Blognya Tedy Tirtawidjaja

Kumpulan tulisan dan curahan pikiran saya yang bodoh ini

Mangkatnya Pak Harto


Setelah sudah hampir sebulan media kita dipenuhi oleh berita sakitnya mantan Presiden Soeharto, hari ini Pak Harto akhirnya meninggal dunia. Menurut Detik.com, Pak Harto meninggal dunia hari ini 27 Januari 2008 pukul 13.10. Saya baru bangun tidur sore ini pukul 6, mendengar berita ini di tv. Semua media memberitakan hal yang sama.

Lepas dari segala kontroversi tentang dirinya, saya mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya mantan Presiden Soeharto.


Minta Berapa? Seribu Saja


Saya buka kaca jendela taksi, saya tanya : “minta berapa?” Bocah tadi cengar-cengir bingung menjawab, dengan masih cengar-cengir akhirnya di jawab “terserah aja”. Saya jawab lagi “gak mau terserah sih, minta berapa?”. Eh dia ulangi lagi jawabannya, terserah lagi. Saya juga tidak mau kalah, saya ulangi lagi jawaban saya : “minta berapa?” Akhirnya dia bilang “seribu Om”. Saya rogoh saku kemeja, ambil selembar uang Rp1000,- dan saya berikan ke anak tadi. Wadow…langsung 4 orang anak lain berlarian ke arah taksi saya. “Om saya juga Om, saya juga Om…saya minta lima ribu Om….” ramai sekali jadinya. Langsung saya tutup kaca jendela. Traffic light tidak kunjung hijau, 4 orang anak tadi masih merapat di kaca jendela dan terus merengek…“saya aja Om saya aja Om…seribu aja Om.”

Ini cerita saya kemarin sore. Di Jalan Wahid Hasyim, saya mau pulang ke kantor dengan taksi. Di lampu merah (yang dekat Abuba Steak) seorang anak anak laki-laki, mungkin usia anak kelas 1 atau 2 SD, mendekati taksi saya lalu menadahkan tangan minta-minta. Menyebalkan memang melihat anak-anak jalanan dari kecil sudah belajar meminta-minta. Kemarin jiwa iseng saya muncul. Di saku kemeja saya ada uang seribuan, lima ribuan, dua puluh ribuan, di dompet ada lima puluh ribuan. Keisengan kali ini sebenarnya terinspirasi cerita teman saya. Katanya mengapa pengemis susah kaya, karena dia tidak berani “mimpi” (Sepertinya saya tidak berkompeten untuk menulis tentang hal ini lagi, mungkin nanti tunggu teman saya saja yang menulis tentang hal ini). Ditanya minta berapa cuma berani minta Rp1000,-. Padahal emarin saya yang lagi iseng siap kalau dia minta lebih dari itu. Tapi ternyata teman saya benar, si anak tadi cuma berani minta Rp1000,-.

Pesan saya : hati-hati kalau mau memberi uang ke pengemis di seputaran Wahid Hasyim, bisa-bisa Anda dimintai Rp100.000 sama pengemis di sana =))


Paling Berani Ya Indonesia


Kemarin katanya ada helikopter jatuh di Pekanbaru. Saya tidak terlalu kaget membaca hal ini di Detik.com sora kemarin. Yang membuat saya tertarik adalah berita Detik.com (yang saya baca malam tadi) kalau ternyata helikopter yang jatuh itu sudah berumur 49 tahun. Gila….berani sekali ya tentara kita.

Memang kita perlu berbangga sebagai bangsa Indonesia. Menurut saya rakyat Indonesia adalah manusia-manusia yang berani sekali (berani sekali entah apa sama dengan pemberani). Berani sekali mendekati nekat. Mau bukti, coba Anda pikirkan hal-hal berikut :

  1. Helikopter 49 tahun masih berani diterbangkan. Berani kan? Berani tanggung resiko jatuh.
  2. Pesawat-pesawat milik beberapa maskapai penerbangan lokal (low cost airline) masih berani mengoperasikan pesawat yang umurnya sudah uzur (katanya banyak sekali yang sudah berumur lebih dari 10 tahun). Tidak heran kalau ada resiko penutup sayap lepas, atau hidrolik ngadat.
  3. Lihat bus, metromini, kereta-kereta komuter di Jakarta. Lihat beraninya penumpang bergelayut di pintu bus, bahkan ada juga yang berani naik ke atap gerbong kereta. Atau lihat saja kepadatan penumpang kereta api menjelang mudik lebaran. Berani lagi kan?
  4. Ingat kan kasus kebakaran di bawah jalan tol dalam kota di wilayah Jembatan Tiga Jakarta Barat. Salah satu bukti lain keberanian pendatang, bawah jalan tol pun berani ditempati, dihuni layaknya pemukiman resmi. Lebih berani lagi saat diusir malah berdemo…
  5. Perhatikan perempatan-perempatan jalan di Jakarta. Perhatikan para pengamen dan anak jalanan. Anak-anak umur 3-4 tahun (bahkan tidak sedikit yang menggendong bayi) sudah berkeliaran di sana. Satu bukti lagi, keberanian orang tuanya melepas anak-anaknya ke jalanan…
  6. ….
  7. ….
  8. ….
  9. ….
  10. ….

Ah mentok juga…tapi saya yakin masih banyak keberanian-keberanian rakyat Indonesia yang belum terlintas di pikiran saya sekarang. Nanti mungkin akan bertambah lagi daftarnya.

Ada yang mau menambahkan?


22-06 KHL


Katanya di beberapa wilayah ibukota sekarang ada rambu lalu lintas yang bunyinya “22-06 KHL” (diletakkan setelah nama jalan yang ditunjukkan oleh rambu tersebut). Jujur saya baru dengar tentang rambu semacam ini, itupun karena membaca Detik.com hari ini. Saya memang belum pernah melihat rambu seperti itu. Tapi saya pasti akan bingung kalau sampai membaca rambu yang tidak informatif tersebut. Rupanya “22-06 KHL” artinya pukul 22.00 sampai pukul 06.00 kecuali hari libur. Entah apa maksudnya pihak terkait (Dinas Perhubungan sepertinya) membiarkan/mengeluarkan rambu lalu-lintas yang tidak jelas seperti itu. Sengaja menjaring banyak pelanggar kah?


BlueBird Masuk Semarang


Dari hasil obrolan ringan dengan sopir taksi, saya jadi tahu kalau Blue Bird akan mulai beroperasi di kota Semarang mulai Senin besok. Si sopir bercerita tentang yang jelek-jelek soal Blue Bird; misalnya katanya Blue Bird itu nyogok walikota Semarang, Blue Bird itu didanai pemerintah, Blue Bird bakal hancur lah kalau masuk Semarang karena kekurangan konsumen, dll.  Saya cuma senyum-senyum saja..saya kan konsumen Blue Bird :). Baguslah kalau memang BlueBird sudah melebarkan sayap ke Semarang..jadi kapan-kapan kalau ke Semarang lagi saya bisa pakai jasanya. Oh ya kata si sopir lagi, besok akan ada demo besar yang dilakukan oleh semua sopir taksi di Semarang.

Lain halnya tadi sore waktu naik taksi pulang ke hotel. Sopirnya cukup fair pendapatnya ketika ditanya soal Blue Bird. Dia bilang Blue Bird memang bagus..dia juga memberi pendapat kalau taksi di Semarang harus kasih servis yang lebih baik daripada BlueBird. Entah karena dipicu akan masuknya Blue Bird ke Semarang atau memang si sopir ini memang dididik untuk berlaku sopan pada setiap penumpang. Tingkahnya yang ala “Blue Bird” membuat saya jadi menerka-nerka negatif. Jangan-jangan karena Blue Bird mau masuk jadi sopan begini…mudah-mudahan salah ya analisis saya :D.

Bagus sekali jadinya kalau adanya persaingan membuat sesama pelaku jadi berlomba-lomba meningkatkan kualitas servis pada kustomer. Jangan sampai seperti yang terjadi di Bandung, ketika Blue Bird masuk ke sana banyak sekali aksi kriminalitas terhadap armada Blue Bird. Mulai dari taksi dilempari sampai dirusak oleh oknum pengemudi armada taksi lain yang beroperasi di Bandung. Terlalu lama terlena oleh monopoli kadang membuat produsen memberikan servis seenaknya. Lihat saja Pertamina, Telkom, PT Kereta api; puluhan tahun beroperasi tanpa kompetitor hasilnya Anda bisa lihat sendiri. Di situ arti penting kompetisi terlihat. Lihat sekarang Pertamina mulai berbenah, berusaha meningkatkan servis sejak penyedia BBM seperti Shell, Petronas masuk ke Indonesia. Meskipun kadang lucu melihat mereka cenderung “meniru-niru” servis yang diberikan oleh kompetitornya. Coba kalau pemerintah mengijinkan perusahaan swasta untuk mengoperasikan kereta api, pasti akan memicu PT KAI memperbaiki pelayannya pada masyarakat. Tapi sayangnya tidak mungkin.

Siapa yang senang dengan persaingan sehat antara sesama produsen/penyedia jasa? Tentunya masyarakat sebagai konsumen yang akan menikmati perbaikan pelayanan.


Sore Lancar Jakarta


sore ini saat pulang kantor saya perhatikan jalanan di beberapa lokasi di Jakarta cukup lengang dibandingkan hari-hari biasanya. Sudirman dari HI menuju Semanggi lancar, padahal biasanya ampun macetnya.Arah sebaliknya dari Semanggi menuju HI memang biasanya juga tidak terlalu padat, jadi tidak terlalu bagus untuk perbandingan. Tanah Abang menuju Tomang pun sekarang lancar. Di underpass Tanah Abang dari Cideng menuju Casablanca juga lancar (ini biasanya padat). Yang masih terlihat padat seperti biasanya adalah perempatan Pejompongan menuju Casablanca.

Yang lebih mengherankan lagi Tomang Raya - Kyai Caringin….lancar sekali. Gila baru pernah di hari kerja seperti ini Tomang lancar sekali. Jalan Musi yang biasanya padat (diramaikan juga tingkah pak Ogah yang seenaknya mengatur kendaraan) juga lancar sekali. Tidak ada penumpukan kendaraan sama sekali menuju Tomang. Biasanya di Jalan Musi dan Cideng pasti sore hari sekitar pukul 6 adalah jam-jam dimana kendaraan yang menuju Tomang terjebak di sana.

Benar-benar terheran-heran melihat fenomena ini, saya langsung berhipotesis : jangan-jangan akibat hujan deras tadi pagi banyak orang yang tidak masuk kantor hari ini ;)) Masuk akal kan kalau saya menarik hipotesis seperti itu? Lah wong beberapa teman saya di kantor terlambat 1 sampai 2 jam (saya terlambat 40 menit..he..he..he..). Bahkan ada yang baru sampai kantor jam 11 siang. Bagaimana pengalaman Anda sore ini? Merasa Jakarta lebih lengang (sedikit lebih lengang tepatnya) dari hari biasanya..atau ini hanya perasaan saya saja?


Jalan Layang Roxy


Jembatan layang Roxy sudah jadi. Kemarin dan hari ini saya sempat melintas di kawasan Roxy, nampaknya jalan layan Roxy sudah jadi namun belum 100%. Hanya bagian turunan yang menyentuh jalan Kyai Tapa saja yang tampaknya masih butuh finishing. Mungkin tidak lama lagi jalan layang ini bisa digunakan.

Tapi sekarang jalan Kyai Tapa disemarakkan oleh pembangunan jalur busway. Di sepanjang jalan ini sudah ada 2 halte busway yang dibangun di jalan ini. Kalau tidak salah jalur busway ini akan menggantikan jalur busway yang melintas di Tomang. Lucu juga, jalan layang sudah hampir selesai, tapi kemacetan pindah dari Roxy ke Kyai Tapa :)


Ambulans vs. Macet


Kemarin sore saat pulang kantor saya lewat di samping hotel Shangrila. Di tengah-tengah kemacetan jalan menuju Pejompongan, ada ambulans di tengah kemacetan jalan. Sirine ambulans itu terus meraung-raung. Tepat di samping pintu masuk Shangrila hotel, ambulans tadi tak berkutik melawan antrian kendaraan yang memang tiap sore memacetkan jalan…eh tahukah Anda kalau jalan di samping hotel Shangrila ternyata bernama Jalan Jendral Sudirman juga. Gara-gara mau menulis postingan ini saya mencari tahu dulu lewat Google :)

Melihat ambulans itu terjebat di tengah kemacetan, pikiran saya jadi mereka-reka siapa yang dibawa di dalam mobil ambulans itu. Apa jadinya kalau yang dibawa dalam mobil ambulans itu orang yang sedang sekarat butuh di bawa secepatnya ke rumah sakit. Gila kan? Bisakah Anda bayangkan kalau orang yang dibawa oleh ambulans itu adalah korban kecelakaan yang butuh dibawa ke rumah sakit secepatnya? Atau orang yang baru terkena serangan jantung dan berkejaran dengan waktu untuk memperoleh pertolongan medis secepatnya? Bisa-bisa “lewat” nyawanya kalau perjalanan mobil ambulans dihadang kemacetan Jakarta yang makin menggila.

Selain ambulans saya juga pernah melihat mobil pemadam kebakaran yang terhadang kemacetan di dekat pasar Tanah Abang. Ini juga ironis. Perjalanan mobil pemadam yang harusnya sesegera mungkin tiba di lokasi kebakaran malah jadi lama perjalanannya.Terjebak di tengah kemacetan sambil tak bisa berbuat apa-apa. Jangan heran kalau mendengar berita kebakaran di Jakarta pasti pemadam kebakaran datang terlambat. Apalagi kalau lokasi kebakaran berada di daerah padat penduduk yang akses jalannya sempit, macet.

Bagi ambulans dan pemadam kebakaran yang dilengkapi sirine, di Jakarta sepertinya sirine tidak berfungsi. Tapi ada juga kemungkinan unsur iseng dari pengemudi mobil maupun pemadam kebakaran. Mereka mungkin saja tidak dalam tugas dan iseng membunyikan sirine berharap supaya diberi kemudahan akses jalan cari kesempatan di tengah kesempitan gitu lah…:-p .Sirine yang seharusnya bisa menjadi sinyal pembuka jalan, meminta pengguna jalan lain mengalah juga tidak ada artinya. Tidak menutup kemungkinan ada pengguna jalan lainnya ada yang tergerak hatinya untuk memberi jalan bagi mereka, tapi apa mau di kata mereka sendiri terjebak di tengah kemacetan…mau beringsut ke mana? Ke atas?

Kira-kira bagaimana ya solusi yang tepat untuk kondisi di atas? Menyediakan jalur darurat untuk kendaraan semacam ambulans dan pemadam kebakaran? Ah sepertinya tidak akan berguna. Lihat saja di jalan tol dalam kota Jakarta, jalur paling kiri katanya dipakai untuk keadaan darurat. Jalur paling kiri (bahu jalan) katanya dipakai untuk mobil derek atau jalur bagi petugas Jasa Marga bila ada keadaan darurat. Faktanya? Dipakai juga oleh pengguna jalan tol.

Mungkin solusi yang paling bagus adalah mengganti mobil ambulans dan mobil pemadan kebakaran dengan helikopter =)) Dijamin bebas macet kan. Eh tunggu dulu..kalau mobil pemadan kebakaran diganti dengan helikopter dimana mendaratnya kalau tempat kebakarannya pemukiman padat penduduk? :( Susah juga ya…ya sudah lah serahkan saja pada ahlinya ;))


Nuansa Liburan


Pagi ini saya berangkat ke kantor seperti biasa, kantor saya baru mulai libur Jumat besok. Nuansa libur sudah terasa di Jakarta sejak kemarin sore. Pagi ini jalan-jalan yang biasanya padat terlihat lengang. Sungguh enak jalan-jalan di Jakarta pada hari-hari di sekitar lebaran seperti sekarang ini, bebas macet. Di kantor saya pun nuansa libur terasa sekali. Banyak rekan-rekan yang sudah mengambil cuti hari ini. Sepi juga rasanya :) .. tapi menyenangkan, tidak ada beban kerja seperti hari-hari biasanya.

Bagaimana liburan Anda? Mudik kah Anda lebaran kali ini?  Apapun yang Anda lakukan liburan kali ini, I just wanna say : enjoy your holiday :) Selamat berlibur, selamat berlebaran bagi Anda yang merayakan.


Libur Tambah Lagi


Libur Lebaran tahun ini awalnya dijadwalkan jatuh pada tanggal 12-16 Oktober 2007. Dengan perhitungan tanggal 12, 15, dan 16 adalah hari cuti bersama. Baru Selasa lalu diumumkan bahwa cuti bersama nasional diperpanjang sampai tanggal 19 Oktober 2007. Ada yang suka dan ada juga yang merasa kesal dengan adanya perpanjangan libur nasional ini.  Saya tidak termasuk keduanya. Minggu lalu saya memang sudah mengajukan cuti untuk tanggal 17,18.19 sehingga tidak menjadi masalah bagi saya libur cuti bersama diperpanjang atau tidak. Yang merasa kesal dengan perpanjangan ini antara lain adalah orang yang sudah membeli tiket kembali dari kampung halaman dan orang yang jatah cutinya sudah hampir habis. Bayangkan saja jatah cuti yang sudah hampir habis dirampok lagi dengan cuti bersama ini.

Saya sendiri merasa aneh dengan yang namanya cuti bersama nasional. Ngapain sih pemerintah ikut-ikutan mengatur cuti karyawan. Mau memberi libur pada para pegawai negeri? Saya lebih setuju kalau pemerintah menetapkan hari libur nasional saja sekalian…tanpa mengganggu urusan pribadi tiap karyawan. Dengan cuti bersama nasional ini saya dan banyak karyawan lain tidak punya pilihan dengan pemotongan jatah cuti tahunan. Jatah cuti yang seharusnya bisa digunakan untuk keperluan lain bisa-bisa habis terpotong momen seperti ini. Kalau seorang karyawan kehabisan jatah cuti 2007 gara-gara pemotongan cuti bersama ini mau tidak mau, suka tidak suka dia harus “ngutang” cuti di tahun kerja 2008. Kantor saya memberi pilihan lain, silakan masuk kantor pada tanggal 17,18, 19….ada-ada saja ya urusan kebijakan HRD ini :)