Imlek & Kereta Api

Sabtu kemarin saya pulang ke Cirebon, setelah sekian lama jarang pulang ke Cirebon. Hmm mumpung hari Senin libur Imlek juga. Sabtu sore saya pulang dengan kereta Cirebon Express dari Stasiun Gambir. Sore itu stasiun Gambir cukup dipadati calon penumpang. Lantai 3 stasiun Gambir sudah dipadati penumpang, sampai-sampai eskalator menuju lantai 3 dimatikan untuk mencegah penumpukan penumpang di ujung eskalator. Kereta Cirebon Express yang saya tumpangi berangkat sekitar pukul 7 malam (terlambat 30 menit dari jadwal). Saya sudah datang di Gambir sekitar pukul setengah 6 sore, masih sempat foto-foto Monas & Stasiun Gambir :-p Di Jakarta, saya malah jadi jarang memakai Canon EOS 1000D nah sore itu kesempatan untuk menggunakannya lagi. Ah tapi sayang sore itu saya tidak puas dengan hasil foto-foto Monas, hampir semuanya under (cenderung gelap hasil fotonya).

Ok singkat cerita Senin pagi saya pulang lagi ke Jakarta. Minggu sore kemarin saya sudah membeli tiket kereta api Argo Jati untuk keberangkatan 5.45 Senin pagi. Tapi apa mau dikata, tadi pagi saya bangun kesiangan. Pukul 5.30 saya baru bangun :(( bergegas beres-beres tanpa mandi juga saya langsung naik ojek ke stasiun. Sepanjang jalan saya jadi berdoa berharap jam karet berlaku di Cirebon, atau paling tidak jam saya lebih lambat 5 menit daripada jam di stasiun. Ojeknya sudah super ngebut (sayang cuma motor bebek yang terbatas daya ngebut-nya) dan saya bisa sampai di stasiun Cirebon tepat pukul 5.45.

Dari depan stasiun Cirebon saya lari-lari sambil menggendong ransel berat (berisi baju, kamera, laptop, aneka charger, novel) juga sambil menenteng cue case. Sambil berlari masuk ke area stasiun, peluit tanda kereta boleh berangkat terdengar cukup jelas. Ah sial….pintu gerbangnya ditutup sementara karena kereta api Argo Jati baru saja melepas rem dan mulai bergerak. Saya dilarang masuk oleh si mbak penjaga gerbang tadi. Brengsek…bodohnya saya lupa pasang alarm tadi malam. Kesalnya ketinggalan kereta masih terasa sampai saya menulis postingan ini. Ya sudah terpaksa saya naik kereta Cirebon Express yang berangkat pukul 6.15 pagi. Untung masih pegang uang yang cukup beli tiket lagi 🙁 (masih kesal karena Rp95rb tiket Argo tadi melayang percuma).

Masih belum hilang juga deg-degan jantung saya sampai naik ke kereta. sebenarnya kata deg-degan punya versi formalnya : berdebar-debar; tapi kali ini saya lebih memilih menggunakan deg-degan saja :-p . Bercampur-campur deg-degan-nya pagi ini, mulai dari bangun pagi kesiangan, harap-harap cemas tidak ketinggalan kereta, deg-degan akibat lari-lari dari halaman ke dalam stasiun, sampai deg-degan uang saya tidak cukup beli tiket lagi. Di atas Cirebon Express saya masih sempat mengeluarkan lagi kamera untuk foto-foto sambil menunggu kereta berangkat.

Ya sudahlah, bersyukur saja sudah kembali lagi ke Jakarta dengan selamat. Senin pagi Jakarta sudah diguyur hujan. Hmm mungkin cocok dengan mitor seputar Imlek, katanya hujan di awal tahun baru merupakan pertanda alam tentang keberuntungan yang banyak di tahun yang baru saja datang. Cuma mitos sih, yang jelas pagi ini saya basah-basahan naik ojek pulang ke kos 🙁 .

Gong Xi Fat Choi!!!!

3 thoughts on “Imlek & Kereta Api

  1. Pak tedy…sepertinya pak tedy lagi sibuk ya…apa sekarang udah di luar indonesia?kok jarang di posting lagi…saya senang sekali membaca postingan anda..saya tunggu ya postingan berikutnya…

  2. @ Allan : hai…terima kasih sudah sering baca postingan saya 🙂 masih di Indonesia kok Mas, dibilang sibuk ya gak juga, tapi lagi gak punya waktu nulis aja sih…halah =))

Leave a Reply