Trend Loncat Bunuh Diri

Pagi ini saya baca di Detik.com seorang jemaah haji Indonesia loncat dari lantai 6 tempat pemondokannya di Mekkah. Berita lain yang serupa seorang pria jatuh dari lantai 5 Senayan City Mal Jakarta….tewas pastinya. Kemarin sore pun demikian, saya baca Detik.com dan ada berita seorang perempuan diduga bunuh diri loncat dari lantai 5 Mal Grand Indonesia. Walah-walah ada apa ini? Apa tiga kasus loncat (entah bunuh diri atau bukan) dari ketinggian sedang jadi trend? Atau gejala stress sedang mulai mewabah? Ah mungkin terlalu jauh kalau saya katakan stress mulai mewabah. Tapi paling tidak secara sepintas, otak saya mencoba menarik benang merah antara 3 kasus yang berbeda-beda itu.

Minggu lalu selepas hari raya Idul Adha, saya beberapa kali melihat berita tentang pembagian daging kurban yang berakhir ricuh. Para penerima daging kurban yang kebanyakan perempuan saling berdesakan bahkan sampai ada yang jatuh terinjak. Saya jadi ingat tahun lalu pernah menulis hal yang sama di blog ini. Tahun lalu ada juga kasus desak-desakan tapi momennya sedikit berbeda, kali itu pembagian zakat. Tahun berganti tapi kasus yang sama tetap terjadi. Lebaran 2009 ini juga diwarnai hal yang senada. Waktu itu kalau tidak salah pembagian zakat yang semrawut di Balai Kota Jakarta. Sampai-sampai katanya Gubernur DKI Fauzi Bowo “kapok” mengadakan pembagian zakat secara massal. Tidak cuma pembagian daging kurban dan zakat, pembagian BLT (bantuan langsung tunai) juga pernah disemarakkan dengan aksi saling dorong.

Cukup miris hati saya menyaksikan ibu-ibu tua berdesak-desakan di Istiqlal untuk mendapat jatah beberapa kilogram daging. Rasa-rasanya jaman saya kecil tidak pernah ada berita seperti ini selama hari raya kurban. Entah apakah dulu memang siaran berita kurang secepat dan seteliti sekarang meliput kejadian-kejadian macam ini atau dulu memang tidak ada sama sekali hal serupa. Pilihan terbaik adalah menganggap kalau dulu saya tidak terlalu memperhatikan hal macam itu. Tapi kalau memang benar dulu tidak ada adegan berebut daging kurban dan sekarang faktanya belakangan rutin terjadi, berarti samtingrong (pelesetan dari something wrong :p ) kan? Tentu ada yang salah, tentu ada parameter lain yang berubah. Parameter kemiskinan? Ah masa iya? Kalau pakai logika bodoh-bodohan ada beberapa kemungkinan parameter lain :

  • Jumlah orang miskin meningkat di kota besar (di Indonesia secara umum??)
  • Jumlah daging kurban yang dibagikan berkurang.
  • Harga daging melambung di pasaran sampai-sampai banyak orang jadi jarang makan daging.
  • Keserakahan meningkat (kabarnya diberitakan ada orang dari Bogor naik taksi ke Istiqlal untuk ambil daging kurban…nah loh??)

Mungkin beberapa dari Anda akan sepikiran dengan saya tentang poin pertama, kemiskinan meningkat. Karena kalau ditilik lebih jauh poin 2 dan 3 itu adalah turunan dari poin pertama (paling tidak berkorelasi). Krisis membuat jumlah kurban berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan krisis membuat harga daging naik melampaui daya beli masyarakat. Sepertinya saya kurang pas berkomentar soal ini. Kalau seorang Tedy menulis soal Linux/UNIX, internet mungkin masih cukup pantas tapi bicara soal kemiskinan rasanya benar-benar kurang pas….motong kambing/sapi pun tidak 😀 Sekadar curahan pikiran saja yang tergelitik apa kemiskinan memang benar naik sampai-sampai mendongkrak tingkat stres di masyarakat. Upsss…sudah setengah 9 rupanya, saatnya mandi dan berangkat ke kantor :p

2 thoughts on “Trend Loncat Bunuh Diri

  1. halo mas tedy lama ga menyapa hehehe… hmm, kalo menurut saya sih, poin terakhir itu mas yang jadi masalah. keserakahan ! reality show ‘tolong’ pernah meliput pembagian daging kurban di masjid agung semarang, dan disitu jelas2 banyak pake sepeda motor dan membawa buanyak daging dari berbagai masjid hehehehe

Leave a Reply