Blognya Tedy Tirtawidjaja

Kumpulan tulisan dan curahan pikiran saya yang bodoh ini

Padang (part 2) - Tentang Minangkabau


Ini cerita tentang asal usul kata Minangkabau yang saya dapat dari Bang Roni (supir taksi yang tadi mengantar saya ke bandara). Awalnya saya iseng saja tanya, sebenarnya apa sih arti kata Minangkabau. Lalu dia bercerita lebih kurang seperti ini :

Minangkabau (minang + kabau) katanya berarti “menang kerbau”. Dulu katanya ada dongeng tentang asal usul nama Minangkabau, ada orang Padang (atau Sumatra Barat tepatnya) yang menang perlombaan adu kerbau. Katanya dulu saat ada pertandingan adu kerbau, orang dari Padang pakai akal-akalan supaya bisa menang dalam perlombaan adu kerbau. Tidak jelas juga siapa lawan orang Padang ini. Si Padang memilih untuk menggunakan anak kerbau yang masih menyusu. Tentu ini hal yang aneh karena umumnya orang akan menggunakan kerbaunya yang besar, kekar, dan kuat supaya bisa menang adu kerbau. Tapi si Padang memang punya 1001 akal supaya bisa menang. Anak kerbau yang masih menyusu dengan induknya, sengaja tidak diberi kesempatan menyusu selama beberapa hari.

Di hari pertandingan, lawan orang Padang tadi membawa kerbau betina besar yang kuat dan sepintas terlihat pasti menang pertandingan adu kerbau. Ah mungkin ini tragis, masa ada kerbau besar & kuat lawan anak kerbau yang masih menyusu. Tapi akal si Padang memang sadis (sadis apa licik ya? :D ), dipasanginya kepala si anak kerbau dengan sebilah pisau. Terus apa hubungannya dengan menang lomba? Berhubung si anak kerbau belum menyusu selama beberapa hari, ketika dilepas bertarung si anak kerbau ini malah mengejar lawannya untuk mencari susu. Akibatnya tentu sudah bisa diduga, saat si anak kerbau mencoba menyusu pada kerbau lawannya; pisau yang ada di kepalanya merobek perut kerbau besar tadi. Menanglah si Padang dalam lomba tadi, dapat hadiah kerbau. Dari situ muncul istilah “minang + kabau” (terjemahan bebasnya memenangkan kerbau).

He..he..he…rupanya begitu sejarahnya. Entah benar atau tidak lah wong ini cuma cerita versinya Bang Roni. Mungkin kalau ada orang Padang asli yang baca blog ini & punya versi yang lebih akurat bisa beritahu saya.

Oh ya, cerita di atas sekaligus menjawab keheranan saya mengapa rumah adat Sumatra Barat selalu beratap lancip. Lihat saja contohnya pada foto atap bandara internasional Minangkabau di samping ini. Katanya lancipnya atap rumah adat Padang itu menggambarkan kepala & tanduk kerbau. Hmm…masuk di akal sih kalau dihubungkan dengan cerita asal usul kata Minangkabau tadi. Lihat juga logo Semen Padang, juga menggunakan gambar kepala kerbau.

Rupanya kerbau mendapat tempat tersendiri dalam arsitektur rumah adat di Indonesia. Rumah adat lain yang saya tahu berkaitan dengan kerbau adalah rumah adat Toraja. Di Toraja Sulawesi, rumah adatnya berhiaskan tanduk-tanduk kerbau yang disusun ke atas. Nyambung gak sih sama cerita tentang Minangkabau? Yah yang penting ada kerbaunya lah :))

Hmm..saya baru sampai di rumah sekitar pukul 10 malam ini. GA165 yang saya tumpangi delay 1 jam lebih. Sore tadi sekitar pukul 4 saya ditelepon petugas Garuda Padang, dia mengabarkan bahwa pesawat akan mengalami delay sekitar 30 menit dari jadwal semula 18.25. Padang sore tadi hujan deras, petir juga ikut meramaikan suasana. Sepanjang penerbangan ada lebih kurang 3x saya lihat petir dari dalam pesawat. Ah..benar-benar perjalanan yang tidak menyenangkan.


Padang (part 1) - Hotel Ambacang


Selasa pagi saya berangkat ke Padang. Dari rumah saya berangkat sekitar pukul setengah 5 pagi. Mungkin karena hari ini adalah hari pertama setelah long weekend kemarin, bandara Soekarno Hatta ramai sekali. Penerbangan ke Padang dari Jakarta hanya 2 kali setiap harinya. Sepikah orang yang bepergian Jakarta-Padang sampai-sampai Garuda hanya punya 2 flight tiap harinya? Yang pertama pukul 06.05 yang kedua pukul 4 sore. Cukup menyebalkan berangkat dengan pesawat pagi, tidur semalam rasanya tidak tenang. Alhasil dari jam 12 lebih saya tidak tidur lagi sampai pagi.

Pagi ini kota Padang mendung cuacanya. Sepintas kesan yang saya tangkap, kota Padang itu cukup hijau. Perjalanan dari bandara internasional Minangkabau menuju hotel Ambacang, saya selalu melihat pepohonan & jalur hijau di mana-mana. Di tengah kota pun, pepohonan dan jalur hijau di tengah jalan pun cukup terawat. Kali ini saya menginap di hotel Ambacang, hotel ini ada di jalan Bundo Kanduang no 14-16 Padang 25119 (teleponnya 0751-39888….udah kaya biro iklan aja ya pake nyantumin nomor telponnya =)) ). Saya sampai di hotel ini sekitar pukul setengah 9, perjalanan dari bandara Minangkabau ditempuh dalam waktu lebih kurang 30 menit. Berikut review singkat hotel Ambacang dalam komik :

Pelayanan room service cukup OK, pesanan makan saya datang cepat. Yang membuat saya surprise adalah setelah beberapa menit, pelayan menelepon lagi apakah piring kotornya bisa diambil kembali. Wah berkali-kali menginap di hotel, baru kali ini ada layanan mengambil piring kotor. Biasanya di hotel, piring kotor akan diambil oleh petugas saat membersihkan kamar keesokan harinya. Atau bisa saja tamu meletakkan piring kotor di depan pintu kamar supaya diambil petugas cleaning service. Tadi saya pesan ayam goreng Ambacang. Aneh rasanya, ada rasa jamu di dalam ayamnya. Mungkin kemarin ayamnya masuk angin jadi baru saja minum jamu :))

Tadi sempat mendapat bonus mencicipi mati lampu juga di hotel :) (sebentar sih tapi cukup berkesan). Fasilitas internet di hotel ini ada di lobi, lagi-lagi layanan Telkom Hotspot yang bisa dinikmati dengan membeli voucher iVas. Menurut petugas resepsionis, di lantai 2 hotel ini juga ada business centre dengan layanan internet dengan biaya Rp18.000,-/jam. Hmmm…murah atau mahal ya? Tapi di business centre tamu tidak bisa memakai notebook pribadinya, sudah disediakan PC untuk dipakai berinternet. Jadi mau tidak mau saya pakai layanan Telkom Hotspot di lobi dengan voucher seharga Rp35.000,- untuk pemakaian selama 4 jam (seperti sekarang ini saat posting tulisan ini).


Rel Kereta & Pemukiman Kumuh


Kalau saya naik kereta api dari Cirebon menuju Jakarta, pemandangan yang saya lihat mula-mula adalah hamparan sawah yang menghijau (atau menguning kalau menjelang panen). Nah cara mendeteksi apakah sudah dekat dengan Jakarta apa belum, lihat saja pemandangan di luar.

Apakah sudah muncul deretan pemukiman kumuh di sepanjang rel kereta api? Jika ya, dapat dipastikan kereta sudah mulai mendekati wilayah Jakarta :-p Foto di samping ini adalah foto yang saya ambil beberapa saat setelah kereta api meninggalkan stasiun Jatinegara. Ini adalah pertanyaan yang muncul di benak saya saat tadi pagi pulang ke Jakarta dengan kereta Argo Jati : mengapa banyak pemukiman kumuh di sisi-sisi rel kereta api? Apa sih istimewanya rel kereta api, sampai-sampai banyak orang nekat membangun rumah seadanya di sana? Ada hasil analisis bodoh-bodohan melintas di benak saya, di antaranya adalah :

  1. Daerah di pinggiran rel kereta api mungkin adalah milik PT KAI. Jadi mereka asal saja membangun rumah/gubuk di sana, tanpa takut diusir oleh pemilik tanah. Pemilik tanahnya kan PT KAI jadi mungkin PT KAI termasuk golongan ramah terhadap penduduk pemukiman kumuh di sekitar rel kereta api. Atau mungkin karena PT KAI terlalu sibuk mengurusi perkeretaapian Indonesia jadi tidak punya waktu mengurusi daerah pemukiman kumuh yang berada dekat dengan rel kereta api.
  2. Mereka yang tinggal di sana adalah perantau dari daerah yang mencoba mengadu nasib ke Jakarta. Berhubung proses perantauannya gagal, mereka jadi bermukim di daerah-daerah yang dekat dengan stasiun kereta api. Asumsi tentu mereka dulu awalnya datang ke Jakarta dengan menumpang kereta api.
  3. Tinggal di sekitar rel kereta api cukup menguntungkan bagi bisnis mereka. Misalnya daerah-daerah rel kereta api yang juga dekat dengan stasiun kereta api, mereka mungkin banyak juga yang menggantungkan usahanya dari perkeretaapian. Entah itu jadi kuli angkut di stasiun, jadi pendagang asongan yang sering nekat loncat ke dalam kereta api saat ada kereta api yang berhenti, atau jadi pemulung sisa-sisa barang yang ditinggalkan penumpang kereta api (entah itu koran bekas, botol air minum, atau mungkin roti jatah penumpang kereta).

Kalau mau dianalisis lebih jauh harusnya PT KAI bertanggung jawab dalam mengamankan daerah pemukiman kumuh di pinggiran rel kereta api. Di beberapa titik, pemukiman yang dibangun benar-benar padat dan benar-benar dekat sekali dengan rel kereta api. Apa jadinya kalau terjadi kebakaran di pemukiman itu? Sudah pasti jadwal perjalanan kereta api akan terganggu. Beberapa tahun lalu saya pernah mengalami keterlambatan yang luar biasa, saat terjadi kebakaran hebat di pemukiman padat penduduk di daerah Manggarai. Selain itu rasanya kok gak nyaman di mata melihat pemandangan pemukiman kumuh selama perjalanan. Ah sudahlah…bukan urusan saya juga kan, tadi cuma sekadar pemikiran bodoh-bodohan saya melihat daerah-daerah kumuh di sepanjang rel kereta api.


15 Jam Di Cirebon


 Hari Minggu kemarin saya pulang ke Cirebon. Sialnya saya hanya dapat tiket bisnis kereta Cirebon Express. Kelas bisnis kereta api tentu beda dengan kelas bisnisnya Garuda. Duduk di kelas bisnis KA Cirebon Express cukup menyiksa….panas. Gerbong kelas bisnis hanya dilengkapi dengan kipas angin. Itupun tidak cukup mengusir panas & gerah perjalanan di siang hari kemarin. Belum lagi perjalanan yang terlambat dari jadwal. Tapi tiket bisnis Cirebon Express masih malah loh, Rp60.000,-. Bandingkan dengan tiket kereta api eksekutif Argo Gede (Jakarta-Bandung) yang dibanting jadi Rp45.000,-. Minggu kemarin saya berangkat dari stasiun Gambir sekitar pukul 11.10 dan baru sampai di stasiun Cirebon sore pukul 3 kurang 10 menit. Perjalanan yang teorinya hanya sekitar 3 jam, harus saya tempuh selama hampir 4 jam. Tidur tidak nyaman, baca juga tidak nyaman. Ah pokoknya kemarin saya benar-benar tersiksa di kereta, pengennya cepat-cepat sampai di Cirebon.

Sampai di stasiun Cirebon, saya segera menuju tempat reservasi tiket untuk beli tiket pulang hari Senin ini. Ternyata tiket kereta api eksekutif hanya tersedia jam 6 pagi, kereta api Argo Jati. Mungkin sih kalau Senin ini saya langsung antri di loket, saya masih bisa dapat tiket kereta selain kereta jam 6 pagi. Tapi saya tidak mau ambil resiko, berhubung saya sudah pegang tiket untuk berangkat ke Padang Selasa pagi besok.

Jadilah saya pulang ke Cirebon hanya sekitar 15 jam. Tadi pagi saya pulang lagi ke Jakarta dengan kereta api Argo Jati pukul 05.45. Tadi sih perjalanan boleh dibilang tepat waktu. Berangkat dari Cirebon pukul 05.45 sampai di Jakarta pukul 08.40 (terlambat 8 menit dari jadwal yang tercetak di karcis..cukup bisa ditolerir). Pagi ini saya malah kedinginan di kereta. AC gerbong kereta Argo Jati mungkin diset maksimum. Enak sih untuk tidur, tapi kalau tidak bawa jaket seperti saya ya cukup tersiksa. Halah, komplain terus ya…kepanasan ngomel, kedinginan ngeluh :-p mau lu apa sih? Maunya sih perjalanan seperti tadi pagi, dingin, on time, & bawa jaket biar bisa nyaman tidur ;))

Hmm…sepi ya Jakarta kalau libur panjang seperti sekarang ini. Eh foto di atas adalah salah satu foto yang saya ambil di jalan naik becak dari stasiun menuju rumah. Yang ada di foto tersebut adalah gambar gerbang pelabuhan Cirebon. Pelabuhan Cirebon (kalau tidak salah disebut Pelabuhan Tanjung Mas) sendiri punya 3 pintu gerbang. Nah yang di foto itu adalah foto gerbang I.


Review Family Gathering Hotel


Di beberapa tulisan sebelumnya, saya bercerita soal kegiatan Family Gathering yang saya ikuti akhir pekan lalu di Puncak. Ada satu yang tertinggal dari sana, review hotel Safari Garden yang digunakan sebagai tempat Fujitsu Family Gathering 2008. Seperti biasa, reviewnya dalam komik saja :


Makassar (part 6) - Pulang


Akhirnya Jumat pagi kemarin saya pulang juga ke Jakarta. Hampir kemarin harus extend sampai Sabtu karena tidak ada seat Garuda yang available. Kamis sore saya dapat juga seat flight Jumat jam 7 pagi. Jumat subuh saya belum tidur semalaman, tidak bisa tidur tepatnya. Jam 5 setelah breakfast, saya segera berangkat ke bandara Hasanuddin. Walaupun masih pagi dan langit masih gelap, bandara Hasanuddin masih ramai. Antrian di konter Garuda pun sudah panjang. Rupanya pagi ini ada rombongon peserta umroh yang akan berangkat ke Jakarta, pantas pagi-pagi sudah ramai sekali. Tadi pagi penerbangan Garuda GA 611 memakai pesawat Airbus A330-300, saya duduk hampir di belakang sekali…nomor 41J. Tiba di Jakarta sekitar pukul 08.30; saya pikir awalnya Jakarta sedang hujan karena sebelum mendarat langit Jakarta gelap sekali, ternyata tetap saja panas cuaca pagi tadi.


Makassar (part 5) - Family Gathering 3


Saat ikut Family Gathering 2008 akhir pekan lalu, saya mengambil banyak foto dari rekan-rekan kantor. Banyak di antara foto-foto tersebut menampilkan hubungan-hubungan yang akrab antara keluarga mereka, juga hubungan kasih sayang yang manis antara anak dan orang tua. Foto-foto tersebut saya rekap dalam 2 komik yang bisa Anda lihat di bawah ini.

Komik pertama yang saya buat setelah pulang dari acara gathering adalah komik tentang hubungan anak & ayahnya (ayahnya tentu teman-teman kantor saya…masa saya berteman sama bayi :)) ). Lucu juga melihat mereka yang sehari-hari di kantor, di sana terlihat benar sifat & tingkah laku “kebapakannya” :D . Komik di atas tentu hasil imajinasi saya saja, mana ada bayi bisa mikir macem-macem kan :))

Komik kedua di atas adalah komik tentang hubungan keakraban antara keluarga rekan-rekan (dan keluarga manajer - Pak Djanuar & Pak Made) saya di kantor. Ada yang sudah bawa anak banyak, ada juga rekan saya Hari yang masih adem ayem berdua saja dengan istrinya (maklum masih bisa digolongkan pengantin baru). Sepintas rekan-rekan yang membawa serta keluarganya dalam acara gathering kemarin adalah keluarga yang harmonis. Gak tau juga sih kalau di rumahnya sering banyak cekcok dan “piring terbang” =)) Mudah-mudahan benar harmonis adanya.

Oh ya di sana banyak juga orang yang selalu was-was berkomentar jangan-jangan foto-foto saya akan saya jadikan komik. Mohon maaf pada rekan-rekan yang wajah ganteng/cantiknya saya comot dan saya buat jadi komik :D Sekadar ingin membuat sebuah komik yang tentu saja saya harapkan bisa menjadi kenangan tersendiri dari acara Fujitsu Family Gathering 2008.


Makassar (part 4) - Site Audit


Dua minggu ini saya 2 kali bolak-balik Makassar. Seperti biasa ada pekerjaan di Telkomsel Panakukang Makassar. Kali ini pekerjaannya adalah site audit. Sepintas terdengar keren kan; pake istilah audit segala. Padahal mah site audit adalah pekerjaan bersih-bersih server Fujitsu Primepower 1500 yang dipakai Telkomsel untuk menghitung pulsa pelanggan pra bayarnya. Tidak hanya bersih-bersih memang, tapi ada juga beberapa hal yang perlu diperiksa. Misalnya tegangan listrik yang mensuplai server, lalu memeriksa sistem lewat command line.

Minggu lalu saya ke Makassar bersama dengan Manggar. Saya pulang lagi ke Jakarta hari Jumat lalu. Senin kemarin saya balik lagi ke Makassar, kali ini bersama bos saya Pak Rully. Berikut komik yang saya buat tentang kegiatan site audit ini :)

Minijer* (Manggar) dan manajer (Rully) juga mau kerja loh :))

Minijer = baru jadi manajer, jadi masih mini =))


Makassar (part 3) - Family Gathering 2


Menyambung liputan saya sebelumnya soal Fujitsu Family Gathering 2008, saya buat beberapa komik lainnya. Komik berikut ini adalah tentang tarik tambang juga :

Ini adalah liputan dalam komik kegiatan tarik tambang wanita. He..he..he…selalu ada yang lucu saat lomba tarik tambang diadakan. Persaingan di kelompok wanita memang tidak seketat saat pertandingan di kelompok pria. Entah mengapa tarik tambang wanita lebih banyak ketawa-ketiwinya. Ah mungkin mereka lupa kalau saat kita tertawa tenaga jadi terbuang percuma. Lain halnya dengan pertandingan tarik tambang di kelompok pria, di kelompok wanita tim yang menang bukan yang beranggotakan karyawan berbadan besar. Tim wanita dengan anggota-anggota “besar” malah takluk oleh tim-tim lain. Ya iya lah ketawa terus gimana mau menang.


Makassar (part 2) - Family Gathering


Tulisan ini sebenarnya bukan catatan saya di Makassar, tapi merupakan liputan kegiatan saya akhir pekan kemarin. Sabtu Minggu lalu saya ikut acara Family Gathering kantor. Family Gathering Fujitsu Indonesia tahun ini diadakan di hotel Safari Garden Puncak. Kami semua karyawan Fujitsu Indonesia kumpul di kantor hari Sabtu 9 Agustus 2008 jam 7 pagi. Sekitar pukul 9 pagi rombongan kami meninggalkan gedung Kyoei Prince dengan menggunakan 6 buah bis. Tidak semua karyawan ikut bis, ada juga yang naik/nebeng mobil pribadi. Foto di samping ini adalah foto saat orang-orang mulai naik ke bis masing-masing. Ada 6 bis yang ikut dalam rombongan ini. Jam 10an kami sudah tiba di hotel Safari Garden. Ternyata hotel ini luas sekali, mungkin lebih tepat disebut sebagai resort. Review tentang hotel Safari Garden saya susun dalam bentuk komik, nanti saya muat di postingan berikutnya.

Kami datang di lokasi gathering pukul 10.30an. Setelah mengambil kunci, ada acara pembukaan….biasa lah style Indonesia pake pidato segala. Selain pidato ada juga pengenalan karyawan dari tiap-tiap divisi. Setelah itu baru kami semua makan siang. Makan siang di restorannya hotel Safari Garden, rada-rada teu puguh makanannya. Mungkin ini karena alasan penghematan (masih untung ada acara gathering). Menu makan siangnya cuma nasi, sepotong ikan mas bakar, tahu, tempe, ikan asin, gado-gado, dan sayur asem. Setelah makan siang acara selanjutnya adalah foto bersama. Foto bersama yang juga teu puguh. Dengan kamera biasa mana bisa mencakup gambar ratusan orang. Lebih pas kalau yang memotret menggunakan lensa wide(komplain terus sih..emangnya elo punya kamera & lensa wide?). Acara foto bersama berlangsung singkat saja, lalu kami semua bubar masuk kamar masing-masing.

Setelah masuk kamar dan istirahat sebentar acara dilanjutkan dengan permainan. Permainannya dibagi menjadi 2 bagian, bagian anak-anak dan bagian orang dewasa. Entah apa yang dilombakan di bagian anak-anak, saya tidak mengambil foto-foto di arena anak-anak. Kalau tidak salah dengar sih ada lomba balap bakiak, lomba memindahkan kelereng, dll. Di kelompok orang dewasa permainannya adalah permainan beregu. Maksudnya sih mungkin untuk menjalin keakraban di antara karyawan. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Permainan pertama adalah lomba mengumpulkan bola dengan mata tertutup. Anggota kelompok yang bergantian ditutup matanya untuk mengambil bola yang disebar di lapangan; tentu dengan dipandu oleh teriakan-teriakan rekan kelompoknya.

Permainan dilanjut dengan permainan memindahkan air dengan menggunakan gelas kertas yang diikat di jidat. Setiap kelompok berbaris; dari anggota kelompok yang berbaris paling depan kami harus memindahkan air ke rekan di yang ada di belakang. Cukup sulit memindahkan air dari gelas yang diikatkan ke jidat kami. Ah..tidak ada aturan yang pasti. Diskualifikasi pun tidak ada, yah namanya juga permainan keakraban. Saya ikut serta dalam dua permainan ini, jadi sayang sekali tidak ambil foto-fotonya. Permainan ketiga adalah tarik tambang (standar banget gak sih?). Tarik tambang di mana-mana ya seperti itu. Kelompok dengan anggota-anggota berbadan besar sudah dapat dipastikan memegang sabuk juara :-p Berikut adalah komik lucu-lucuan tentang acara tarik tambang kelompok pria.

Sebenarnya masih ada permainan keempat, kalau tidak salah lomba pukul guling di atas kolam renang (yang kalah tentu basah masuk kolam renang). Saya memilih untuk main biliar sendiri bersama beberapa rekan. Ada 3 meja biliar kecil (7 feet di ruang bar & karaoke hotel). Pukul 6 saya pulang ke kamar, mandi & istirahat sebentar. Yang bikin lelah bagi saya adalah jalan kaki dari satu gedung ke gedung lainnya :( . Aneh juga acara yang harusnya untuk refreshing malah bikin saya capek.

Jam 7 malam acara makan malam dengan hiburan live music, sulap (sulap badut teu puguh juga). Setelah itu ada acara pembagian President Award untuk 3 project dengan revenue terbesar. Ya itu khusus untuk para karyawan yang ikut ambil bagian dalam project….yang tidak ikut ya duduk-duduk saja di meja makan. Acara terakhir adalah pembagian door prize. Kami bubar pukul 11 malam. Saya cuma dapat voucher belanja SOGO senilai Rp300.000,-  Benar-benar melelahkan, masuk kamar langsung tidur tanpa sempat berganti pakaian (ah itu sih dasar aja males & jorok :-p ). Minggu paginya saya bangun kesiangan, jam 7 lebih baru bangun…itupun karena teman saya berbaik hati menelepon membangunkan saya. Buru-buru mandi & cepat-cepat ke restoran untuk sarapan. Setelah sarapan, saya main biliar lagi :D Sebenarnya sih gak enak main di meja kecil nan jelek itu. Tapi daripada gak ada kerjaan ya boleh lah.

Jam 10-an kami meninggalkan hotel Safari Garden menuju Taman Safari Indonesia. Ngapain di Taman Safari? Ya lihat binatang donk.Jam 1 siang kami selesai keliling Taman Safari. Acara berikutnya adalah makan siang…makanannya nasi kotak, lagi-lagi teu puguh. Eh dari tadi saya tulis “teu puguh teu puguh“, Anda ngerti kan maksudnya? Teu puguh itu bahasa Sunda, terjemahan bebasnya adalah “gak bagus“. Berhubung ada rekan saya yang harus berangkat ke Semarang karena ada pekerjaan emergency di sana, saya ikut saja pulang dengan nebeng mobil kantor. Ah lega rasanya kembali ke Jakarta, perjalanan yang cukup macet Puncak Jakarta kami tempuh 2.5 jam. Saya sampai di rumah pukul setengah 4 sore.