Theme Song Film Keren
Di balik film-film hebat (hebat dalam artian saya suka nontonnya
), selalu ada theme song yang keren. Hmm…masih belum paham apa padanan kata untuk theme song (musik tema??). Yang saya maksud itu musik pengiring adegan. Belakangan saya jadi suka mendengarkan musik latar gubahan Hans Zimmer. Berikut beberapa film yang saya suka dan musik pengiringnya :
- The Last Samurai
Dengarkan contohnya di sini - Da Vinci Code
Dengarkan contohnya di sini - Angel & Daemon
Dengarkan contohnya di sini - The Pasific (HBO serial)
- Armagedon
Dengarkan contohnya di sini - Kungfu Panda
Ada kesan megah di hampir semua lagu-lagu tersebut. Itu juga mengingatkan saya tentang filmnya. Bagi saya pribadi film yang hebat adalah film yang tidak membosankan; ditonton berkali-kali pun tidak bosan dan tetap setia nontonnya dari awal sampai akhir film. Tidak harus film bervisual efek dahsyat, film drama komedi pun bisa jadi film yang saya suka menontonnya berkali-kali. The Bucket List misalnya, film ini selalu membuat saya duduk (kebanyakan tiduran di depan TV sih
) menontonnya tiap kali ada kesempatan. Minggu lalu misalnya, saya lebih kurang 5 kali menonton Kungfu Panda
Itu gara-gara HBO Family memutar ulang Kungfu Panda berkali-kali dalam satu minggu, mungkin hanya kebetulan beberapa hari itu saya nyangkut di saluran itu pula.
Balik lagi soal Hans Zimmer, saya niat mencari musik-musik gubahannya itu juga karena berkali-kali nonton Kungfu Panda. Saya penasaran dengan musik latar di beberapa adegan, saat saya cari di Google saya jadi tahu penata musiknya adalah Hans Zimmer. Dari situ saya tahu pula ternyata beberapa film hebat ditata musiknya secara apik oleh Hans Zimmer (dari situ pula awal munculnya daftar film di atas). Film seri The Pasifik malah sebaliknya, saya suka theme song-nya & kebetulan membaca “Hans Zimmer” di daftar pembuat film yang ditayangkan sebelum film mulai. Langsung saya coba Googling dan memang benar musik tema gubahan Hans Zimmer itu keren ![]()
Indovision Billing Error
Rabu malam lalu (29 April 2009) muncul sebuah gambar amplop di layar televisi saya. Biasanya amplop tersebut berisi pesan dari Indovision untuk pelanggannya. Informasinya misalnya pemberitahuan promosi, event yang diselenggarakan Indovision, atau juga alert soal jumlah tagihan yang belum terbayar. Saat saya buka pesan tersebut ternyata isinya adalah peringatan tagihan yang belum terbayar untuk periode bulan ini. Screenshot-nya seperti ini :
Kaget juga saya membaca pesan ini karena saya ingat Jumat lalu saya sudah membayar tagihan Indovision lewat ATM BCA. Kaget yang kedua karena melihat jumlah yang ditagihan lebih besar daripada jumlah yang biasa saya bayarkan tiap bulannya (Rp239.000,-). Saat itu posisi saya sudah di kasur, menjelang tidur. Terdorong rasa penasaran saya bangun lagi. Pertama ambil kamera motret tampilan pesan itu lalu mencari struk transfer BCA sekadar ingin mencocokkan nomor account Indovision saya. Untung slip transfer BCA masih saya simpan. Nomor account yang tercantum di pesan yang muncul di layar TV saya ternyata berbeda dengan nomor account Indovision saya.
Saya masih belum yakin, jangan-jangan saya salah mentransfer pembayaran Indovision. Saya cari lagi amplop tagihan Indovision bulan sebelumnya, ternyata saya tidak salah. Nomor account Indovision saya sudah benar. Saya yakin ada yang salah dengan sistem billing-nya Indovision. Saat itu sudah hampir jam setengah 1 malam, inginnya segera komplain tapi mata sudah benar-benar ngantuk. Saya putuskan besok saja telepon ke Indovisionnya. Ini di luar kebiasaan saya, ngantuk mengalahkan keinginan saya untuk ngomel-ngomel ![]()
Hari Kamis saya malah lupa telepon ke Indovision. Kamis malam sepulang kantor saat saya menyalakan TV, ada lagi gambar amplop kecil tepat di bagian atas layar. Saat saya buka ternyata isinya informasi kesalahan tagihan dari Indovision. Screenshot-nya seperti ini :
Ok clear masalahnya, Indovision salah mengirim pesan informasi tagihan.
The Bucket List
Sejak Minggu lalu HBO menayangkan film berjudul “The Bucket List”. Ini film benar-benar bagus. Film ini diperankan oleh 2 aktor kawakan Hollywood, Jack Nicholson & Morgan Freeman. Jack Nicholson memerankan tokoh Edward Cole, sementara Morgan Freeman memerankan tokoh Carter. Keduanya diceritakan sebagai dua orang pengidap penyakit kanker stadium akhir. Keduanya sama-sama divonis dokter memiliki harapan hidup yang tinggal beberapa bulan saja.
Edward Cole adalah seorang yang sangat kaya, sebagai seorang ahli kesehatan dia memiliki rumah sakit sendiri. Rumah sakitnya sedikit unik, karena semua pasien ditempatkan dalam kamar yang berkapasitas 2 orang pasien. Di rumah sakit itulah Edward bertemu dengan Carter untuk pertama kalinya. Carter sendiri sebagai orang kulit hitam adalah seorang dari kalangan biasa saja. Carter bekerja sebagai montir selama 45 tahun. Biarpun berprofesi sebagai montir, Carter adalah orang yang cerdas. Keinginannya untuk belajar tidak pupus dimakan usia. Profesi montir diambilnya saat dia keluar dari bangku kuliah yang baru dinikmatinya selama 2 bulan. Dia berhenti kuliah saat Virginia, pacarnya, mengabarkan kalau dirinya sudah berbadan dua.
Edward Cole dan Carter punya cara pandang yang bertolak belakang soal kehidupan. Carter seorang yang boleh dibilang religius percaya akan iman dan kehidupan setelah kematian. Sebaliknya Edward adalah orang yang skeptis, tidak percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian. Karena ditempatkan dalam satu kamar untuk beberapa waktu, Edward & Carter jadi berteman. Carter diceritakan sebagai pria yang setia pada istri dan keluarganya. Edward sebaliknya diceritakan sebagai pria yang gagal dalam membangun keluarganya, terbukti dari 4 kali pernikahannya yang tidak pernah berhasil dan anak perempuan satu-satunya yang membenci dirinya.
Bucket List sendiri adalah sebuah daftar yang dibuat oleh orang-orang yang sedang sekarat. Daftar hal-hal yang ingin dilakukan sebelum ajal datang menjemput. Carter yang sedang terbaring sakit menghabiskan banyak waktunya untuk membaca buku. Selain itu Carter juga menuliskan hal-hal yang ingin dilakukannya sebelum meninggal dunia. Tanpa sengaja daftar ini dibaca oleh Edward. Edward bahkan tertarik dengan yang namanya “the bucket list” dia menambahkan banyak hal dalam daftar tersebut. Beda kepribadian membuat keduanya menuliskan hal-hal yang jauh berbeda dalam daftar tersebut. Misalnya Carter menuliskan ingin mengendari mobil Mustang Shelby 350 (mobil yang diidamkannya sejak muda). Edward menuliskan hal-hal yang lebih gila dalam daftarnya, terjun payung, berburu singa, dll ![]()
Edward mengajak Carter untuk memulai petualangan mewujudkan satu persatu dari semua daftar itu. Awalnya Carter menolak, tapi akhirnya mereka sepakat bertualang dunia mewujudkan semua hal yang mereka catat dalam daftar itu. Petualangan mereka seru semua, terjun tandem, mengendarai Mustang Shelby 350 di sirkuit, pergi ke Great Wall di China, ke Taj Mahal di India, mengunjungi Piramida di Mesir, melihat singa dari dekat di Afrika, jalan-jalan ke Hongkong, naik ke Gunung Himalaya. Gunung Himalaya adalah obsesi Carter, sayangnya cuaca buruk menghadang mereka untuk sampai ke puncak gunung. Semua petualangan mereka bisa terlaksana karena Edward punya uang banyak. Mereka bepergian dengan pesawat jet pribadi.
Banyak dialog yang cukup berbobot dalam film ini. Salah satunya adalah bagaimana Carter menasihati Edward untuk mencoba membuka hubungan kembali dengan putri tunggalnya. Di akhir petualangan mereka, saat mereka pulang ke Amerika, Carter bekerja sama dengan Thomas (asisten pribadi Edward) diam-diam membawa Edward ke rumah putrinya. Edward marah dan menuduh Carter mencampuri urusan pribadinya. Mereka berpisah di sana, Thomas pun kena pecat karena dituduh mengkhianati Edward. Menjelang akhir film, Carter menjalani operasi kankernya. Sebelum operasi Edward mengunjungi Carter lagi. Mereka bermaafan dan bisa tertawa bersama. Dia meninggal di meja operasi. Carter sudah menuliskan surat untuk Edward, lagi-lagi pesan dalam surat itu adalah supaya Edward menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Akhirnya Edward Cole mau datang ke rumah anak perempuannya. Di sana Edward bertemu dengan cucu perempuannya. Edward meninggal tidak lama setelah Carter meninggal. Keduanya dikremasi, abu jenazahnya ditaruh di dalam kaleng yang kemudian dikubur di puncak gunung Himalaya.
Hmm benar-benar film yang bagus dan layak ditonton. Ada banyak nilai moral yang disampaikan dalam film itu. Dari kacamata saya, nilai-nilai penting itu adalah :
- Nilai hidup kita ditentukan bukan hanya dari kebahagiaan yang kita capai tapi juga dari seberapa besar kebahagiaan yang bisa kita bawa kepada orang lain.
- Sahabat bisa jadi tempat orang mendapatkan saran & petuah hidup.
- Keluarga yang harmonis adalah sesuatu yang perlu diperjuangkan.
Kalau Anda belum pernah menonton film ini, saya sangat merekomendasikan film ini. Selain nilai-nilainya yang luar biasa, film ini bagus juga teknik pembuatannya. Banyak tempat indah di dunia ditampilkan dalam film ini. Film ini termasuk film serius tapi dengan bumbu komedi menjadikannya sempurna. Oh ya, Kopi Luwak dari Indonesia juga masuk dalam cerita film ini. Edward diceritakan gemar sekali minum kopi Luwak. Carter menertawainya karena katanya kopi Luwak itu adalah biji kopi yang keluar dari pantat luwak
. Luwak (semacam musang) memakan buahnya, sementara bijinya dikeluarkan lagi bersama dengan kotorannya. Petani kopi mengumpulkannya untuk dijadikan bubuk kopi yang katanya terenak di dunia.
Ah saya tidak pandai menuliskan review film, sebaiknya Anda tonton sendiri film ini ![]()
Gambar dipinjam dari sini : http://www.facinglife.tv/episode/season_3/episode_10/originals/The%20Bucket%20List.jpg
Yang Mengesalkan Dari Indovision
Sudah lama juga saya menggunakan layanan TV berbayar dari Indovision. Saya pasang Indovision akhir Juni tahun lalu. Sejauh ini saya belum bisa bilang puas dengan siaran Indovision, masih banyak siaran TV yang jelek tampilannya. Dulu waktu instalasi, teknisi Indovision bilang kalau daerah tempat saya tinggal termasuk daerah yang penuh frekuensinya. Katanya terlalu banyak interferensi dari pemancar lain. Interferensi maksudnya gangguan sinyal karena ada pemancar sinyal yang berdekatan. Nah loh, katanya Indovision selalu bagus di segala cuaca….tapi ternyata masih kalah kalau kena interferensi sinyal.
Hampir setiap hari siaran TV lokal yang saya dapat jelek sinyalnya. Yang bagus cuma RCTI, ANTV, Trans7, dan Indosiar. MetroTV, SCTV, dkk hampir setiap hari jelek. Jeleknya seperti apa, persis seperti Anda nonton VCD rusak. Brebet brebet gambar dan suaranya. Tidak bisa lihat dan dengar apa-apa. Fashion TV juga begitu….kalau SCTV dkk jelek tampilannya, dapat dipastikan Fashion TV juga. Jadi susah kalau mau lihat lingerie show di Fashion TV kalau siaran sedang jelek ![]()
Di dekat kos saya ada kantor Telkom Jakarta Barat, entah apa mungkin radio-radionya Telkom yang jadi hambatan. Beberapa hari lalu saya sempat ngobrol juga dengan rekan saya, katanya markas TNI juga punya pemancar radio yang sangat mungkin mengganggu tangkapan sinyal Indovision. Ah pantas kalau begitu, tidak jauh dari tempat saya ada markas TNI (di dekat fly over Tomang). Tapi saya perhatikan di sekitar saya banyak juga antena Indovision, artinya banyak juga pelanggan Indovision. Apakah mereka juga mengalami hal yang sama seperti saya ya. Atau karena pemasangan antena di tempat saya saja yang kurang bagus. Saya pernah dengar katanya pemasangan antena TV berbayar seperti Indovision itu tidak butuh tempat yang tinggi. Yang penting katanya sudut dan elevasinya saja harus tepat.
Agak malas saya komplain ke Indovision, malas menunggui teknisinya datang dan troubleshooting. Nah kalau sudah begini saya yang salah ya?
Jumat malam kemarin juga ada yang mengesalkan lagi. Ceritanya saya lihat ada film The Warlords di Celestial Movies, sepertinya menarik karena ada Jet Li, Andi Lau di film itu. Waktu saya pindah saluran ke Celestial Movies secara tidak sengaja, film sudah mulai sekitar setengah jam. Beberapa menit menonton saya mulai kesal karena teks sering tidak muncul. Repot kan menonton film berbahasa Mandarin tanpa teks, mengingat saya tidak ngerti bahasa Mandarin
Kalau filmnya berbahasa Inggris tentu tidak akan terlalu jadi masalah kalau teks hilang. Beberapa saat teks muncul lagi, lalu hilang lagi. Saya sempat curiga apa jangan-jangan saya menekan sesuatu di remote sehingga teksnya hilang. Tapi sepertinya tidak ada pengaturan macam itu di remote-nya Indovision. Ok saya sabar saja menunggu teks. Ketika teks sudah stabil muncul terus, saya heran kenapa teksnya tidak sinkron dengan adegannya. Meskipun tidak bisa bahasa Mandarin, saya bisa menerka dan yakin 100% kalau teksnya salah. Bukan salah tapi terlambat muncul, adegannya apa tulisan di teksnya apa….lucu & mengesalkan jadinya. Saya batalkan rencana menonton The Warlord sampai selesai.
Saya sendiri tidak tahu persis siapa yang mengatur teks film pada layanan TV berbayar seperti Indovision. Entah Indovisionnya atau memang stasiun TVnya yang menyediakan. Tapi kok bisa sampai terjadi demikian? Jadi seperti nonton DVD bajakan, teksnya bisa terlambat muncul atau kadang muncul kadang tidak.
Apa Yang Salah?
Coba Anda perhatikan foto di bawah ini :
Melihat sesuatu yang ganjil? Menangkap ada yang salah?
Belum melihat ada yang salah pada foto di atas? Hmm ulangi lagi deh, lihat baik-baik ![]()
Sudah dapat? Masih belum juga? Coba kunjungi optik terdekat untuk memeriksakan mata Anda ![]()
Foto di atas adalah foto kardus wadah speaker merek Simbadda. Ada kesalahan cetak pada kardus tempat speaker itu. Tulisan “Powdr input -ac 220V” seharusnya kan “Power input -ac 220V”. Astaga rupanya Simbadda selaku produsen kurang memperhatikan detail pada kemasan produknya. Di mata saya kok sepintas terbaca “Powder“ ![]()
Jadi ceritanya hari Rabu kemarin salah satu rekan kantor saya akan pulang kampung ke Rumania. Dia menitipkan sound system dan DVD player-nya pada saya. Sejak saya ambil dari apartemennya hari Rabu lalu, belum saya sentuh-sentuh lagi sampai malam ini. Malam ini saya utak-atik speaker-nya…nah saya baru sadar ternyata ada yang salah di kardus tempat speaker itu. Salah cetak, mungkin bukan salah cetak tapi salah ketik ![]()
nahTadi saya ingin coba speaker Simbadda itu untuk disambungkan dengan notebook. Sekadar ingin membandingkan kualitas suaranya dengan speaker milik saya sendiri. Dilihat dari spesifikasinya, Altec Lansing saya lebih powerfull. Tapi ternyata speaker tersebut bukan speaker untuk PC. Tidak ada colokan standar untuk PC
, colokan yang ada cuma yang bentuknya seperti ini :
Ah tapi terpikir oleh saya cocok juga colokan macam itu disambungkan dengan televisi di kamar. Alhasil saya sambungkan output decoder Indovision saya ke speaker ini. Lumayan “bum bum bum” suaranya untuk nonton TV ![]()
Republik Mimpi Tayang Lagi
Barusan saya nyalakan televisi, cari-cari acara yang menarik. Eh ketemu Republik Mimpi. Rupanya acara Republik Mimpi yang sempat menghilang gara-gara kasus salah satu pemainnya sekarang kembali lagi. Kembalinya Republik Mimpi kali ini tidak di Metro TV lagi tapi tayang di TV One (ex- Lativi). Masih ada Butet sebagai SBY, masih ada Jarwo Kuwat, masih ada Effendi Gazali, masih ada Anya Dwinov, masih ada Olga Lydia. Nonton dulu ah, nanti saya lengkapi ceritanya.
Ternyata para artis pendukung acara Republik Mimpi di TV One ini masih sama seperti dulu. Ada Habudi, Megakarti, Gus Pur, Mr Pinky, Temon Sukoco, Iwel. Ada tambahan 2 tokoh seingat saya tadi : Harmono dan Moerdiono. Yang memerankan Moerdiono adalah artis yang dulu memerankan ahli hukum (lupa namanya) dengan ciri selalu teriak-teriak kalau bicara.
Saya cukup senang akhirnya Republik Mimpi kembali ditayangkan. Sekarang sepertinya mengusung iklan sekali. Dulu di Metro TV, didukung A Mild lalu ganti didukung LA Light. Sekarang sponsornya laptop Zyrex. Penonton (yang semuanya mahasiswa) diberi hadiah laptop…luar biasa juga nih strategi beriklan Zyrex. Lepas dari iklan, konten acara ini masih sama mengangkat masalah-masalah sosial di Indonesia dengan gaya parodi yang khas. Jangan sampai acara seperti ini nantinya malah diberangus oleh Depkominfo sendiri ![]()
Kemana Republik Mimpi?
Hari Minggu ini sampai pukul 9 malam ini, Metro TV tidak menayangkan acara Republik Mimpi (RM). Apa kah memang benar ini ada hubungannya dengan kasus yang menimpa salah satu pemain acara R, Jarwo Kwat? Katanya tokoh yang memerankan wakil Presiden Jusuf Kalla tersebut terlibat kasus penipuan, membayar seseorang dengan cek kosong (kalau tidak salah nilainya sekitar 100 juta rupiah).
Minggu lalu saya masih melihat acara RM, Efendi Gazali (motornya RM) menyatakan kalau sampai benar Jarwo bersalah dalam kasus cek kosong tersebut, Republik Mimpi akan berhenti tayang. Apakah kalau sekarang RM tidak tayang, berarti kita bisa menyimpulkan bahwa Jarwo memang bersalah? Kalaupun benar Jarwo memang bersalah, saya masih salut dengan acara ini. Mengapa salut? Sudah salah ya mundur. Di Indonesia? Gak mungkin banget. Tapi kalau RM bubar karena salah satu tokohnya tersandung kasus kriminal, mengapa RM yang harus bubar? Ganti saja tokoh wapres dengan tokoh lain. Ini mungkin lebih membawa pesan bagi masyarakat, bagaimana seorang pejabat (walaupun cuma di negeri dongeng) bisa berjiwa besar, mundur demi nama baik dan kelangsungan pemerintahan yang bersih.
Ada apa sebenarnya dengan kasus ini? Kejadian ini tentu mengundang orang untuk berspekulasi bahwa ada pihak-pihak tertentu yang ingin menjegal RM. Masuk akal memang kalau ada pihak-pihak yang ingin menjegal acara ini. Republik Mimpi dari awal penayangannya sudah “berseberangan” dengan pemerintah. Mulai dari tokoh-tokohnya yang merupakah parodi dari pada tokoh di Indonesia, sampai sindiran-sindirannya yang tajam menyinggung banyak hal di Indonesia. Saya yang jadi salah satu penonton setia acara ini tentu akan merasa kehilangan jika sampai RM tidak ditayangkan lagi.
Di tengah tayangan sinetron dan berbagai acara gak mutu di televisi kita, RM bisa menjadi pilihan tontonan yang cukup menarik untuk diikuti. Kritiknya kepada berbagai kebijakan pemerintah saya sah-sah saja kalau ditayangkan. Dengan begitu RM kan bisa jadi kontrol sosial bagi pemerintah. Masalah tersinggung atau tidak itu urusan personal. Tapi yang jelas ada beberapa hal yang sudah disampaikan RM yang merupakan suara rakyat sendiri. Saya masih ingat bagaimana mereka mengunjungi tempat pengungsian korban lumpur Lapindo. Tentu bukan porsi saya untuk menjudge bahwa RM itu benar-benar “suci” tapi setidaknya mengapa pemerintah tidak belajar dari bermacam hal (kritikan) yang sudah diangkat dan disampaikan oleh mereka?
Apa ini tandanya bangsa Indonesia (pemerintah khususnya) masih belum siap dengan kritik tajam? Tidak siap diledek dengan parodi politik macam ala Republik Mimpi? Mungkin ini adalah salah satu bentuk ad hominem menyerang pihak/orang tertentu ke hal-hal pribadi karena merasa sudah tersudutkan dalam perdebatan/argumen-argumen yang memang benar adanya. Sudah bawaan lahir manusia yang tidak pernah mau kalah, tidak pernah mau ditolak, sehingga kadang saat kita “diserang” pandangan/opininya yang muncul kita malah “menyerang” balik ke urusan pribadi - keluar dari topik utama perdebatan.
Ah semoga saja Metro TV sebagai penayang acara ini berpikir ulang dan kembali menayangkan kembali acara ini. Indonesia butuh tayangan yang mendidik, jangan sampai tayangan yang baik ini malah dihapuskan.
Pelawak Basuki Meninggal
Hari ini Indonesia kehilangan satu lagi pelawak seniornya. Basuki hari ini tutup usia begitu yang diberitakan Detikhot.com. Bintang iklan Tolak Angin ini meninggal dunia pada usia 51 tahun. Perannya yang sangat saya ingat adalah ketika dia memerankan tokoh Karyo dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan, yang merupakan tayangan sinetron favorit saya. Basuki sukses besar memerankan tokoh Karyo yang lugu, dengan segala basa-basi dan adat Jawanya, meskipun kadang suka menipu dan sok tahu.
Belum jelas apa penyebab kematian Basuki. Detikhot.com pun belum memberitakan penyebab jelasnya. Hanya diberitakan Basuki meninggal di Rumah Sakit Melia Cibubur. Semoga keluarga yang ditinggalkan beroleh penghiburan dan pengharapan.
Update :
kabarnya Basuki meninggal akibat serangan jantung saat dirinya main futsal…tragis, mau sehat berolahraga malah kena serangan jantung.
Melotot & Menangis
Tadi malam saya pergi bermain biliar di Batavia Sport di jalan Panjang Green Garden. Ini memang tempat favorit kami bermain biliar. Di beberapa sudut ruang ditempatkan televisi yang ukurannya cukup besar, mungkin 20″ atau 21″. Kami sendiri malah tidak menikmati televisi tersebut, yang menikmati malah si Mbak penjaga meja. Anda bisa menebak apa yang ditonton oleh si Mbak? Tepat kalau Anda menjawab SINETRON.
Kami bermain dari sekitar pukul 7 malam sampai pukul 10. Dan sepanjang itu pula si Mbak menikmati beberapa tayangan sinetron yang ada di salah satu stasiun televisi swasta, RCTI kalau tidak salah. Karena saya datang ke situ bukan untuk nonton televisi, saya memilih untuk bermain saja memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Poin cerita saya kali ini adalah mau mengomentari tayangan sinetron yang semalaman menghiasi layar televisi di tempat biliar tadi.
Lucunya tiap kali saya melirik ke televisi (oh ya televisinya digantung di dinding, dengan posisi lebih tinggi dari kepala kami), yang saya lihat hanya 2 macam adegan : menangis & melotot. Boleh percaya boleh tidak sepanjang malam tadi (selama kami main) ada setidaknya 3 judul sinetron yang disaksikan si Mbak penjaga meja. Masuk akal juga sebab rata-rata tayangan sinetron berdurasi 1 jam, kami bermain selama lebih kurang 3 jam maka wajar ada 3 judul sinetron yang ditampilkan. Benar-benar heran saya, kok tiap kali saya melirik ke televisi yang ada adalah adegan si tokoh menangis. Adegan menangis ini cukup mendominasi diikuti dengan mata melotot yang dipertontonkan si tokoh. Entah apa isi ceritanya kok banyak menangisnya.
Kalau Anda pecinta sinetron pasti hafal dan tahu persis kalau banyak adegan menangis dan melotot di dalam sinetron. Nah bagi Anda yang belum tahu, coba saja kapan-kapan kalau Anda punya waktu luang dan tidak punya kerjaan lain yang bermanfaat
coba Anda duduk manis di depan televisi sekitar pukul 7 sampai 10 malam. Jangan buka Metro TV, CNN, atau Discovery Channel tapi buka dan tonton saja stasiun televisi lokal semacam SCTV, Indosiar, RCTI, atau TPI. Saya jamin dalam waktu beberapa jam Anda akan tahu dan setuju dengan pendapat saya kalau sinetron dipenuhi dengan adegan menangis dan melotot
.
Saya termasuk orang yang tidak suka dengan yang namanya sinetron, adegannya kok menangis dan melotot terus. Apa tidak bisa ya membuat sinetron yang agak berbobot seperti Si Doel Anak Sekolahan misalnya. Atau mungkin memang tayangan begitu yang diminati dan dinanti-nanti pecinta sinetron di Indonesia?
Oh ya mungkin ini juga bisa jadi acuan buat para ABG (ibu-ibu juga boleh) yang berminat jadi artis sinetron : latihan dulu nangis dan biasakan diri Anda melotot…dijamin gampang dapat peran di sinetron ![]()
Roy Suryo & Supersemar
Pagi ini saya senyum-senyum sendiri menonton berita di ANTV. Roy Suryo diberitakan tampil lagi membeberkan bukti sejarah. Dalam sebuah acara di Solo, RS mengungkapkan bahwa Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) bukan merupakan perintah pemindahahan kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada LetJend Soeharto. Dalam upaya pembuktiannya RS memperdengarkan rekaman suara pidato Pres. Soekarno. Rekaman pidato tersebut berisi pernyataan tegas bahwa Supersemar adalah surat perintah untuk mengamankan negara — bukan mengambil alih kekuasaaan.
Sensasi lain dari RS? Kita tunggu saja ![]()



