Makassar (part 2) – Soal Minibar

Tadi waktu saya pertama masuk kamar 812 hotel Singgasana, yang saya cek pertama kali adalah kulkasnya. Sama seperti dua kali kedatangan saya sebelumnya, kulkasnya kosong melompong. Tadi saya diantar room boy, jadi langsung saya tanya : “kenapa sih tiap kali saya nginap di Singgasana selalu dapat kamar tanpa minibar?”

Menurut si room boy hotel Singgasana sering dikunjungi rombongan, satu kamar bisa diisi 3 orang. Belajar dari pengalaman banyak kasus 3 tamu saling tunjuk siapa yang mengambil minuman/makanan di minibar, manajemen mengambil keputusan mengosongkan isi minibar. Lucu…tidak standar. Lah kalau ada yang gak ngaku, pegang saja ketua rombongannya atau potong saja uang depositnya.

Lebih lucu lagi untuk apa donk 3x menginap di Singgasana saya selalu open card dulu waktu check in sebagai dana deposit? Tadi begitu saya komplain soal minibar, si room boy malah menyarankan silakan telepon saja room service kalau butuh makan/minum Pak. Yee..itu sih saya juga tau. Malas aja masa sekadar minum softdrink harus telepon room service.

Makassar (part 1) – Balik Lagi

Siang ini saya balik lagi ke Makassar. Rencana instalasi server baru di Telkomsel yang tadinya diundur sampai minggu depan, diubah kembali jadi akhir pekan ini. Ada-ada saja, masa akhir pekan kerja juga. Saya kali ini berangkat dengan Garuda pukul 12.50, harusnya sih pagi saya ke kantor dulu. Tapi kali ini saya gak berangkat ke kantor, jam 11 langsung berangkat dari rumah ke bandara. Hmm…kalau menurut bos saya hal semacam ini (gak ngantor dengan alasan langsung ke bandara) bisa membuat “preseden buruk” :-p . Tau kan artinya “preseden buruk”? Artinya lebih kurang = kelakuan yang salah yang lama-lama jadi suatu kebiasaan. Atau bisa juga memancing orang lain menganggap & berperilaku yang salah.

Tadi di bandara sebelum masuk ruang tunggu, saya mampir dulu di toko buku terminal 2 (apa ya lupa nama tokonya). Seperti biasa kalau masuk toko buku, ada saja godaan buku yang menggoda untuk dibeli. Akhirnya keluar bawa buku ini :

Buku tipis kecil ini karangannya Safir Senduk. Saya pernah melihat beberapa buku karangan Safir Senduk tapi dari dulu gak pernah beli buku-bukunya. Salah satu yang terkenal itu kalau gak salah “Karyawan Juga Bisa Kaya” (hmm..gak ingat pasti, maaf kalau salah. tapi kurang lebihnya seperti itu). Iseng juga saya beli buku “Mengatur Pengeluaran Secara Bijak” ini. Padahal tadi saya sudah bawa 3 buku sekaligus. Buku “Digital Fortress”-nya Dan Brown, Laskar Pelangi, dan The American yang saya beli minggu lalu. Tapi mungkin penting juga bagi saya belajar membaca buku-buku serius macam bukunya Safir itu, biar seimbang kan? Kebanyakan baca novel bisa-bisa otak saya jadi ngaco :-p . Novel Digital Fortress selesai saya baca di pesawat tadi sebelum mendarat di Makassar. Nanti saya tulis review-nya kalau sempat 😀 .

Saya sampai di Makassar kira-kira pukul 16.20 waktu setempat (maju 1 jam dari Jakarta). Mendarat di tengah hujan gerimis, begitu keluar bandara eh panas lagi. Dari bandara saya dan Pak Nana (rekan dari Siemens) langsung menuju Telkomsel. Survey sebentar lokasi instalasi mesin Primepower 1500. Jam setengah 7 baru pulang, sebelum pulang ke hotel makan malam dulu. Lucu juga, jauh-jauh ke Makassar makan malamnya ayam goreng di warung tenda khas Lamongan :)) . Besok lah cari makan yang lebih berasa “Makassar”, konro bakar 😀 . Hari ini ada kampanye pilkada di Makassar, efeknya di mana-mana macet. Macetnya tidak seperti Jakarta, macetnya Makassar itu semrawut. Golkar dan PDIP yang hari ini kampanye. Halah…bikin macet aja. Heran saya, kenapa sih orang harus keliling-keliling kota pakai motor & mobil untuk kampanye? Memangnya ngefek ya kalau keliling-keliling kota bikin macet jalan gitu terus orang akan pilih jagoan mereka?

**Ngetik postingan ini di lobi hotel Singgasana, di kamar tumben susah dapat sinyal WiFi 🙁 **

Calo Minta Maaf?

Kemarin ada yang mengirim email pada saya isinya seperti ini :

----- Forwarded Message ----
From: yunus azis
To: teddy_itb@yahoo.com
Cc: tedy_itb@yahoo.com
Sent: Wednesday, July 9, 2008 12:38:43 PM
Subject: Calo di Airport
Saya membaca tulisan anda tentang kekesalan anda atas
pengalaman sulitnya mendapatkan tiket pada saat akhir
pekan. Bisa dibilang saya juga calo . Bedanya saya
tidak berkeliaran mencari lawan. Saya cuma orang yang
lebih sering berada dibelakang panggung. Saya mohon
maaf kalau "pekerjaan" saya telah merugikan banyak
orang. Juga buat Pak Teddy. Permohonan maaf saya ini
bukan mewakili seluruh calo. Kami memang tidak pny
organisasi. mhn maaf sekali lagi.

Rupanya si pengirim sudah membaca tulisan saya tentang percaloan di bandara Soekarno Hatta Jakarta. Hmm…fiktif kah si pengirim email ini?

Speedy Dengan Speed Baru

Akhirnya malam ini Speedy saya hidup lagi, kali ini bangkit dari kubur dengan kecepatan yang dahsyat. Dengan teknologi baru (PPPoE), Speedy mencapai kecepatan 865 Kbps. Lihat hasil tes dari http://www.speedtest.net berikut ini :

Dari http://www.speakeasy.net/speedtest hasilnya pun kurang lebih sama :

Mantap kan? Kemarin siang saat saya di Makassar, saya ditelepon teknisi dari Telkom yang ingin memperbaiki koneksi Speedy saya. Ah daripada repot menunggu saya pulang, saya minta saja konfigurasinya. Tadi pulang dari kantor langsung saya coba. Ternyata masih bermasalah dengan autentikasinya. Untungnya ada Pak Win rekan saya, dia manajer network Telkom Jakarta Barat. Langsung Pak Win menghubungi anak buahnya, minta password saya diset ulang. Tidak sampai setengah jam, notebook saya sudah dapat IP baru dari Telkom. Wush…speed-nya langsung naik 😀 . Thanks Pak Win untuk bantuannya malam ini.

Makassar (part 2) – Pulang

Pagi ini saya bangun kesiangan. Jam 9.40 waktu Makassar saya baru bangun, buru-buru bangun pergi ke bawah untuk breakfast. Karena yang saya tahu biasanya hotel menyediakan waktu breakfast sampai jam 10 pagi (kecuali Ibis Surabaya sampai jam 12). Selesai makan saya cukup heran, kenapa belum ada tanda-tanda pegawai hotel membereskan tempat makan pagi. Ternyata Singgasana hotel waktu makan paginya sampai jam 11 siang. Selesai makan saya baru tahu kalau ada perubahan rencana pekerjaan di Telkomsel Makassar. Jadi saya bisa pulang hari ini. Jam sudah menunjukkan pukul 10.20…penerbangan yang paling dekat jadwalnya adalah pukul 12.00 (waktu Makassar). Cepat-cepat saya balik ke kamar, mandi, beres-beres…langsung check out.

Dari hotel Singgasana saya naik taksi hotel menuju bandara Hasanuddin. Biarpun lewat tol, tolnya juga macet. Jadilah saya sepanjang jalan deg-degan takut ketinggalan pesawat. Di jalan saya sempat telepon ke call center-nya Garuda, saya tanya jadwal penerbangan Garuda dari Makassar ke Jakarta selain jam 12 siang ini. Ternyata ada jam 5 kurang seperempat sore hari. Ah cukup tenang…paling tidak kalau sampai terlambat naik pesawat yang jam 12, saya masih bisa dapat penerbangan sore jam 5 itu. Saya sampai di bandara pukul 11.35. Ah masih bisa bernafas lega, buru-buru datang ke counter Garuda minta print tiket. Waktu saya di counter Garuda, saya dengar pengumuman Garuda GA651 baru mendarat dari Jayapura. Makin lega, karena saya tahu pesawat saya menuju Jakarta adalah GA651 yang datang dari Jayapura. Counter check-in Garuda sudah sepi, tapi saya masih bisa check-in.

Selama ini saya selalu heran kalau ada orang yang datang di menit-menit terakhir boarding. Saya selalu heran apalagi pada orang-orang yang dipanggil namanya berkali-kali ketika hampir semua penumpang pesawat sudah masuk ke pesawat. Kali ini hampir saya yang melakukannya 🙂 Untungnya waktu masuk ke ruang tunggu, proses boarding masuk ke pesawat belum mulai. Yah tulisan ini sekaligus buat klarifikasi bahwa saya tadi sudah mandi dulu di hotel sebelum pulang ke Jakarta :-p Harusnya tadi saya gak usah mandi dulu ya, supaya bisa langsung pulang ke rumah dari bandara gak perlu ke kantor seperti sekarang ini :))