Soal Potong Rambut

Foto ini diambil tadi siang oleh rekan kantor saya, Bu Timmie. Ceritanya hari ini saya bawa kamera DSLR ke kantor karena permintaan manajer saya, Bu Titi. Beliau punya ide untuk memotret semua karyawan Eservglobal untuk dijadikan album foto. Album foto itu nantinya akan dijadikan hadiah kenang-kenangan untuk Laurence, salah satu karyawan Eservglobal yang kena perampingan karyawan, bahasa halus untuk PHK (lah kalau PHK itu bahasa halus untuk apa?). Sayang tidak semua karyawan datang ke kantor, sebagian pergi ke customer sementara yang lain sedang cuti. Jepret sana jepret sini, tapi tidak ada yang memotret saya 🙁 Bu Timmie berbaik hati memotretkan.

Karena saya upload di Flickr, Jennifer teman saya berkomentar tentang foto ini. katanya sudah saatnya saya potong rambut. Ah iya rupanya cukup banyak orang yang memperhatikan kalau rambut saya sudah mulai gondrong. Pulang ke Cirebon akhir pekan lalu pun tidak sedikit orang yang berkomentar soal rambut saya, kenapa belum potong rambut. Terakhir saya potong rambut 2 November 2008 lalu, lebih dari 8 bulan lalu. Kok ingat? Soalnya saya masih simpan fotonya, terdokumentasi dengan baik kapan saya potong rambut di 2008 🙂 Tahun lalu saya beberapa kali potong rambut sampai botak. Tidak sampai botak licin, tapi cukup “memalukan”, tapi saya pede aja tuh botak juga. Keliling Indonesia juga berbotak ria. Foto ini misalnya, masih botak dipotret di Surabaya Mei tahun lalu. Tahun 2009 ini saya malah belum pernah potong rambut. Alasannya simpel….malas pergi potong rambut. Bukan pergi ke Jhonny Andrean atau Joni Danuarta sih, cuma pergi ke tukang pangkas rambut di Pasar Timbul (beberapa ratus meter dari kos saya). Murah meriah Rp8000,- daripada ke Jhonny Andrean harus bayar Rp50.000,- :-p

Beberapa hari lalu saya jadi iseng berpikir bagaimana jadinya kalau 2009 ini saya tidak potong rambut sama sekali. Seumur-umur saya belum pernah memanjangkan rambut. Pasti ada saja yang menegur, entah guru di sekolah atau orang tua di rumah. Di kantor saya sepertinya tidak ada larangan memanjangkan rambut. Mungkin ada tapi sebatas etika sopan santun dan kepantasan. Eh tapi apakah berambut gondrong itu sama dengan tidak sopan? Ah tapi rasanya saya masih rapih…masih rajin pula menyisir rambut, meskipun ketombe masih di mana-mana =)) Let’s see…akankah saya bertahan tidak potong rambut sampai 31 Desember 2009 nanti.

Wedding Shoot

Ceritanya akhir pekan lalu saya pulang ke Cirebon. Sepupu saya menikah di Cirebon. Kesempatan memotret bagi saya, kesempatan juga mencoba Speedlite dan diffuser-nya juga 😀 Tidak gampang memotret momen pernikahan. Apalagi saya hanya bermodal lensa fix 50mm. Untuk zoom in saya harus mendekat ke objek, untuk memotret beberapa orang sekaligus saya harus mundur jauh ke belakang. Untung mundur-mundur tidak sampai terjebur kolam…ah emangnya filmnya Dono Kasino Indro :))

Sebenarnya saya agak segan memotret di tengah acara seperti itu, karena sudah ada fotografernya. Untungnya lensa 50mm saya punya aperture cukup besar, sehingga saya masih bisa memotret tanpa harus menggunakan flash. Agak ragu juga saya menggunakan flash, takut mengganggu fotografer aslinya. Saya kan bukan fotografer resmi acara nikahan itu, malu mengganggu mereka. Untung juga lampu sorot milik fotografernya cukup kuat, foto di samping ini misalnya cukup menggunakan f/4 dengan ISO 800. Hmm niatan awal mencoba flash eksternal jadi dialihkan untuk memotret kerabat yang kebetulan datang di acara resepsi. Motret pengantinnya (seperti foto di samping ini) malah hampir semuanya tidak pakai flash sama sekali.

Ngomong-ngomong soal mengganggu fotografer resmi, tadi malam saya tanpa sengaja membaca postingan di forum fotografi (Fotografer.net) tentang keluh kesah salah satu wedding photographer. Ceritanya dia sebagai fotografer acara pernikahan merasa terganggu dengan adanya fotografer-fotografer lain yang ikut memotret di tengah acara. Ramai juga diskusi di forum itu, beberapa komentar juga mengiyakan pengalaman mereka memotret acara pernikahan dengan “selingan” fotografer tidak resmi. Fotografer tidak resmi bisa saja yang amatiran, fotografer beneran yang dibawa sebagai tambahan oleh pihak keluarga pengantin, atau bisa juga kerabat/saudara yang ikut memotret. Walah saya jadi berpikir, jangan-jangan apa yang saya lakukan kemarin mengganggu fotografer resmi acara nikahan kemarin itu (padahal paragraf pertama dan kedua sudah saya tulis di draft sejak hari Senin tapi belum selesai-selesai)

Flash back sebentar saya ingat-ingat apa saja yang saya lakukan. Hmm rasaanya saya motret pengantin tanpa flash, flash saya pakai juga sih tapi saat si fotografer tidak sedang memotret, rasanya saya berdiri tidak menghalangi area jepretan (frame) si fotografer….rasa-rasanya sih saya tidak mengganggu. Gak tau juga kalau ternyata fotografernya dongkol lihat saya motret-motret :-p Tapi saya penasaran juga dengan topik ini. Jadi saya putuskan untuk coba melemparkan topik di forum tentang apakah bolehkah memotret di tengah acara pernikahan. Sekadar ingin tahu pendapat mereka yang sehari-hari berkecimpung sebagai wedding photographer. Hampir semua komentar yang masuk mengatakan boleh-boleh saja seorang pehobi foto seperti saya mengambil foto di tengah acara pernikahan, tentunya dengan etika tertentu. Salah seorang anggota forum yang berprofesi sebagai wedding photographer menuliskan seperti ini :

  • Sudah mendapat izin dari yang punya hajat dan atau EO nya
  • Adanya komunikasi dengan fotografer utama, jika ada termasuk mengikuti aturan yang diterapkan fotografer utama.
  • Tidak menghalangi atau berdiri berlawanan dengan fotografer utama
  • Tidak mengganggu jalannya acara & mengganggu fotografer utama (mis. pemakaian flash yang malah mentrigger flash fotografer utama, jika ada slave flash)
  • Dapat menghargai fotografer utama dalam menjalankan tugas
  • Hanya mengingatkan kembali bahwa fotografer utama mempunyai tanggung jawab hasil foto yang baik utk klien nya sedangkan kita hanya sekedar ikut motret
  • Walaupun kita di minta bantuan / di sewa oleh salah satu mempelai, tetap harus komunikasi dan menghargai fotografer utama nya

Rangkuman yang bagus dan cukup menjawab pertanyaan saya. Dari sekian banyak daftar etika tadi, satu yang kemarin tidak saya lakukan : berkomunikasi dengan fotografer utamanya. Hmm mereka sibuk & saya segan untuk ijin motret (segan atau malu ya? 😀 ). Jadi pelajaran buat saya kalau memotret liputan yang punya fotografer resmi kudu ijin dulu sebelumnya.

Lambency Flash Diffuser

Postingan ini masih ada hubungannya dengan cerita saya minggu lalu soal beli flash eksternal. Bedanya waktu itu saya menulis dalam bahasa Inggris, sekarang saya tulis dalam Bahasa Indonesia…maklum sudah hampir tengah malam, kemampuan bahasa Inggris saya kadang pudar setelah jam 11 malam 😀 . Setelah punya flash eksternal saya jadi ingin beli flash diffuser. Flash diffuser sendiri gampangnya adalah alat yang dipakai untuk membantu penyebaran cahaya yang dikeluarkan oleh lampu flash secara merata ke segala arah. Masih ingat istilah difusi kan di pelajaran IPA dulu? 😀

Awalnya saya tidak begitu paham pentingnya (atau tepatnya kelebihan) menggunakan flash diffuser dalam dunia potret-memotret. Walau sudah dijelaskan oleh Budy rekan saya, tetap saja masih tidak punya bayangan. Sampai saya menemukan link yang cukup bagus di sini. Di website tersebut dijelaskan bagaimana flash diffuser mempengaruhi penyebaran cahaya dan menghasilkan pencahayaan yang lebih baik. Tidak perlu lagi tergantung pada langit-langit untuk melakukan bouncing cahaya. Saya masih ingat dulu saya diberi tahu alat seperti dalam foto ini namanya Gary Fong. Belakangan saya baru tahu kalau Gary Fong adalah salah satu merek flash diffuser. Harganya mak nyusss…setengah juta lebih. Mengikuti saran Budy lebih baik saya beli merek Lambency yang murah meriah. Satu Gary Fong mungkin ditukar dengan 3 Lambency :-p Jelas murah karena Lambency ini buatan China.

Saya cukup direpotkan dengan acara membeli difuser ini. Rabu malam saya pergi ke toko Bintang Mas di Mal Taman Anggrek. Menurut Budy, dulu dia juga beli flash diffuser di toko itu. Sampai di sana ternyata barangnya tidak ada yang cocok ukurannya. Setidaknya ada 4 jenis ukuran flash diffuser ini, sesuai dengan jenis flash eksternal yang digunakan. Akhirnya hari Kamis saya kembali lagi mengontak Pak Elyu, ternyata katanya dia punya stok Lambency yang cocok dengan Speedlite 430EX saya. Kamis siang barang sudah diantar ke kantor, mantap memang pelayanan Pak Elyu ini. Sepulang kantor saya langsung coba pasangkan Lambency ke Speedlite…ternyata ga masuk :(( Terlalu sempit, ukurannya kekecilan. Walaupun di dusnya tertulis tipe C2 ini memang cocok dengan Speedlite 430EX, tapi nyatanya tidak masuk. Saya kontak lagi Pak Elyu, katanya Lambency saya akan ditukar hari Jumat siang.

Jumat pagi saya dikabari oleh stafnya Pak Elyu, katanya Lambency penggantinya tidak ada…saya harus menunggu dulu beberapa hari. Walah….padahal Jumat siang saya harus pulang ke Cirebon. Ya sudah terpaksa saya akali saja. Dengan bermodal cutter pinjaman saya iris beberapa bagian gerigi Lambency tersebut. Ada bagian yang dibuat seperti gerigi fungsinya sebagai pegangan ke flash internal (di foto lihat bagian kiri bawah). Karena materialnya plastik, hal ini bisa dilakukan…cukup sulit karena plastiknya agak keras. Repot sedikit tak apa, yang penting saya bisa gampang memasang Lambency ini ke Speedlite.

Setelah terpasang di Speedlite 430EX II, foto diambil oleh Budy (sekalian mencoba Tokina wide lens barunya 😀 ) Cukup puaslah saya sudah punya flash eksternal dan Lambency flash diffuser ini. Tinggal cari acara untuk diliput…eh salah, cari acara yang memungkinkan saya mencoba flash diffuser ini :-p