Standby Surabaya (part 9) - Pulang
Jakarta masih belum normal 100%, kira-kira begitu kesan pertama saat pulang ke Jakarta siang tadi. Saya sampai di Jakarta sekitar pukul setengah 3 sore, berangkat jam 1 siang dari Surabaya. Jalanan masih cukup lancar benar-benar beda dengan hari-hari biasanya. Sepanjang tol bandara dan tol dalam kota, perjalanan lancar tanpa kemacetan. Masuk kawasan Semanggi pun demikian, biasanya sekitar pukul 3 sore jalanan arah Semanggi pasti padat dan biasanya pula ruas jalan Sudirman arah ke blok M padat merayap. Tapi sore tadi semuanya lancar…menyenangkan. Demikian pula arah ke Tangerang, sore ini lancar. Dari tadi lancar lancar melulu gak ada yang lain….ya kurang lebih cuma itu sih kesan saya saat pulang siang tadi ![]()
Sebelas hari saya di Surabaya, 7 hari biliar, 3 hari ngantor ke Telkomsel, 1 hari preventive maintenance Fujitsu server di BMI. Jadi ini sekaligus menjawab judul jurnal saya minggu lalu Standby Surabaya (part 1) - Liburan / Kerja? Jawabannya jelas….liburan
(menghibur diri biarpun uang allowance standby Lebaran -nya kecil & 6 hari cuma dapat travelling allowance biasa tanpa kompensasi lain
) Ssst…rahasia perusahaan kok diumbar ke media, ketahuan bos bisa bahaya lu. Ya ini namanya resiko jadi orang jujur
Surabaya (part 8) - Linux On USB Drive
Finally I found the simple way to install Linux to my USB stick drive. Few days ago, I read the article on Internet about Unetboot; it’s a Windows application that made for help Windows user install Linux to a USB drive. It’s require at least 1 GB USB drive. After download the source from http://unetbootin.sourceforge.net/ , I want to try it immediately but I didn’t bring any Linux CD. So I decided to download Linux from the Internet, looking for the small Linux distro and Puppy Linux it is. No more painfull way for installed Linux to USB drive.My first plan to try boot from USB was using virtual machines. But unfortunately, both of VMWare and VirtualBox doesn’t provide the USB boot mechanism. So I must try it directly with my notebook.
And here is me now browsing and blogging using Sea Monkey web browser, which is include in Puppy Linux installed on my USB drive. After put in Puppy Linux into my USB, I can run the Puppy installation wizard so that Puppy Linux installed permanently on my USB drive not just live session. It will be nice have tools like this one (unetboot), because whenever I have Linux ISO image I can try it without need to burn it into a cd. I can use my USB drive to try the Linux also without need virtual machine.
** Just another activity to killing boring time at the hotel **
Surabaya (part 7) - Menu Hotel Singgasana Surabaya
Sudah hampir satu minggu saya menginap di hotel Singgasana Surabaya ini. Cerita tentang hotel Singgasana sendiri, sudah saya tuliskan di sini. Sekarang saya ingin cerita tentang menu makan yang disediakan di hotel Singgasana. Sejak Jumat lalu saya sering kali makan di hotel karena malas keluar dari hotel untuk sekadar cari makan. Saya coba beberapa menu yang disajikan di buku menu yang ada di hotel. Daftar menu yang ada di kamar menurut saya kurang lengkap (menurut saya masih lebih lengkap buku menunya hotel Garden Surabaya). Beberapa menu masakan yang sudah saya cicipi, saya rangkum dalam komik di bawah ini :
Nomor-nomor yang ada di gambar di atas menunjukan tingkat “lezat”nya makanan versi saya sendiri
, berikut sedikit catatan dan komentar tentang makanan-makanan tersebut :
- Ikan gurami sambal tomat
Ini adalah menu favorit saya dari beberapa menu yang sudah saya cicipi. Ikan gurami yang disajikan kira-kira ukuran setengah kilo, cukup besar ukurannya untuk dimakan sendiri. Tapi habis juga tuh
malah seringnya nasinya sudah kepalang habis dulu sementara daging ikannya masih banyak. Ikan bakar ini dilumuri bumbu kecap manis dan kacang, bumbu yang pas itu dipadukan dengan segarnya daging ikan plus hitung-hitung harganya membuat menu ini jadi menu favorit saya di hotel Singgasana. Dengan harga sekitar Rp50.000,- ikan gurami ini paling cocok untuk mengenyangkan perut. Sayang kali kedua saya pesan ikan gurami ini, ikannya terlalu gosong. - Daging sapi lada hitam
Sebenarnya di buku menu tidak ada menu sapi masak lada hitam. Saya iseng saja bertanya pada room service apakah ada menu sapi lada hitam, eh ternyata ada. Saya yakin restoran bisa menyediakan sapi lada hitam karena Minggu pagi kemarin, salah satu menu breakfast adalah daing sapi yang dimasak dengan bumbu lada hitam. Untuk harga sekitar Rp85.000,- porsi daging sapi masak lada hitam ini terlalu sedikit. Dagingnya memang empuk tapi rasanya kurang top. Selama jalan-jalan keliling beberapa kota, masakan sapi lada hitam yang menurut saya benar-benar enak adalah yang disajikan di hotel Wisata Palembang dan hotel Sagita Balikpapan. Biarpun masih kurang top, menu sapi lada hitam di Singgasana masih menarik bagi saya makanya saya beri peringkat 2
. - Ayam kampung goreng kalasan
Mungkin karena ayam goreng ini menggunakan daging ayam kampung jadi rasanya enak. Daging ayamnya yang empuk dan kulit ayamnya cukup garing. Bumbunya juga cukup meresap ke dalam daging. Sayang porsinya kekecilan buat saya. Bagi saya ada yang lucu, biasanya gurami bakar lebih mahal harganya daripada ayam goreng. Tapi di sini terbalik, ayam goreng malah lebih mahal harganya daripada gurami bakar. Bagi saya lebih untung pesan gurami bakar daripada ayam goreng….lebih ngejeduk di perut. - Tongseng kambing
Sewaktu memesan tongseng kambing saya membayangkan akan memperoleh sepiring nasi putih dan semangkuk tongseng kambing. Ketika makanan datang kaget juga ternyata tongseng kambingnya tanpa kuah, disajikan bersama nasi dalam 1 piring. Saya pesan tongseng pedas, daging kambingnya kurang empuk tapi masih bisa dimakan sih (bukan kambing binaragawan
). Ada untungnya saya pesan tongseng pedas, rasa yang biasa-biasa saja tertutupi oleh pedasnya rasa tongseng (banyak irisan cabe rawit di dalamnya). - Buntut goreng
Di buku menu tertulis sop buntut/buntut goreng, saya lebih tertarik untuk mencoba makan buntut goreng. Ternyata bedanya hanya daging buntut sapinya terpisah dari kuahnya. Daging buntutnya sudah digoreng dan disajikan terpisah dari kuah sop. Dagingnya tidak terlalu banyak, itupun tidak semuanya empuk. - Bihun goreng
Bihun goreng ini porsinya cukup besar, sebenarnya cocok untuk dimakan berdua. Butuh sedikit perjuangan bagi saya untuk menghabiskan sepiring bihun goreng ini. Rasanya standar saja, mungkin ini pengaruh porsinya yang terlalu banyak jadi agak eneg makannya. Ah tapi tidak, pertama mencicipi bihun goreng ini saya langsung tahu kalau rasanya biasa saja. Hmm kurang nikmat memang makan bihun goreng dengan menggunakan sendok garpu, lebih nikmat rasanya kalau makan mie atau bihun dengan sumpit.
Baru 6 jenis menu makanan yang saya coba di hotel ini. Eh bayarnya belakangan nanti kalau check-out, jadi tiap kali makanan datang saya cukup tandatangan di bonnya saja
Ini gara-gara tiap kali mengantarkan makanan, bell boy-nya menyerahkan bon plus bolpen…ya sudah cukup tanda tangan saja kalau begitu
Overall, makanan di hotel Singgasana ini bisa dibilang enak dan cocok dengan selera saya. Jauh lebih baik daripada menu makanan di hotel Singgasana Makassar.
Standby Surabaya (part 6) - Selamat Lebaran
Selamat merayakan hari raya Idul Fitri bagi Anda yang merayakan.
Surabaya pagi ini terlihat masih cukup sepi. Saya keluar dari hotel sekitar pukul 7 pagi. Tadi pagi saya sudah bangun jam 5, minum kopi dulu. Enak kalau di kamar hotel disediakan teko pemanas air, saya bisa merebus air untuk menyeduh kopi Kapal Api sachet-an yang saya bawa sendiri
Saya kurang suka minum kopi instan semacam Nescafe yang disediakan secara cuma-cuma oleh hotel. Habis kopi, mandi, lalu bergegas sarapan. Sarapan di hotel Singgasana Surabaya memang top abis. Menu makanan beratnya pas di lidah saya. Sudah 5 hari menginap di sini, baru 2x saya makan pagi karena keseringan bangun siang
. Untuk ukuran sarapan pagi, boleh dibilang makanan di sini wah. Ada daging sapi lada hitam, ayam goreng, udang saus, kakap goreng tepung, cumi-cumi, wah pokoknya enak-enak. Hari Minggu lalu juga makannya enak; ada daging sapi saus steak, beef burger saus barbeque. Pagi ini saya sudah bersiap pergi ke Telkomsel, standby di sana.
Di beberapa tempat saya lihat sampah koran berserakan di jalanan. Di tempat itu sepertinya baru selesai dipakai masyarakat menunaikan ibadah sholat Id. Entah koran-koran itu disediakan oleh panitia masjid atau jemaah membawa sendiri. Tampak beberapa orang sedang sibuk membereskan sampah koran-koran itu. Cukup heran mengapa mereka malas sekali membersihkan koran-koran yang sudah mereka pakai untuk duduk. Sebagian besar koran bahkan berserakan di tengah jalan. Ah mungkin mereka sudah tidak sabar berlebaran bersilahturahmi bersama keluarga sampai-sampai tidak sempat membereskan koran-koran itu. Bayangan opor ayam, rendang daging, dan ketupat mungkin juga sudah depan mata memaksa mereka melupakan koran-koran yang tadi sudah mereka pakai sebagai alas duduk. Ini fenomena yang biasa dilihat di pagi hari lebaran, jalanan ditutup karena dipakai masyarakat sholat Id. Untung saya melintas setelah sholat Id selesai, kalau tidak tentu taksi yang saya tumpangi harus memutar mencari jalan lain.
Fenomena lain yang saya perhatikan, banyak orang pagi ini yang mengendarai sepeda motor tidak menggunakan helm. Bisa jadi karena jalanan yang saya lewati adalah jalanan kompleks (bukan jalan pr otokol), makanya banyak pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm. Hal ini cukup menarik perhatian saya karena sejauh pengamatan saya, wilayah Jawa Timur khususnya Surabaya, masyarakatnya cukup patuh berlalu-lintas. Di jalanan biasanya saya lihat orang naik motor dengan helm lengkap. Helm yang dipakai biasanya minimal helm half face, jarang saya lihat di Surabaya orang naik motor dengan help proyek (helm yang asal nutup kepala). Makanya pagi ini saya cukup heran mengamati orang-orang bermotor tanpa memakai helm. Kebanyakan dari mereka sepertinya baru pulang dari sholat Id atau hendak pergi berlebaran. Bapak-bapak yang bermotor banyak yang menggunakan peci, ada yang masih bersarung & berbaju koko. Beberapa ibu juga terlihat berjilbab tanpa helm naik motor. Memangnya kalau sudah pakai peci kepalanya jadi kuat kah? Kalau jatuh dari motor siapa yang rugi? Atau dengan dalih “ah cuma pergi dekat saja kok, ngapain pakai helm” dibenarkan tidak memakai helm?
Pagi ini di televisi banyak menyiarkan liputan malam takbir di beberapa daerah, yang menarik bagi saya tentu kegiatan takbir keliling di Jakarta. Tadi pagi saya juga melihat berita beberapa orang di Sukabumi meninggal karena kecelakaan motor saat bertakbir semalam. Ada yang nekat naik di atas metromini, truk berkeliling Jakarta. Waduh, kok mereka senekat itu. Puluhan motor juga berkeliling ikut takbir, lagi-lagi saya lihat mereka tidak pakai helm. Padahal mereka yang berkeliling kan lewat jalan raya. Terlepas dari nyawa mereka yang double, kok mereka tidak takut ditilang Polisi? Atau karena Polisi terlalu sibuk mengamankan malam takbiran, sampai tidak sempat menangani peserta takbir yang tidak pakai helm? Hari biasa jangan harap bisa seenaknya melintas jalanan ibukota naik motor tanpa helm. Oh ya yang lucu adalah tertangkapnya seorang remaja bertakbir keliling sambil bawa clurit. Halah…mau takbiran atau mau tawuran Om?
He..he..he..postingan yang simpang siur ya ![]()
** foto ilustrasi di atas adalah foto beduk di depan pintu masuk hotel Singgasana Surabaya, baru diambil fotonya tadi pagi **
Standby Surabaya (part 5) - Tunjungan Plaza
Beberapa kali berkunjung ke Surabaya, saya tidak pernah sekalipun mampir ke Tunjungan Plaza. Mal yang katanya terbesar di Surabaya ini tidak membuat saya tertarik untuk menyambanginya. Baru sore ini karena bingung kurang kerjaan di hotel saya mampir juga ke Tunjungan Plaza (TP). Sekitar pukul 16.30 saya keluar dari hotel, awalnya niat saya malah mau pergi ke Surabaya Plaza. Di jalan saya pikir lebih baik mampir saja ke TP, itupun karena TP terlewati oleh taksi saya.
Bangun siang tadi saya belum makan, nah tujuan utama keluar dari hotel adalah makan. Niat awal cari Hoka-hoka Bento. Putar-putar TP saya tak kunjung menemukan Hokben. Sudah tanya satpam pun masih belum ketemu. Bukan anak mal jadi agak malas berputar-putar cari Hokben. Alih-alih ketemu Hokben, saya malah masuk ke American Grill. Ternyata tidak seterkenal namanya, steak-nya alot. Sapinya mantan binaragawan kayaknya…benar-benar berotot keras. Pesan American Grilled steak, tidak ada daging tenderloin…hanya ada sirloin. Mungkin kalau tenderloin masuk menu harganya bisa tinggi jadi sengaja ditiadakan dari menu. Pelayanan di sini memang OK, stafnya ramah-ramah, sayang tidak didukung dengan menu yang nikmat & tidak alot dagingnya.
Eh di sini ada hotspot loh..entah siapa yang menyediakan hotspot. American Grill atau restoran lain. Lumayan, bisa cek email sekaligus ketik postingan ini. Sudah ambil foto steaknya tadi, tapi kualitas fotonya jelek (kameranya E51 tidak dapat diandalkan). Bingung juga cara upload fotonya. Nanti sajalah menyusul saya upload fotonya di hotel.
Edited 1 Oktober 2008
Baru sempat upload fotonya pagi ini. Ini foto pesanan saya kemarin sore di American Grill : Premium New York Steak welldone with mashed potato, pepper sauce, and garlic herb sauce.
Jelek ya foto hasil jepretan Nokia E51, hmm tapi kan yang penting momennya tidak terlewat ![]()
Standby Surabaya (part 4) - Toshiba Portege M600
Ini tulisan yang belum sempat saya publikasikan dari beberapa minggu lalu. Menyambung tulisan tentang Masalah Instalasi Windows XP, saya mengalami kejadian yang serupa saat mencoba menginstal Windows XP di notebook Toshiba Portege M600. Tanggal 9 September lalu, saya dimintai tolong oleh Pak Win (rekan kos saya) untuk mengganti Windows Vista yang sudah terinstal di Portege M600nya. Pak Win juga mengalami kesulitan menggunakan Windows Vista, katanya lebih familiar dengan Windows XP.
Ketika saya coba boot notebook dengan CD instalasi Windows XP, muncul pesan error “Setup did not find any hard disk drives installed in your computer”. Sama seperti error yang muncul saat saya menginstal Windows XP di Lenovo 3000 N200 dan Fujitsu Lifebook S6410 (silakan baca tulisan saya sebelumnya supaya lebih jelas). Di dua tipe notebook itu saya harus mematikan fitur AHCI (SATA Compatibility), makanya saya tenang-tenang saja menghadapi error begini. Eh ternyata Toshiba Portege M600 ini tidak menyediakan pengaturan AHCI di BIOS-nya.
Langsung tanya Google tentang masalah instalasi Windows XP di Portege M600. Untung sudah banyak yang menulis tentang topik ini. Saya pilih salah satu tulisan untuk diikuti langkah-langkahnya, tulisan ini berasal dari blog http://amphie09.blogspot.com. Singkatnya saya harus menyusupkan driver SATA ke dalam CD instalasi Windows XP…bahasa kerennya “remastering CD”
. Seperti yang saya baca di blog tadi, saya download dulu program nLite untuk mengubah CD instalasi Windows XP. Saya download juga driver SATA di sini. Proses berikutnya tidak terlalu susah, nLite cukup mudah digunakan. Hasilnya adalah sebuah image CD Windows XP. Lalu saya burn file image itu ke sebuah CD. Nah CD inilah yang akhirnya bisa saya gunakan untuk menginstal XP di Portege M600 ini.
Aneh juga mengapa Toshiba tidak menambahkan pengaturan SATA controller di BIOS notebook-nya. Apakah Toshiba yakin semua orang akan menggunakan Windows Vista yang sudah pre-installed di dalam notebook-nya.
Standby Surabaya (part 3) - Temennya Mana?
Liburan gratis kali ini di Surabaya, sudah saya niatkan untuk main biliar sepuasnya. Seperti sekarang ini, saya masih duduk-duduk di Posh Pool & Lounge. Tempat biliar ini selalu jadi tempat favorit saya di Surabaya. Pernah saya tulis reviewnya di blog ini. Tadi malam juga saya datang ke sini.

Tiap kali datang ke sini sendiri, hampir semua petugas yang ketemu saya pasti bertanya “Temennya mana? Kok main sendiri?” Bosan juga ditanya seperti itu. Namanya juga mau latihan, sadar diri main masih jelek jadi harus banyak-banyak latihan sendiri kan?
Eh di sini ada hotspot gratis loh
Selesai latihan, coba browsing dulu sekalian ngeblog.
*** Updated 5 Oktober 2008 : insert the photo ***
Standby Surabaya (part 2) - Hotel Singgasana Surabaya
Sore tadi saya tiba di bandara Juanda Surabaya pukul 14.30. Lama menunggu bagasi saya keluar membuat saya baru meninggalkan bandara pukul 3 lebih 5 menit. Dari bandara saya naik taksi menuju hotel Singgasana yang ada di Jalan Gunung Sari. Surabaya sore ini cuacanya benar-benar cerah, cenderung terik malah. Saya sudah dipesankan hotel selama 11 hari ke depan. Hotel Singgasana ini masih 1 grup dengan hotel Singgasana Makassar. Tapi hotel Singgasana Surabaya ini konsepnya berbeda dengan yang ada di Makassar. Di Surabaya, hotel Singgasana berkonsep back to nature. Nuansanya kok jadi seperti di hotel Safari Garden Puncak…eh tapi hotel ini menurut saya lebih bagus daripada Safari Garden.
Lobi hotel ini luas dengan nuansa budaya Jawa yang kuat. Seperangkat gamelan diletakan di dekat meja resepsionis, entah cuma pajangan atau sesekali dipakai untuk bermusik. Konsep budaya Jawa lainnya yang nampak adalah ukiran-ukiran di atap, oh ya atapnya bebentuk joglo dengan kayu-kayu kerangka atap yang dibiarkan terlihat. Lobi hotel Singgasana ini hampir seluruhnya bernuansa coklat karena banyak penggunaan kayu, mulai dari kerangka atap, kayu pelapis tembok (eh atau memang tidak ada temboknya ya
). First short impression for me : nice & comfort hotel.
Selesai check-in saya langsung diantar oleh bellboy ke kamar. Kamar-kamar hotel ini dibangun dengan konsep bungalow/cottage dikelilingi taman yang kelihatan menghijau di mana-mana. Di tengah-tengah taman ada kolam renang yang kelihatannya cukup besar. Karena saya tidak bisa berenang, fasilitas kolam renang tersebut tidak menarik perhatian saya
Karena semua kamar berada di lantai 1 (sepertinya tidak ada kamar berlantai 2), dapat dipastikan hotel ini menempati lahan yang cukup luas. Jarak dari lobi menuju kamar saya cukup jauh. Mungkin karena nuansa hijau, campur gemericik air dari air mancur buatan membuat saya tidak terlalu mempermasalahkan jarak yang cukup jauh dari lobi ke kamar. Tiap bangunan terdiri atas 4 kamar terpisah. Kalau dilihat dari jauh, tiap bangunan seolah-oleh memiliki atap sendiri-sendiri.
Masuk ke kamar saya cukup puas melihat sepintas kondisi kamar. Seolah-olah ada ruangan lain di dalam kamar. Begitu masuk kamar, di sebelah kanan ada kusen pintu (tidak ada daun pintunya) saya pikir itu adalah kamar mandinya. Ternyata kalau kita masuk situ ada pintu kamar mandi. Nah ruangan di antara kusen tak berpintu dan pintu kamar mandi, diletakan wastafel. Itu sepintas tentang ruangan di sisi kanan. Dari pintu utama kamar, kalau kita bergerak lurus baru ada ruangan utama kamar. Ruangan itu juga seolah-oleh berpintu lagi, padahal cuma kusen doank. Nah di dalamnya lantainya berlapis parket (lapisan kayu). Beda dengan ruangan wastafel dan kamar mandi yang menggunakan keramik. Ruangan kamar terlihat luas, ada 4 barang yang mendominasi ruangan : sebuah kursi malas dari rotan plus meja bundar kecil, meja tulis plus kursi rotan juga, rak tv, dan tentu saja spring bed-nya. Di tengah ruangan diletakan sebuah permadani (permadani atau sajadah ya…tapi kalau sajadah kok gede banget). Jendela kamarnya besar-besar, langsung menghadap ke taman. Cahaya matahari sore tadi masuk lewat jendela-jendela tadi. Susah juga mendeskripsikan kamarnya, lihat komiknya saja ya :
Di hotel ini ada fasilitas internet. Tiap hari tamu bisa memperoleh voucher internet gratis selama 1 jam. Kalau ingin berinternet lebih lama, kita bisa membeli voucher internet seharga Rp30.000,-/2 jam. Jangkauan sinyal wifi cukup kuat di kamar saya, walupun katanya sinyal paling bagus di lobi dan di dekat kolam renang. Televisnya pun dilengkapi dengan siaran tv kabel yang lengkap. Tidak seperti di hotel Singgasana Makassar, minibar kamar ini lengkap isinya ![]()
Kelemahan yang saya rasa ada di kamar mandinya. Selang shower air pendek sekali, tidak bisa digantungkan di atas (padahal di atas ada gantungan shower). Jadi kalau mandi mau tidak mau 1 tangan harus memegang shower-nya. Kelemahan lain letak hotel Singgasana cukup jauh dari pusat kota Surabaya. Ah kalau ini sih tidak terlalu menjadi soal buat saya, toh bisa telepon pesan taksi. Oh ya…di hotel ini juga ada pangkalan taksi Blue Bird jadi tidak usah telepon, tinggal minta dipanggilkan saja oleh door man di lobi.
Hmm..overall saya bisa bilang hotel ini nyaman, highly recommended. Soal makan di hotel ini akan saya bahas dalam tulisan terpisah.
Standby Surabaya (part 1) - Liburan / Kerja?
Siang ini saya akan berangkat ke Surabaya…mudik? Tentu bukan, kali ini saya berangkat ke Surabaya untuk standby selama liburan Lebaran 2008. Beberapa rekan engineer Fujitsu juga sama-sama berangkat ke kota-kota besar di Indonesia, ada yang berangkat ke Medan, Semarang, Palembang. Saya kebagian standby di Surabaya, berjaga-jaga siapa tahu sepanjang liburan Lebaran ada server yang bermasalah di Telkomsel. Rencananya saya akan berada di Surabaya sampai tanggal 7 Oktober 2008.
Siang ini bandara Soekarno Hatta terlihat sudah ramai. Banyak orang dengan bawaan seabreg terlihat lalu lalang di counter check-in terminal 2F. Saya sendiri berangkat dengan 1 backpack, 1 tas troli, dan 1 cue case (bawa stik biliar siapa tahu bisa main di Surabaya
). Mudah-mudahan selama libur lebaran ini tidak ada masalah sama sekali dengan server-servernya Telkomsel, supaya saya benar-benar bisa menikmati liburan kali ini. Kapan lagi liburan dibayari kantor kan? ![]()
Selamat mudik bagi Anda semua yang punya kampung halaman
dan selamat menyambut hari raya Idul Fitri bagi Anda yang merayakan.
Modem Speedyku Tewas
Sudah 10 hari akses Speedy di kamar saya bermasalah. Status modem selalu “ADSL Link Down”. Beberapa kali lapor ke 147 juga tidak ada hasil. Saya ngotot kalau modem saya baik-baik saya, karena kemungkinan yang paling masuk akal adalah ada gangguan di sisi Telkom. Lah wong modemnya tidak diapa-apakan masa bisa berubah sendiri jadi ngaco? Kemarin petugas Speedy dari Telkom datang ke kos saya memeriksa sambungan telepon dan internet.
Saat itu saya sedang di kantor, orang di rumah yang menelepon saya membiarkan petugas tadi bicara dengan saya. Dia melaporkan kalau modem saya mati total. Halah…apa lagi ini ceritanya. Selasa malam modem saya masih berfungsi, hanya saja koneksi ADSL yang mati…kok sekarang jadi modemnya yang mati total. Petugas tadi mungkin merasa saya menuduh dia macam-macam. Padahal saya tidak niat menyalahkan dia. Yang saya ingin tegaskan adalah saya sudah coba dengan beberapa modem pinjaman dan faktanya tetap ADSL Link Down. Apa 3 modem yang saya coba semuanya rusak dalam waktu bersamaan?
Hari ini terpaksa berinternet dengan Telkomet Instan lagi. Tumben juga hari ini koneksinya stabil dan cukup powerfull untuk membuka beberapa web yang berat aksesnya…..salah satunya bisa membuka Outlook Web Access kantor yang super lambat.
Harus segera cari modem baru nih.










