Blognya Tedy Tirtawidjaja

Kumpulan tulisan dan curahan pikiran saya yang bodoh ini

Singapore (part 5) - No Service No Money


Selasa siang kemarin, saya pergi ke pusat pertokoan di Orchard Road. Di stasiun MRT Orchard, saya cukup terheran-heran melihat ada orang yang duduk memainkan keyboard. Lagu yang dimainkan bernuansa tahun baru, duduk di lorong keluar stasiun yang mengarah ke Orchard Road. Saat melewatinya saya baru sadar kalau pemain keyboard tersebut adalah seorang tuna netra. Keheranan saya adalah mengapa Singapura yang memiliki aturan sedemikian ketat di mana-mana, masih membiarkan orang mengamen….apalagi di stasiun yang menjadi area publik. Terlepas dari si pengamen adalah seorang tuna netra, rasanya kok ada yang aneh memikirkan Singapura yang begitu tertib tapi meloloskan penyandang cacat mengamen. Meskipun demkian, saya sama sekali tidak merasa terganggu dengan kehadiran pengamen tadi. Sempat terlintas di pikiran saya, apakah mungkin penyandang cacat diberi ijin khusus untuk mencari uang dengan mengamen?

Sambil menyusuri Orchard, saya juga melihat 2 atraksi lain dari penyandang cacat. Yang satu duduk di kursi roda meniup terompet, sementara yang lain memainkan keyboard. Saya sempat mengambil foto dari kedua pengamen ini :

Semakin kuat saja dugaan saya kalau pemerintah Singapura memberikan ijin khusus (atau mungkin juga memfasilitasi) pada mereka yang cacat untuk dapat mencari uang secara halal, menunjukkan talentanya, tanpa harus mengemis-ngemis. Sore harinya saya juga melihat pertunjukan lain di depan Takashimaya Shopping Centre, ada atraksi dua orang gadis plastik cilik. Lihat gambarnya di bawah ini :

Ini juga hebat, agak kasihan juga sih melihat mereka kecil-kecil sudah cari uang di jalan. Tapi memang salah satu hal yang membuat saya salut, di Singapore hampir tidak ada orang yang mengemis-ngemis/meminta-minta uang. Kalaupun ada,  mereka menawarkan jasa/barang sebagai kompensasinya. Misalnya yang saya lihat di daerah Bugis, ada beberapa orang tua yang menawarkan menjual tissue seharga 50 cent. Kasihan memang…tapi saya lebih respek dengan mereka daripada melihat ibu-ibu & anak-anak jalanan di Jakarta; tanpa service apa-apa langsung menadahkan tangan meminta-minta. Kalau cacat mungkin bisa dimaklumi lah kalau sehat bugar apa gak aneh jadinya. No service, no money.


Singapore (part 4) - Internet Gratisan


Salah satu hal yang saya suka di Singapura adalah adanya fasilitas internet gratis untuk umum. Di tempat-tempat keramaian tersedia hotspot, berselancar di dunia maya jadi mudah. Tidak rugi membawa serta Lenovo Ideapad S9 saya ke sini. Untuk dapat memanfaatkan fasilitas internet ini, saya harus mendaftar dulu ke situs http://www.icellnetwork.com , mudah sekali mendaftar lewat situs ini. Saya tahu cara ini dari rekan saya Subastian, ini berkat pengalamannya saat beberapa bulan lalu saat dia training ke Fujitsu Singapore. Sebelum berangkat ke Singapura saya sudah mendaftar dulu untuk memperoleh userename & password interne, bodohnya saya lupa apa passwordnya :-p Untung saya bisa SMS pada Subastian, jadi sementara saya pinjam username & password-nya Subastian. Oh ya fasilitas internet ini katanya gratis sampai akhir tahun 2009.

Saat jalan-jalan di Singapura, saya tinggal memeriksa saja ada tidaknya sinyal wifi dengan menggunakan Nokia E51 saya. Begitu dapat sinyal Wireless@SG, saya tinggal cari tempat duduk yang nyaman lalu buka netbook untuk berinternet. Seperti misalnya sekarang, sambil menunggu teman saya meeting saya duduk-duduk saja di Starbucks Bugis Junction. Dengan modal S$6.5 untuk  segelas Coffee Frapuccino, saya bisa duduk santai browsing internet. Penting bagi saya untuk mencharge Lenovo saya penuh-penuh sebelum meninggalkan hotel. Maklum batere Lenovo saya cuma bisa bertahan 2.5 jam saja. Biarpun internet di sini gratis, kecepatannya lumayan juga loh. Hasil pengukuran Speedtest.net kecepatan downloadnya 500kbps, upload 263kbps. Gila kan, menyaingi (eh mungkin melebihi) kecepatan Speedy di kos saya :D Lihat hasil capture Speedtest.net di bawah ini :

Foto di atas adalah hasil jepretan Budy saat saya mencoba akses internet setelah makan siang di Mc Donald di Funan Digital Mall (dekat stasiun MRT City Hall).


Singapore (part 3) - Canon EOS 1000D


Kamis siang saya memutuskan untuk membeli kamera DSLR setelah tidak puas dengan kinerja kamera Nikon Coolpix L12 pada malam Natal. Ya memang digital camera kelas pocket tidak cocok untuk dipakai memotret di malam hari dengan cahaya terbatas. Niat membeli kamera memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Kami berdua memutuskan untuk membeli kamera di pusat pertokoan elektronik Sim Lim Square. Sejak berangkat niatnya saya ingin membeli Nikon D60, ya dari dulu saya sudah naksir dengan D60 karena alasan harga yang cukup ekonomis untuk kamera DSLR entry level. Ah tapi mendengarkan presentasi salah satu sales di toko kamera membuat saya bingung. Dia menjelaskan ada banyak kelemahan yang dimiliki oleh Nikon D60, salah satu yang paling penting adalah lambatnya shutter speed (kecepatan buka tutup shutter).

Oh ya salah satu juga nilai minus yang diceritakan si penjual tentang D60 adalah Nikon D60 sekarang dibuat di Thailand. Bukan suatu masalah sih tapi memang sales tadi pintar saja menonjolkan keunggulan Canon. Dia menyarankan saya untuk memilih Canan EOS 1000D. Dengan harga yang sedikit lebih mahal daripada Nikon D60, saya bisa membawa pulang Canon EOS 1000D asli pabrikan Jepang, dengan shutter speed yang lebih kencang, bonus tas, SD card 4GB, tripod. Halah halah…dari dulu saya lebih senang dengan hasil foto yang diambil dengan kamera Nikon, eh sekarang saya malah beli kamera Canon.

Berikut adalah spesifikasi dari Canon EOS 1000D :

  • DSLR dengan sensor CMOS 10.1 Megapixels
  • Lensa EF/EFS, dalam paket penjualannya disertakan Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS (image stabilizer)
  • DIGIC III procesor
  • Live View mode, dengan mode ini saya bisa memotet dengan bantuan LCD layaknya digital pocket camera
  • Image Stabilizer
  • Self Cleaning sensor unit
  • 7 point auto focus
  • Continous shoot sampai 3 frame per detik
  • 2.5″ LCD, cukup jelas untuk menampilkan hasil foto
  • Waktu start up 0.1 detik
  • SD card memory
  • Konektivitas USB dan TV
  • Dapat mencetak foto langsung ke printer dengan teknologi Pict Bridge

Dengan Canon EOS 1000D, kunjungan saya ke Singapura kali ini jadi berubah jadi photography course :-p Banyak tempat menarik di Singapura yang bisa dijadikan objek foto. Salah satunya di kawasan Esplanade Singapura.

Beruntung saya pergi dengan Budy punya pengalaman luas soal fotografi :D , saya bisa belajar langsung di lapangan soal fotografi. Foto di atas diambil oleh Budy dengan kamera Nikon D80nya.


Singapore (part 2) - Biliar di Singapura


Tadi malam saya menyempatkan diri bermain biliar di Fussion. Tempat biliar ini terletak di Middle Road, tidak terlalu jauh dari stasiun MRT Bugis (keluar stasiun ke arah kanan, menyusuri Victoria Street lalu belok kanan di Middle Road.). Dari hotel kami berangkat sekitar pukul 8 malam menuju kawasan Bugis. Putar-putar cari makanan ujung-ujungnya malam makan di Mc Donald di Bugis Village. Di Mc Donald saya sempat berinternet dulu mencari informasi tentang tempat biliar di kawasan Bugis. Tadi siang sempat diberi informasi oleh salah seorang teman, kalau di daerah Bugis ada tempat biliar yang cukup berkelas.

Hmm mungkin karena saya agak terburu-buru jadi kali ini sulit memperoleh informasi lewat Google. Jurus terakhir : tanya orang. Saya bertanya pada karyawan Mc Donald, untungnya karyawan Mc Donald di Bugis Village ini ramah-ramah. Orang pertama tidak bisa bahasa Inggris, dia panggilkan rekannya. Sayang orang kedua malah tidak tahu di mana tempat biliarnya, dia panggilkan orang ketiga. Nah orang terakhir inilah yang tahu di mana tempatnya, dia menjelaskan dalam bahasa Melayu karena rupanya dia tahu kami berdua dari Indonesia. Penjelasannya cukup informatif, saat kami ikuti petunjuknya kami langsung menemukan tempat yang di maksud.

Biliar di Singapura tidaklah murah, bermain satu jam tarifnya S$13.8 (sekitar Rp107.000,-). Sudah mahal, stiknya jelek-jelek, nge-rack sendiri pula. Tapi meja di Fussion licin sekali lakennya. Tempat ini smoking free area, tidak seperti tempat-tempat biliar di Indonesia yang tidak punya larangan merokok. Sedikit agak aneh karena dari trotoar semua meja terlihat, persis seperti etalase toko. Jadi kalau kebagian meja di pinggir jendela, ya resiko bisa ditonton orang yang lewat.

Main biliar di Singapura jauh lebih mahal daripada waktu saya main biliar di Paderborn Jerman. Di Paderborn seingat saya sekitar 6 Euro/jam (atau sekitar Rp90.000,-). Hmm di Indonesia tempat biliar termahal yang pernah saya coba adalah di Ex Plaza Indonesia, namanya Q Billiard. Di Q Billiard, tarif 1 jam main adalah sebesar Rp80.000,- (tidak perlu nge-rack bola sendiri :-p ). Tidak terasa main hampir 2 jam, kami pulang dengan membayar total lebih dari S$26. Biar mahal yang penting pengalamannya, lebih penting lagi fotonya biar punya kenang-kenangan :)) (jiwa narsisnya keluar..he..he..he…) Kami pulang hampir jam 12, untung masih bisa mengejar MRT terakhir di stasiun Bugis. Lain kali datang ke Singapura, sepertinya saya harus bawa stik sendiri :D


Singapore (part 1) - Gerimis Di Malam Natal


Pesawat GA 828 yang saya tumpangi mendarat sekitar pukul 15.20 waktu Singapura. Changi airport basah diguyur hujan yang sudah turun dari pagi hari (itu kata supir taksi). Ini kali pertama saya pergi ke Singapura dan setibanya di sana saya cukup terkesan dengan bandara internasional Changi. Di mana-mana lantainya di lapisi karpet, dinginnya AC sudah menyambut sejak kami keluar dari belalai yang menghubungkan gedung terminal dengan pesawat Boeing 737-300 yang sudah membawa kami ke sini. Dekorasi Natal di hampir semua sudut terminal kedatangan internasional. Teman saya bilang Changi seperti mal :) ya mungkin ada benarnya..besar, luas, tertata rapih, bergaya modern, ya masuk akal kalau dibandingkan dengan mal-mal di Indonesia.

Setelah mengambil bagasi & menukar US Dollar menjadi Singapore dollar, saya & Budy segera keluar ke pangkalan taksi. Oh ya saya lupa cerita, kali ini saya ke Singapura bersama Budy rekan saya. Begitu naik taksi saya langsung bilang pada supir taksinya : “Can you help us to find a cheap hotel?=)) Cheap hotel sajalah karena rencana berlibur 8 hari dengan dana seadanya…maksudnya US$ ada, Yen Jepang ada, Bath Thailand ada, Sing$ juga ada :-p Budy masih punya banyak cadangan Yen Jepang & Bath Thailand sisa perjalanan bisnisnya bulan lalu. Untung supir taksinya cukup informatif, dia segera menelepon rekannya untuk mencarikan informasi hotel.

Sebenarnya di Jakarta saya sudah mencari informasi lewat Google soal budget hotel di Singapore. Menurut hasil pencarian Google, kawasan hotel-hotel murah terletak di kawasan Geylang. Ah rupanya si supir pun dapat informasi yang sama dari temannya, dia membawa kami berdua ke daerah Geylang. Pantas di Geylang banyak hotel murah, ternyata Geylang adalah kawasan RED LINE =))

Turun dari taksi masih gerimis, setelah mencoba sebuah hotel kecil kami pindah ke Hotel 81. Hotel ini ada di jalan Geylang Road Lor 18. Dari Google saya juga sudah tahu tentang Hotel 81 ini. Hotel ini rupanya punya jaringan cukup kuat sebagai hotel murah, ada setidaknya 10 Hotel 81 di kawasan Geylang tersebar di tiap gang (di sini disebut Lor, mungkin singkatan dari Lorong :D ) Liputan tentang hotel 81 nanti saya tulis terpisah saja di tulisan yang lain.

Sekitar jam 6 lebih kami berjalan keluar, niatnya mau pergi ke kawasan Bugis. Baru berjalan beberapa puluh meter dari hotel, hujan gerimis turun lagi. Halah…menyebalkan memang berjalan di bawah gerimis yang makin lama makin deras, celana basah, kacamata jadi basah juga membuat berkali-kali saya harus mengelap kacamata. Kami sempat berhenti sejenak di lorong toko-toko India berteduh.

Memang benar apa yang Budy ceritakan sebelumnya, malam Natal di Singapura sama ramainya dengan malam takbiran Idul Fitri di Indonesia. Natal 2004 Budy juga merayakan malam Natal di Singapura. Semua orang tumpah ke jalan (Orchard Road), entah apakah semua orang tersebut memang merayakan Natal atau hanya ikut hiruk pikuk kemeriahan Natal saja. Yang jelas segala macam orang memenuhi jalanan, dari orang Singapura sendiri, orang India, orang Malaysia, dan orang Indonesia (seperti kami berdua). Tadinya kami cukup pesimis akankah ada kemeriahan di Orchard Road di saat hujan gerimis terus menerus turun. Ah tapi untungnya lewat jam 10 malam cuaca mulai bersahabat, gerimis mulai berhenti saat kami keluar dari stasiun MRT Orchard. Dan benar saja, ribuan orang berduyun-duyun keluar dari stasiun MRT berjalan menuju Orchard.

Memang saat malam Natal, tidak ada momen khusus seperti layaknya count down di malam pergantian tahun tapi tetap saja orang rela berdesak-desakan di sepanjang jalan. Entah ada apa dengan Orchard yang sepertinya menjadi pusat orang-orang di malam Natal. Di mal Nge Ann City terdapat sebuah pohon Natal raksasa, orang-orang menyalurkan jiwa narsisnya di sana. Eh tidak hanya di mal ini saja saya menjumpai pohon Natal, di Bugis Junction mal juga ada pohon Natal bernuansa putih. Anak-anak muda bertopi sinterklas menjadi pemandangan biasa malam itu. Tingkah polah mereka juga lucu-lucu, salah satunya saling menyemprotkan salju tiruan yang banyak dijual di toko-toko. Hmm kami berdua berjalan menyusuri Orchard Road dan mengakhiri perjalanan di stasiun MRT Dobhi Gaut.

Tadinya saya sudah menuliskan cerita ini dan berniat mem-publish-nya di blog tepat di hari Natal, tapi sayang tepat di hari Natal saya tidak bertemu dengan hotspot internet :) Baru sekarang di Mc Donald di kawasan Bugis saya bisa meng-update blog ini. Jadi sedikit agak basi kalau mengucapkan selamat Natalnya sekarang, tapi ya sudahlah daripada tidak sama sekali :

Merry Christmas for you all !!
Selamat Natal untuk Anda semua….


Tentang Hoka Hoka Bento


Ada satu hal yang menggelitik di pikiran saya soal Hoka Hoka Bento (saya singkat Hokben). Hal tersebut adalah mengapa sistem pelayanan 1 kasir terus dipertahankan di semua outlet Hokben. Padahal Hokben boleh dibilang cukup sukses, terbukti dengan ramainya pengunjung di outlet-outlet besar. Misalnya outlet Hokben di Gedung BNI 46 Sudirman, di Mal Taman Anggrek, Mal Citra Land, Mangga Dua Mall, Surabaya Plaza. Pada jam-jam sibuk (dan hari-hari libur) hampir semua outlet Hokben tersebut ramai & antrian pengunjungnya cukup “mengular”. Bayangkan saja, dengan sistem serial macam itu pelayanan terpusat pada 1 jalur saja. Bandingkan dengan restoran cepat saji lainnya macam Mc Donald, A&W, atau KFC. Mereka punya setidaknya 2 kasir, antrian pengunjung didistribusikan hampir merata di tiap kasir. Dengan sistem paralel macam itu sepertinya antrian jadi lebih manusiawi.

Foto di atas adalah foto salah satu sudut outlet Hokben di gedung BNI 46 Sudirman. Di outlet Hokben BNI 46 saat jam makan siang (apalagi hari Jumat) saya bisa antri lebih dari 15 menit (dari mulai antri sampai ambil baki & mulai memesan). Belum ditambah lagi antrian pengunjung sebelumnya yang masih sibuk memesan & sibuk membayar.

Ah jadi ingat konsep Single Point of Failure (SPOF). Konsep SPOF menjelaskan tentang salah satu bagian sistem yang bilamana rusak/terganggu akan mengganggu keseluruhan sistem. Dalam mendesain sistem (entah sistem komputer atau sistem apapun) sebisa mungkin orang akan mengurangi adanya SPOF, karena dengan sebuah titik kelemahan rentan mengganggu operasional seluruh sistem. Ada banyak cara orang menghindari SPOF dalam sistemnya, salah satunya adalah dengan menggunakan konsep redudansi. Konsep redudansi secara bodoh-bodohan adalah membuat backup sistem yang bisa sewaktu-waktu menggantikan kinerja sistem bilamana sistem mengalami gangguan.

Ah tapi teori di atas hanya sekerjap pemikiran yang lewat di benak saya. Mungkin teori antrian lebih tepat dipakai. Berhubung saya tidak pernah belajar soal teori antrian, jadi mungkin tidak terlintas di benak saya :D. Yang jelas faktanya, dari kaca mata saya sistem antrian Hokben kurang mengutamakan pelanggannya. Sepertinya kasir menjadi point of failure dalam layanan restoran Hoka Hoka Bento. Semua kegiatan pelayanan Hoka Hoka Bento mengacu pada 1 kasir pada sebuah jalur antrian tunggal. Untuk jumlah pengunjung yang biasa-biasa saja, tentu sistem ini masih terbilang aman digunakan. Tapi bayangkan kalau antrian pengunjung sudah lebih dari 10 orang. Ah kebayang gak sih sudah lapar, harus antri berlama-lama, belum lagi kalau ada orang yang dengan santainya berlama-lama memilih menu. Memang tidak bisa disamakan juga dengan KFC & Mc Donald yang menunya lebih sedikit daripada Hokben.  Tapi apakah tidak bisa dipikirkan cara atau konsep lain yang bisa mengurangi kepadatan antrian. Pasti ada cara yang bisa meningkatkan kecepatan pelayanan.

Bagaimana konsep mengutamakan konsumen harus jadi titik acuan menentukan inovasi layanan. Jadi ingat dulu Mc Donald menerapkan jam pasir untuk menjamin layanan yang diberikan pada konsumennya tidak melebihi waktu tertentu (kalau tidak salah 3 menit). Jika dalam 3 menit pesanan belum siap, konsumen berhak memperoleh es krim. Walaupun es krim Mc Donald tidak enak tapi nilai penghargaan pada konsumennya yang jauh lebih penting.

Itu yang menjadi keheranan saya selama ini terutama bila sedang terjebak dalam antrian di Hokben. Mengapa Hoka Hoka Bento tidak memikirkan melakukan invoasi pada sistem layanannya. Entah apakah Hokben ingin mempertahankan sistem yang ada sebagai sebuah ciri khas, atau mungkin ingin memberikan sensasi tersendiri bagi pengunjungnya (sensasi lapar & lama ngantri).  Mudah-mudahan ada pihak manajemen Hoka Hoka Bento yang juga punya pemikiran yang sama seperti saya. Sampai saat ini sih saya belum bosan makan di Hokben, yang sudah masuk dalam daftar bosan saya adalah KFC & Mc Donald :-p


Lenovo Ideapad S9


Jumat kemarin saya memutuskan untuk membeli sebuah netbook. Netbook tidak sama dengan notebook kecil. Netbook punya banyak keterbatasan terutama : layar yang kecil, keyboard yang ringkas, tanpa CD/DVDrom. Dengan prosesor yang terbatas pula, netbook lebih diutamakan untuk mobilitas tinggi & untuk dipakai menjalankan aplikasi berbasis internet seperti browsing, chatting, membaca/menulis email. Lalu apakah netbook tidak bisa menjalankan aplikasi yang biasa dijalankan di PC atau notebook? Tentu bisa, tapi Anda pasti akan menghadapi banyak kesulitan, atau dengan kata lain kenyamanan kerjanya berkurang. Bayangkan saja, akan sangat menyiksa mengedit foto dengan Photoshop yang diinstal pada sebuah netbook. Silakan lihat video di Youtube ini,video ini menjelaskan apa sih bedanya netbook dengan notebook.

Kemarin sebelum membeli, kandidatnya adalah Asus EEEPC 904 dan Lenovo S9. Lenovo Ideapad S9 menurut saya lebih elegan desainnya, terkesan simple. Berikut review singkatnya dalam komik :

Ketika dibeli, Ideapad S9 sudah terisi Linpus Linux. Beda dengan Asus EEEPC 904 yang secara default sudah dilengkapi dengan Windows XP. Oh ya meskipun tidak dilengkapi dengan Windows XP,  Bhinneka.com tetap memberi CD driver untuk Windows XP. Sebenarnya Linpus Linux sudah cukup untuk dipakai sebagai sistem operasi standar, tapi saya kok gatal ngoprek  instal ini itu di S9 ini :D Jadilah saya hapus semua partisi yang ada. Jumat malam saya oprek OSnya, saya instal Ubuntu 8.10. Cara instalnya tentu dengan media USB flash disk karena Ideapad S9 tidak memiliki DVD ROM. Saya pakai unetbooting untuk menyalin Ubuntu 8.10 ke dalam USB. Masih kurang kerjaan, Sabtu malam saya coba instal Windows XP :D . Ternyata unetbooting tidak bisa dipakai untuk menginstal Windows XP dengan USB flash disk sebagai media. Googling sebentar saya dapat caranya di sini.

Keyboard S9 memang kecil, tapi saya menemukan hanya 2 tombol yang sulit dijangkau yaitu tombol tanda tanya, tombol Right Shift, dan hanya ada tombol Ctrl di sebelah kiri. Dengan kebiasaan mengetik saya di notebook normal, tombol-tombol huruf masih bisa dipahami oleh jari-jari saya. Kecepatan mengetik saya terhambat kalau sudah mencoba meraih tombol Right Shift & tanda tanya. Ya tapi ini bukan kendala besar, hanya masalah kebiasaan saja. Batere S9 kok sepertinya tidak terlalu kuat, saya sudah coba colok adaptornya ke listrik PLN sampai baterenya penuh. Dengan OS Ubutu 8.10, masa hidup dari batere penuh sampai mati hanya 2 jam lebih 9 menit. Entah saya belum coba dengan Windows XP. Di CD driver Ideapad S9 ada sebuah tool bernama Energy Management. Dengan tools ini saya bisa menentukan bagaimana penggunaan daya batere. Mudah-mudahan dengan bantuan software ini, daya tahan baterenya jadi bisa lebih lama untuk 1x charging.


Ketik REG Spasi Bla Bla Bla


Sudah cukup lama juga saya perhatikan bisnis SMS premium makin marak. Parameternya mudah saja, silakan tongkrongi televisi Anda akan dengan mudah melihat iklan-iklan SMS premium. Itu loh iklan yang bunyinya “ketik REG spasi….”. Ciri SMS premium biasanya nomor tujuan yang digunakan hanya terdiri dari 4 digit dan diawali dengan REG (ini mungkin karena akan direspon oleh mesin). Oh ya ciri lain adalah tarif SMS yang gila-gilaan, biasanya Rp2000,-/SMS. Berkali lipat daripada tarif SMS normal.

Menurut pengamatan saya, Global TV adalah televisi lokal yang paling banyak menayangkan iklan semacam ini. Global TV memang jarang saya tonton, tapi beberapa kali saya menonton film di Global TV saya kesal juga dengan banyaknya SMS premium macam ini. Dari 1 durasi iklan (sekitar 3-4 menit), saya setidaknya menemukan 4-5 iklan tentang SMS premium. Lebih menyebalkan lagi karena iklan yang sama selalu muncul berulang-ulang tiap kali rehat iklan.

Sejauh pengamatan saya dari beberapa stasiun TV besar (RCTI, SCTV, Metro TV, Global TV, Trans7, TransTV, ANTV, TVOne) sepertinya Metro TV-lah yang jarang menayangkan iklan semacam itu. Memang ini cara yang luar biasa efektif untuk “mencuci otak” pemirsanya (untuk membodohi masyarakat). Ah tapi itu kan hanya pandangan saya yang merasa terganggu dengan iklan-iklan semacam itu. Mungkin dari sisi bisnis sepertinya memang bisnis SMS premium ini luar biasa untungnya. Sah-sah saja orang berbisnis, tapi yang jelas saya terganggu…entah apa Anda terganggu juga apa tidak. Dari pengamatan saya pula, ada beberapa kategori iklan SMS berdasarkan konten yang ditawarkan :

  1. Kategori Percintaan
    SMS yang masuk ke kategori ini banyak ragamnya, mulai dari tips-tips sayang-sayangan, sampai SMS yang bisa menebak cocok tidaknya hubungan dengan pacar berdasar tanggal lahir.
  2. Kategori Nasib, Peruntungan, Ramalan
    Dulu saya pernah baca di Detik.com, kataya dalam 2 minggu peluncurannya SMS premium dari Ki Joko Bodo bisa menjaring jutaan SMS (tapi lupa tepatnya berapa). Gila…pantas bisnis SMS premium macam ini makin marak. Saya senang sekali saat melihat iklan Telkom Flexi yang meniru iklan SMS paranormal. Senang saja rasanya melihat Telkom seolah-olah meledek si paranormal itu :D Coba saja pikir, di salah satu iklan paranormal dialognya : “kamu gak cocok kerja di air, cocoknya dagang”……ya iyalah kerja jadi pembersih kolam renang sampai kapan juga bakal susah kaya, apalagi kalau dibandingkan dengan berdagang. Gak perlu bertanya pada paranormal, saya juga bisa kasih solusi begitu X-(
  3. Kategori Selebritis
    Ini termasuk salah satu jenis yang ngetop di awal-awal maraknya SMS premium. Isinya menawarkan update berita dan kegiatan sehari-hari dari artis tersebut. Tentu yang ditampilkan adalah artis yang sedang naik daun. Penipuan masyarakat yang paling jelas adalah saat si artis beriklan dengan mengatakan : “SMSnya langsung dari henpon saya”….ah geblek. Bahasa iklan memang penuh penipuan, kalau dipikir baik-baik mana mungkin tiap kali ada orang daftar terus si artis akan mengirimkan SMS langsung padanya……bisa bengkak jempolnya kalau begitu. Lagipula apa iya sesenggang itu waktu si artis untuk melayani SMS macam itu. Coba bayangkan berapa buanyak fans artis ybs yang akan terpancing untuk mendaftarkan diri pada layanan SMS premium tersebut?
  4. Kategori Games
    Katanya cukup dengan mengirimkan SMS, orang akan mendapatkan games yang bisa dimainkan di ponselnya. Terus kalau yang kirim SMS masih pakai henpon jadul (macam Nokia sejuta umat) apa bisa juga ya? :-/
  5. Kategori Rohani
    Tidak pandang agama, semua provider berlomba-lomba menyediakan layanan bernuansa rohani. Layanannya pun bervariasi, dari kiriman ayat-ayat kitab suci, lagu rohani, sampai kotbah-kotbah singkat. Biasanya yang dipajang sebagai bintang iklannya adalah tokoh yang terkenal di kalangan ulama/pendeta. Entah apa mereka ikut menikmati hasilnya atau hanya sekadar bintang iklan saja. Kalau sekarang sedang mendekati Natal, yang ditawarkan adalah lagu-lagu natal (ini juga termasuk dalam kategori ke-7). Mungkin SMS yang berkonten motivasi/kunci sukses dsb, bisa juga masuk ke kategori ini.
  6. Kategori Kuis
    Mungkin ini adalah cikal bakal kemunculan SMS premium. Dulu ada Indonesian Idol dan beberapa ajang pencarian bakat yang memanfaatkan SMS premium untuk menentukan pemenangnya. Dengan iming-iming hadiah, tentu tawaran kuis lewat SMS ini akan dengan mudah menjaring peserta. Dulu waktu sering dinas ke luar kota &  menginap di hotel yang biasa-biasa saja (cuma punya siaran TV lokal), tiap kali pulang malam ke hotel saya & menyalakan TV yang tampil adalah acara kuis SMS dengan host artis seksi. Wah model begini pasti lebih mudah lagi membodohi orang-orang untuk ikut berpartisipasi mengirimkan SMS. Ternyata provider GSM juga ikut-ikutan gak mau ketinggalan, saya pernah lihat iklan milik XL tentang gaji jutaan rupiah selama 1 tahun cukup dengan ikut mengirimkan SMS. Halah…hari gini iklan model ini pasti banyak peminatnya. Ekonomi sedang sulit, tentu orang (pengguna XL terutama) banyak juga yang tergiur. Apalagi dengan adanya contoh orang yang sudah pernah dapat hadiahnya.
  7. Kategori Isi Ponsel
    Termasuk di dalamnya SMS yang menawarkan ringtone, RBT (ring back tone), SMS/MMS lucu, dsb

Apa Komisi Penyiaran Indonesia tidak gerah ya melihat tayangan iklan SMS yang bertubi-tubi mengisi jam tayang televisi? Harusnya sih KPI ikut serta mengatur penayangan iklan SMS premium macam itu, coba saja periksa berapa banyak konten yang kurang mendidik di dalam iklan-iklan macam itu. Hmm mendidik atau bukan memang bukan urusan saya, tapi yang jelas pasti banyak juga orang yang merasa terganggu melihat iklan macam ini terus-terusan.


Restoran Bangkok ‘69


Selasa malam saya pergi makan malam ke rumah makan Bangkok ‘69 di kawasan Bendungan Hilir Jakarta. Ini hasil rekomendasi teman saya, katanya kodok goreng di sana enak. Hmm berhubung saya ulang tahun, teman saya memesankan mie goreng juga. Kurang lebih seperti ini menu makan malam kami tadi malam :

Ah satu menu yang tidak sempat terfoto, sup asparagus kepiting. Di foto itu ada mie goreng, cumi goreng (entah tepatnya dimasak apa), cakwe udang (yang diletakkan di atas alumunium foil), dan kodok goreng mentega. Semangkuk kecil nasi putih, segelas jus mangga, dan segelas fresh orange juice juga tidak terfoto.

Dari pilihan menu itu, yang menurut saya cukup enak rasanya cuma 3, diurut dari tingkat kelezatannya : sup asparagus kepiting, kodok goreng mentega, dan mie goreng. Cumi goreng & cakwe udangnya? Ancur rasanya :(( Lebih baik yang enak saja yang dibahas. Sup asparagusnya enak, daging kepitingnya & asparagusnya banyak. Kodok goreng menteganya juga cukup bisa dicoba kembali. Kodok alias swike yang dimasak cukup besar-besar dagingnya. Tapi masih kalah rasanya dengan kodok goreng Jatiwangi Cirebon. Mie gorengnya enak sayang terlalu banyak campuran kecambah (tauge) di dalamnya. Mie goreng ini dilengkapi juga dengan udang & daging (lupa daging ayam atau sapi ya tadi?).

Hari ulang tahun katanya harus dirayakan dengan mie. Ah jadi ingat Mamah saya di Cirebon, dia juga punya kebiasaan tentang mie saat ulang tahun. Katanya mie yang panjang melambangkan umur yang panjang, berharap bisa panjang umur saat usia bertambah. Entah hanya orang Chinese yang punya kepercayaan macam itu atau tidak. Tapi memesan sepiring mie goreng dengan tambahan beberapa lauk lalu memesan nasi putih, memang bukan pilihan yang bijaksana. Malam ini saya benar-benar kekenyangan. Mie goreng masih tersisa lebih dari separuh, nasi putih saya pun hanya habis setengah mangkuk. Cumi goreng & cakwe udang apalagi, hampir utuh. Hanya kodok goreng yang habis kami makan. Oh ya soal minuman, jus mangga yang saya pesan cukup enak rasanya. Sayang fresh orange juice yang dipesan teman saya malah sebaliknya, katanya terasa bukan fresh orange juice.

Dari sisi pelayanan, restoran ini cukup OK. Dengan jumlah pelayan yang banyak, pelayanannya sigap dan boleh dibilang cukup ramah. Mungkin karena jumlah pengunjung yang cuma sedikit malam tadi, sehingga satu meja dilayani 2 sampai 3 orang pelayan. Agak sedikit mengganggu privasi kalau tiga pelayan terus-terusan memperhatikan dalam jarak 3-4 meter. Ya memang, mereka menunggu kalau-kalau tamu butuh sesuatu atau hendak memesan sesuatu. Tapi siap siaga di posisi yang tidak terlalu dekat masih bisa kan?

Overall, tidak ada yang sesuatu yang cukup bisa membuat saya balik lagi ke restoran Bangkok ‘69. Ya mungkin kalau diajak lagi ke sini; tapi pergi sendiri atau merekomendasikan ke orang lain? Ah sepertinya tidak. Eh ada promo diskon 25% bagi pemegang kartu kredit HSBC di sini (berlaku sampai Januari 2009)…sayang saya bukan pemegang kartu kredit HSBC :D


26th Anniversary


Entah sudah berapa kali hari ini saya terima ucapan selamat ulang tahun yang diiringi dengan embel-embel : “makan-makannya di mana?” X-( (upsss….maaf salah ya smiley-nya; jadi ingat kata Mellisa adik saya : orang yg lagi ultah dilarang marah-marah) Hari ini saya ceritanya ulang tahun….16 Desember 2008 pas 26 tahun. Kenapa sih banyak orang latah, entah benar minta ditraktir atau cuma basa basi, kenapa orang selalu latah mulut soal kapan makan-makannya. Tapi terlepas dari itu semua, saya mau mengucapkan terima kasih buat semua yang sudah ingat hari ulang tahun saya. Really appreciate your attention for me…..

Dua kali saya pergi makan bersama teman-teman hari ini. Makan-makan yang pertama siang tadi bersama rekan-rekan satu tim (maaf Pak Rully, Anto, Rindu, Mas Dwi yang luput :D ) Oh ya, sebelumnya saya juga pernah pergi makan bersama rekan-rekan kantor di Hoka-Hoka Bento (dulu pernah juga ada liputannya di sini). Makan-makan yang kedua kapan? Makan-makan yang kedua tadi malam sepulang kantor. Tapi yang bisa dilaporkan dalam komik cuma makan-makan di Hoka-Hoka Bento tadi siang :

Tiap kali ulang tahun & tiap kali mendapat ucapan selamat ulang tahun, satu hal yang saya gak pernah lupa adalah ucapan teman kuliah saya dulu, Victor Iman, tentang saya yang kurang care. Dulu pernah Victor bilang pada saya kalau saya orangnya gak care, saya masih ingat waktu itu kita berdua sedang membahas kenapa saya selalu lupa ulang tahun orang lain. Ya kadang malu sendiri kalau lupa kapan ulang tahun orang lain, apalagi kalau sampai orang yang bersangkutan malah ingat betul kapan ulang tahun saya. Ah rupanya Victor lupa tentang obrolan waktu, tadi saat diklarifikasi lewat YM (Yahoo Messenger) dia lupa pernah berkata seperti itu. Biarlah Victor lupa, tapi kata-kata itu berkesan bagi saya sampai sekarang. Maafkan teman-teman yang kadang saya lupa hari ulang tahunnya.

Ah tahun ini sepertinya akan bertambah lagi gelarnya selain “Tedy yang gak care”, tambah satu lagi : “Tedy yang gak bisa berkomitmen” =)) Eh untuk masalah “gak bisa berkomitmen” mungkin akan saya bahas di postingan lain.

 **refleksi bodoh-bodohan di ultah ke 26, ditulis saat pikiran ruwet malam ini**