Back To Blog – Hotel Garden Palace

Hmm sudah 2 minggu saya puasa ngeblog. Setelah banyak masalah yang memeras tenaga & pikiran, hari ini saya mulai mendapat mood kembali untuk menulis. Banyak juga topik yang sebenarnya bisa ditulis dalam 2 minggu ini, sayang mood yang tidak baik menghambat saya menuangkannya ke dalam tulisan. Tapi saya masih cukup ingat topik-topik apa saja yang ingin saya tulis. Kali ini saya tulis dulu perjalanan saya minggu lalu. Ceritanya Kamis lalu saya mengunjungi Surabaya lagi, menurut catatan saya ini perjalanan ke Surabaya yang ke-10 di tahun 2008 ini. Surabaya memang salah satu kota yang paling sering saya kunjungi tahun 2008. Cirebon saja sepertinya kalah banyak saya kunjungi. Kalau biasanya saya tulis liputan perjalanan sampai beberapa buah, kali ini cukup 1 saja πŸ˜€ jadi tidak akan ada part-2 , part-3 dst.

Enam kali ke Surabaya saya menginap ke Hotel Garden, tapi kali ini saya menginap di Hotel Garden Palace. Kata Dwidaya Travel yang mencarikan kamar untuk saya, hanya Hotel Garden Palace yang available. Entah ada even apa di Surabaya sampai susah sekali mencari hotel yang kosong. Tumben dan heran juga, padahal biasanya default kantor saya adalah Hotel Garden (lebih murah gitu loh :-p ). Hotel Garden Palace terletak berdampingan dengan Hotel Garden. Dari lobi Hotel Garden kita bisa masuk langsung ke Hotel Garden Palace, sengaja dibuat jalan terusan yang menghubungkan lobi kedua hotel. Hotel Garden Palace boleh dibilang adalah saudara muda dari Hotel Garden, karena katanya Hotel Garden Palace dibangun setelah Hotel Garden. Hotel Garden sendiri adalah hotel berbintang 3 sementara saudara mudanya itu berbintang 4.

Kalau kita bandingkan lobi Hotel Garden Palace dengan lobi Hotel Garden, sepintas kita bisa mengiyakan kalau benar Hotel Garden Palace punya rangking yang lebih baik daripada Hotel Garden. Lobinya lebih luas, dengan meja resepsionis yang lebih panjang. Lobi Hotel Garden Palace dilengkapi sofa-sofa (lengkap dengan mejanya). Hotel Garden pun punya sofa & meja di lobinya tapi kalah banyak daripada Hotel Garden palace. Dari segi bangunan Hotel Garden Palace juga lebih megah, bayangkan saja bangunannya terdiri dari 24 lantai; lebih tinggi 20 lantai daripada Hotel Garden yang cuma 4 lantai. Tapi kesan saya sedikit berubah ketika saya sudah check-in dan masuk ke kamar. Saya mencium aroma “bulukan” lagi (saya masih kesulitan menemukan padanan kata yang cocok untuk mendeskripsikan kesan “bulukan”). Sebagian besar penilaian saya tentang bagus tidaknya sebuah hotel terjadi pada menit-menit pertama masuk ke kamar hotel.

Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menilai bahwa Hotel Garden Palace tidak jauh berbeda dengan Hotel Garden. Entah karena saya dapat kamar kelas kambing atau memang rata-rata kamar di Garden Palace memang demikian. Kamar yang saya dapat Kamis lalu terkesan tua, sedikit kotor, ah pokoknya kurang fresh suasana kamarnya. Malahan saya pikir kamar di Hotel Garden lebih mending dibandingkan kamar yang saya dapat kemarin di Garden Palace. Membaca sepintas brosur kamar yang ada di resepsionis, saya jadi tahu ada beberapa kamar dengan tema tertentu di Hotel Garden Palace ini. Yang saya ingat ada 3 tema; Romans, Japanesse, dan 1 tema lagi yang saya lupa :-p Tema ini jelas-jelas dituliskan di tembok di lantai yang bersangkutan. Misalnya Kamis siang lalu saat sampai di lantai 19, ada tulisan “Romans” tembok lantai 19. Entah apa sih maksudnya kamar bergaya Roma itu. Silakan lihat dulu liputannya dalam komik berikut ini :

Hotel Garden Palace menyediakan 4 buah lift bagi para tamu, 2 lift bisa dipakai untuk ke semua lantai sementara 2 lainnya terbatas untuk lantai-lantai tertentu. Sayang keempat lift ini lambat kerjanya, entah karena memang sudah tua atau memang sedemikian banyak pengguna lift di hotel ini. Ah tapi saya rasa karena memang sudah tua πŸ™‚ . Tapi liftnya jauh lebih baik daripada lift di Hotel Garden. Lift di Hotel Garden sepintas dilihat dari luar lebih mirip kulkas bobrok.

Biarpun tua, kamar di Garden Palace ini cukup canggih. Semua peralatan elektronik mulai dari lampu, TV, AC semuanya dikontrol dengan control box. Control box multifungsi itu diletakkan di samping tempat tidur. Mungkin pada jamannya, teknologi ini sudah sedemikian canggih. Sayang sekarang control box-nya sudah usang, tombol yang seharusnya tombol sentuh harus ditekan keras-keras untuk dapat dioperasikan. Selain berfungsi sebagai remote control, alat yang sama berfungsi juga sebagai jam dan alarm. Semuanya digital, kalau sudah ada alat seperti ini layanan morning call masih ada gak ya? Harusnya sih semua menu yang ada di control box mudah untuk dioperasikan, dengan catatan semua informasi menu masih dapat dibaca. Rata-rata tulisan yang ada di tiap tombol sudah aus dimakan usia, terlalu banyak dipencet orang. Kemarin saya kebingungan waktu hendak menghidupkan televisi. Tombol power di TV sudah ditekan, tombol di remote TV juga sudah ditekan, tapi TV tak kunjung hidup….astaga rupanya ada 1 tombol di control box itu yang berfungsi sebagai tombol power TV. Ah sialan tulisan “TV” yang ada di tombol itu sudah tidak ada, jadilah saya seperti orang bodoh telepon housekeeping tanya bagaimana cara menghidupkan TV =))Β  Oh ya meskipun lampu di kamar bisa diatur lewat control box ini, tetap aja juga saklar lampu di dinding…itu juga berupa tombol sentuh.

Jumat siang saya check-out dari Hotel Garden Palace, rencana awal saya akan pulang Jumat sore. Tapi ternyata seperti biasa ada budaya tambah kerjaan mendadak. Jadilah saya bertahan di Surabaya sehari lagi. Kali ini pun Dwidaya Travel hanya berhasil mencarikan saya kamar di Hotel Garden Palace. Jumat sore saya balik lagi ke Hotel Garden Palace. Kali ini saya dapat kamar dengan tema Jepang, silakan lihat di komik berikut ini :

Hmm ini kali pertama saya membuat review hotel sampai 2 komik sekaligus. OK sekarang cerita tentang kamar dengan tema Jepang ini. Entah Jepang bagian mana yang ditiru…belum pernah ke Jepang sih (ngarep.com dikirim training ke Jepang =)) ). Kamar ini dilengkapi dengan banyak perabotan berbahan dasar rotan. Sebagian lantai kamar dibuat lebih tinggi sekitar 20 cm dari ubin. Bagian yang lebih tinggi itu dipakai untuk meletakan ranjang, meja kecil, meja TV, meja berisi pemanas air. Mungkin karena posisi ranjang yang sudah tinggi makanya sengaja dipilih ranjang yang pendek. Meja yang pendek di dekat ranjang dilengkapi dengan 2 buah kursi rotan dan bantal busa. Kita jadi dipaksa duduk lesehan, satu-satunya kursi normal yang ada hanya ada 1 di dekat meja kaca rias. Hmm mungkin bagi orang yang tergila-gila dengan budaya Jepang akan senang mendapati kamar seperti ini. Saya sih lebih pilih kamar yang standar saja deh.

Sayang seribu sayang kamar bergaya Jepang ini menyediakan kulkas kosong buat saya. Hmm salah satu yang saya benci dari sebuah kamar hotel….kulkas/minibar yang kosong melompong.Β  Ada kesan meremehkan yang saya dapat kalau mendapati kulkas kosong. Memangnya saya gak sanggup bayar isi minibar itu?!! Hal yang mengesalkan terjadi kemarin pagi. Hari Sabtu pagi (jam 10an itu masih pagi kan? πŸ˜€ ) saya bangun & benar-benar kehausan (mungkin karena AC terlalu dingin sehingga membuat kerongkongan saya kering). Saya telepon room service untuk pesan Aqua. Aqua gratisan yang ada di kamar sudah habis dan sialnya kulkas minibar kosong melompong. Heran juga saya kalau menginap di kamar dengan kulkas kosong. Untuk apa dimintai deposit saat check-in kalau toh kulkas minibarnya kosong. Tunggu punya tunggu Aqua pesanan saya tidak kunjung datang. Hmm saya pikir karena kamar saya berada di lantai 18 jadi pegawai room service butuh waktu lama untuk mengantarkan Aqua. Entah liftnya macet atau dia nekat jalan kaki lewat tangga darurat menuju kamar saya. Saya juga sudah agak maklum kalau layanan kamar selalu lambat, pesan makan pun sama lambatnya. Saya telepon lagi room service-nya, katanya Aqua sedang diantarkan. Sampai setengah 12 Aqua belum datang juga, saya tinggal mandi saja karena jam 12 saya harus check-out. Sampai saya check-out Aqua tidak juga diantarkan.

Harusnya saya komplain (seperti biasa) tapi kali ini saya sedang kehilangan mood untuk komplain dan marah-marah. Intinya saya kapok balik lagi ke Hotel Garden Palace, kalau ke Hotel Gardennya sih OK lah. Loh bukannya lebih baik balik lagi ke hotel bintang 4 daripada ke hotel bintang 3? Ah saya kok merasa rugi ya menginap di hotel bintang 4 tapi rasanya sama dengan hotel bintang 3. Loh tapi kan kantormu yang bayar? Tetap saja rugi, rugi kesalnya perlu dihitung juga kan. Untuk sementara ini berarti hotel terbaik di Surabaya yang pernah diberikan kantor adalah Hotel Singgasana.

4 thoughts on “Back To Blog – Hotel Garden Palace

  1. Saya lagi nginep di Garden Hotel ni… biasanya si di Garden Palace
    Kesan pertama dapet hotel ini.. huh… tua sekali. Bener tu bung, liftnya kayak kulkas bobrok. Trus aroma di lorong itu pengap sekali. Masuk ke kamar kesannya gelap. Pokoknya gak betah deh di sini. Biasanya saya dapet di Garden Palace yah lumayanlah (tertolong karena breakfastnya enak hehehe…)
    Hotel Singgasana kayaknya lumayan tu, tp jauh dari klien saya… ada rekomen hotel laindi surabaya gak??

  2. Hahahahahaha…. asik juga yah jalan2 ditugaskan kantor ke banyak kota… Saya juga pengen kalo nanti udah kerja.. πŸ™

    Kebetulan saya dari Surabaya, dan memang hotel Garden Palace itu hotel tua, gedung tingginya udah ada sejak dulu kala (ga tau tepatnya tahun berapa). Kamar tipe Jepang-nya kayaknya asik tuh.. (halah, memang saya aja yang suka dg kejepang-jepang-an)

Leave a Reply