Banjarmasin (part 1) – Soal JBOD

Belakangan saya jadi agak malas meng-update blog, bukan sibuk tentunya (karena saya tidak percaya orang sibuk tidak sempat ngeblog 😀 ). Senin kemarin saya datang ke Banjarmasin, terakhir saya mengunjungi Banjarmasin tanggal 22 Agustus lalu. Kali ini salah satu tujuan kedatangan saya ke Banjarmasin adalah untuk mengganti salah satu harddisk milik Telkomsel yang rusak. Hmm saya lebih senang menulis harddisk dalam huruf miring daripada harus menggunakan terjemahan “cakram keras” =)) Dalam literatur berbahasa Inggris, harddisk lebih sering dituliskan sebagai “disk”; sementara piringan optik (CD) ditulis sebagai “disc”.  Oh ya CD sendiri kan singkatan dari “compact disc” bukan “compact disk”.

Harddisk yang saya ganti kemarin adalah salah satu harddisk dalam FibreCAT S80 storage system. FibreCAT S80 storage keluaran Fujitsu Siemens ini adalah perangkat penyimpanan data yang terdiri dari jajaran14 harddisk dengan interface optik (biasa disebut fibre channel disk).

Tidak seperti harddisk kelas konsumer yang memiliki interface IDE, SATA, atau SCSI, harddisk yang digunakan dalam S80 menggunakan interface fiber optic. S80 juga dilengkapi dengan RAID controller sehingga masing-masing harddisk bisa diatur dalam rangkaian RAID sistem (redundant array of inexpensive disk). Satu box S80 tersusun dari 2 RAID controller dengan14 slot harddisk. Harddisk yang diganti tersebut merupakan bagian dari sistem JBOD. JBOD sendiri merupakan singkatan dari “just bunch of disks”

Dalam terminologi RAID system, JBOD dapat disamakan dengan RAID 0. Sekumpulan harddisk digabungkan menjadi 1 buah virtual disk dengan kapasitas jumlah kapasitas masing-masing harddisk. Misalnya 4 buah harddisk berukuran 73GB digabungkan menjadi sebuah JBOD, maka ukuran virtual disk yang didapat adalah sebesar 4*73GB atau sebesar 292GB. Virtual disk sendiri maksudnya adalah harddisk yang dikenali oleh operating system. Jika sebuah JBOD terhubung dengan sebuah server, server tidak akan tahu berapa jumlah physical harddisk yang tergabung dalam konfigurasi JBOD. Server hanya akan mengenali JBOD sebagai sebuah harddisk tunggal. JBOD tidak memiliki redudansi apapun. Artinya jika salah satu harddisk mengalami kerusakan maka virtual disk (JBOD) tersebut akan “hancur”, semua data dapat dipastikan akan hilang. Menggunakan JBOD untuk mendapat storage yang besar memang ekonomis. Sayangnya mendapat storage yang besar tidak diimbangi dengan ketahanan data (redudansi) yang baik.

Bandingkan dengan RAID1 atau RAID 0+1 (mirror disk), Dengan RAID 1 atau RAID 0+1, harddisk (atau sekumpulan harddisk) dipasangkan dengan harddisk (atau sekumpulan harddisk yang lain) yang lain sebagai kloningnya. Jika salah satu harddisk rusak, harddisk yang lain akan memegang keutuhan data. Tapi sistem mirror ini tentu memboroskan resource harddisk yang tersedia. Pada contoh 4 harddisk 73GB, bila kita bentuk menjadi RAID 0+1 maka kapasitas yang didapat hanya 2x73GB atau sekitar 146GB. Lalu ke mana kapasitas 2 harddisk yang lain? Tentu saja 2 harddisk yang lain akan menjadi backup/salinannya. Kapasitas yang dapat digunakan hanya 146GB. Bila keutuhan dan redudansi menjadi isu penting, makan RAID 0+1 lebih bijaksana untuk digunakan.

Untuk mengatasi kekurangan redudansi dari sistem JBOD, biasanya digunakan redudansi secara  dengan kedua JBOD tersebut menggunakan Solaris sebagai sistem operasi, maka proses mirroring bisoftware. Misalnya dua buah JBOD sistem akan di-mirror secara software. Bila server yang terhubungsa menggunakan Solaris Volume Manager. Atau bisa pula proses mirroring dilakukan dengan menggunakan third party software semisal Veritas Volume Manager. Ya memang, ujung-ujungnya akan menjadi RAID 0+1 lagi tapi dalam konteks RAID secara software.

2 thoughts on “Banjarmasin (part 1) – Soal JBOD

Leave a Reply