hasil pengamatan saya saja Minggu sore di Arena Pool & Cafe, Minggu sore saya mampir main biliar sebentar di Arena. Karena semua meja penuh, saya iseng saja mengamati orang-orang yang sedang main biliar. Biasanya kalau datang ke Arena saya main di lantai 1, meskipun di lantai 2 pun ada meja biliar. Saya lebih suka di lantai satu (yang katanya VIP karena ada sofanya) karena lebih sepi daripada di lantai 2. Memang dulu pun saya pernah main di lantai 2 karena meja-meja di lantai 1 penuh. Kalau saya perhatikan, orang-orang yang main di lantai 2 banyak yang memang penggila biliar sejati atau boleh dibilang master-masternya Makassar. Terlihat dari cue stick yang mereka bawa sendiri, terlihat juga dari caranya main biliar. Nah tadi selama mengamati beberapa meja yang digunakan oleh orang-orang, saya juga mengamati cue stick yang mereka pakai. Ada setidaknya 4 orang yang saya perhatikan menggunakan cue Predator. Saya mudah mengidentifikasi cue Predator dari logo harimau yang ada di butt (bagian paling belakang stik biliar).

Memperhatikan hal itu saya jadi berpikir, berarti merek Predator cukup mendapat hati di kalangan pecinta biliar Makassar. Mencoba menganalisis lagi (hmm dasar kurang kerjaan ya saya ini 😀 ), mungkin juga karena ketidaktahuan mereka bahwa ada cue-cue lain yang setara kualitasnya dengan Predator sebut saja misalnya merek Schon dari harga USD$400an sampai USD$1000an. Ya suka-suka mereka sih mau pakai cue apa, paling bijaksana analisisnya = berarti mereka duitnya banyak jadi pakai Predator :))

Di Cirebon, Solo, Batam, saya pernah bertemu dengan orang di tempat biliar yang tahunya cuma Predator. Kalau di Solo dan Batam waktu itu saya sedang tidak bawa cue sendiri, mereka yang ngobrol dengan saya bertanya cue apa yang saya pakai dan sekenanya mereka menduga-duga saya pakai Predator. Kalau di Cirebon lain lagi ceritanya, waktu itu saya main dengan cue sendiri, Joss 101. Joss 101 warnanya abu-abu polos dengan dengan ujung butt berwarna putih. Mungkin kalau dari jauh sepintas Joss 101 saya terlihat mirip dengan Predator 4K1 atau 5K1. Nah di Cirebon ada orang yang sok akrab menyapa saya dengan opening kurang lebih begini “sticknya Predator 4K1 ya?” Dari beberapa kejadian tadi (termasuk pengamatan saya Minggu sore) berarti wajar donk kalau saya berpendapat merek Predator cukup membumi di Indonesia.

Terus jadi ceritanya kamu pengen punya Predator? Memang saya juga masih ngimpi beli Predator BK2 (break cue). Kamu kan masih taraf belajar, ngapain harus pakai cue mahal-mahal? Analogi yang pernah disampaikan Ferry cukup bagus, kurang lebih seperti ini : belajar setir mobil bisa pakai mobil Kijang, bisa juga pakai BMW. Salahkah kalau belajar menyetir mobil dengan BMW, tentu tidak kan? Resiko nubruk lecet-lecet sih pasti ada, tapi kalau sudah punya BMW sendiri lecet ya biarin :-p Terus memangnya kalau pakai cue stick mahal terus langsung jago main biliarnya? Ya gak juga, balik lagi ke analogi nyetir mobil tadi : memangnya kalau belajarnya pakai BMW terus langsung mahir nyetirnya? Gak juga kan. Analogi nyetir mobil ini sepertinya cukup bisa dipakai untuk menjelaskan mengapa beli cue stick mahal. Ya namanya juga analogi yang saya dapat dari seorang pedagang stik biliar =)) Kalau saya yang ditanya ngapain lu pake stik mahal-mahal? Kalau ditanya gitu sih saya santai saja, di otak saya cuma bisa berpikir “ah lu aja sirik gak punya cue stick sendiri” =)) – eh ini bukan sombong loh ya, ini cuma ekspresi karena banyak juga orang yang usil nanya-nanya.

Loh kok lagi-lagi tulisan saya ngelantur begini, tadi awalnya ngomongin Predator kok jadi begini endingnya :-/

8 thoughts on “Makassar (part 4) – Tentang Predator

  1. tp hrs jg diingat bos..bkn hanya cue yg punya pengelompokan tp pemainx jg punya kategori.nah disini sbnrx kt bs ambil kesimpulan msg2.contoh:di 91 pool & cafe
    disana lbh byk yg dtg hanya beli suasana,beda dgn di hobby jl.nusakambangan yg dtg mmg petarung (jagoan) yg menyajikan permainan ctk…kira2 asumsi sy spt itu bos..!

  2. intinya kan money kalo punya money sih mo beli apa aja juga boleh kan bro..lagian kalo main billiard mah setahu aku cuma 3 aja syaratnya, pd, akurat n emosional…

  3. Bukan gaya, tapi memang beda bila pake predator p3, awalnya aku kira gak ada artinya beli p3. Tapi hasilnya semua pukulan bola putih saya jadi bagus dan memang bisa jalan bola putihnya dg sempurna bila pakai p3. Aku sdh hampir 30 th main biliar, baru pake p3 ini, baru tau bahwa saya bisa, cuman stiknya aja yg salah. Jadi asumsi buat apa beli stik mahal2 itu gak ada guna bila masi belajar itu salah besar. Stik predator buat gaya, itu salah besar. Yg benar memang beda bila digunakan, asal yg asli dan masih lurus. Memang benar slogannya predator “play like a pro”. Awalnya aku beli buat iseng koleksi aja, bahwa aku hobby billiard, buat kenang2an, aku coba main dan hasilnya benar2 diluar dugaan saya, kok gak dari dulu2 saya beli ya waktu masih aktif main. Saran saya bila mau main billiar, langsung aja beli p3 gak usah ragu. Shaftnya pake 314^2. Yg asli. Tip minim kamui clear, tip bawaannya kurang bagus.

Leave a Reply