Makassar (part 5) – Tentang Pisang Epe

Selasa sore saya pulang dari Makassar. Sampai di Jakarta sekitar pukul 17.30, bukan waktu yang baik untuk pulang ke Jakarta karena pada jam-jam itu lalu lintas masih macet. Saya masih punya 1 cerita lagi dari Makassar yang belum sempat saya publish. Rencananya tulisan ini mau saya publish saat saya berada di Bandara Hasannudin Makassar, tapi sayangnya saya tidak bisa menemukan wireless internet gratis di bandara maupun di Garuda Lounge. Cerita ini tentang penjual pisang epe di Makassar.

Senin malam saya dan Rachmat keluar hotel makan ikan di restoran Lae-Lae. Lae-Lae ada di kawasan pantai Losari, tidak terlalu jauh dari hotel Quality tempat kami menginap. Karena baru pertama kali makan di tempat tersebut, kami baru tahu kalau kami harus memilih langsung ikan/udang/cumi yang kami pesan. Begitu datang langsung cari meja dan duduk, ah malunya ternyata lauknya harus kita pilih sendiri sekaligus tawar-menawar harga. Lewat mbak pelayan yang datang kami hanya bisa pesan nasi, minum, dan sayur-sayuran. Cukup puas kami berdua makan di Lae-Lae. Pulang dari Lae-Lae Rachmat ingin beli pisang epe, saya juga jadi ingin beli penasaran seperti apa sih pisang epe itu. Enam kali datang ke Makassar belum sekalipun saya makan pisang epe. Padahal di seputaran pantai Losari banyak sekali pedagang pisang epe. Di Trans TV pun pernah dibahas kalau pisang epe jadi salah satu jajanan favorit bagi orang-orang yang mengunjungi pantai Losari.

Sebelum ke inti cerita saya ceritakan dulu sepintas apa itu pisang epe. Pisang epe adalah pisang yang dibakar lalu disiram dengan saos. Saosnya sendiri bisa terbuat dari gula merah yang dicairkan, coklat, atau sari durian. Kita juga bisa minta pisangnya diberi parutan keju. Pisang yang digunakan kalau tidak salah pisang raja. Tentu pisang yang dipakai adalah pisang yang tidak terlalu lembek seperti layaknya pisang ambon. Dinamai pisang epe karena sebelum dan sesudah dibakar, pisang ditekan dengan alat pres sederhana (terbuat dari 2 buah balok). Jadi epe sendiri mungkin maksudnya pisangnya jadi gepeng karena dipencet-pencet dulu. Sepanjang pantai Losari itu kita bisa dengan mudah menemukan penjual pisang epe dengan gerobaknya masing-masing. Di jalan yang menuju Lae-Lae saja kami melewati setidaknya 3 penjual pisang epe.

Nah Rachmat yang sudah pernah membeli pisang epe lebih memilih membeli pisang epe lagi di penjual yang ada di sebelah utara hotel Quality. Padahal kalau mau cepat di depan rumah makan Lae-Lae juga ada pedagang pisang epe. Tapi saya malah nurut saja dengan Rachmat beli pisang epe di tempat yang lebih jauh daripada yang kami lewati tadi. Memang sih tampilan penjual pisang epe yang kami lewati kurang meyakinkan (itu versi Rachmat). Karena tidak semua penjual pisang epe menyalakan petromaxnya, gerobak terkesan gelap apalagi ditambah sepi pembeli membuat kita ragu membeli pisang epenya. Kalau saya perhatikan mereka memang mengirit pemakaian BBM dengan meyalakan petromax hanya kalau ada orang yang memesan pisangnya, tentu si penjual perlu penerangan untuk meracik pisang epenya. Rejeki orang memang tidak ada yang tahu, tepatnya mungkin hanya Tuhan yang tahu tentang rejeki seseorang. Ada juga yang berpendapat semuanya (rejeki, jodoh, mati) di tangan Tuhan. Dalam kasus tadi penjual pisang epe dalam foto di atas itulah yang beruntung, dari sekian penjual pisang yang kami lewati eh malah dia yang dapat pembeli. Sebungkus pisang epe coklat keju dijual dengan harga Rp7000,- (berisi 3 buah pisang). Seperti ini nih bentuk pisang epe :

Buat lidah saya, pisang epe ini terlalu manis. Campuran gula merahnya mungkin yang terlalu banyak. Kalau saja kejunya lebih banyak sepertinya lebih pas, keju memberi rasa asin dan gurih sekaligus membantu menetralkan manisnya kuah coklat & gula merah itu. Seporsi ini cukup bisa mengganjal perut kalau malam tiba-tiba lapar di hotel 🙂 Selain pesan dibungkus, kita juga bisa langsung makan di sana. Penjual pisang epe ini menyediakan beberapa bangku plastik berjaga-jaga kalau-kalau ada pembeli yang ingin makan di tempat.

**waduh sudah jam 9.24 dan saya masih asik ngeblog di kamar…kerja euy kerja =)) **

2 thoughts on “Makassar (part 5) – Tentang Pisang Epe

  1. Mas tedy, inget gak yang kita pesan itu sebenarnya pisang keju coklat. Tapi si penjualnya terlalu kreatif, jadilah coklatnya dilelehkan pake sari durian. Campur aduk semua rasa (keju+durian+coklat). Harganya pun sebenarnya 6000 (tempat lain), karna pake durian jadilah 7000. Walau begitu, enak kok 🙂

Leave a Reply