Blognya Tedy Tirtawidjaja

Kumpulan tulisan dan curahan pikiran saya yang bodoh ini

Warung Sate Pak Naryo


Siang ini saya menemukan warung sate yang enak di Bintaro. Enak tapi sayang jauh :( Siang tadi saya pergi instalasi server di Gedung XL Bintaro. Pas jam makan siang saya pergi cari makan dengan rekan kantor. Putar-putar Bintaro saya lihat ada asap & tulisan Warung Sate Kambing “Tongseng” Pak Naryo. Namanya aneh, kata tongsengnya dibuat dalam huruf besar semua & ditulis dalam tanda kutip. Maksudnya nama warungnya itu “Tongseng” atau memag jualan tongseng. Langsung saya coba, bukan penasaran dengan namanya sih tapi memang ingin saja makan sate kambing. Masuk ke warung, di meja sudah ada daftar menu lengkap dengan harganya. Kaget juga lihat harganya…kok murah. Di Jakarta sate kambing yang enak harganya paling tidak Rp25.000,- seporsi. Seporsi sate kambing (10 tusuk) harganya cuma Rp15.000,- Sama halnya dengan sate hati kambingnya.

Waktu saya tanya ternyata sate kambing harga Rp15.000,- itu bukan daging semua, tapi campur lemak. Saya minta daging polos semua, pelayannya bilang harganya lain Pak. Saya pikir beda jauh, ternyata sate kambing tanpa lemaknya seporsi cuma Rp20.000,-. Saya langsung pesan 20 tusuk; 10 sate kambing daging polos dan 10 sate hati….maksudnya biar rekan saya juga bisa mencicipi. Rekan saya cuma pesan tongseng kambing. Proses bakarnya cukup lama, katanya sih kalau lama bakar satenya rasanya biasanya enak rasanya :D

Begitu datang satenya langsung saya coba satu. Hmm ternyata empuk dagingnya. Baru mulai makan beberapa sendok, saya pikir sate ini layak direkomendasikan. Berhenti makan sejenak, ambil kamera (masih kebiasaan lama ke mana-mana bawa kamera DSLR…eh salah…kamera saku maksudnya) foto dulu sebelum keburu habis satenya. Yah maklum saja kalau hasil fotonya jelek, yang penting terdokumentasi dan bisa dimuat di blog :D

Warung sate ini tidak cukup luas. Lebarnya hanya seukuran 3m, cukup untuk 2 meja ditaruh berjajar. Memanjang ke dalam hanya ada 4 deret meja. Tempat bakar satenya di luar dekat trotoar, sudah umum memang warung sate meletakkan tempat bakar satenya di depan. Tentu itu juga jadi iklan tidak langsung kan. Hmm kecuali mungkin Sate Senayan yang cukup elegan tidak mempertontonkan asap dan adegan bakar sate.

Ok balik lagi tentang warung sate di Bintaro tadi. Warung sate ini ada di Jalan Bintaro Utama Raya Sektor 3A No 41. Ada nomor teleponnya juga loh, 021-71521770. Siapa tahu anda sedang mencari kambing guling untuk pesta atau perlu kambing untuk aqikhah bayi Anda :-p Hehehe soalnya di bagian bawah bonnya ada tulisan itu : menerima pesanan bla bla bla. Ternyata warung sate ini cuma cabang saja. Pusatnya sendiri ada di Jalan Raya Serpong Km 8. Mungkin di sana lebih besar (lah memangnya pusat selalu lebih besar ya…ga juga sih :D ). Pak Naryo ini rupanya sudah punya 4 cabang, sayang semuanya seputaran BSD dan Bintaro.

Sayang hari ini instalasi terakhir di XL Bintaro. Kemungkinan balik lagi ke Bintaro jadi kecil, susah deh balik lagi makan di warung sate enak ini. Kecuali diniatkan makan sate ini naik taksi ke sana paling tidak Rp80.000,-; bolak balik berarti sudah Rp160.000,- …halah masa lebih mahal taksinya daripada satenya :D Yah mudah-mudahan ada proyek lagi di XL Bintaro, jadi bisa sering-sering makan di sana. Rekomen sekali tempatnya, terutama untuk Anda pecinta sate kambing.


Wafer Keju


Awalnya saya disuruh oleh rekan saya untuk mencoba wafer ini. Saya diberi satu bungkus dan ternyata saya suka rasanya. Wafer baru rasa keju ini bermerek Nabati. Tadi siang saya beli lagi wafer ini, warna kemasannya menarik membuat saya tadi tertarik memotretnya (blogger kurang kerjaan :)) ) Selama ini sepertinya jarang wafer rasa keju. Belakangan saja Tango membuat wafer rasa keju. Bentuk dan kemasan wafer Nabati ini cukup unik. Kalau biasanya wafer dibuat dalam ukuran kecil, Nabati ini dibuat dalam bentuk memanjang. Dalam satu kemasan, Anda bisa mendapat 2 batang wafer keju. Rasanya mirip Chiki Balls rasa keju :) … asin-asin gurih. Sayangnya produsen wafer Nabati ini tidak menyediakan kemasan lain yang lebih besar, misalnya dalam kemasan kaleng seperti yang umum dilakukan produsen wafer lainnya. Mungkin ini juga jadi strategi penjualan mereka. Dengan harga sekitar Rp1050,- per kemasan pasti lebih besar untungnya daripada membuatnya dalam kemasan yang lebih besar. Entah apa nanti produsen wafer Nabati ini akan menjualnya dalam kemasan yang lebih besar.


Tentang Bakwan


Entah sebenarnya apa nama untuk makanan seperti ini, ada yang bilang bakwan tapi ada juga yang menyebutnya seperti bakso malang. Saya sih terbiasa menyebutnya sebagai bakwan. Dulu sempat heran juga kenapa ada orang yang menyebut perkedel jagung dengan nama bakwan.

Foto diambil tadi sore saat makan bakwan di belakang gedung kantor. Semangkuk bakwan ini isinya campur-campur, ada mie, bihun, tauge, bakso, pangsit goreng, siomay. Cukup kenyang dan bisa mengganjal perut sampai nanti makan malam. Saya tidak tahu persis berapa harga semangkuk bakso malang ini, biasanya semangkuk bakso malang plus teh botol harganya Rp8500,-. Karena saya suka pangsit gorengnya, saya sering nambah pangsit gorengnya lagi. Pangsit gorengnya murah, Rp1500 dapat 2. Jauh lebih murah daripada makan pangsit gorengnya bakmi GM :D . Jadwal makan bakwan biasanya pukul 5 sore. Di saat orang-orang banyak yang segera pulang ke rumah, saya biasanya turun ke dekat parkiran mobil makan bakwan dengan rekan-rekan. Habis itu lanjut lagi duduk manis di kantor sampai sekitar pukul 8, kerja lagi? Gak juga, kadang ngeblog, bikin komik, atau utak-atik server lagi :-p


Batam (part 2) - Mie Goreng Berkuah


Kemarin malam saya pesan makan lewat room service hotel. Saya pesan Fried Hokkien Mee (gak tahu juga kenapa mie ditulis “mee”). Harganya menurut saya mahal S$6.5, gimana gak mahal harganya ditulis dalam Singapore dollar :( Tidak sampai setengah jam pesanan saya datang. Aneh, pesan mie goreng kok dapatnya mie kuah. Room boy yang mengantarkan makanan menjelaskan kalau mie ini digoreng dulu baru dimasak dengan kuah. Saya tetap saja heran (campur kesal), dalam bayangan saya mie goreng ya seperti lazimnya mie goreng…lah ini kok malah pake kuah. Ini lihat gambarnya :

Isinya mie, ada jamur, ada udang, ada bakso ikan, dan sayuran juga. Kuahnya dicampur telur. Agak-agak mirip kalau saya bikin Indomie rebus pakai telur. Rasanya sih biasa saja, cuma karena malam kemarin saya lapar berat dan mie ini disajikan panas-panas rasanya jadi lebih enak :D Sorenya saya sudah makan di Solaria (yang ada di Nagoya Hill Batam), sekitar jam 5 sore saya makan. Tadinya saya gak niat makan malam, tapi sekitar setengah 12 malam saya lapar. Terpaksa deh buka-buka buku menu cari makanan yang kira-kira enak (dan gak terlalu mahal :-p ).


Jerman (part 12) - Liputan Kuliner


Ini adalah cerita lengkap saya tentang makanan-makanan apa saja yang sudah saya makan selama di Jerman. Berikut kumpulan foto-fotonya :

Ini keterangan foto-foto di atas :

  1. Makan di restoran Timur Tengah di stasiun kereta utama Frankfurt. Saya pilih menu nasi dengan ayam. Ayamnya super besar (ayamnya bule mungkin jadi besar juga :D ). Rasanya = gak enak.
  2. Sampai di Paderborn Minggu malam saya dan Pak Rully makan malam di restoran Burger Point. Saya pesan beef burger. Lumayan lah rasanya.
  3. Itu gambar foto menu sarapan pagi saya di hotel tiap hari. Sudah pernah saya bahas di postingan sebelumnya.
  4. Menu makan siang pertama saya di kantinnya Fujitsu Siemens Computer. Steak dada ayam. Rasanya tidak seenak tampangnya, lain di mata lain di lidah. Dimakan bersama kentang goreng yang dipotong kecil-kecil (bisa juga pesan meshed potato). Minumnya Coca Cola.
  5. Hari Selasa saya makan siang dengan menu “vegetarian cutlet with herb sauce” (foto 5 bagian kanan). Rasanya seperti perkedel kentang di Indonesia. Cuma ini lebih banyak rasanya, mungkin karena lebih banyak macam sayuran nya. Sosis babi tuh yang sebelah kiri (akhirnya makan babi juga di Jerman :(( ) campur kentang goreng lagi. Kurang banyak, saya ambil lagi roti Perancis bulat yang dijamin bikin kenyang. Minumnya Granini jus jeruk.
  6. Hari Rabu saya makan sosis daging burung (entah burung apa….katanya daging dari sejenis burung tapi bukan ayam). Lagi-lagi dimakan dengan kentang goreng. Menunya itu saja plus ice cream, snack (KitKat), & ambil permen juga. Minumnya Granini jus apel.
  7. Hari Kamis menu yang saya ambil terlalu besar porsinya. Babi lagi euy…kali ini daging babi cincang dibuat semacam bakso tapi bentuknya bulat pipih. Ditambah kentang goreng lagi. Saya pesan spagheti tapi liat porsinya besar (gak abis tuh :-p ). Benar-benar kekenyangan. Minumnya Coca Cola lagi.
  8. Kamis malam saya balik lagi ke restoran Burger Point. Kali ini idenya Manggar beli chicken wings. Ternyata enak betul sayap ayam gorengnya. Mungkin karena beberapa hari ini makan makanan yang flat saja rasanya, jadi makan sayap goreng yang spicy ini terasa enak sekali. Beli chicken wing yang porsi isi 6 sayap, plus kentang goreng (di sini kentang goreng disebut “pommens” kalau tidak salah). Gila ya di sini masa minta saus tomat saja dikenakan biaya 0.3 euro.

Dari 8 menu di atas yang paling cocok dengan lidah saya cuma sayap ayam goreng dan kentang gorengnya Burger Point. Makanan yang lain bisa masuk ke perut saya tapi tidak berbekas (alias tidak mak nyuss ;)) pinjam istilahnya Bondan Winarno). Beberapa yang unik di sini antara lain : bubuk lada tidak terasa pedas, sambal kering pun tidak terasa pedas walaupun saya sudah makan cukup banyak.


Dogdog (part 2)


Kemarin saya cerita tentang nasi goreng dogdog, malam ini saya lengkapi cerita tentang dogdog. Barusan saya makan malam bihung goreng dogdog (Rp7000,-). Sedap ;)) Tidak lupa saya ambil foto tukang dogdognya plus gerobaknya; lengkap dengan kentongan dogdog ciri khas nasi goreng ini. Habis makan, langsung deh bikin kumpulan foto dogdog malam ini dengan bantuan Comic Life lagi :D

Abis makan edit foto, abis edit foto posting ke blog, abis posting? Tidur dong =)) , udah jam 11 lebih nih…


Nasi Goreng DogDog


Menu makan malam hari ini : nasi goreng dogdog. Difoto dulu ah sebelum dimakan…

Mari saya perkenalkan dengan nasi goreng dogdog. Bukan nasi goreng anjing-anjing loh ya…=)) Lain kali saya harus foto gerobak dan bapak penjualnya biar jelas info tentang nasi goreng dogdog ini.  Nasi goreng dogdog, disebut dogdog karena yang jual punya kentongan khas dari bambu yang bunyinya kira-kira “dog dog dog….dog dog dog….”. Tidak seperti penjual nasi goreng keliling biasa yang menjajakan dagangannya sambil memukul-mukul wajan; kalau yang ini namanya tukang nasi goreng tektek :-p .

Saya suka sekali makan nasi goreng dogdog, rasanya lebih mirip ke nasi goreng restoran. Mungkin itu karena nasi goreng ini dimasak dengan menggunakan bawang putih, persis gaya masakan Chinese. Bawang putih dimemarkan dulu, lalu langsung dimasukkan saat minyak goreng sudah panas. Bawang putih masuk ke wajan duluan sehingga wanginya khas sekali Chinese food. Selain nasi goreng, penjualnya juga bisa menyediakan mie, bihun, kwetiau goreng. Top lah rasanya. Sampai saat ini sih sepertinya halal, karena saya tidak mencium sama sekali rasa babi di dalam nasi goreng ini.

Saya selalu memesan nasi/bihun goreng pedas. Bagi saya lebih pedas, lebih nendang. Oh ya, satu lagi ciri khas nasi goreng dogdog : dia dilengkapi kerupuk udang yang cukup besar. Lebih mantap daripada kerupuk bawang yang selalu menyertai nasi goreng tektek. Harga nasi/bihun/kwetiau goreng sekarang Rp 7000,- Lebih mahal daripada harga nasi goreng tektek. Kali ini saya bisa bilang, harga tidak bohong.

Di dekat tempat saya tinggal penjual nasi goreng dogd0g cukup banyak, ada di sekitar Jalan Mandala dan kompleks Gelong…pokoknya cukup gampang mencari nasi goreng dogdog di daerah Tomang. Jangan sampai salah kalau mencari nasi goreng dogdog, lihat dulu ada kentongan bambu besar tidak di gerobaknya.


Rawon Setan


Semalam saya bersama rekan-rekan saya mencoba makan di rumah makan Rawon Setan (mbak Endang) di Boulevard Kelapa Gading. Awalnya sekitar pukul 12.00 kami bertiga baru pulang main biliar di La Piazza. Budy rekan saya kelaparan, belum makan malam….(saya juga lapar sih :-p ). Putar-putar Kelapa Gading akhirnya mampirlah kami ke Rawon Setan ini.

Saya pernah melihat liputan tentang rumah makan ini di televisi. Tapi yang saya pernah saya lihat adalah rumah makan yang ada di Surabaya. Rupanya ada juga cabangnya di Jakarta. Semangkuk rawon dihargai Rp20000,- tambah nasi kalau tidak salah Rp3000,-. Ada juga pilihan nasi rawon (nasinya sudah dicampur ke dalam rawon) harganya cuma Rp15000,-. Entah kenapa rawon campur ini lebih murah.

Rawonnya mantap, potongan daging sapinya besar-besar & empuk. Sambalnya pueedessss sekali. Mungkin karena pedasnya ini makanya rawon di sini dinamai Rawon Setan…..pedasnya pedas Setan. Atau mungkin karena rumah makan ini buka sampai jam 2 dini hari (mulai buka pukul 9 pagi). Bagi yang suka rawon mungkin tidak perlu repot ke Surabaya untuk mencoba Rawon Setan; tinggal datang saja ke Kelapa Gading.

Update :
eh ternyata di Casablanca ada juga rumah makan yang sama….


Pecel, Hujan, & Macet


Apa hubungannya pecel, hujan, dan macet? Ketiganya memang tidak ada hubungannya, kecuali kalau hujan Jakarta pasti tambah macet :) . Ini cuma cerita tentang kegiatan saya siang ini. Siang ini saya pergi ke Serpong untuk instal sesuatu di mesin Fujitsu Primepower 1500 milik salah satu client kantor saya. Mungkin cerita tentang instalasi ini bukan hal yang menarik untuk dituliskan.

Mungkin lebih menarik kalau saya menuliskan pengalaman saya makan pecel madiun di daerah Serpong. Atas rekomendasi rekan saya, kami makan siang di rumah makan Pecel Madiun. Tempatnya di Jl. Ciater Barat Raya Rawabuntu BSD, Serpong - Tangerang.

Tempatnya asik sekali untuk duduk-duduk melepas lelah sambil makan. Dari jalan raya, tidak nampak keramaian rumah makan, keramaian pengunjung pun tidak tampak. Tahu kenapa? Karena parkiran mobilnya berada di dalam kompleks rumah makan itu. Rumah makan ini cukup luas, parkiran mobil yang cukup padat mungkin bisa dijadikan indikator bahwa rumah makan ini cukup terkenal. Kompleks ini ditanami banyak pohon, dari pohon rambutan, pohon jeruk, pohon lamtoro, dll. Tanah lapang dengan rumput tertata rapi di tengah kompleks. Kita bisa memilih dimana kita akan makan, bisa makan di bangun utama rumah makan, bisa di tengah-tengah lapangan di bawah tenda-tenda, atau di pendopo-pendopo (pendopo atau bungalow ya namanya :D;) di tengah lapangan…asri sekali pemandangan di tempat ini. Ada pendopo yang dilengkapi dengan meja dan kursi, ada juga pendopo yang cuma dilengkapi dengan meja (silakan duduk lesehan). Tadi saya memilih duduk di bawah tenda, cukup teduh karena tepat di bawah pohon rambutan.

Menunya standar saja sebenarnya nasi pecel, empal daging, paru goreng, tahu/tempe bacem, dll. Harganya memang tidak mahal, sepiring nasi pecel (nasi, pecel sayur, peyek kacang) cuma Rp10.000,- (sayang nasinya terlalu sedikit :( ). Rasanya cukup enak…layak direkomendasikan. Walaupun siang ini pengunjung yang makan cukup ramai tapi suasananya tetap terasa “sepi”, cocok untuk meeting atau sekadar ngobrol sambil makan siang. Mungkin ini pengaruh dari luasnya tanah lapang sehingga suara dari pengunjung lain cepat terbawa angin,..he..he.. :D Tapi sayang jauh euy dari Jakarta.

Pulang dari Serpong sekitar pukul 13.00 lalu lintas tol Jakarta Merak padat apalagi mendekati Slipi…wuih, macet…..Saat sampai di Kebon Jeruk hujan mulai turun. Di radio diberitakan Jakarta dilanda hujan badai, pohon tumbang dimana-mana. Memang betul macet…begitu keluar di Tomang, Slipi menuju Semanggi benar-benar padat…belum lagi di Slipi sudah dibangun jalur busway. Tadi saya juga melihat di dekat Jakarta Design Centre ada juga pohon tumbang entah ada korban atau tidak. Mudah-mudahan tidak ada korban.

Nah begitu kira-kira ceritanya….jelas kan hubungannya sekarang antara pecel, hujan, & macet. Pulang makan pecel, kena macet gara-gara hujan =))