Blognya Tedy Tirtawidjaja

Kumpulan tulisan dan curahan pikiran saya yang bodoh ini

Soal Telepon Umum


Foto di samping ini diambil 3 hari yang lalu di depan kos saya. Waktu itu sekitar jam setengah 10 pagi, saya belum berangkat kantor :-p saat itu saya sedang menunggu taksi. Taksi tak kunjung datang, ada pegawai Telkom yang datang mengambil koin dari dalam telepon umum koin. Setelah memeriksa telepon umumnya sepertinya dia juga melakukan pengecekan apakah telepon dalam kondisi prima.

Si petugas juga membawa serenteng kunci (banyak sekali), mungkin dia memang bertugas memeriksa puluhan telepon umum di Jakarta Barat. Yah memang di depan kos saya ada sebuah telepon umum koin yang masih berfungsi. Masih ada juga loh yang menggunakan telepon umum itu. Salah satunya adalah pembantu kos saya yang sok cantik & doyan cekikikan (**pengen ngelempar botol rasanya**)

Saya sendiri sudah 2 tahun tinggal di situ belum pernah sekalipun mencoba menelepon menggunakan telepon umum itu. Sekali-kali nanti saya harus coba sebelum telepon umumnya rusak dan punah :)

Saya juga sudah lupa kapan terakhir menelepon menggunakan telepon umum koin. Cuma saya masih ingat sekali dulu waktu kecil sering ikut mamah saya menelepon di telepon umum. Hmm berarti itu jaman sebelum tahun 1995, karena saya ingat rumah saya dipasangi telepon waktu saya kelas 5 SD. Entah apakah sekarang telepon umum yang dulu sering dipakai mamah saya itu masih ada atau tidak. Telepon umumnya masih seperti akuarium, ditempatkan di sebuah ruangan dari kaca. Ya jelas sekali saya ingat telepon umum yang ada di Jalan Yos Sudarso Cirebon itu salah satunya ada di dekat Kantor Pos Besar Cirebon.

Dulu sebelum era ponsel, saya perhatikan wartel lah yang mula-mula menggeser eksistensi telepon umum koin. Di mana-mana kita gampang menemukan wartel (warung telekomunikasi), dari yang benar-benar dikelola secara profesional sampai yang cuma 1 kamar sempit pengap. Wartel yang dikelola secara profesional misalnya pernah saya jumpai di Jalan Padjajaran Bandung. Ruangan ber-AC, dengan tempat tunggu cukup luas, KBU yang banyak berjajar (KBU - Kamar Bicara Umum). Wartel yang pas-pasan juga banyak dijumpai; dulu di dekat kos saya di Dago Bandung, ada sebuah warung yang juga beroperasi sebagai wartel. Cuma ada 2 KBU dengan ukuran tidak tidak lebih dari 1 meter persegi. Tidak ada AC, cuma kipas angin kecil. Dulu telepon umum kartu juga sempat beroperasi, tapi sepertinya hanya sebentar saja popularitasnya.

Kurun tahun 2001-2002 penggunaan ponsel juga masih jarang. Saya masih ingat waktu awal-awal kuliah, masih banyak teman saya yang tidak punya ponsel. Sekarang sepertinya malah aneh mendengar orang belum berponsel. Pulsa telepon operator telepon seluler juga belum semurah sekarang. Coba bayangkan, kalau kita sekarang masih tergantung pada telepon umum macam itu; repot sekali kalau cuma ingin tanya kabar harus jauh-jauh jalan ke telepon umum (perlu cari-cari uang logam seratusan juga :) ). Sudah jaman ponsel, mau tanya kabar tinggal SMS murah meriah, praktis pula. Kalau pagi-pagi bangun kesiangan kan repot juga kalau harus jalan ke telepon umum telepon bos ijin datang terlambat :-p Eh tapi bahaya juga sih pakai ponsel, sudah bangun kesiangan, melek mata terus kirim SMS ke bos “Pak maaf telat masuk kantor”. SMS terkirim eh bablas merem tidur lagi =)) ….bahaya kan?

Jadi masih ingatkah Anda kapan terakhir kali menelpon dari telepon umum? :)


Lunch @Blacksteer


Senin lalu kami tim Unix Fujitsu Indonesia pergi makan siang di Blacksteer Grand Indonesia. Makan steak ceritanya. Ada yang ulang tahun? Oh bukan…ini makan-makan merayakan hadiah Fujitsu President Award untuk NSN IN Project. Sebenarnya hadiah ini sudah cukup lama kami dapat, waktu acara Fujitsu Family Gathering Agustus lalu. Awalnya kami tidak punya rencana memilih Blacksteer sebagai tempat makan siang, kami ber-18 cuma berangkat ke Grand Indonesia tanpa tahu mau makan di mana.

Salah satu alasan memilih Blacksteer adalah adanya promo diskon 30% bagi pemegang kartu kredit UOB dan 50% bagi pemegang kartu kredit Mandiri. Hmm…saya sih bukan pecinta diskonan kartu kredit, tapi berhubung yang pegang dana bukan saya (yang pegang dana jagoan kartu kredit juga kali :-p ) ya saya sih manut saja mau makan di mana. Ternyata diskonan kartu kredit itu ada syarat dan ketentuannya juga. Diskon hanya berlaku untuk pembelanjaan makan sebesar Rp2juta. Jadi misalnya total makan adalah Rp3.5juta maka diskonan tidak berlaku. Bisa dinego dengan kasirnya jadi begini, Rp2juta dapat diskon sementara sisa Rp1.5juta tunai. Hmm…payah tidak transparan. Tapi ya memang tidak bisa disalahkan juga, lah wong namanya iklan kan harus semenarik mungkin apalagi bagi para pecinta diskonan kartu kredit seperti teman-teman saya itu tuh ;))

Oh ya tiap kali ada acara makan-makan kantor, bagi saya yang lebih menarik adalah foto-fotonya. Saya bisa mengambil foto banyak hal, dari foto dokumentasi acara sampai foto kekonyolan teman-teman saya :D Ujung-ujungnya tentu dikompilasi jadi komik seperti di bawah ini (tentu komentar yang ada di komik hanya rekaan saya saja).


Solo (part 4) - Bersepeda


Mampir sebentar di Solo 2 hari lalu saya mengamati fenomena bersepeda di sana. Yang pertama saya lihat adalah rombongan pelajar bersepeda saya jumpai di sekitar Jalan Adisucipto Surakarta. Perjalanan dari dan ke bandara, saya selalu berpapasan dengan pengendara sepeda. Tidak sedikit mereka yang bersepeda adalah anak-anak sekolah. Karena saya melintas sekitar pukul 1 siang, mereka pastinya baru pulang dari sekolah. Tidak cuma anak sekolah, banyak juga saya lihat ibu-ibu bersepeda, para karyawan bersepeda. Di taksi sewaktu menuju airport Rabu siang, saya berhasil memotret beberapa anak sekolah yang di bawah gerimis kecil mengayuh sepeda pulang dari sekolah.

Sepeda yang mereka gunakan juga berbagai macam, ada yang bertahan dengan sepeda kumbang (foto kanan), ada juga yang bersepeda dengan sepeda gunung (foto kiri). Mungkin harus dicari tahu apakah di Solo toko sepeda masih punya pasar yang cukup besar, mengingat masih banyak yang bersepeda di Solo. Hal yang unik bagi saya untuk mengamati mengapa di Solo masih banyak orang yang bersepeda di tengah jalan raya. Situasi kota Solo yang tenang dan tidak terlalu padat lalu lintasnya mungkin salah satu alasan mengapa orang masih gemar bersepeda ke sana ke mari. Tentu semuanya itu terlepas dari pikiran negatif kalau mereka cuma punya sepeda sebagai alat transportasi. Lalu lintas dan kota yang cukup tenang boleh jadi menjadi tempat yang menyenangkan untuk bersepeda. Di Yogyakarta saja yang katanya berpredikat kota pelajar, motor sudah jadi alat transportasi umum yang memenuhi kota. Jangan-jangan budaya bersepeda ini ada korelasinya dengan budaya orang Jawa yang “alon-alon asal kelakon”, pelan-pelan asal sampai (ah sok berfilosofi lu Ted :-p )

Di Jakarta belum tentu tiap hari kita bisa melihat orang bersepeda di tengah jalan protokol ibukota. Eh mungkin kalau melintas pagi-pagi di Sudirman masih bisa melihat rombongan Bike To Work. Bike To Work adalah kumpulan orang-orang yang senang bersepeda dari rumah menuju kantor. Jangan bayangkan kalau jarak rumah dan sepeda hanya dekat saja, salah satu rekan saya di kantor bersepeda dari Cibubur menuju Sudirman beberapa kali seminggu….terbayang gak sih jauhnya? Naik sepeda di jalan-jalan besar Jakarta mungkin bisa jadi sebuah aktivitas yang menguras adrenalin. Bayangkan saja bagaimana pengendara sepeda harus bersaing dengan ramainya kendaraan bermotor mulai dari bajaj, motor, mobil, bahkan kontainer. Lain kota lain juga memang motivasi orang bersepeda. Di Jakarta mungkin orang akan gembar-gembor soal mengurangi polusi udara dengan cara bersepeda ke kantor, atau bersepeda supaya sehat. Di Solo mungkin lain lagi motivasinya atau boleh jadi memang tanpa motivasi apapun saking terbiasanya bersepeda ke mana-mana.

**** woi buruan mandi terus berangkat kerja, jam 9 nih belum berangkat malah posting gak jelas soal naik sepeda :D….eh naik apa ya nanti ke kantor? sepeda, ojek atau taksi saja? ;)) ****


Solo (part 3) - Cuaca Buruk


Siang ini saya rencananya pulang dengan menumpang Garuda pukul 14.10. Dari hotel sebenarnya ada shuttle bus gratis menuju airport. Sampai jam 1 kurang 10, bus belum berangkat juga karena masih menunggu belasan tamu lain (1 rombongan) yang sedang makan siang. Halah…bosan menunggu saya putuskan naik taksi saja. Perjalanan menuju airport tidak sampai 20 menit. Saya langsung check-in & bergegas masuk ke Garuda Lounge berharap bisa internetan lagi. Ah sayang tidak ada fasilitas internet di lounge. Jadilah saya baca-baca majalah yang ada di sana.

Sekitar pukul setengah 2 hujan turun demikian lebatnya. Awal yang buruk pikir saya. Jam 2 lebih sedikit ada pengumuman bahwa GA224 dari Jakarta terpaksa dialihkan pendaratannya di Semarang karena cuaca buruk. Pesawat akan menuju Solo untuk mengangkut kami semua bila cuaca sudah memungkinkan untuk pendaratan. So here I am still waiting at Garuda Lounge. Without free internet, without power socket for my notebook, also without book. Just can post from my E51. Heavy rains still there….


Solo (part 2) - The Sultan Hotel


Saya tiba di Solo sekitar pukul 2 siang, hmm first time naik pesawat ke Solo :D Bandar udara Adi Sumarmo Solo ternyata kecil dan sepi. Terakhir saya mengunjungi Solo pertengahan tahun 2002 lalu. Waktu itu saya berangkat ke Solo dengan mobil rekan saya. Kali itu saya sengaja datang ke Solo, ke Rumah Sakit Dr.Oen Solo, untuk operasi mengeluarkan pen/platina yang ditanam di kaki saya. Platina itu 2 tahun tinggal di kaki saya setelah dipakai menyambungkan tulang kering saya yang remuk saat kecelakaan motor akhir tahun 1999 lalu. Ya sudah, ini bukan postingan tentang sakit penyakit :D saya mau cerita tentang Hotel The Sultan Solo.

Setibanya di Solo kemarin siang, saya langsung menuju Telkomsel. Memang kedatangan saya ke Solo kali ini untuk mengganti tape drive-nya Telkomsel. Tape drive itu apa? Bodoh-bodohannya tape drive adalah alat untuk menulis data ke dalam media tape, umumnya dipakai sebagai media backup data. Gambarnya seperti ini (yang dilingkari merah adalah bagian yang saya ganti kemarin):

Pekerjaan saya sebenarnya sudah beres sekitar jam 4 sore. Rupanya bos saya lupa memesankan hotel untuk saya, baru jam 5an rekan saya mencarikan hotel untuk saya dengan bantuan Dwidaya Travel. Tunggu punya tunggu sampai pukul setengah 7, Dwidaya belum bisa mencarikan hotel untuk saya. Semua rekanan Dwidaya di Solo sedang meeting & tidak bisa dihubungi…nah loh? So what kalau mereka meeting, kan saya gak perlu tahu itu; yang penting mana hotel untuk saya? Ah cape menunggu saya browsing saja di Google mencari informasi hotel di Solo. Ada Novotel juga, tapi kalau saya pesan kamar di Novotel itu sama saja ngeledek bos-bos di kantor :-p , mending cari yang lain. Dapat informasi Hotel The Sultan, segera telepon dan pesan kamar. Ada kamar Deluxe di The Sultan seharga Rp558.800,- ini sudah overbudget seorang engineer (by default budget hotel engineer maksimum Rp400.000,-) Ya sudahlah, tidak mau repot saya ok saja pesan kamar itu, resiko nombok pastinya…so what kalo nombok, taruhlah kantor Rp400.000,- saya bayar sisanya, simple kan?? :)

Dari Telkomsel saya naik taksi ke Hotel The Sultan. Dari awal masuk lobi, saya langsung tahu hotel ini akan nyaman disinggahi. Rupanya hotel ini dulunya bernama Hotel Quality. Entah kebetulan atau cuma sugesti saja, kamar hotel yang saya dapat memang mirip desainnya dengan Hotel Quality Makassar. Harga The Sultan sedang mengadakan promo Rainy Sunny selama bulan November ini. Promo tersebut termasuk harga kamar tadi, juga beberapa fasilitas tambahan lainnya. Misalnya : free creambath/refleksi di Happy Salon, free 1 minuman/makanan di restauran, free masuk ke Music Room, free antar jemput ke airport, dan beberapa diskon lain (diskon makanan/minuman di room service, diskon laundry, diskon fitness & spa).

Soal kamar silakan lihat review saya di komik berikut ini :

Soal room service menu, saya lihat harga-harga makanan di hotel ini cukup murah. New Zeland tenderloin steak saja cuma Rp76.000,- jarang-jarang ada steak di hotel semurah ini; langsung saya pesan 1 :D . Steak-nya memang empuk, sayang black pepper sauce-nya terlalu sedikit. Porsinya cukup ngejeduk di perut :-p Kelemahan yang saya lihat di kamar cuma TV-nya. Mungkin karena TV-nya sudah tua sehingga waktu dinyalakan beberapa kali gambarnya bergaris-garis dan warnya kadang kabur (tidak tajam dan cenderung hitam putih).

Baru sekali datang ke Hotel The Sultan, komentar saya singkatnya hotel ini highly recommended.


Solo (part 1) - Upgrade Kursi


Selasa siang saya berangkat ke Solo. Sampai di bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 11.40. Setelah mampir sebentar makan siang di Garuda Lounge, saya bergegas masuk ke ruang tunggu F5. Baru sebentar duduk di ruang tunggu, nama saya dipanggil petugas ruang tunggu tersebut. Tidak jelas apa sebabnya saya dipanggil, boarding pass saya diminta oleh si petugas. Si petugas cuma bilang kalau kelas ekonomi penuh, ditanya detail si petugas cuma cengar-cengir gak lucu. Saya diminta duduk kembali sampai waktu boarding (naik pesawat).

Nah boarding berlangsung sekitar pukul 12.30, hampir semua penumapang sudah masuk pesawat. Tinggal saya yang bingung, balik lagi saya ke meja petugas tadi. Si mas tadi mengganti tempat duduk saya ke 2F, upgrade ke kelas bisnis :D Padahal di saya waktu check-in awalnya dapat tempat duduk 10C. Mungkin ini bisa terjadi karena ada beberapa kru Garuda yang ikut penerbangan ke Solo ini sehingga beberapa tempat duduk di kelas ekonomi terpaksa disisihkan untuk mereka. Mereka sepertinya adalah pramugari/a yang akan bertugas dalam penerbangan haji kloter Solo, terlihat dari tulisan yang ada di troli mereka : Hajj Crew Garuda Indonesia. Nah saya yang ketiban untung dipindah duduk ke kelas bisnis. Entah apa jadinya kalau di kelas bisnis tidak ada kursi yang kosong, disuruh pindah ke cockpit kali :))


Back To Blog - Hotel Garden Palace


Hmm sudah 2 minggu saya puasa ngeblog. Setelah banyak masalah yang memeras tenaga & pikiran, hari ini saya mulai mendapat mood kembali untuk menulis. Banyak juga topik yang sebenarnya bisa ditulis dalam 2 minggu ini, sayang mood yang tidak baik menghambat saya menuangkannya ke dalam tulisan. Tapi saya masih cukup ingat topik-topik apa saja yang ingin saya tulis. Kali ini saya tulis dulu perjalanan saya minggu lalu. Ceritanya Kamis lalu saya mengunjungi Surabaya lagi, menurut catatan saya ini perjalanan ke Surabaya yang ke-10 di tahun 2008 ini. Surabaya memang salah satu kota yang paling sering saya kunjungi tahun 2008. Cirebon saja sepertinya kalah banyak saya kunjungi. Kalau biasanya saya tulis liputan perjalanan sampai beberapa buah, kali ini cukup 1 saja :D jadi tidak akan ada part-2 , part-3 dst.

Enam kali ke Surabaya saya menginap ke Hotel Garden, tapi kali ini saya menginap di Hotel Garden Palace. Kata Dwidaya Travel yang mencarikan kamar untuk saya, hanya Hotel Garden Palace yang available. Entah ada even apa di Surabaya sampai susah sekali mencari hotel yang kosong. Tumben dan heran juga, padahal biasanya default kantor saya adalah Hotel Garden (lebih murah gitu loh :-p ). Hotel Garden Palace terletak berdampingan dengan Hotel Garden. Dari lobi Hotel Garden kita bisa masuk langsung ke Hotel Garden Palace, sengaja dibuat jalan terusan yang menghubungkan lobi kedua hotel. Hotel Garden Palace boleh dibilang adalah saudara muda dari Hotel Garden, karena katanya Hotel Garden Palace dibangun setelah Hotel Garden. Hotel Garden sendiri adalah hotel berbintang 3 sementara saudara mudanya itu berbintang 4.

Kalau kita bandingkan lobi Hotel Garden Palace dengan lobi Hotel Garden, sepintas kita bisa mengiyakan kalau benar Hotel Garden Palace punya rangking yang lebih baik daripada Hotel Garden. Lobinya lebih luas, dengan meja resepsionis yang lebih panjang. Lobi Hotel Garden Palace dilengkapi sofa-sofa (lengkap dengan mejanya). Hotel Garden pun punya sofa & meja di lobinya tapi kalah banyak daripada Hotel Garden palace. Dari segi bangunan Hotel Garden Palace juga lebih megah, bayangkan saja bangunannya terdiri dari 24 lantai; lebih tinggi 20 lantai daripada Hotel Garden yang cuma 4 lantai. Tapi kesan saya sedikit berubah ketika saya sudah check-in dan masuk ke kamar. Saya mencium aroma “bulukan” lagi (saya masih kesulitan menemukan padanan kata yang cocok untuk mendeskripsikan kesan “bulukan”). Sebagian besar penilaian saya tentang bagus tidaknya sebuah hotel terjadi pada menit-menit pertama masuk ke kamar hotel.

Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menilai bahwa Hotel Garden Palace tidak jauh berbeda dengan Hotel Garden. Entah karena saya dapat kamar kelas kambing atau memang rata-rata kamar di Garden Palace memang demikian. Kamar yang saya dapat Kamis lalu terkesan tua, sedikit kotor, ah pokoknya kurang fresh suasana kamarnya. Malahan saya pikir kamar di Hotel Garden lebih mending dibandingkan kamar yang saya dapat kemarin di Garden Palace. Membaca sepintas brosur kamar yang ada di resepsionis, saya jadi tahu ada beberapa kamar dengan tema tertentu di Hotel Garden Palace ini. Yang saya ingat ada 3 tema; Romans, Japanesse, dan 1 tema lagi yang saya lupa :-p Tema ini jelas-jelas dituliskan di tembok di lantai yang bersangkutan. Misalnya Kamis siang lalu saat sampai di lantai 19, ada tulisan “Romans” tembok lantai 19. Entah apa sih maksudnya kamar bergaya Roma itu. Silakan lihat dulu liputannya dalam komik berikut ini :

Hotel Garden Palace menyediakan 4 buah lift bagi para tamu, 2 lift bisa dipakai untuk ke semua lantai sementara 2 lainnya terbatas untuk lantai-lantai tertentu. Sayang keempat lift ini lambat kerjanya, entah karena memang sudah tua atau memang sedemikian banyak pengguna lift di hotel ini. Ah tapi saya rasa karena memang sudah tua :) . Tapi liftnya jauh lebih baik daripada lift di Hotel Garden. Lift di Hotel Garden sepintas dilihat dari luar lebih mirip kulkas bobrok.

Biarpun tua, kamar di Garden Palace ini cukup canggih. Semua peralatan elektronik mulai dari lampu, TV, AC semuanya dikontrol dengan control box. Control box multifungsi itu diletakkan di samping tempat tidur. Mungkin pada jamannya, teknologi ini sudah sedemikian canggih. Sayang sekarang control box-nya sudah usang, tombol yang seharusnya tombol sentuh harus ditekan keras-keras untuk dapat dioperasikan. Selain berfungsi sebagai remote control, alat yang sama berfungsi juga sebagai jam dan alarm. Semuanya digital, kalau sudah ada alat seperti ini layanan morning call masih ada gak ya? Harusnya sih semua menu yang ada di control box mudah untuk dioperasikan, dengan catatan semua informasi menu masih dapat dibaca. Rata-rata tulisan yang ada di tiap tombol sudah aus dimakan usia, terlalu banyak dipencet orang. Kemarin saya kebingungan waktu hendak menghidupkan televisi. Tombol power di TV sudah ditekan, tombol di remote TV juga sudah ditekan, tapi TV tak kunjung hidup….astaga rupanya ada 1 tombol di control box itu yang berfungsi sebagai tombol power TV. Ah sialan tulisan “TV” yang ada di tombol itu sudah tidak ada, jadilah saya seperti orang bodoh telepon housekeeping tanya bagaimana cara menghidupkan TV =))  Oh ya meskipun lampu di kamar bisa diatur lewat control box ini, tetap aja juga saklar lampu di dinding…itu juga berupa tombol sentuh.

Jumat siang saya check-out dari Hotel Garden Palace, rencana awal saya akan pulang Jumat sore. Tapi ternyata seperti biasa ada budaya tambah kerjaan mendadak. Jadilah saya bertahan di Surabaya sehari lagi. Kali ini pun Dwidaya Travel hanya berhasil mencarikan saya kamar di Hotel Garden Palace. Jumat sore saya balik lagi ke Hotel Garden Palace. Kali ini saya dapat kamar dengan tema Jepang, silakan lihat di komik berikut ini :

Hmm ini kali pertama saya membuat review hotel sampai 2 komik sekaligus. OK sekarang cerita tentang kamar dengan tema Jepang ini. Entah Jepang bagian mana yang ditiru…belum pernah ke Jepang sih (ngarep.com dikirim training ke Jepang =)) ). Kamar ini dilengkapi dengan banyak perabotan berbahan dasar rotan. Sebagian lantai kamar dibuat lebih tinggi sekitar 20 cm dari ubin. Bagian yang lebih tinggi itu dipakai untuk meletakan ranjang, meja kecil, meja TV, meja berisi pemanas air. Mungkin karena posisi ranjang yang sudah tinggi makanya sengaja dipilih ranjang yang pendek. Meja yang pendek di dekat ranjang dilengkapi dengan 2 buah kursi rotan dan bantal busa. Kita jadi dipaksa duduk lesehan, satu-satunya kursi normal yang ada hanya ada 1 di dekat meja kaca rias. Hmm mungkin bagi orang yang tergila-gila dengan budaya Jepang akan senang mendapati kamar seperti ini. Saya sih lebih pilih kamar yang standar saja deh.

Sayang seribu sayang kamar bergaya Jepang ini menyediakan kulkas kosong buat saya. Hmm salah satu yang saya benci dari sebuah kamar hotel….kulkas/minibar yang kosong melompong.  Ada kesan meremehkan yang saya dapat kalau mendapati kulkas kosong. Memangnya saya gak sanggup bayar isi minibar itu?!! Hal yang mengesalkan terjadi kemarin pagi. Hari Sabtu pagi (jam 10an itu masih pagi kan? :D ) saya bangun & benar-benar kehausan (mungkin karena AC terlalu dingin sehingga membuat kerongkongan saya kering). Saya telepon room service untuk pesan Aqua. Aqua gratisan yang ada di kamar sudah habis dan sialnya kulkas minibar kosong melompong. Heran juga saya kalau menginap di kamar dengan kulkas kosong. Untuk apa dimintai deposit saat check-in kalau toh kulkas minibarnya kosong. Tunggu punya tunggu Aqua pesanan saya tidak kunjung datang. Hmm saya pikir karena kamar saya berada di lantai 18 jadi pegawai room service butuh waktu lama untuk mengantarkan Aqua. Entah liftnya macet atau dia nekat jalan kaki lewat tangga darurat menuju kamar saya. Saya juga sudah agak maklum kalau layanan kamar selalu lambat, pesan makan pun sama lambatnya. Saya telepon lagi room service-nya, katanya Aqua sedang diantarkan. Sampai setengah 12 Aqua belum datang juga, saya tinggal mandi saja karena jam 12 saya harus check-out. Sampai saya check-out Aqua tidak juga diantarkan.

Harusnya saya komplain (seperti biasa) tapi kali ini saya sedang kehilangan mood untuk komplain dan marah-marah. Intinya saya kapok balik lagi ke Hotel Garden Palace, kalau ke Hotel Gardennya sih OK lah. Loh bukannya lebih baik balik lagi ke hotel bintang 4 daripada ke hotel bintang 3? Ah saya kok merasa rugi ya menginap di hotel bintang 4 tapi rasanya sama dengan hotel bintang 3. Loh tapi kan kantormu yang bayar? Tetap saja rugi, rugi kesalnya perlu dihitung juga kan. Untuk sementara ini berarti hotel terbaik di Surabaya yang pernah diberikan kantor adalah Hotel Singgasana.


Cue Tip Kamui


Sabtu malam setelah pulang dari Balikpapan kemarin, saya punya kesempatan mengganti tip shaft 314. Tip bawaan 314 terlalu keras bagi saya. Mengganti tip memang sudah lama jadi target saya, baru kemarin saya bisa ganti tip. Oh ya yang belum tau tip, tip adalah bagian ujung stik biliar yang bersentuhan langsung dengan bola. Pada foto di samping ini, tip adalah bagian di sebelah kanan yang ujungnya berwarna biru. Rata-rata tip aslinya berwarna coklat, warna biru itu berasal dari kapur biliar. Tip Kamui adalah salah satu merek tip yang cukup terkenal. Sebuah tip kamui berharga Rp125.000,- Ada juga merek-merek lain seperti Moori, Sniper, Triangle, Le Pro. Saya pilih tip Kamui atas rekomendasi Ferry Danuarta (rekan saya yang pedagang stik biliar), karena katanya menurut pengalaman tip Kamui ini paling enak dipakai.

Saya baca di websitenya Kamui ternyata tip ini dibuat dari kulit babi loh  :-o Iya betul babi…si hidung pesek berkaki pendek itu, yang dagingnya saya benci itu :) Kulit babi yang dikompres sampai 10 lapis, makanya tipe tip seperti ini dikategorikan layered tip. Ada beberapa pilihan jenis tip Kamui berdasar tingkat kekerasannya; saya sendiri memilih tipe soft. Setelah dipasang di shaft Predator 314 saya, saya coba main dan ternyata memang benar tip ini enak dipakai. Enak dipakai bagaimana? Ya misalnya saja, saya lebih mudah melakukan draw stroke. Draw stroke? Itu loh pukulan yang bisa membuat bola putih mundur lagi setelah mengenai bola target. Atau jangan-jangan kemarin hanya kebetulan saja ya draw stroke-nya lagi bener? =))

Menyambung tulisan saya sebelumnya, mungkin ada yang akan bertanya : “jadi ini acara yang bikin elo balik dari Balikpapan ?” Bukan lah, saya gak segila itu pulang ke Jakarta hanya sekadar ganti tip stik biliar :D .


Balikpapan (part 4) - Pulang Sebentar


Kemarin saya pulang dulu dari Balikpapan meninggalkan pekerjaan yang ternyata ditunda pelaksanaannya sampai Senin besok. Saya pulang dengan Garuda pukul 10 pagi dan mendarat di Jakarta pukul 11 siang. Tadinya saya berharap sisa pekerjaan di Telkomsel bisa diselesaikan hari Jumat malam. Ternyata ada perubahan jadwal dari pihak Telkomsel, mereka ingin pekerjaan upgrade firmware S80 (external disks) dilanjutkan hari Senin saja :(  Pilihan paling ekonomis (kalau menurut manajer saya) adalah saya tinggal saja di hotel sampai selesai pekerjaan, dengan kata lain saya harus tetap berada di Balikpapan hari Sabtu dan Minggu ini. Tentu lebih murah membayar biaya hotel saya untuk hari Sabtu-Minggu daripada mengongkosi saya pulang balik Balikpapan Jakarta.

Ah tapi bagaimana dengan acara saya hari Minggu ini. Apakah kali ini pun saya harus mengorbankan  acara pribadi untuk urusan kantor. Biasanya saya punya banyak story tentang kerja di hari libur atau kerja di hari Minggu; tidak sedikit yang menyenggol bahkan menggagalkan acara pribadi saya. Dengan “berat hati” saya terpaksa minta pulang saja ke Jakarta karena acara hari Minggu ini benar-benar tidak bisa saya abaikan. (Jangan tanya apa acaranya ya…pokoknya penting :-p ). Biasanya sebagai “anak kecil” saya selalu nurut disuruh apapun oleh bos saya, tapi kali sedikit berbeda ceritanya. Beruntunglah saya punya bos yang bijaksana, bisa mengerti keadaan saya dan mengijinkan saya pulang dulu ke Jakarta. Rencananya Senin besok saya akan kembali lagi ke Balikpapan. Mudah-mudahan sisa pekerjaan upgrade firmware S80 dapat selesai dengan baik.

Many thanks for Mr Rully for your kindness, my business on Jakarta finished successfully today.


Balikpapan (part 3) - Soal Traktir Makan


Tadi malam saya sedikit berdebat dengan teman saya soal kebiasaan saya mentraktir makan teman-teman. Teman saya protes katanya saya boros. Ada 1 pernyataannya yang cukup memancing saya untuk berkomentar. Dia bilang “ya jelas kalo elo traktir makan orang-orang pasti mau dekat/akrab sama elo”. Waduh kok begitu komentarnya, tentu ini langsung saya sanggah. Saya tidak pernah berharap untuk “membeli” keakraban dengan rekan-rekan cuma dengan traktiran makan. Naif sekali rasanya kalau saya membayari orang makan hanya supaya orang tersebut mau akrab dengan saya. Saya memang senang mentraktir teman-teman, entah apa sebabnya. Yang jelas saya senang saja kalau melihat orang bisa puas makan. Saya cukup bisa merasakan bagaimana gak enaknya gak bisa makan. Bukan berarti teman-teman yang saya bayari makan itu tidak mampu makan sendiri. Tapi bagi saya soal makan adalah hal yang penting. Senang aja rasanya melihat orang puas makan.

Jadi lucu kalau saya dengar ada orang yang bilang “Eh kamu kan ulang tahun, kapan nih makan-makannya?” Kasihan kan makan-makannya setahun sekali kalau ada yang ulang tahun. Banyak juga yang makan-makannya hanya kalau ada orang yang resign dari kantornya, alias makan-makan saat farewell party. Selama saya punya uang lebih, tidak terlalu jadi soal membayari orang makan. Tentu itu juga kalau mood saya mentraktir orang sedang bagus :-p . Oh ya satu lagi…bagi saya mentraktir orang bukan juga karena saya ingin dianggap hebat, bukan saya ingin dipuji-puji. Susah memang mendeskripsikan senangnya saya membayari orang lain makan, sama susahnya kalau Anda yang suka belanja di mal-mal mewah disuruh menjelaskan kenapa bisa senang belanja di sana. Apakah traktir-mentraktir itu sama dengan yang namanya kebaikan? Rasanya hanya Tuhan yang tahu. Saya cuma percaya siapa banyak menabur akan banyak menuai.

Soal boros atau tidak itu lain masalahnya, bagi saya boros atau tidak adalah hal yang relatif. Ambil saja contoh tentang kebiasaan dan hobi belanja. Orang yang enggan membelanjakan dananya untuk beli aneka macam barang akan memandang rekannya yang shopping mania sebagai orang yang boros. Sementara orang yang doyan shopping akan menganggap rekannya tadi sebagai orang yang pelit. Atau mungkin juga dia akan memandang temannya memang miskin : “Ah dasar lu aja yang gak bisa shopping jadi bilang gua itu boros belanja melulu“…nah kan? Mudah-mudahan Anda menangkap maksud saya. Boros atau murah hati juga relatif sifatnya tergantung dari sudut apa kita melihat. Hemat dan pelit juga relatif sifatnya. Orang yang pelit dengan mudah berdalih ah saya sih memilih untuk hidup hemat. sementara orang lain mungkin akan melihat dirinya sebagai orang yang pelit. Kaya atau miskin memang relatif. Orang dengan tabungan 1 milyar mungkin akan memandang rekannya yang hanya bergaji Rp1juta/bulan sebagai orang miskin. Tapi si miskin tadi bisa memandang dirinya lebih kaya daripada gelandangan pengemis atau anak-anak jalanan.

Dalam dunia fisika, Albert Einsten populer dengan hukum relativitasnya. Nah ternyata bukan hanya dalam dunia fisika saja kan hukum relativitas berlaku, tapi juga dalam sikap dan cara pandang seseorang terhadap sesuatu hal. Segalanya memang serba relatif, jadi haruskah kita hidup dengan kerelativitasan pandangan orang lain?

Foto ilustrasi adalah foto sup asparagus kepiting di Hotel Sagita.