Stabilo Teks Email

Sehari-hari saya menggunakan aplikasi Mail di Mac OSX untuk bekerja. Salah satu kelemahan dari Mail adalah tidak ada fitur untuk memberi warna latar (highlight) pada bagian-bagian yang saya ingin tonjolkan. Ini maksudnya seperti kita mewarnai halaman buku dengan menggunakan stabilo. Dari Google saya dapatkan tips untuk mengatasi keterbatasan tersebut. Caranya adalah dengan menggunakan Style. Untuk membuat Style khusus untuk memberi warna, kita perlu “meminjam” aplikasi TextEdit. TextEdit adalah aplikasi editor teks bawaan Mac OSX.

Untuk mengatur Style pada TextEdit, kita perlu mengaktifkan mode “Rich Text” seperti pada tampilan di bawah ini :

Saat mode “Rich Text” ini diaktifkan, akan muncul barisan menu seperti pengaturan jenis/ukuran font, warna latar, dsb.

Untuk memulai membuat Style baru saya cukup mengetikkan satu kata saja. Saya blok teksnya, lalu saya pilih menu untuk memberi warna latar.


Tampilan teks setelah diberi highlight warna kuning :

Selanjutnya saya perlu menyimpan setting tersebut ke dalam “Favorite Styles”. Caranya dengan klik kanan pada kata yang sudah diberi stabilo kuning tadi, lalu pilih Font – Styles.

Akan muncul jendela baru tepat di tengah TextEdit seperti berikut ini :

Saya tinggal klik tombol “Add To Favorites”. Selanjutnya saya tinggal memberi nama pada Style baru tersebut. Pada contoh ini saya beri nama “StabiloKuning”.

Sekarang saya bisa menggunakan Style yang sama pada aplikasi Mail. Berikut ini adalah contoh pemakaiannya pada aplikasi Mail. Misalnya saya perlu mewarnai baris berisi alamat IP pada sebuah email. Saya tinggal blok teks yang ingin diwarnai lalu klik kanan untuk memilih menu Font – Styles.

Pada bagian Favorite Styles, pilihan “StabiloKuning” sudah tersedia.

Memang jadi repot tapi saya cukup puas dengan solusi ini :

Sayangnya saya masih belum menemukan bagaimana caranya untuk mengaktifkan menu Styles tadi dengan menggunakan kombinasi tombol (keyboard shortcut).

Hobi Unik

Bagi orang kebanyakan ular adalah binatang yang menakutkan. Adalah sesuatu yang ganjil menjadikan ular sebagai binatang peliharaan. Coba lihat sekitar Anda, binatang yang lazim dijadikan peliharaan antara lain adalah anjing, kucing, ikan, burung. Saya punya rekan yang memiliki hobi unik. Budy namanya, hobinya mengoleksi ular. Mulai dari ular berbisa sampai ular sanca (python) yang panjangnya bisa mencapai 6 meteran. Hobi mengoleksi ular ini sudah bertahun-tahun ditekuni, bahkan sejak duduk di bangku sekolah.

Atraksi Cium Kobra

Menurut almarhum kakeknya, Budy memiliki kemampuan lebih untuk “berkomunikasi” dengan binatang. Tidak heran bila ular jenis King Kobra (Ophiophagus hannah) bisa nurut & jinak di tangan si Budy. Seperti yang Anda lihat pada foto di atas, King Kobra sepanjang lebih kurang 3 meter itu diam saja saat dicium kepalanya. Tentu ini bukan adegan yang boleh ditiru sembarangan. Foto tadi diambil beberapa tahun lalu.

Untuk menekuni suatu hobi, kita perlu usaha (dan dana?) yang tidak sedikit. Agak naif bila ada yang menyebut hobinya gratis (atau hobinya murah). Hobi memelihara binatang misalnya; berarti harus punya dana untuk memberi pakan, menyediakan kandang, dan menyediakan waktu & tenaga untuk mengurus binatang peliharaannya. Tidak hanya binatang peliharaan, dana & usaha berlaku juga untuk segala macam hobi. Kadang saya sendiri sampai terheran-heran melihat orang menghabiskan jutaan (bahkan puluhan juta) demi hobinya. Saya merasa heran karena mungkin hal tersebut tidak saya gemari. Misalnya saya pernah terheran-heran mengetahui penggila bonsai mengeluarkan jutaan rupiah untuk membeli gunting (gunting khusus untuk memotong ranting tanaman bonsai). Makin unik hobinya, biasanya makin besar dana yang dipakai untuk menyokong hobi tersebut.

Tapi kalau berbalik pada saya sendiri, hobi saya mengetik membuat saya merogoh saku sampai 1,5 juta untuk membeli mechanical keyboard. Padahal keyboard standar bisa didapat dengan harga sepersepuluhnya. Tidak terasa aneh bagi saya, tapi mungkin aneh bagi orang lain. Atau misalnya melihat orang menghabiskan puluhan sampai ratusan juta membeli peralatan fotografi (kamera/lensa). Bagi saya itu tidak aneh, karena saya pun hobi fotografi. Mungkin belum kelasnya bagi saya untuk membeli kamera/lensa sampai puluhan juta rupiah. Orang yang tidak memiliki minat yang sama cenderung akan terheran-heran melihat orang lain mencurahkan uang/waktu/usaha sedemikian besar demi hobinya.

Bahkan tidak sedikit orang yang mencibir atau jadi judgemental (menghakimi) bila melihat hobi orang lain yang tidak sejalan dengan minatnya. Bila sudah begitu, yang punya hobi tentu berhak untuk berargumen “hobi hobi saya, uang uang saya…kok situ yang repot”. Makanya bila saya heran melihat hobi orang lain, saya lebih memilih untuk berdecak kagum & introspeksi hobi saya sendiri. Kalau saya bisa mengeluarkan dana tidak sedikit untuk hobi saya, apa hak saya “mengomentari” hobi orang lain?

Jadi apa hobi Anda sekarang?

Sinkronisasi iTunes & Android

Saat ini saya menyimpan semua koleksi lagu di dalam iTunes. Hampir semuanya sudah tertata rapih album, artis, genre, maupun artwork-nya. Sinkronisasi musik dengan iPhone/iPod/iPad sangat mudah, tidak heran karena semuanya adalah produk Apple. Yang sedikit repot adalah memindahkan lagu ke Galaxy Note yang menggunakan Android. Karena bukan buatan Apple, maka Galaxy Note ini tidak bisa disambungkan langsung dengan iTunes. Bisa saja saya lakukan copy manual file lagunya satu per satu. Tapi susunan library musik saya jadi terganggu & tidak muncul dengan rapi lagi di Note.

Dari rekomendasi beberapa tulisan di Internet, banyak yang menyarankan untuk menggunakan aplikasi iSyncr. Aplikasi ini perlu diinstal di komputer & juga di perangkat Androidnya. Versi desktopnya bisa diunduh gratis di web ini. Sementara aplikasi di Androidnya perlu dibeli seharga USD$3,99 & tersedia di Google Play. Untuk melakukan sinkronisasi musik, iSyncr menyediakan fitur sinkronisasi via kabel USB & juga via WiFi. Tapi menurut saya sinkronisasi via WiFi sangat lambat & tidak praktis. Saya lebih memilih untuk menggunakan kabel USB.

Saat dinyalakan di Mac, iSyncr akan muncul di bagian kanan atas. iSyncr akan langsung mendeteksi bila ada perangkat Android yang tersambung via kabel USB.

iSyncr Desktop Side

Bila saya klik nama perangkatnya, iSyncr akan menawarkan pilihan media penyimpanan. Bisa disimpan di internal storage-nya ponsel atau disimpan dalam SD Card. Saya memilih untuk menyimpan seluruh koleksi musik ke dalam SD Card.

Nantinya iSyncr akan menyalin koleksi lagu ke SD Card & menyimpannya dalam folder dengan nama syncr. Meskipun ada pilihan untuk mengganti nama folder tujuan, sampai sekarang saya belum bisa mengganti nama folder-nya. Entah apa yang salah, opsi untuk mengganti nama folder tersebut tidak bisa diedit. Setelah menentukan media penyimpanan, iSyncr langsung mendeteksi semua koleksi lagu (dan media lainnya yang ada di dalam iTunes). Kalau tidak salah dalam tahap ini iTunes-nya harus aktif juga.

Setelah selesai mendeteksi semua koleksi iTunes, kita bisa mulai memilih lagu/film/playlist/podcast mana saja yang akan dikirimkan ke Android.

Bila sudah selesai tinggal klik Sync, maka iSyncr akan langsung menyalin semua pilihan tadi ke dalam Android.

Sebenarnya proses sinkronisasi lagu ini bisa juga dilakukan langsung dari ponsel. Ini tampilan iSyncr di Android :

Tapi sejauh yang saya coba, saya kesulitan untuk memilih album tertentu atau lagu tertentu saja. User interface aplikasi ini tidak nyaman untuk dipakai menyortir lagu, semua lagu ditampilkan berdasar abjad. Makanya saya lebih memilih untuk menggunakan versi desktopnya saja.

Jalan Berlubang Jakarta

Kemarin saya pergi menuju Kota Kasablanka melalui jalan layang non tol Tanah Abang Kampung Melayu (JLNT). Saya kaget ternyata kondisi jalan layang itu semakin parah. Makin banyak lubang dan makin dalam. Dari awal diresmikan JLNT tadi memang bukan jalan yang mulus. Sejak hujan mulai turun hampir setiap hari, kondisi jalan mulai berlubang di sana sini. Kemarin itu saya lihat lubangnya makin menjadi-jadi. Saya perhatikan semua mobil yang saya temui bergerak kurang dari 60km/jam. Sepertinya mereka tahu persis kalau kondisi jalan tidak rata & banyak lubang. Cukup ironis menurut saya, terlepas dari fakta hujan yang turun hampir setiap hari, JLNT ini belum 2 bulan dibuka untuk umum.

Tidak hanya JLNT yang rusak, jalan biasa pun sama saja. Lubang di mana-mana & cukup mengerikan. Efeknya semua kendaraan melambat, tidak heran kalau hujan diiringi dengan kemacetan pula. Yang menggunakan motor harus lebih berhati-hati karena bisa fatal. Saya baca Detik.com belakangan beberapa kali ada berita pemotor yang kecelakaan karena berusaha menghindari lubang. Semoga hujan segera reda supaya Pemda DKI segera bisa memperbaiki jalan dengan material beton yang katanya bisa mengering dalam 6 jam saja.