Lalu Lintas & Taksi Di Manila

Minggu lalu saya pergi ke Manila untuk urusan pekerjaan. Ini kali kedua saya pergi Manila setelah kunjungan kali pertama tahun 2011 lalu. Bagi saya Manila banyak miripnya dengan Jakarta, terutama dalam urusan lalu lintas & macetnya. Perbedaan paling mencolok menurut saya cuma posisi berkendara di sebelah kanan (setir mobil ada di sisi kiri). Bepergian dengan taksi yang dikemudikan di sisi kiri, bagi saya membuat pusing.

Di sepanjang jalan kota Manila saya bisa lihat mayoritas tipe mobil hampir sama dengan Jakarta. Misalnya Toyota Vios, Avanza, Innova banyak sekali di Manila. Saya juga amati cukup banyak juga mobil jenis pickup seperti Toyota Hilux atau Mitsubishi Strada. Kendaraan unik yang menurut saya bisa dibilang sebagai maskotnya Filipina adalah Jeepney (dibaca “jip-ni”). Jeepney ini adalah kendaraan hasil modifikasi mobil jip menjadi semacam bus kecil. Jeep lama seperti ini kalau di Indonesia sering dipakai sebagai kendaraan offroad. Anda yang pernah ke Bromo pasti pernah melihat (atau pernah menggunakan jeep) untuk naik ke puncak Bromo . Entah bagaimana persisnya mereka melakukan modifikasi, yang jelas chassis mobil jip ini diperpanjang sehingga bisa menampung penumpang dalam jumlah banyak.

jeepney

Jeepney sebagai angkutan umum punya banyak kemiripan dengan angkot di Indonesia. Penumpang Jeepney duduk dalam 2 baris saling berhadap-hadapan. Bedanya dengan angkot yang umumnya memiliki pintu di sisi mobil, penumpang Jeepney masuk dari bagian belakang mobil. Mudah sekali menjumpai Jeepney di jalanan Manila. Beberapa kali saya juga menjumpai pangkalannya dengan Jeepney yang terpakir sangat banyak. Meskipun menggunakan mesin mobil tua, saya beberapa kali melihat supir Jeepney mengemudikan kendaraannya cukup kencang di jalanan yang lowong. Dari hasil obrolan dengan supir taksi katanya ongkos naik Jeepney ditentukan berdasar jarak, lagi-lagi mirip angkot di Indonesia. Hal lain yang menurut saya mirip dengan angkot adalah budaya menggunakan soundsystem yang diputar dengan kencang. Tiap-tiap Jeepney dihias sedemikian rupa dengan cat dan gambar-gambar yang mencolok.

Sejauh ini bagi saya yang paling menyebalkan dari transportasi di Manila bukan soal macetnya. Bagi saya taksi Manila lebih menyebalkan dari macetnya sendiri. Macetnya Manila menurut saya masih kalah dengan macetnya Jakarta. Macet di sana lebih banyak karena lampu merah. Kalaupun lalu lintas padat, kendaraan masih bergerak pelan-pelan. Entah mungkin karena saya belum terlalu lama berada di Manila, saya belum menjumpai macet horor seperti di Jakarta saat kendaraan berhenti bergerak untuk waktu yang cukup lama.

Kebanyakan taksi yang lalu lalang di Manila menggunakan sedan Toyota Vios. Lucunya hampir di semua taksi yang saya jumpai, nama pengemudi dicat di pintu mobilnya. Saya cukup heran mengapa cat yang digunakan untuk menuliskan informasi pada badan taksi itu hanya cat biasa. Kalau diamati dari dekat seperti dicat dengan kuas secara manual. Tadinya saya pikir itu hanya dilakukan oleh taksi-taksi tua yang sudah tidak terawat. Tapi saya pun menjumpai mobil baru dengan cara pengecatan seperti itu.

manila-taxi

Bagi saya lucu melihat hampir semua taksi bertuliskan “Air Con”. Seolah-olah AC mobil adalah hal istimewa tersendiri bagi taksi tersebut. Saya mendapati pengalaman yang kurang menyenangkan dengan taksi di Manila. Dari dua kali kunjungan ke Manila, saya belum sekalipun menjumpai pengemudi taksi umum yang mengemudikan taksinya dengan nyaman. Saya senang memperhatikan gaya mengemudi supir taksi khususnya di Jakarta. Di Jakarta pengemudi taksi BlueBird/SilverBird yang menurut saya mengemudikan mobilnya dengan baik (cukup nyaman bagi penumpang). Meskipun demikian taksi lain pun relatif masih OK. Apa sih ukuran nyamannya? Gampang, amati saja mulai dari gaya memindahkan gigi persneling, cara menginjak pedal gas, cara menyalip mobil, cara berpindah jalur, dan yang paling penting cara mengerem. Di Manila tidak satupun yang nyaman. Seburuk-buruknya supir taksi di Jakarta, menurut saya masih jauh lebih baik dari supir taksi di Manila.

Pengalaman kedua saya dapatkan pada trip kemarin. Saya menginap di Holiday Inn Makati. Makati ini pusat kota dan juga business district, anggap saja kawasan Sudirman-Thamrin atau Mega Kuningan-nya Jakarta. Saya harus mengunjungi client yang kantornya terletak di kawasan Pasig City. Letaknya sekitar 10–15km dari hotel tempat saya menginap. Selain jauh lokasinya melewati daerah pusat kemacetan. Berangkat ke sana tidak terlalu menjadi soal karena ada pangkalan taksi di lobi hotel. Pulangnya yang repot. Sekitar pukul setengah 8 malam saya mulai menunggu taksi di pinggir jalan. Setidaknya ada 5 taksi yang menolak untuk membawa saya ke Makati. Masih cukup bersabar saya menunggu taksi, dengan plan B saya akan menelepon hotel minta dijemput saja.

Setelah 1 jam menunggu akhirnya saya berhasil juga mendapat taksi yang bersedia membawa saya kembali ke hotel. Dari Makati sampai Pasig City biaya taksinya antara 300–400 Peso. Saya tidak tahu berapa normalnya, kabarnya sudah umum argometer taksi di sana tidak pernah akurat alias argo siluman. Mulai hari kedua saya sudah kapok menggunakan taksi umum. Saya pilih menggunakan taksi hotel saja. Sekali jalan saya harus membayar 900 Peso. Relatif mahal dari taksi biasa. Tapi kalau saya hitung-hitung ongkosnya mirip dengan menggunakan SilverBird di Jakarta. Nilai tukar Phillipine Peso itu sekitar Rp250,-.

Dari Google saya jadi tahu tidak sedikit cerita pengalaman orang tentang taksi di Manila. Kurang lebih sama dengan pengalaman saya tadi. Untuk urusan kenyamanan berkendara dengan taksi, saya masih lebih menjagokan Jakarta. Kira-kira begitu sedikit cerita tentang taksi dan lalu lintas di Manila.

One thought on “Lalu Lintas & Taksi Di Manila

Leave a Reply