Soal Tagihan Elektronik

Tadi di meja ruang TV ada beberapa amplop tagihan telepon rekan saya berserakan begitu saja. Ada yang menarik di amplop-amplop itu, informasi soal tagihan telepon via email. Indosat menawarkan bentuk tagihan dalam bentuk email. Hmm…menarik. Sepertinya baru Indosat yang menawarkan layanan seperti ini (CMIWW).

Yang sudah saya ikuti adalah programnya tagihan elektroniknya Citibank. Sejak saya pakai kartu kredit Citibank tahun lalu, praktis saya tidak pernah menerima amplop tagihan Citibank lagi. Tiap bulan Citibank mengirimi saya email berisi tagihan dalam format PDF. Canggih juga file PDF-nya, dilengkapi dengan password. Dengan bentuk PDF seperti itu saya lebih mudah mendokumentasikannya. Kapan pun saya perlu memeriksa tagihan, saya tinggal buka komputer atau cukup memeriksa email.

Bagi saya pribadi memang lebih enak memperoleh tagihan dalam bentuk email. Lebih mudah mengarsipkannya. Di kamar saya ada setumpuk berkas tagihan, mulai dari tagihan Telkom, Speedy, Kartu Halo, sampai amplop-amplop tagihan Indovision. Dulu saya pernah memotret satu-satu dokumen tagihan macam itu, supaya saya punya berkas digitalnya. Tapi itu cuma sebentar, keburu malas dan lupa.

Telkom Speedy juga sebenarnya menyediakan versi digital dari tagihannya. Sayangnya tidak secanggih apa yang sudah dilakukan oleh Citibank. Tagihan online Speedy disimpan dalam webnya Speedy. Tiap kali saya ingin tahu berapa tagihan Speedy saya, saya harus login dulu baru kemudian bisa memeriksa tagihan. Ah cara seperti ini butuh langkah proaktif dari pelanggan. Bagaimana kalau lupa memeriksa. Lain ceritanya kalau tagihan dikirimkan ke email….seolah-olah ada yang mengingatkan. Tagihan dalam bentuk digital mungkin sulit mengalahkan dominasi tagihan dalam format cetak.Banyak alasannya,salah satunya mungkin karena tidak semua orang selalu aktif di depan komputer (tambahan lagi akses internet belum menyentuh semua lapisan masyarakat). Tapi paling tidak dengan adanya layanan digital seperti itu memberikan pilihan bagi orang-orang seperti saya.

Bulan lalu misalnya, saya sempat protes ke Telkomsel karena tagihan saya tidak datang selama 2 bulan. Karena tagihan kartu Halo saya secara otomatis dibayar oleh Citibank, saya lupa kalau 2 bulan terakhir tidak terima berkas tagihan dari Telkomsel. Tahun lalu tagihan selalu dikirimkan ke kantor. Berhubung mulai tahun 2009 saya pindah kantor akhir Desember lalu saya minta Telkomsel mengirimkan tagihannya ke rumah saja. Februari lalu saya sempat kaget melihat jumlah pemakaian kartu Halo saya melejit. Yang membuat saya kaget adalah seingat saya pemakaian telepon saya bulan Januari tidak sebesar itu. Praktis saya jadi ingin tahu detail pemakaian telepon saya di bulan Januari. Ah di situ saya baru ingat kalau saya belum terima berkas tagihan Telkomsel bulan Januari & Februari.

Langsung saya lapor ke customer care-nya Telkomsel (telepon ke 111). Saya ceritakan masalahnya, saya juga sempat minta mereka memeriksa alamat rumah yang sudah saya berikan. Ternyata benar tidak ada yang salah dengan alamat saya. Laporan saya diterima dengan baik dan Telkomsel menjanjikan akan mengirim ulang tagihannya. Keesokan harinya ada yang menelpon saya mengaku dari Telkomsel. Si mbak mengklarifikasi soal mengapa tagihan saya tidak datang selama 2 bulan terakhir. Alasan yang diberikan adalah “Bapak memberikan alamat yang salah”…….wah kontan ini menyulut emosi saya. Bukan karena merasa disalahkan tapi saya emosi karena kalau toh alamat saya salah, mengapa Telkomsel tidak menelepon saya? Entah saya tidak tahu siapa sebenarnya yang mengirimkan tagihan tersebut, Telkomsel sendiri atau pihak kurir-nya Telkomsel. Sebagai customer tentu saya emosi mengapa saya tidak diberi tahu kalau alamat pengiriman tagihan salah. Salah kode pos saja sih….ini juga saya heran, kok bisa-bisanya saya salah memberikan kode pos. Jangan-jangan kalau saya tidak butuh melihat detail tagihan sampai besok-besok tagihan saya tetap tidak datang.

Masalah selesai saat dua tagihan saya (yang sudah basi) datang. Di situ saya baru tahu ternyata pemakaian telepon saya di Singapura bulan Desember lalu baru ditagihkan di bulan Februari. Pantas tagihan Februari jadi melonjak. Hmm enaknya kalau tagihan telepon bisa dikirimkan ke email saya. Sudah saatnya para provider/operator atau apapun itu yang rutin mengirimkan berkas tagihan mulai memikirkan pengiriman berkas tagihan secara elektronik. Menghemat kertas, lebih jauh katanya bisa ikut berpartisipasi mencegah pemanasan global. Bayangkan berapa banyak kertas yang dipakai untuk keperluan cetak tagihan. Ah tapi bagi saya tidak usah bicara muluk-muluk soal global warming, yang jelas tagihan elektronik (paperless) lebih mudah disimpan & didokumentasikan.

One thought on “Soal Tagihan Elektronik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>