Picasa On Linux
Since I’ve collected many pictures from my camera, I used Picasa for manage them. Usually I using Picasa for Windows on my notebook, because in office I use Windows for work. Beside Microsoft Windows, I also installed Ubuntu Linux on my notebook. Sometimes I prefer to use Ubuntu especially when I using my notebook at home.
When I used Ubuntu, I got stuck to see my pictures collections which lay on Windows partitions. Ubuntu has F-Spot Photo Manager to provide the user a software for managing their photo collections. But I don’t like F-Spot Photo Manager, it doesn’t have good feature and poor of their user interface.
This morning I tried to search whether Google provide Picasa for Linux user. Good for Google that provide us Linux version of Picasa. I just download them from Picasa site. They provide three types of Picasa for Linux : *rpm installer, *deb installer, and *bin installer. Although I use Ubuntu which using Debian based software management, I prefer to get *bin installer. So I download the installer : picasa-2.2.2820-5.i386.bin.
For me, the *bin installer more easy to use. The step for install Picasa are like this :
- To have the installer become executable, I change them using
chmodcommand like this :
root@tedy:/home/tedy# chmod a+x picasa-2.2.2820-5.i386.bin - After that I just run them like run a executable script :
root@tedy:/home/tedy# ./picasa-2.2.2820-5.i386.bin - When I run them, the installation wizard will pop up, and it’s easy for me to just follow their instructions. Same like Windows installation wizard, just click Next and Next
By default Picasa will put the installation on /opt/picasa. - Yup…installation process completed for very short time. To start Picasa, just type the
binfile :
root@tedy:/usr/bin# /opt/picasa/bin/picasa
See the Picasa on my Ubuntu Linux; it’s very similar with my Picasa that run on my Windows OS.

Thanks for Google to care with Linux user like me ![]()
Pasang Server & Storage
Hari Selasa dan Rabu kemarin saya ditugaskan bos memasang Fujitsu Primepower 450 dan Fujitsu Eternus 2000 di kantornya Icon+. Icon+ kantornya terletak di kompleks gardu PLN Gandul. Bener-bener jauh tempatnya….tempat jin buang anak nih
. Dari kantor saya di Sudirman, saya butuh waktu hampir 1.5 jam perjalanan. Ini gambar papan nama PLN yang saya ambil saat pulang siang kemarin.
Server Primepower yang saya pasang sudah dipasangi Solaris 9 (pernah saya cerita di sini). Hari Selasa saya mounting 4 server dan 2 Eternus ke dalam rak. Berdua dengan rekan saya, Wira, pekerjaan mounting ini cukup melelahkan…berat euy servernya. Setelah terpasang ke dalam rak, tugas saya berikutnya adalah mengubah ukuran RAID group di dalam Eternus lalu menghubungkannya dengan server. Ini gambar yang saya ambil di salah satu rak :
Karena proses format disknya Eternus butuh waktu berjam-jam, hari Selasa malam saya tinggal pulang saja. Waktu juga sudah jam 8 malam lebih. Rabu pagi saya balik lagi ke PLN Gandul. Tinggal menghubungkan Eternus dengan server supaya server bisa dapat harddisk. Ini sih cepat, mulai kerja jam 11 siang, sebelum jam 1 sudah beres. Pulang deh ke kantor, sebelumnya mampir dulu di mal Cinere makan siang di sana. Belum selesai tugas saya Selasa sore kemarin. Tugas berikutnya adalah pergi ke Toyota, mengganti internal disk yang rusak di server SunFire V890. Di postingan berikutnya saja ceritanya.
Linux Backup Script
Di bawah ini adalah script untuk proses backup sehari-hari server kami di kantor :
Script di atas dibuat untuk mengotomatisasi proses backup file server yang dipakai oleh kami yang ada di tim UNIX. Server ini sebenarnya PC Fujitsu Deskpower yang dijadikan file server dengan OpenSUSE 10.3 sebagai sistem operasinya. Sebenarnya ada beberapa Fujitsu Primepower server yang bisa dipakai. Cuma entah mengapa bos saya memutuskan untuk menggunakan desktop ini sebagai file server. Dulu saya dan rekan saya, Ramdhan, yang menginstal OpenSUSEnya. Lalu saya yang mengkonfigurasi Samba supaya kami yang sehari-hari menggunakan Windows di notebook bisa dengan mudah mengakses file server tadi.
Setelah file yang ditaruh semakin banyak, jadi timbul kebutuhan untuk mengamankan data-data yang ada. Saya lalu memanfaatkan sebuah Fujitsu Primepower 450 sebagai NFS server untuk menjadi tempat menaruh backup-nya. Supaya gampang saya menggunakan perintah tar untuk melakukan backup. Supaya proses backup-nya otomatis, maka saya buatkan script di atas lalu saya daftarkan di crontab OpenSUSE. Saya jadwalkan proses backup berjalan jam 8 malam. Benar-benar script bodoh-bodohan untuk membuat pekerjaan backup jadi otomatis
Script itu saya buat di sela-sela pekerjaan saya yang lain. Lumayan lah, saya puas dengan hasilnya. Puasnya karena saya jadi terpacu untuk belajar bash scripting lagi ![]()
Awalnya saya hanya buat script untuk mem-backup saja. Tapi dipikir-pikir bisa penuh lama-lama NFS server-nya. Maka saya tambahkan script untuk membatasi jumlah backup file hanya 3 hari ke belakang saja. Sudah beberapa minggu ini saya pantau terus hasilnya tiap pagi saat datang kantor. Memeriksa apakah backup sudah sukses semalam. Satu bagian yang kurang, membuat script ini mengirimkan email ke saya secara otomatis untuk melaporkan hasil proses backup tiap malam. Ini tentu akan memudahkan saya untuk memantau hasil backup, tinggal lihat email report-nya saja.
Instalasi Solaris - How To
Iseng bikin contoh cara instalasi Solaris 9 di Fujitsu server. Silakan dilihat di sini (8.6MB). Gambar-gambar yang ada di dokumen tadi adalah hasil capture sewaktu saya instalasi Solaris. Dokumennya baru saya buat Sabtu kemarin sewaktu nganggur di Cirebon. Semoga ada yang dapat manfaat dari tulisan saya tersebut.
Tulisan ini saya daftarkan juga di halaman Download.
4 Solaris in 5.3 Hours
Hari ini saya menginstal Solaris 9 ke 4 buah server Fujitsu Primepower 450. Klien kantor saya kali ini adalah PT Datacraft. Sebenarnya itu server yang akan dibeli oleh PT Icon+ ke PT Datacraft. Jadi saya perlu instal dulu sebelum dikirimkan ke end user.Setelah beres-beres dan persiapan hardware-nya, saya mulai instalasi sekitar pukul setenga h 12 siang. Dengan bermodalkan 1 DVD Solaris 9 dan 6 CD patch Solaris saya instal server pertama. Yang paling lama adalah proses patching, sampai saya selesai makan siang pun belum selesai. Server pertama ini selesai diinstal sekitar pukul 2 siang. Setelah itu saya buat image dari sistem ini dengan bantuan flar. Flar adalah fitur di Solaris untuk membuat image dari sistem dalam bentuk flash archive. Caranya cukup mudah, dengan perintah berikut ini :
bash-3.00# flarcreate -n solaris9 -s -c -R / -x /export/home/fsi /export/home/fsi/solaris9.flar
Image hasilnya dinamai solaris9.flar dan diletakkan di dalam /export/home/fsi. Lihat screenshot di bawah ini saat saya buat image.
Ketiga server sisanya saya instal dengan menggunakan image tersebut. Server pertama tadi dijadikan FTP (file transfer protocol) server, server lain tinggal mengakses image yang saya buat lewat protokol FTP. Lihat gambarnya berikut ini :
Jauh lebih cepat. Tiap server cuma butuh waktu 40 menit; bandingkan dengan server pertama yang butuh waktu hampir 2 jam untuk instalasi Solaris lengkap dengan patch-nya. Jadi total 5 jam lebih 20 menit semua server sudah terinstal. Pulang siang deh ![]()
So, thanks for something called flar and FTP ![]()
NFS Server di Linux & Solaris
NFS (network file system) adalah sebuah protokol berbagi pakai berkas melalui jaringan. Cara menggunakan direktori yang dibagi pakai lewat jaringan di lingkungan Unix adalah seperti berikut ini :
di Solaris :
bash-3.00# mount -F nfs -o 172.16.208.112:/srv/ftp/pwsupport /tedy2di Linux :
pwsupport:~ # mount -t nfs 172.16.209.120:/export/home/mps /data
Dua perintah di atas adalah cara mounting NFS direktori ke dalam local computer. Dalam hal ini, komputer yang melakukan mounting sebuah NFS direktori dikenal sebagai NFS client.
Nah sekarang bagaiman cara mengkonfigurasi NFS server?
Di Linux (kemarin saya coba di OpenSUSE 10.3), semua direktori yang akan dishare didaftarkan di dalam file /etc/exports. Contoh isi file /etc/exports adalah seperti berikut ini :\
pwsupport:~ # more /etc/exports
<font color="red">/srv/ftp/pwsupport</font> <font color="blue">172.16.209.120</font>(rw,sync,no_subtree_check,no_root_squash)
<font color="red">/home/data</font> <font color="blue">172.16.209.116</font>(ro,sync)
Keterangan untuk contoh di atas :
- Bagian yang merah adalah nama direktori yang akan dishare ke jaringan.
- Bagian yang biru adalah nama/alamat IP komputer yang diijinkan mengakses direktori tersebut. Dengan kata lain menentukan NFS client mana yang boleh menggunakan direktori tadi.
- Bagian yang hitam adalah beberapa opsi saat membagi pakai direktori.
- Opsi
rwartinya NFS client boleh mengganti isi direktori/menaruh sesuatu di dalamnya. Jika kita membagi pakai suatu direktori tanpa mengijinkan NFS client ganti opsi ini dengan opsiro.
- Opsi
syncartinya direktori yang dibagi pakai tersebut disinkronisasi terus (NFS client bisa melihat perubahan yang dilakukan orang lain pada direktori tersebut). - Opsi
no_subtree_checkmembuat NFS client bisa mengakses direktori-direktori di bawah / di dalam direktori yang dibagi tadi. - Opsi
no_root_squashmemungkinkan NFS client untuk masuk ke dalam direktori yang telah dimount oleh NFS client. Saat saya belum menambahkan opsi ini, saya sukses mengakses NFS direktori ini tapi saya tidak bisa masuk ke dalamnya. Lihat tampilan eror yang muncul :
bash-3.00# mount -F nfs -o 172.16.208.112:/srv/ftp/pwsupport /tedy2
bash-3.00# df -h
....................
....................
172.16.208.112:/srv/ftp/pwsupport 9.8G 3.4G 6.0G 36% /tedy2<code>
bash-3.00# cd /tedy2
bash: cd: /tedy2: Permission denied
- Opsi
Setelah mendaftarkan direktori yang akan dibagi pakai ke dalam file /etc/exports, kita perlu merestart servis NFS server. Di OpenSUSE caranya adalah seperti berikut ini (ingat untuk mereset servis kita perlu root akses):
pwsupport:~ # service nfs restart
Shutting down NFS client services: done
Starting NFS client services: sm-notify done
Ok, tadi cara konfigurasi di Linux. Di Solaris beda caranya, saya coba di Solaris 10. Untuk mengatur direktori supaya bisa diakses oleh komputer lain menggunakan protokol NFS, semua direktori yang akan dishare didaftarkan ke dalam file /etc/dfs/dfstab. Isi file ini adalah seperti berikut :
bash-3.00# more /etc/dfs/dfstab
share -F nfs -o rw=<font color="blue">app-server</font>,anon=0 -d "share veritas" <font color="red">/export/home/fsi/VERITAS</font>
share -F nfs -o <font color="blue">anon=0</font> -d "tedy share" <font color="red">/export/home/mps</font>
share -F nfs -o rw=<font color="blue">172.16.209.122</font>,anon=0 -d "share emulex" <font color="red">/export/home/fsi/emlx_drv</font>
Keterangan contoh di atas :
- Bagian yang merah adalah direktori yang akan dibagi pakai lewat protokol NFS.
- Bagian yang biru adalah nama/alamat IP komputer yang boleh mengakses NFS direktori tersebut. Jika kita ingin semua komputer bisa menggunakan NFS direktori maka gunakan
<font color="blue">anon=0</font> - Beberapa opsi yang bisa digunakan adalah :
- Opsi
rwberarti NFS client boleh “menulis” ke dalam NFS direktori tersebut. Pilihan lain adalah opsiro(read only). By default, tanpa mendefinisikan opsi ini, Solaris akan membagi pakai direktori dalam mode read only. Opsi dituliskan setelah perintah-o. - Kita bisa memberi keterangan direktori yang dishare tersebut dengan opsi
-ddiikuti dengan keterangan (diketikdalam tanda kutip).
- Opsi
Setelah mendaftarkan semua direktori ke dalam file /etc/dfs/dfstab kita harus mereset servis NFS server terlebih dulu, di Solaris 10 caranya adalah seperti berikut ini :
bash-3.00# svcadm restart svc:/network/nfs/server
Sementara di Solaris 9 caranya adalah seperti ini :
bash-3.00# /etc/init.d/nfs.server restart
Nah kurang lebihnya seperti itu cara bodoh-bodohan melakukan sharing direktori via NFS protokol baik di Linux maupun di Solaris….semoga berguna.
Man Pages
Salah satu yang saya suka bekerja di lingkungan Unix/Linux adalah adanya manual untuk setiap perintah. Anda yang terbiasa bekerja di lingkungan Unix/Linux pasti terbiasa, familiar sekali dengan man. Man adalah perintah untuk menampilkan manual/dokumentasi dari setiap perintah yang ada.
Beda sekali kalau bekerja di lingkungan Windows. Memang di lingkungan Windows hampir semuanya tinggal klik-klik, semua ada GUInya (graphical user interface-nya), kalaupun butuh bantuan ada menu Help. Coba saja gunakan help di lingkungan command promptnya Windows; susah, tidak lengkap & kurang informatif. Menurut saya man pages di lingkungan Unix lebih informatif, lebih detail dalam mendokumentasikan setiap perintah yang disediakan. Lihat contohnya seperti berikut ini :
Contoh sederhana saat saya lupa bagaimana sih menggunakan perintah find. find adalah perintah untuk mencari file dengan kata kunci pencarian tertentu. Banyak perintah memerlukan beberapa argumen untuk dapat bekerja, termasuk perintah find. Misalnya kita ingin mencari file dengan nama bootparams. Perintah yang digunakan seharusnya adalah seperti berikut ini :
# find / <font color="red">-name</font> "bootparams" <font color="red">-print</font>
Bagian yang dicetak merah adalah argumen. Argumen ini perlu ditambahkan supaya perintah find dapat bekerja. Nah repot kan kalau tahu perintahnya tapi lupa apa saja argumen yang dibutuhkan. Dengan bantuan man pages kita bisa lihat (atau sekadar mengingat kembali) bagaimana menggunakan perintah find dengan tepat. Kita tinggal menggunakan perintah :
# man find
Dengan perintah di atas, sistem akan menampilkan halaman manual dari perintah find. Lengkap mulai dari definisi & fungsi perintah tersebut, cara menggunakan perintah, argumen-argumen yang dibutuhkan, opsi-opsi yang disediakan, sampai contoh cara penggunaan. Hampir semua perintah punya man pages sendiri. Jadi tidak ada alasan orang sulit mempelajari Unix/Linux, bahan belajarnya sudah ada semua kok…tinggal masalahnya mau apa tidak baca man pages. Tapi kadang kalau sedang buru-buru saya lebih senang bertanya pada yang lebih ahli
, mungkin karena saya orang auditori juga kali ya.
(Ditulis buru-buru ditunggu teman mau pergi biliar
)
OpenSUSE 10.3 as File Server
Last week I received one PC to set up as a file server. I choose OpenSUSE 10.3 as operating system. There are 2 reasons why I choose OpenSUSE :
- I’ve tried it before and it was success.
- I thinks it’s easy to configure.
That PC is belong to my friend who has a small medium company. He needs to prepare a file server because his company growing rapidly right now. And file server is one of the several things that he must to prepare to support his business. May be next month I will help him to configure proxy and internet gateway. To play as a file server I use the Samba services in OpenSUSE. For some of you, Samba is a network protocol that provide file sharing between Unix (Linux also) operating system and Windows operating system. So that both of the operating system can change the informations over the IP network.
Here is what I was do to set a cricket PC (in Indonesian = “PC Jangkrik” / PC rakitan
) as a file server :
- Install OpenSUSE to the PC, just easy with a nice graphical menu and sophisticated menu.
- In the software/package selections, I give mark in file server choice.
- When OpenSUSE has been installed in the PC, I create a directory called “data” with this command :
file-server:/etc/samba # mkdir /home/data - The next step is edit
/etc/samba/smb.conffile so that the file contain this configurations (using root account):
file-server:/etc/samba # more /etc/samba/smb.conf
# Global Parameters
workgroup = home
netbios name = Samba
encrypt password = yes[data]
path = /home/data
read only = no
browseable = yes
valid users = tedy, edi - After that restart the samba services using this command :
file-server:/etc/samba # /etc/init.d/smb restart - The next step is add some valid user to access the Samba file server using this command :
file-server:/etc/samba # smbpasswd -a edi - I turn off the firewall using yast (I think the firewall in OpenSUSE blocked the Windows client to access Samba directory). This one is another issue to fix next time, how to enable firewall in OpenSUSE without disturb Samba services.
It was done. I check to access the server using my Windows notebook (using cross cable). First I change IP address so that my notebook has the same network IP address. To access the Samba directory, I use Run menu in Windows Start Menu and type "\\172.168.1.1\data" and it’s works. One dialog box appear, I must complete username & password verifications to enter Samba directory.
Terminal Emulator
Anda yang bekerja di dunia computer networking atau bekerja sebagai sistem administrator pasti kenal dengan yang namanya terminal emulator. Itu loh program yang bisa dipakai melakukan telnet, ssh, atau rlogin. Tiap sistem operasi komputer sebenarnya sudah dilengkapi dengan program ini. Windows misalnya sudah dilengkapi dengan MS DOS Prompt (yang kemampuannya pas-pasan). Sayang MS DOS Prompt ini tidak bisa dipakai sebagai ssh client. Di Unix atau Linux kita bisa langsung menggunakan terminal untuk membuka koneksi telnet, ssh, rlogin. Windows memang banyak kelemahan kalau dipakai untuk mengakses terminal remote computer….gak percaya? Coba saja bagaimana susahnya mau meng-copy keluaran telnet session, gak bisa langsung block-right click-copy. Tidak heran kalau banyak program terminal emulator di Windows yang bisa digunakan untuk pekerjaan tadi, mulai dari yang gratisan sampai yang berbayar.
Ada banyak program terminal emulator (di Windows) yang bisa dipakai untuk mengakses server secara remote; di antaranya adalah (sumber : Wikipedia) :
- PuTTY - gratis
- TeraTerm - gratis
- SecureCRT - tidak gratis
- Poderosa - gratis tapi repot karena butuh .NET Framework 2.0
Dua program pertama adalah yang sering saya pakai saat ini. PuTTY adalah terminal emulator gratisan. Dibuat oleh Simon Tatham pada tahun 1997. Kalau Anda memerlukan PuTTY silakan download sendiri di sini. Saya sendiri kurang suka dengan PuTTY (meskipun kadang-kadang masih pakai). Saya lebih suka menggunakan TeraTerm. TeraTerm selain bisa dipakai sebagai telnet & SSH client, bisa digunakan juga untuk mengakses serial port. Aplikasi ini adalah hasil buatan T. Teranishi (orang Jepang) pada tahun 1996. Yang minat mencoba TeraTerm silakan download di sini.
Ada beberapa hal yang membuat saya lebih memilih TeraTerm daripada PuTTY :
- TeraTerm bisa dipakai mengakses serial port.
- Gampang menyimpan log (terminal ouput) dari tiap session yang dibuka.
- Bisa menyimpan banyak IP di cache-nya. Jadi gak perlu lagi mengetik ulang tiap IP yang sudah pernah diakses. Di PuTTY kita memang bisa menyimpan alamat IP yang sering kita akses. Tapi kok sepertinya lebih repot. Saya juga heran kenapa orang mau repot ketik ulang alamat IP setiap kali menggunakan PuTTY.
- Pengaturan jenis dan warna font/background lebih mudah dilakukan.
Kembali ke masalah selera sih. Yang penting kan pekerjaan bisa terselesaikan dengan mudah
.
Wget & md5sum
Ah sukses juga akhirnya semalaman titip download CD FreeBSD di server kantor
. Lihat log-nya
tedy@pwsupport:~> tail wget-log
654250K .......... .......... .......... .......... .......... 99% 60.58 KB/s
654300K .......... .......... .......... .......... .......... 99% 58.83 KB/s
654350K .......... .......... .......... .......... .......... 99% 60.48 KB/s
654400K .. 100% 82.57 KB/s
04:58:20 (31.94 KB/s) - `arsip.or.id/freebsd/ISO-IMAGES-i386/6.2/6.2-RELEASE-i386-disc2.iso' saved [670107648/670107648]
FINISHED --04:58:20--
Downloaded: 670,107,648 bytes in 1 files
Oh ya ini gara-gara iseng download ini saya jadi tahu caranya memanfaatkan wget untuk men-download sesuatu. Tepatnya saya jadi tahu caranya mengatur wget supaya bisa berjalan di background (dengan opsi -b), supaya bisa mengulang proses jika koneksi terputus (dengan opsi -r), dan supaya bisa auto resume (dengan opsi -c) tiap kali proses download gagal. Hasil download tadi diawali dengan perintah berikut ini :
tedy@pwsupport:~> wget -b -c -r 20 http://arsip.or.id/freebsd/ISO-IMAGES-i386/6.2/6.2-RELEASE-i386-disc2.iso
Untuk memeriksa keutuhan data hasil download, saya menggunakan tool yang ada di Linux yaitu md5sum. MD5 sendiri adalah algoritma untuk memeriksa keutuhan data (baca selengkapnya di sini). Lihat cara memakai md5sum seperti berikut ini :
tedy@pwsupport:~/arsip.or.id/freebsd/ISO-IMAGES-i386/6.2> md5sum 6.2-RELEASE-i386-disc2.iso
<font color="red">fd30bfc65ef8adaa67aeffd07c72bf21</font> 6.2-RELEASE-i386-disc2.iso
Hasil cek md5sum tinggal saya bandingkan dengan data md5sum yang ada di web sumbernya. Tiap web yang menyediakan file untuk di-download biasanya menyertakan data md5sum untuk memudahkan pengguna memeriksa keutuhan hasil download-nya.











