SMS Iklan
Belakangan saya sering sekali menerima pesan singkat dari Telkomsel tentang penawaran Iphone (produknya Apple). Hampir setiap hari ada saja SMS iklan ini. Mungkin Telkomsel sedang gencar-gencarnya memasarkan Iphone. Apa saya dianggap potential buyer oleh Telkomsel, sampai-sampai saya dikirimi SMS ini terus menerus. Kalau saya pikir-pikir ngeledek juga kalau terus menerus terima penawaran Iphone ini. Gaji cukup makan di Warteg saja kok ditawari beli Iphone sekian juta rupiah….ngeledek kan namanya
Tidak masalah tapi cukup menyebalkan. Orang bule bilang “annoying“. Apalagi saat mood sedang jelek seperti sore ini.
Sebenarnya sudah dari minggu lalu saya merasa cukup terganggu dengan SMS ini. Tadi baru saja saya terima lagi SMS yang sama seperti yang ada di foto ini. Langsung saya telepon 111 customer service-nya Telkomsel. Saya komplain tentang SMS tersebut. Saya minta diblok saja SMS iklan semacam itu. Saya disuruh menunggu sekitar 4 menit setelah saya ceritakan komplain saya itu. Entah apa yang dilakukan si Mbak customer service itu. Mungkin dia menanyakan prosedur untuk melayani laporan pelanggan ini. Saya tidak tahu apa banyak juga di antara Anda yang kesal tiap kali menerima SMS iklan semacam itu. Setelah disuruh menunggu lama akhirnya si Mbak terdengar lagi suaranya, katanya laporan saya akan diproses 3×24 jam di hari kerja. Si Mbak lalu bilang dengan permintaan seperti ini saya tidak akan dikirimi lagi SMS pemberitahuan tentang even-evennya Telkomsel. Langsung saya jawab : “ya tidak apa, lama-lama nyebelin juga terima SMS macam itu”.
Ada lagi yang serupa, beberapa minggu belakangan saya sering menerima SMS promo dari QBilliard. Yang diskon sekian persen atau pemberitahuan tentang even apalah. QBilliard adalah salah satu tempat biliar (yang muahal) yang ada di EX Plasa Indonesia dan di Senayan City. Tapi kalau yang ini saya sendiri tidak bisa komplain. Ini salah saya sendiri karena memberikan nomor telepon saya pada QBilliard saat main di QBilliard Senayan City tahun lalu. Ceritanya mereka mungkin ingin menjalin keakraban dengan pelanggannya, menanyakan & mencatat nama serta nomor telepon saya. Yah apa boleh buat, terima saja lah iklan-iklan yang dikirimkan itu. Sepertinya masih ada lagi SMS iklan yang pernah mampir ke ponsel saya. Tapi saya lupa siapa pengirimnya, yang saya ingat iklan tentang nonton bareng F1. Seingat saya pula kartu Halo itu jarang ada SMS macam itu, entah mengapa belakangan jadi muncul SMS seperti itu. Kalau kartu prabayar seperti Flexi saya itu masih saya maklumi. Yah namanya juga kartu pra bayar. Telkom Flexi juga sering sekali mengirimkan SMS iklan. Yang sering saya terima adalah SMS tentang undian. Biasanya SMSnya diawali dengan kata-kata “Dapatkan Innova, Yamaha Mio…bla..bla..bla…segera ketik REG…kirim ke…” Gubrak….ternyata ajakan ikut undian.
Dari sisi hubungan customer dan provider, mungkin salah satu cara menjaga hubungan adalah dengan cara memberitakan even semacam itu. Tapi bagaimana ceritanya kalau yang menerima SMS adalah orang seperti saya? Saat sibuk-sibuknya kerja ada SMS masuk, saya pikir SMS penting…eh ternyata cuma iklan (ah tapi masa iya ada orang sibuk sampai baca SMS saja tidak sempat
). Apalagi yang menyebalkan saat tidur ada SMS masuk, begitu dibaca hanya iklan
Teman saya sempat menyarankan matikan saja henpon-mu kalau tidak mau tidurnya terganggu. Tapi saya kok tidak “tega” mematikan ponsel saat ingin tidur. Ponsel menurut saya memang perangkat yang handal, buktinya dari sejak dibeli jarang sekali saya matikan. Kalau dihitung-hitung ponsel saya itu saya matikan kalau naik pesawat saja (dan kalau di tengah jalan kehabisan batere). Nah loh kok jadi ngomongin handphone?? ![]()
Betahkah Saya Di Jakarta
Ada pertanyaan kemarin dari salah seorang teman saya : betahkah kamu tinggal di Jakarta? Jakarta kan macet & panas. Kemarin saya jawab ini tuntutan kerja. Kalau saja di Bandung ada perusahaan yang mau menggaji saya sama seperti yang saya terima sekarang, mungkin saya akan pilih kerja di Bandung. Sampai saat ini menurut saya Bandung “the best” lah untuk tinggal, untuk cari kerja sepertinya Jakarta masih lebih baik. Memang kalau dihitung-hitung mungkin ujung-ujungnya sama saja, biaya hidup di Jakarta kan pasti lebih besar daripada Bandung.
Seorang sepupu saya ada juga yang urung kerja di Jakarta setelah melihat (dan merasakan sendiri) bagaimana macet dan “semrawut”-nya Ibukota. Dia dari lahir sampai SMA tinggal di Semarang, melanjutkan perguruan tinggi di Salatiga. Ketika lulus dan dalam tahap mencari kerja, ada salah satu perusahaan yang mengundangnya interview di Jakarta. Tinggallah dia beberapa hari di rumah kakaknya di Jakarta. Sambil interview dan mencoba mengenal Jakarta. Ah rupanya dia malah takut dengan keramaian Jakarta. Interviewnya gagal, dan dia pun memutuskan pulang lagi ke Semarang. Sekarang dia kerja di kota Kudus. Oh ya saya lupa menyebutkan kalau saudara sepupu saya tadi itu laki-laki loh ![]()
Minggu lalu rekan saya juga cerita hal yang sama. Katanya temannya memilih pulang ke Medan, gak tahan kerja di Jakarta. Temannya memilih lebih baik digaji lebih rendah daripada tinggal di Jakarta dengan gaji yang lebih besar. Sebegitukah tidak enak kah tinggal di Jakarta. Ah mungkin uangnya sudah banyak, digaji kecil pun tidak jadi masalah. Nah saya kan butuh masa kesempatan bagus ditinggalkan
Salah seorang kenalan saya pun demikian, baru dipanggil interview ke Jakarta saja sudah pusing 7 keliling. Kalau yang ini masih bisa dimaklumi, anak perempuan satu-satunya….wajar kalau sedikit takut dan grogi pergi ke Jakarta. Saya dengar sampai diantar bapaknya ke Jakarta. Terakhir saya dengar dia pilih kerja di Bandung.
Dulu saat masa akhir kuliah, saya pun tidak berpikir kerja di Bandung. Pikiran saya satu, kerja di Jakarta bagaimana pun caranya….mental karyawan kali ya
Bersyukur pula sebulan setelah lulus, saya sudah dapat kerja di Jakarta. Waktu itu September 2006 saya pertama kali kerja dan menetap di Jakarta. Untungnya saya bisa beradaptasi dengan segala kesemrawutan Jakarta. Macetnya lah, panasnya lah. Lalu apa hubungannya denganfoto di atas? Sebenarnya tidak ada hubungannya…tadi saya bingung cari foto ilustrasi untuk tulisan ini
Buka buka folder foto, sepertinya yang paling nyambung foto “pantat” Metromini itu. Paling tidak itu yang bisa mewakili ruwetnya jalanan Jakarta. Anda yang ke mana-mana naik motor, pasti sudah kenyang dengan semburan asap knalpot Metromini. Anda yang kemana-mana naik mobil, mungkin juga sering dipotong jalannya oleh Metromini. Paling tidak sudah pernah macet tepat di belakang Metromini.
Jadi kalau ditanya betahkah saya di Jakarta, saya akan bilang : betah. Tapi untuk masalah tempat tinggal saya lebih memilih Bandung. Cirebon, kota kelahiran saya sendiri, saya malah taruh di urutan 3. Cirebon terlalu panas, Jakarta bosan dengan macetnya. Jadi betahnya saya mungkin cuma karena di Jakartalah saya dapat pekerjaan dengan gaji yang saya ingini.
**Sepertinya ada yang aneh dengan tulisan saya kali ini…tapi apa ya?
**
See, Imagine, and Shoot
In my head, photography concept is just simple concept like this : SEE, IMAGINE, & SHOOT. You see something interesting, you imagine how good is that in the frame, and finally you shoot it. Don’t believe my concept, I’m not photography expert…just ordinary people who like to capture & documented everything.
The model in the picture above is a middle age man on Mekarsari Tourism Park. I saw him yesterday on flying fox arena, he was walking around bring his camera like I did. There is something interesting about him, I take his picture in candid mode
(if you see this post, sorry to publish your photo Sir…but your expression was good to be captured).
Hari Yang Melelahkan
Saya baru pulang ke kos setelah seharian menemani rekan saya pergi ke Tamah Wisata Mekarsari. Ceritanya saya diminta memotret acara wisata karyawan kantor rekan saya itu. Sebagai pehobi foto yang kekurangan model dan objek foto
tentu saya setuju saja dengan ajakan itu. Tapi ternyata Rabu malam saya tidak bisa cepat pulang dari kantor.
Rabu malam kemarin, saya masih berkutat dengan software upgrade di mesin-mesin IN milik XL. Sekitar jam setengah 2 pagi tadi saya baru meninggalkan Graha XL Mega Kuningan. Mata sudah ngantuk. Sampai di kos sekitar pukul 2 pagi. Sampai di rumah saya masih harus membalas beberapa email yang masuk. Sialnya setelah saya rileks mencoba memejamkan mata, saya malah tidak bisa tidur. Saya baru mulai ngantuk saat adzan subuh. Gila, jam hampir setengah 5. Jam 7 pagi saya sudah dibangunkan lewat 9 misscall yang luput tidak terdengar, baru call ke 10 yang bisa membangunkan saya
. Masih sempat ngopi-ngopi dulu mengumpulkan nyawa yang belum terkumpul semua. Jam 8 lebih saya sudah dijemput. Menuju ke Mekarsari, saya sempat mampir ke Alfamart membeli Kratingdaeng untuk sedikit memompa “kesadaran” & semangat saya.
Kami pulang meninggalkan Taman Wisata Mekarsari sekitar pukul setengah 4 sore. Mendung tebal di sana, beberapa ratus meter meninggalkan lokasi hujan deras turun. Efeknya bisa ditebak, macet luar biasa. Gila…macet panjang sepanjang jalan menuju gerbang tol Cibubur. Begitu halnya di jalan tol, padat merayap hampir ngesot
. Foto-fotonya belum sempat saya pindahkan ke notebook saat saya mengetik postingan ini. Cerita soal acara foto-foto di Mekarsari mungkin saya tulis nanti-nanti saja.
Pulang sampai di kos tiba-tiba niat posting muncul, ya sudah lah ketik dulu….sudah beberapa minggu belakangan saya jarang meng-update blog. Mumpung ada niat saya segera ketik. Badan saya mulai terasa pegal; efek kurang tidur dan seharian berjalan-jalan.
Kalau meminjam istilah teman kantor saya yang bule : “what a day???” Hari yang melelahkan.
Wafer Keju
Awalnya saya disuruh oleh rekan saya untuk mencoba wafer ini. Saya diberi satu bungkus dan ternyata saya suka rasanya. Wafer baru rasa keju ini bermerek Nabati. Tadi siang saya beli lagi wafer ini, warna kemasannya menarik membuat saya tadi tertarik memotretnya (blogger kurang kerjaan
) Selama ini sepertinya jarang wafer rasa keju. Belakangan saja Tango membuat wafer rasa keju. Bentuk dan kemasan wafer Nabati ini cukup unik. Kalau biasanya wafer dibuat dalam ukuran kecil, Nabati ini dibuat dalam bentuk memanjang. Dalam satu kemasan, Anda bisa mendapat 2 batang wafer keju. Rasanya mirip Chiki Balls rasa keju
… asin-asin gurih. Sayangnya produsen wafer Nabati ini tidak menyediakan kemasan lain yang lebih besar, misalnya dalam kemasan kaleng seperti yang umum dilakukan produsen wafer lainnya. Mungkin ini juga jadi strategi penjualan mereka. Dengan harga sekitar Rp1050,- per kemasan pasti lebih besar untungnya daripada membuatnya dalam kemasan yang lebih besar. Entah apa nanti produsen wafer Nabati ini akan menjualnya dalam kemasan yang lebih besar.
Tips Membeli Notebook
Tidak sedikit orang bertanya pada saya saat mereka ingin memilih notebook, hal yang umum ditanya adalah prosesor seperti apa yang bagus….mana yang lebih bagus Core 2 Duo atau Dual Core, bagus mana Toshiba atau Acer, dan aneka pertanyaan sejenis. Jawaban saya biasanya saya kembalikan pertanyaan pada mereka. Berapa budget mereka, untuk apa tujuan mereka membeli notebook. Jika membeli notebook hanya untuk aplikasi kantor (mengetik di Word, mengolah data di Excel, melakukan presentasi), kencangnya prosesor tidak perlu dijadikan pertimbangan utama. Lain ceritanya kalau Anda membeli notebook untuk dipakai bermain game.
Sekarang saja saya bingung dengan bermacam-macam tipe prosesor. Ambil contoh, Intel Core 2 Duo saja punya banyak varian & tiap varian berbeda-beda kecepatan prosesornya. Percayalah, Anda tidak akan terlalu merasa bedanya menggunakan prosesor Dual Core dengan speed 1.6GHz, 2.0GHz, atau 2,4GHz sekalipun. Lain halnya dengan memori, besar kecilnya memori yang terpasang sangat terasa efeknya. Tidak peduli berapapun kecepatan prosesor yang ada, Anda pasti LEBIH BISA merasakan perbedaan performa kerja notebook dengan memori 512MB dengan notebook bermemori 1GB. Dari pengalaman saya, lebih baik menambah kapasitas memori daripada meng-upgrade prosesor dengan speed yang lebih tinggi.
Tidak semua orang akrab dengan dunia IT/komputer, jadi tulisan ini lebih ditujukan bagi orang awam yang tidak terlalu familiar dengan dunia komputer. Bukan mau menggurui tapi sekadar berbagi pengalaman. Biasanya kalau saya ditanya notebook apa yang bagus, saya akan menyarankan tentukan dulu apa prioritas yang jadi pertimbangan. Apakah Anda mencari notebook dengan spesifikasi khusus atau mencari notebook dengan harga tertentu. Jika pertimbangan Anda adalah spesifikasi (asumsi harga tidak terlalu menjadi masalah), tentu hal ini tidak terlalu menjadi masalah. Pilih saja notebook merek terkenal (seperti Fujitsu atau Sony) yang harganya di atas 16juta, pasti bagus. Tapi jika Anda hanya mempertimbangkan harga, saran saya adalah tentukan dulu berapa besar budget yang ingin dianggarkan untuk membeli notebook. Dengan batasan anggaran, setidaknya kita mempersempit pilihan yang ada. Terlalu banyak spesifikasi dan fitur-fitur yang ditawarkan produsen notebook saat ini. Mengikuti teknologi tidak akan ada habisnya. Nambah 1 juta Anda sudah dapat ini itu, nambah 2 juta Anda dapat yang punya fitur ini itu, terus menerus seperti itu. Jadi paling bijaksana, tentukan titik teratas anggaran belanja notebook Anda, baru kita pertimbangkan hal teknis dan lainnya.
Setelah tahu seberapa besar anggaran Anda untuk notebook, baru kita mencari kandidat-kandidat notebook yang harganya masuk dalam anggaran Anda. Website toko komputer seperti Bhinneka.com selalu jadi acuan saya untuk membandingkan merek, fitur, & harga notebook. Dari sekian banyak pilihan merek dan tipe notebook yang ditawarkan, kita bisa mengklasifikasikannya sesuai dengan anggaran. Berikutnya adalah masalah spesifikasi. Menurut saya setidaknya Anda perlu tahu tentang spesifikasi berikut ini, sekali lagi batasan-batasan ini sifatnya fleksibel tergantung kebutuhan Anda sendiri :
- Memori : saran saya belilah notebook dengan memori sedikitnya 1GB
- Harddisk : saat ini rata-rata notebook sudah dilengkapi dengan harddisk berukuran minimum 120GB.
- Koneksi wireless : koneksi wireless yang wajib ada adalah WiFi. Infrared atau Bluetooth sifatnya opsional saja.
- Kenyamanan touchpad & keyboard : ini tidak teknis tapi penting jadi pertimbangan. Ada baiknya Anda mecoba dulu notebook yang Anda ingin beli supaya tahu nyaman tidaknya saat dipakai mengetik.
- Ukuran layar : kalau Anda ingin menggunakan notebook untuk mengolah data di spreadsheet (Excel) maka layar 13″ ke atas lah yang harus Anda pilih. Kalau pertimbangan mobilitas (enteng dibawa-bawa) tentu jangan beli notebook berukuran lebih dari 14″.
- Hal lain yang perlu dipertanyakan adalah masalah garansi & kemudahan layanan purna jualnya.
Saya pribadi termasuk orang yang agak sedikit fanatik terhadap merek. Biasanya kalau ditanya orang, saya selalu merekomendasi notebook-notebook yang sudah terbukti kualitasnya dan jarang punya masalah…sebut saja merek Fujitsu atau Lenovo. Merek abal-abal tidak pernah saya sebut. Ya kurang lebihnya seperti itu tips memilih notebook versi bodoh-bodohan dari saya ![]()
Head To Head Lenovo & Compaq
Ini catatan saya beberapa minggu lalu yang belum sempat saya publish. Dua orang rekan saya membeli notebook dan membawanya pada saya untuk masalah instalasi OS. Yang satu datang dengan membawa Lenovo G410 sementara yang lain membawa Compaq Presario CQ40. Kedua notebook ini harganya hampir mirip & masih berada dalam kelas yang sama; low end notebook. Saya buat tulisan ini untuk sedikit me-review kedua notebook ini. Boleh percaya boleh tidak silakan tentukan sendiri pendapat Anda.
Lenovo G410 ini dijual sekitar 6 juta rupiah. Modelnya sangat klasik, mengikuti tradisi desain notebook IBM. Berkesan kotak dan kaku. Seperti tradisi desain notebook IBM, sisi layar dibuat menonjol sehingga saat layar ditutup tidak ada celah di antara layar dan keyboard yang memungkinkan debu untuk masuk. Bagi Anda yang mempertimbangkan model dalam memilih notebook, Lenovo G410 mungkin akan terlihat kurang menarik. Untuk ukuran notebook berlayar 14″, body G410 cukup tebal dan lumayan berat. Notebook berbobot lebih dari 2 kilogram pasti terasa beratnya. Karena menekan harga, Lenovo hanya memasangkan DVD Combo (DVD ROM + CD-RW drive). Optical drive-nya hanya bisa membaca DVD, tidak bisa dipakai untuk burning DVD (hanya bisa burn CD). Jaman sekarang rasanya aneh membeli notebook tanpa kemampuan menulis DVD seperti ini.
G410 ini juga tidak memiliki webcam. Untuk harga sekitar 6 juta rupiah, notebook merek lain sudah dilengkapi dengan webcam. Berikut adalah spesifikasi teknis Lenovo G410 ini :
- CPU Intel Dual Core T2390 1.86GHz
- Memory 1GB
- Harddisk 160GB
- DVD Combo
- LAN 10/100Mbps
- Wifi 802.11g
- Modem 56Kbps
- Layar 14″
- Slot memory card (MMC, SD)
Dalam paket penjualannya, Lenovo hanya menyediakan CD driver untuk Windows Vista. Meskipun tidak dilengkapi dengan driver untuk Windows XP, hampir semua driver yang ada bisa dipakai di Windows XP. Untuk masalah performa, Lenovo G410 ini cukup handal. Walaupun dipakai terus menerus, notebook ini relatif tidak panas. Bagi saya pribadi, tidak adanya internal webcam dan bluetooth tidak terlalu menjadi masalah. Kekurangan yang cukup mengganggu saya adalah ketiadaan DVD-RW.
Compaq Presario CQ40 ini harganya sekitar 7 juta rupiah. Ini adalah notebook yang paling rewel yang pernah saya pegang. Keyboard-nya tidak nyaman digunakan, apalagi touchpad-nya. Sulit menggerakan jari di atas touchpad Compaq ini…terasa “kesat” (apa ya bahasa Indonesianya??? ya pokoknya kurang smooth deh) Berikut ini adalah spesifikasi teknis Compaq Presario CQ40 :
- Prosesor Intel Pentium Dual Core T3400 2.16GHz
- Memori DDR2 1GB
- Layar 14″ wide screen
- Harddisk 160GB
- Wifi 802.11 b/g
- LAN 10/100Mbps
- Modem 56Kbps
- DVD RW dual layer (with Lightscibe technology)
- Webcam
- 5 in 1 digital media reader (slot memory card)
- Speaker Altec Lansing
Ingin menggunakan Windows XP dengan Compaq tipe ini? Jangan harap gampang, lupakan Compaq Presario CQ40 jika Anda ingin menggunakan Windows XP. Dari awal instalasi Windows XP saja, saya sudah menemui kendala. CQ40 ini benar-benar dirancang untuk Windows Vista. Awal booting dengan CD Windows XP, saya dapat eror blue screen dan harddisk-nya tidak dikenali (Compaq ini menggunakan harddisk tipe SATA). Saya harus melakukan remastering pada CD Windows XP saya untuk memasukkan driver SATA. Masalah instalasi pun bisa diselesaikan. Muncul masalah berikutnya ketika menginstal driver untuk tiap perangkat. Saya harus download semua driver dari webnya HP/Compaq. Proses download berlangsung super lambat, padahal koneksi Speedy saya cukup bagus…mungkin lambat di sisi servernya. Yang paling sulit adalah menginstal driver untuk sound card. Dua hari dua malam saya utak-atik notebook ini, nyerah juga akhirnya. Saya pasangi saja Windows Vista ke dalam Compaq CQ40 ini (Compaq hanya menyediakan CD driver untuk Windows Vista). Banyak tips yang saya baca di Internet soal Compaq CQ40 ini, masih ada 1 tips yang belum saya coba : melakukan downgrade BIOSnya. Halah….terlalu beresiko, salah-salah bisa mati total.
Keunggulan CQ40 ini dibandingkan Lenovo G410 terletak pada internal webcam dan DVD-RW. DVD-RW yang terpasang termasuk canggih, sudah dilengkapi dengan teknologi Lightscribe. Dengan teknolgi Lightscibe, Anda bisa mencetak cover CD/DVD langsung di atas kepingan CD/DVD. Teknologi ini hanya bisa dipakai jika Anda menggunakan keping CD/DVD khusus (yang bagian atasnya bisa dicetak dengan teknologi Lightscribe). Oh ya speaker CQ40 cukup bagus, dipasangi speaker Altec Lansing loh.
Head to head Lenovo G410 & Compaq Presario CQ40, saya lebih memilih Lenovo G410. Dengan segala kekurangan Lenovo G410, tetap saja rasanya kurang worthed kalau saya memilih CQ40 dengan segala kerepotannya itu.
Teks Primbon
Sejak mencoba belajar menjadi seorang Unix engineer di Fujitsu Indonesia Mei 2007 lalu, saya rutin mencatat semua ilmu, tips, dan tutorial tentang Unix. Saya tulis semuanya dalam sebuah dokumen Word. Semacam primbon kecil-kecilan lah, membantu saya mengingat semua hal tentang Unix yang sudah saya pelajari. Antisipasi suatu saat saya lupa. Tiap orang punya cara masing-masing untuk mencatat dan mendokumentasikan “primbonnya”. Teman saya Rizki di Fujitsu Indonesia, rajin sekali mencatat segala yang dia pelajari dalam sebuah buku. Hmm tulisan tangan saya tidak bagus, ditambah lagi saya malas mencatat; jadi saya pilih mengetiknya dalam sebuah file Word.
Saya catat segala hal mulai dari yang sederhana sampai yang saya anggap rumit. Misalnya saja cara membackup harddisk dengan perintah ufsdump. Atau bagaimana caranya mengkonfigurasi server/storage. Atau misalnya saya baru tahu tentang perintah Unix untuk memeriksa port-port yang terbuka, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini :
Saya pisah tiap topik dalam tiap halaman yang berbeda. Tiap catatan saya beri judul yang memudahkan saya bilamana nanti perlu mencarinya kembali. Tidak lupa saya cantumkan juga log yang berkaitan. Sampai hari ini catatan saya sudah mencapai 365 halaman.
Waktu saya mulai membuat catatan kecil ini saya masih menggunakan Microsoft Word. Ya maklum dulu di Fujitsu, notebook kantor diisi Windows XP. Awal tahun 2009 ini saya menggunakan Ubuntu di notebook kantor. Dengan menggunakan format *.doc sering timbul masalah ketika membuka catatan saya itu dengan Open Office Writer (atau sebaliknya). Font yang bisa berubah, margin yang bergeser, tabulasi yang berantakan, dan beberapa contoh masalah lainnya. Akhirnya setelah saya benahi semua catatan saya, saya simpan saja dalam format open document (*.odt). Format ini lebih enak dipakai, ukuran file-nya lebih kecil, dan bisa dibuka di semua word processor program yang sudah mendukung format open document.
Di kantor saya sekarang (eServGlobal Indonesia), rekan-rekan juga punya kebiasaan yang sama dengan saya. Mereka menyimpan catatan tentang ilmu-ilmunya, bedanya dengan saya adalah mereka mencatat dalam format plain text (*.txt). Hmm memang ada enaknya menyimpan catatan dalam format plain text. File-nya lebih cepat dibuka. Bekerja dengan komputer berbasis Linux membuat saya tidak bisa jauh dengan yang namanya Terminal/Console. Enaknya punya catatan dalam format teks, saya bisa buka catatan saya dengan menggunakan console (text based tentunya).
Saya cari-cari informasi ternyata ada juga aplikasi di Ubuntu yang dapat melakukan konversi file odt ke dalam file teks. Aplikasi itu bernama odt2txt. Ya sudah langsung saja saya pasang aplikasi itu. Cara pemakaiannya cukup mudah, tinggal tentukan nama output file yang diinginkan dan tentukan juga source dokumennya. Contohnya seperti di bawah ini :
tedy@tedy-laptop:~$ /usr/bin/odt2txt –output=/data/UNIX_text_version.txt /data/UNIX.odt
Dengan perintah di atas saya akan mendapat hasil sebuah file teks dengan nama UNIX_text_version.txt. Daripada harus mengulang mengetik perintah di atas berkali-kali, saya buat script kecil untuk mengotomatisasi proses konversi itu. Script-nya seperti berikut ini :
tedy@tedy-laptop:~$ cat bin/convert-odt
#!/bin/bash
#------------------------------------------------------------
# This script will convert UNIX.odt file into text file
#------------------------------------------------------------
echo "";
echo "---------------------------------------------------------";
echo "";
echo "Starting convert process at `date '+%Y%m%d-%H:%M:%S'`";
/usr/bin/odt2txt --output=/data/UNIX_text_version.txt /data/UNIX.odt
echo "";
echo "Finish convert process at `date '+%Y%m%d-%H:%M:%S'`";
echo "";
echo "---------------------------------------------------------";
echo "";
exit
tedy@tedy-laptop:~$
Tampilan console saat saya menjalankan script terlihat pada gambar di bawah ini :
Nah gampang sekarang kalau buru-buru perlu membuka catatan primbon saya ini
tinggal buka console saja. Misalnya dengan perintah view saya bisa mencari petunjuk yang diperlukan :
Saya senang menggunakan cara ini, prosesnya lebih cepat daripada harus membuka Open Office terlebih dulu. Hmm tapi memang untuk menambah isi catatan saya itu saya tetap harus menggunakan Open Office.
Nah bagaimana Anda menyimpan ilmu, tips, trik Unix Anda? ![]()
Silent Evening
A quiet evening….
Painful loneliness.
Pulang Cirebon
Sabtu siang kemarin saya pulang ke Cirebon, katanya adik saya sakit. Adik perempuan saya terpaksa dirawat di rumah sakit karena terkena demam berdarah. Ya sudah pulanglah saya dengan kereta api jam 1 siang…padahal tadinya saya tidak punya rencana pulang ke Cirebon. Ah sayang Sabtu siang kemarin saya harus puas duduk di gerbong bisnis kereta Cirebon Ekspress. Tidak ada lagi kursi di kelas eksekutif, perjalanan yang kurang menyenangkan….siang-siang menuju Cirebon dengan hawa panas, duduk di kelas bisnis pula. Untung saya duduk persis di bawah kipas angin, jadi masih bisa duduk sambil baca novel. Hmm iseng sebentar waktu menunggu kereta datang di Gambir, sambil menunggu kereta datang…motret-motret.
Foto ini diambil saat kereta Cirebon Ekspress dari Cirebon menuju Jakarta baru merapat di Stasiun Gambir. Kereta ini pula lah yang akan saya naiki kembali ke Cirebon. Begitu ada pengumuman akan masuk kereta dari Cirebon, saya langsung ambil posisi di samping rel
Mencari titik fokus dulu supaya saat kereta melintas saya tinggal ambil gambarnya.
Kalau foto di bawah ini adalah foto keramaian penumpang kereta Cirebon Ekspress yang baru datang tadi. Tidak terlalu ramai penumpang KA Cirebon Ekspress siang kemarin. Susah juga ternyata memotret di tengah keramaian orang berlalu lalang. Jadi yang ada di dalam foto di bawah ini adalah penumpang yang turun belakangan dari kereta.
KA berangkat dari Gambir menuju Cirebon tepat pukul 13.15, tepat sesuai jadwal. Tiba di Cirebon juga tepat sesuai jadwal, pukul 16.15 sudah masuk stasiun Cirebon.

.



