The Bucket List

the bucket listSejak Minggu lalu HBO menayangkan film berjudul “The Bucket List”. Ini film benar-benar bagus. Film ini diperankan oleh 2 aktor kawakan Hollywood, Jack Nicholson & Morgan Freeman. Jack Nicholson memerankan tokoh Edward Cole, sementara Morgan Freeman memerankan tokoh Carter. Keduanya diceritakan sebagai dua orang pengidap penyakit kanker stadium akhir. Keduanya sama-sama divonis dokter memiliki harapan hidup yang tinggal beberapa bulan saja.

Edward Cole adalah seorang yang sangat kaya, sebagai seorang ahli kesehatan dia memiliki rumah sakit sendiri. Rumah sakitnya sedikit unik, karena semua pasien ditempatkan dalam kamar yang berkapasitas 2 orang pasien. Di rumah sakit itulah Edward bertemu dengan Carter untuk pertama kalinya. Carter sendiri sebagai orang kulit hitam adalah seorang dari kalangan biasa saja. Carter bekerja sebagai montir selama 45 tahun. Biarpun berprofesi sebagai montir, Carter adalah orang yang cerdas. Keinginannya untuk belajar tidak pupus dimakan usia. Profesi montir diambilnya saat dia keluar dari bangku kuliah yang baru dinikmatinya selama 2 bulan. Dia berhenti kuliah saat Virginia, pacarnya, mengabarkan kalau dirinya sudah berbadan dua.

Edward Cole dan Carter punya cara pandang yang bertolak belakang soal kehidupan. Carter seorang yang boleh dibilang religius percaya akan iman dan kehidupan setelah kematian. Sebaliknya Edward adalah orang yang skeptis, tidak percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian. Karena ditempatkan dalam satu kamar untuk beberapa waktu, Edward & Carter jadi berteman. Carter diceritakan sebagai pria yang setia pada istri dan keluarganya. Edward sebaliknya diceritakan sebagai pria yang gagal dalam membangun keluarganya, terbukti dari 4 kali pernikahannya yang tidak pernah berhasil dan anak perempuan satu-satunya yang membenci dirinya.

Bucket List sendiri adalah sebuah daftar yang dibuat oleh orang-orang yang sedang sekarat. Daftar hal-hal yang ingin dilakukan sebelum ajal datang menjemput. Carter yang sedang terbaring sakit menghabiskan banyak waktunya untuk membaca buku. Selain itu Carter juga menuliskan hal-hal yang ingin dilakukannya sebelum meninggal dunia. Tanpa sengaja daftar ini dibaca oleh Edward. Edward bahkan tertarik dengan yang namanya “the bucket list” dia menambahkan banyak hal dalam daftar tersebut. Beda kepribadian membuat keduanya menuliskan hal-hal yang jauh berbeda dalam daftar tersebut. Misalnya Carter menuliskan ingin mengendari mobil Mustang Shelby 350 (mobil yang diidamkannya sejak muda). Edward menuliskan hal-hal yang lebih gila dalam daftarnya, terjun payung, berburu singa, dll šŸ˜€

Edward mengajak Carter untuk memulai petualangan mewujudkan satu persatu dari semua daftar itu. Awalnya Carter menolak, tapi akhirnya mereka sepakat bertualang dunia mewujudkan semua hal yang mereka catat dalam daftar itu. Petualangan mereka seru semua, terjun tandem, mengendarai Mustang Shelby 350 di sirkuit, pergi ke Great Wall di China, ke Taj Mahal di India, mengunjungi Piramida di Mesir, melihat singa dari dekat di Afrika, jalan-jalan ke Hongkong, naik ke Gunung Himalaya. Gunung Himalaya adalah obsesi Carter, sayangnya cuaca buruk menghadang mereka untuk sampai ke puncak gunung. Semua petualangan mereka bisa terlaksana karena Edward punya uang banyak. Mereka bepergian dengan pesawat jet pribadi.

Banyak dialog yang cukup berbobot dalam film ini. Salah satunya adalah bagaimana Carter menasihati Edward untuk mencoba membuka hubungan kembali dengan putri tunggalnya. Di akhir petualangan mereka, saat mereka pulang ke Amerika, Carter bekerja sama dengan Thomas (asisten pribadi Edward) diam-diam membawa Edward ke rumah putrinya. Edward marah dan menuduh Carter mencampuri urusan pribadinya. Mereka berpisah di sana, Thomas pun kena pecat karena dituduh mengkhianati Edward. Menjelang akhir film, Carter menjalani operasi kankernya. Sebelum operasi Edward mengunjungi Carter lagi. Mereka bermaafan dan bisa tertawa bersama. Dia meninggal di meja operasi. Carter sudah menuliskan surat untuk Edward, lagi-lagi pesan dalam surat itu adalah supaya Edward menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Akhirnya Edward Cole mau datang ke rumah anak perempuannya. Di sana Edward bertemu dengan cucu perempuannya. Edward meninggal tidak lama setelah Carter meninggal. Keduanya dikremasi, abu jenazahnya ditaruh di dalam kaleng yang kemudian dikubur di puncak gunung Himalaya.

Hmm benar-benar film yang bagus dan layak ditonton. Ada banyak nilai moral yang disampaikan dalam film itu. Dari kacamata saya, nilai-nilai penting itu adalah :

  • Nilai hidup kita ditentukan bukan hanya dari kebahagiaan yang kita capai tapi juga dari seberapa besar kebahagiaan yang bisa kita bawa kepada orang lain.
  • Sahabat bisa jadi tempat orang mendapatkan saran & petuah hidup.
  • Keluarga yang harmonis adalah sesuatu yang perlu diperjuangkan.

Kalau Anda belum pernah menonton film ini, saya sangat merekomendasikan film ini. Selain nilai-nilainya yang luar biasa, film ini bagus juga teknik pembuatannya. Banyak tempat indah di dunia ditampilkan dalam film ini. Film ini termasuk film serius tapi dengan bumbu komedi menjadikannya sempurna. Oh ya, Kopi Luwak dari Indonesia juga masuk dalam cerita film ini. Edward diceritakan gemar sekali minum kopi Luwak. Carter menertawainya karena katanya kopi Luwak itu adalah biji kopi yang keluar dari pantat luwak :)) . Luwak (semacam musang) memakan buahnya, sementara bijinya dikeluarkan lagi bersama dengan kotorannya. Petani kopi mengumpulkannya untuk dijadikan bubuk kopi yang katanya terenak di dunia.

Ah saya tidak pandai menuliskan review film, sebaiknya Anda tonton sendiri film ini šŸ˜€

Gambar dipinjam dari sini : http://www.facinglife.tv/episode/season_3/episode_10/originals/The%20Bucket%20List.jpg

3 thoughts on “The Bucket List

  1. Saya setuju Mas Tedy.
    Nilai dalam hidup juga tidak harus diukur melalui seberapa banyak luas kita tahu, seberapa banyak kita punya dan seberapa cerdas kita. Selama hal tersebut tidak memberi manfaat pada diri sendiri dan orang2 di sekitar kita ya sesungguhnya tidak ada nilai apapun pada diri kita.
    Untuk mengetahui kita masuk kelompok yang mana…mudah saja. Orang yang positif umumnya kalau tidur mimpinya bukan yg menakutkan apalagi yang serem2, jiwanya cenderung gembira bahkan bahagia, tidak menakutkan siapapun diluar dirinya dan raut wajahnya sejuk.

  2. Pingback: Blognya Tedy Tirtawidjaja » Theme Song Film Keren

Leave a Reply