FreeBSD Sebagai Router

Sekilas Tentang RIP

Saat belajar CCNA dulu, salah satu materi yang menarik adalah soal routing protocol. Protokol routing yang paling pertama diajarkan adalah RIP (Routing Information Protokol). Katanya RIP adalah salah satu protokol routing yang paling tua umurnya. RIP termasuk dalam kategori distance vector routing protocol. Proses routing ditentukan berdasarkan perhitungan jarak terdekat antar router, berapa router yang harus dilewati yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Masing-masing router akan berbagi topologi jaringannya kepada setiap router di dekatnya (neighbor router).

Salah satu kelemahan RIP adalah tidak bisa melakukan routing antar jaringan yang menggunakan subnetting (classless network). RIP hanya bisa melakukan routing antar jaringan dengan classfull netmask. Classfull netmask misalnya 255.255.0.0 atau 255.255.255.0.

Misalnya dua jaringan masing-masing menggunakan network address 192.168.10.0/26 dan 192.168.10.64/26. Normalnya IP dengan prefiks 192.168.xxx.xxx termasuk pada class C & memiliki subnet mask 255.255.255.0 (atau biasa ditulis dalam notasi /24). Tapi dua jaringan tadi menggunakan /26 atau bisa ditulis menjadi 255.255.255.192, artinya 2 jaringan tadi tidak lagi menggunakan class C subnetmask. Dua jaringan itu menggunakan apa yang disebut sebagai Classless Subnet.

RIP tidak bisa membedakan dua jaringan yang menggunakan “classless subnet”. Bagi RIP kedua jaringan tersebut berada pada jaringan yang sama : 192.168.10.0 255.255.255.0. Kelemahan ini diperbaiki pada RIP versi 2 yang mendukung CIDR (Classless Inter-Domain Routing). Dengan RIP versi 2 kita bisa mengatur routing jaringan yang menggunakan subnetting (jaringan dengan classless subnetmask).

Testing RIPv2 Dengan FreeBSD Sebagai Router

Misalnya saya ingin mensimulasikan struktur jaringan seperti pada gambar di bawah ini :

Tanpa adanya proses routing, PC1 tidak bisa berkomunikasi dengan PC2 & PC3. Begitupun seterusnya untuk PC2 & PC3, masing-masing akan terisolir dalam jaringannya masing-masing. Router bertugas mengatur lalu lintas data dari jaringan yang satu ke jaringan yang lainnya. Router bisa berupa dedicated hardware seperti Cisco Router atau Unix server. Semua sistem operasi Unix punya fitur untuk melakukan proses routing.

Dengan menggunakan VirtualBox saya bisa membuat beberapa virtual machine untuk mensimulasikan routing dengan protokol RIP. Saya ingin mencoba menggunakan FreeBSD sebagai router. Saya buat 6 virtual machine, 3 sebagai router & 3 lainnya sebagai client dalam 3 jaringan yang berbeda. Saya belajar menggunakan FreeBSD 9 sebagai router. Sementara untuk komputer client saya gunakan Tiny Linux. Saya pilih Tiny Linux untuk menghemat memory resource & space harddisk, Tiny Linux hanya perlu beberapa puluh Megabyte space harddisk saja.

FreeBSD menyediakan daemon routed untuk melakukan proses routing. Untuk mengaktifkan daemon tersebut saya perlu menambahkan beberapa baris berikut ini dalam berkas /etc/rc.conf :

routed_enable="YES"
routed_program="/sbin/routed"
routed_flags="-P ripv2,rdisc_interval=45"

Parameter flag -P ripv2 maksudnya kita minta FreeBSD untuk menggunakan protokol RIP versi 2. Sementara parameter rdisc_interval itu maksudnya kita mengatur daemon routed supaya melakukan broadcast routing table-nya setiap 45 detik sekali. Hal tersebut karena dalam protokol RIP, masing-masing router akan saling berbagi routing table dengan semua router “di sekitarnya”.

Berikut ini adalah konfigurasi di masing-masing virtual machine :

  1. Router 1 menggunakan hostnamerouterA”, mesin ini memiliki 2 network interface :
    • Network interface em0 menggunakan IP address 192.168.5.1/24. Interface ini akan bertindak sebagai default gateway bagi jaringan (LAN#1) dengan network address 192.168.5.0 (255.255.255.192).
    • Network interface em1 menggunakan IP address 192.168.5.193/30. Interface akan terhubung dengan routerB. Dalam diagram di atas koneksi ini disebut sebagai WAN#1 dengan network address 192.168.5.192/30.

    Semua konfigurasi tadi disimpan dalam berkas /etc/rc.conf seperti berikut ini :

    ttirtawi@routerA:~ % cat /etc/rc.conf
    hostname="routerA"
    
    # Interface em0 connect to LAN #1 network 192.168.5.0 /26
    ifconfig_em0="inet 192.168.5.1 netmask 255.255.255.192"
    
    # Interface em1 connect to WAN #1 network 192.168.5.192 /30
    ifconfig_em1="inet 192.168.5.193 netmask 255.255.255.252"
    
    gateway_enable="YES"
    sshd_enable="YES"
    
    # Configuration for RIPv2 routing protocol
    routed_enable="YES"
    routed_program="/sbin/routed"
    routed_flags="-P ripv2,rdisc_interval=45"
    
    # Set dumpdev to "AUTO" to enable crash dumps, "NO" to disable
    dumpdev="NO"
    allscreens_flags="MODE_332"
    ipv6_activate_all_interfaces="NO"
    ttirtawi@routerA:~ %
    
  2. Router 2 menggunakan hostnamerouterB”, mesin ini memiliki 3 network interface :
    • Network interface em0 menggunakan IP address 192.168.5.65/24. Interface ini akan bertindak sebagai default gateway bagi jaringan (LAN#2) dengan *network address * 192.168.5.64 (255.255.255.192).
    • Network interface em1 menggunakan IP address 192.168.5.194/30. Interface akan terhubung dengan routerA. Dalam diagram di atas koneksi ini disebut sebagai WAN#1 dengan network address 192.168.5.192/30.
    • Network interface em2 menggunakan IP address 192.168.5.197/30. Interface akan terhubung dengan routerC. Dalam diagram di atas koneksi ini disebut sebagai WAN#2 dengan network address 192.168.5.196/30.

    Semua konfigurasi tadi disimpan dalam berkas /etc/rc.conf seperti berikut ini :

    ttirtawi@routerB:~ % cat /etc/rc.conf
    hostname="routerB"
    
    # Interface em0 connect to LAN #2 network 192.168.5.64 /26
    ifconfig_em0="inet 192.168.5.65 netmask 255.255.255.192"
    
    # Interface em1 connect to WAN #1 network 192.168.5.192 /30
    ifconfig_em1="inet 192.168.5.194 netmask 255.255.255.252"
    
    # WAN 2 network 192.168.5.196 /30
    ifconfig_em2="inet 192.168.5.197 netmask 255.255.255.252"
    
    gateway_enable="YES"
    sshd_enable="YES"
    
    # Configuration for RIPv2 routing protocol
    routed_enable="YES"
    routed_program="/sbin/routed"
    routed_flags="-P ripv2,rdisc_interval=45"
    
    # Set dumpdev to "AUTO" to enable crash dumps, "NO" to disable
    dumpdev="NO"
    allscreens_flags="MODE_332"
    ipv6_activate_all_interfaces="NO"
    ttirtawi@routerB:~ % 
    
  3. Router 3 menggunakan hostnamerouterC”, mesin ini memiliki 2 network interface :
    • Network interface em0 menggunakan IP address 192.168.5.129/24. Interface ini akan bertindak sebagai default gateway bagi jaringan (LAN#2) dengan *network address * 192.168.5.128 (255.255.255.192).
    • Network interface em1 menggunakan IP address 192.168.5.198/30. Interface akan terhubung dengan routerB. Dalam diagram di atas koneksi ini disebut sebagai WAN#2 dengan network address 192.168.5.196/30.

    Semua konfigurasi tadi disimpan dalam berkas /etc/rc.conf seperti berikut ini :

    ttirtawi@routerC:~ % cat /etc/rc.conf
    hostname="routerC"
    
    # Interface em0 connect to LAN#3 network 192.168.5.128 /26
    ifconfig_em0="inet 192.168.5.129 netmask 255.255.255.192"
    
    # Interface em1 connect to WAN#2 network 129.168.5.196 /30
    ifconfig_em1="inet 192.168.5.198 netmask 255.255.255.252"
    
    gateway_enable="YES"
    sshd_enable="YES"
    
    # RIPv2 routing protocol
    routed_enable="YES"
    routed_program="/sbin/routed"
    routed_flags="-P ripv2,rdisc_interval=45"
    
    # Set dumpdev to "AUTO" to enable crash dumps, "NO" to disable
    dumpdev="NO"
    allscreens_flags="MODE_332"
    ipv6_activate_all_interfaces="NO"
    
    ttirtawi@routerC:~ % 
    
  4. PC1 memiliki hostnamelan1host01”, virtual machine ini terhubung dengan LAN#1 & menggunakan IP address 192.168.5.2 255.255.255.192.
  5. PC2 memiliki hostnamelan2host01”, virtual machine ini terhubung dengan LAN#2 & menggunakan IP address 192.168.5.66 255.255.255.192.
  6. PC3, memiliki hostnamelan3host01”, virtual machine ini terhubung dengan LAN#3 & menggunakan IP address 192.168.5.130 255.255.255.192.

Setelah selesai melakukan konfigurasi keenam VirtualBox VM tadi, saya tinggal me-restart masing-masing VM untuk mengaktifkan konfigurasinya. Khusus untuk FreeBSD, bila konfigurasi IP & routing daemon sudah ada di dalam berkas /etc/rc.conf, sebenarnya saya bisa mengaktifkannya dengan perintah berikut ini (tanpa perlu restart) :

ttirtawi@routerC:~ % /etc/rc.d/netif restart
ttirtawi@routerC:~ % /etc/rc.d/routed restart   
ttirtawi@routerC:~ % /etc/rc.d/routing restart

Untuk memeriksa apakah protokol RIP versi 2 sudah aktif, saya bisa gunakan perintah rtquery pada masing-masing router. Misalnya seperti contoh berikut ini, saya menjalankan perintah rtquery pada routerA :

ttirtawi@routerA:~ % rtquery
localhost (127.0.0.1): RIPv2 104 bytes
  192.168.5.0/26     metric  1          
  192.168.5.64/26    metric  2            nhop=192.168.5.194 
  192.168.5.128/26   metric  3            nhop=192.168.5.194 
  192.168.5.192/30   metric  1          
  192.168.5.196/30   metric  2            nhop=192.168.5.194 
ttirtawi@routerA:~ % 

Dari hasil perintah rtquery saya bisa lihat kalau routerA sekarang sudah bisa “melihat” LAN#2 & LAN#3 meskipun routerA sendiri tidak punya koneksi fisik ke 2 jaringan tersebut. Dua parameter yang muncul dari hasil perintah rtquery adalah :

  1. nhop (next hop) : Informasi nhop=192.168.5.194 artinya untuk mengakses LAN#2 & LAN#3, routerA harus meneruskan paket data melalui IP 192.168.5.194 milik routerB. Semua data menuju LAN#2 & LAN#3 akan diteruskan ke routerB untuk sampai ke tujuan akhirnya.
  2. metric : Informasi metric menandakan berapa jumlah “lompatan” yang harus dilalui untuk sampai ke tujuan akhir. Misalnya, bila routerA akan mengirimkan data ke jaringan 192.168.5.128/26, kita lihat informasi metric 3, berarti data akan dikirimkan lewat 2 router atau 2 “hop”. Hop pertama adalah routerB dan hop kedua adalah routerC. Informasi “metric 1” artinya jaringan tersebut terhubung langsung ke router yang bersangkutan.

Berikut ini adalah contoh hasil rtquery pada kedua router lainnya :

ttirtawi@routerB:~ % rtquery
localhost (127.0.0.1): RIPv2 104 bytes
  192.168.5.0/26     metric  2            nhop=192.168.5.193 
  192.168.5.64/26    metric  1          
  192.168.5.128/26   metric  2            nhop=192.168.5.198 
  192.168.5.192/30   metric  1          
  192.168.5.196/30   metric  1          
ttirtawi@routerB:~ % 

ttirtawi@routerC:~ % rtquery
localhost (127.0.0.1): RIPv2 104 bytes
  192.168.5.0/26     metric  3            nhop=192.168.5.197 
  192.168.5.64/26    metric  2            nhop=192.168.5.197 
  192.168.5.128/26   metric  1          
  192.168.5.192/30   metric  2            nhop=192.168.5.197 
  192.168.5.196/30   metric  1          
ttirtawi@routerC:~ % 

Dengan menggunakan perintah tcpdump saya juga bisa melihat kiriman routing table dari routerB. Paket yang berisi routing table akan diterima oleh routerA melalui interface em1 :

root@routerA:~ # tcpdump -i em1 -vvv
tcpdump: listening on em1, link-type EN10MB (Ethernet), capture size 65535 bytes
21:54:23.144882 IP (tos 0x0, ttl 1, id 378, offset 0, flags [none], proto ICMP (1), length 36)
    192.168.5.194 > 224.0.0.1: ICMP router advertisement lifetime 2:15 1: {192.168.5.194 2147483649}, length 16
21:54:44.175029 IP (tos 0x0, ttl 1, id 380, offset 0, flags [none], proto UDP (17), length 92)
    192.168.5.194.router > 224.0.0.9.router: [udp sum ok]
     RIPv2, Response, length: 64, routes: 3 or less
       AFI IPv4,    192.168.5.64/26, tag 0x0000, metric: 1, next-hop: self
       AFI IPv4,   192.168.5.192/30, tag 0x0000, metric: 1, next-hop: self
       AFI IPv4,   192.168.5.196/30, tag 0x0000, metric: 1, next-hop: self
     0x0000:  0202 0000 0002 0000 c0a8 0540 ffff ffc0
     0x0010:  0000 0000 0000 0001 0002 0000 c0a8 05c0
     0x0020:  ffff fffc 0000 0000 0000 0001 0002 0000
     0x0030:  c0a8 05c4 ffff fffc 0000 0000 0000 0001
21:55:04.284218 IP (tos 0x0, ttl 1, id 384, offset 0, flags [none], proto ICMP (1), length 36)
    192.168.5.194 > 224.0.0.1: ICMP router advertisement lifetime 2:15 1: {192.168.5.194 2147483649}, length 16
21:55:14.174453 IP (tos 0x0, ttl 1, id 386, offset 0, flags [none], proto UDP (17), length 92)
    192.168.5.194.router > 224.0.0.9.router: [udp sum ok]
     RIPv2, Response, length: 64, routes: 3 or less
       AFI IPv4,    192.168.5.64/26, tag 0x0000, metric: 1, next-hop: self
       AFI IPv4,   192.168.5.192/30, tag 0x0000, metric: 1, next-hop: self
       AFI IPv4,   192.168.5.196/30, tag 0x0000, metric: 1, next-hop: self
     0x0000:  0202 0000 0002 0000 c0a8 0540 ffff ffc0
     0x0010:  0000 0000 0000 0001 0002 0000 c0a8 05c0
     0x0020:  ffff fffc 0000 0000 0000 0001 0002 0000
     0x0030:  c0a8 05c4 ffff fffc 0000 0000 0000 0001
21:55:44.174523 IP (tos 0x0, ttl 1, id 391, offset 0, flags [none], proto UDP (17), length 92)
    192.168.5.194.router > 224.0.0.9.router: [udp sum ok]
     RIPv2, Response, length: 64, routes: 3 or less
       AFI IPv4,    192.168.5.64/26, tag 0x0000, metric: 1, next-hop: self
       AFI IPv4,   192.168.5.192/30, tag 0x0000, metric: 1, next-hop: self
       AFI IPv4,   192.168.5.196/30, tag 0x0000, metric: 1, next-hop: self
     0x0000:  0202 0000 0002 0000 c0a8 0540 ffff ffc0
     0x0010:  0000 0000 0000 0001 0002 0000 c0a8 05c0
     0x0020:  ffff fffc 0000 0000 0000 0001 0002 0000
     0x0030:  c0a8 05c4 ffff fffc 0000 0000 0000 0001
21:55:47.024706 IP (tos 0x0, ttl 1, id 393, offset 0, flags [none], proto ICMP (1), length 36)
    192.168.5.194 > 224.0.0.1: ICMP router advertisement lifetime 2:15 1: {192.168.5.194 2147483649}, length 16
^C
6 packets captured
6 packets received by filter
0 packets dropped by kernel
root@routerA:~ # 

Dari hasil tcpdump, kita juga bisa lihat kalau routerB aktif mengirimkan routing table-nya setiap 30 detik sekali.

Tes Routing

Tanpa Proses Routing

Tanpa proses routing, routing table routerA seperti berikut ini :

ttirtawi@routerA:~ % netstat -rn -f inet
Routing tables


Internet:
Destination        Gateway            Flags    Refs      Use  Netif Expire
127.0.0.1          link#3             UH          0        0    lo0
192.168.5.0/26     link#1             U           0       66    em0
192.168.5.1        link#1             UHS         0        0    lo0
192.168.5.192/30   link#2             U           0        0    em1
192.168.5.193      link#2             UHS         0        0    lo0
ttirtawi@routerA:~ %

routerA tidak bisa melakukan ping ke PC2 :

ttirtawi@routerA:~ % ping 192.168.5.66
PING 192.168.5.66 (192.168.5.66): 56 data bytes
ping: sendto: No route to host
ping: sendto: No route to host
ping: sendto: No route to host
^C
--- 192.168.5.66 ping statistics ---
3 packets transmitted, 0 packets received, 100.0% packet loss
ttirtawi@routerA:~ % 

routerA tidak bisa melakukan ping ke PC3 :

ttirtawi@routerA:~ % ping 192.168.5.130
PING 192.168.5.130 (192.168.5.130): 56 data bytes
ping: sendto: No route to host
ping: sendto: No route to host
ping: sendto: No route to host
^C
--- 192.168.5.130 ping statistics ---
3 packets transmitted, 0 packets received, 100.0% packet loss
ttirtawi@routerA:~ %

routerA tidak bisa melakukan ping ke interface em0 miliki routerC :

ttirtawi@routerA:~ % ping 192.168.5.129
PING 192.168.5.129 (192.168.5.129): 56 data bytes
ping: sendto: No route to host
ping: sendto: No route to host
^C
--- 192.168.5.129 ping statistics ---
2 packets transmitted, 0 packets received, 100.0% packet loss
ttirtawi@routerA:~ % 

routerA tidak bisa melakukan ping ke interface em0 milik routerB :

ttirtawi@routerA:~ % ping 192.168.5.65
PING 192.168.5.65 (192.168.5.65): 56 data bytes
ping: sendto: No route to host
ping: sendto: No route to host
^C
--- 192.168.5.65 ping statistics ---
2 packets transmitted, 0 packets received, 100.0% packet loss
ttirtawi@routerA:~ % 

routerA bisa melakukan ping ke interface em1 milik routerB karena routerA terhubung langsung ke interface tersebut :

ttirtawi@routerA:~ % ping 192.168.5.194
PING 192.168.5.194 (192.168.5.194): 56 data bytes
64 bytes from 192.168.5.194: icmp_seq=0 ttl=64 time=0.522 ms
64 bytes from 192.168.5.194: icmp_seq=1 ttl=64 time=0.931 ms
64 bytes from 192.168.5.194: icmp_seq=2 ttl=64 time=0.831 ms
64 bytes from 192.168.5.194: icmp_seq=3 ttl=64 time=0.571 ms
^C
--- 192.168.5.194 ping statistics ---
4 packets transmitted, 4 packets received, 0.0% packet loss
round-trip min/avg/max/stddev = 0.522/0.714/0.931/0.172 ms
ttirtawi@routerA:~ % 

Hal yang sama dialami oleh mesin lan1host01 dalam LAN#1, mesin ini tidak bisa mengakses mesin lan2host01 & lan3host01:

ttirtawi@lan1host01:~$ ping 192.168.5.1
PING 192.168.5.1 (192.168.5.1): 56 data bytes
64 bytes from 192.168.5.1: seq=0 ttl=64 time=0.851 ms
64 bytes from 192.168.5.1: seq=1 ttl=64 time=0.967 ms
64 bytes from 192.168.5.1: seq=2 ttl=64 time=0.929 ms
64 bytes from 192.168.5.1: seq=3 ttl=64 time=0.692 ms
^C
--- 192.168.5.1 ping statistics ---
4 packets transmitted, 4 packets received, 0% packet loss
round-trip min/avg/max = 0.692/0.859/0.967 ms
ttirtawi@lan1host01:~$ 
ttirtawi@lan1host01:~$ ping 192.168.5.66
PING 192.168.5.66 (192.168.5.66): 56 data bytes
^C
--- 192.168.5.66 ping statistics ---
63 packets transmitted, 0 packets received, 100% packet loss
ttirtawi@lan1host01:~$ 
ttirtawi@lan1host01:~$ ping 192.168.5.130
PING 192.168.5.130 (192.168.5.130): 56 data bytes
^C
--- 192.168.5.130 ping statistics ---
9 packets transmitted, 0 packets received, 100% packet loss
ttirtawi@lan1host01:~$ 
ttirtawi@lan1host01:~$ traceroute 192.168.5.66
traceroute to 192.168.5.66 (192.168.5.66), 30 hops max, 38 byte packets
 1  192.168.5.1 (192.168.5.1)  0.488 ms  0.360 ms  0.248 ms
 2  192.168.5.1 (192.168.5.1)  0.303 ms !H  0.196 ms !H  0.148 ms !H
ttirtawi@lan1host01:~$ 
ttirtawi@lan1host01:~$ traceroute 192.168.5.130
traceroute to 192.168.5.130 (192.168.5.130), 30 hops max, 38 byte packets
 1  192.168.5.1 (192.168.5.1)  0.589 ms  0.435 ms  0.243 ms
 2  192.168.5.1 (192.168.5.1)  0.007 ms !H  0.139 ms !H  0.355 ms !H
ttirtawi@lan1host01:~$ 

Perintah traceroute di atas menunjukkan kalau semua akses akan berhenti pada IP 192.168.5.1 yaitu default gateway-nya (routerA).

Setelah Proses Routing Aktif

Setelah proses routing aktif (setelah sesama router saling berbagi routing table), tampilan routing table-nya routerA menjadi seperti berikut ini :

ttirtawi@routerA:~ % netstat -rn -f inet
Routing tables


Internet:
Destination        Gateway            Flags    Refs      Use  Netif Expire
127.0.0.1          link#3             UH          0        0    lo0
192.168.5.0/26     link#1             U           0     6718    em0
192.168.5.1        link#1             UHS         0        0    lo0
192.168.5.64/26    192.168.5.194      UG          0        2    em1
192.168.5.128/26   192.168.5.194      UG          0        1    em1
192.168.5.192/30   link#2             U           0      436    em1
192.168.5.193      link#2             UHS         0        0    lo0
192.168.5.196/30   192.168.5.194      UG          0        0    em1
ttirtawi@routerA:~ %    

routerA sekarang punya informasi rute yang harus diambil untuk meneruskan data ke LAN#2 (192.168.5.64/26) & LAN#3 (192.168.5.128/26).

Begitu juga routerB sekarang punya informasi rute menuju LAN#1 (192.168.5.0/26) & LAN#3 (192.168.5.128/26) :

ttirtawi@routerB:~ % netstat -rn -f inet
Routing tables


Internet:
Destination        Gateway            Flags    Refs      Use  Netif Expire
127.0.0.1          link#4             UH          0        0    lo0
192.168.5.0/26     192.168.5.193      UG          0     1257    em1
192.168.5.64/26    link#1             U           0      241    em0
192.168.5.65       link#1             UHS         0        0    lo0
192.168.5.128/26   192.168.5.198      UG          0      446    em2
192.168.5.192/30   link#2             U           0      103    em1
192.168.5.194      link#2             UHS         0        0    lo0
192.168.5.196/30   link#3             U           0        0    em2
192.168.5.197      link#3             UHS         0        0    lo0
ttirtawi@routerB:~ % 

Dan terakhir routerC juga tidak ketinggalan sudah memiliki informasi rute menuju LAN#1 (192.168.5.0/26) & LAN#2 (192.168.5.64/26)

ttirtawi@routerC:~ % netstat -rn -f inet
Routing tables


Internet:
Destination        Gateway            Flags    Refs      Use  Netif Expire
127.0.0.1          link#3             UH          0        0    lo0
192.168.5.0/26     192.168.5.197      UG          0      387    em1
192.168.5.64/26    192.168.5.197      UG          0        0    em1
192.168.5.128/26   link#1             U           0      678    em0
192.168.5.129      link#1             UHS         0        0    lo0
192.168.5.192/30   192.168.5.197      UG          0       13    em1
192.168.5.196/30   link#2             U           0       64    em1
192.168.5.198      link#2             UHS         0        0    lo0
ttirtawi@routerC:~ % 

Masing-masing PC dari tiap jaringan sekarang sudah bisa berkomunikasi, seperti terlihat pada contoh tangkapan layar berikut ini :

Tes Dari PC1
Tes Dari PC2
Tes Dari PC3

Kira-kira seperti itu percobaan saya menggunakan FreeBSD sebagai router dengan RIP versi 2 sebagai protokol routing-nya.

Leave a Reply