OpenSUSE 10.3 as File Server

Last week I received one PC to set up as a file server. I choose OpenSUSE 10.3 as operating system. There are 2 reasons why I choose OpenSUSE :

  1. I’ve tried it before and it was success.
  2. I thinks it’s easy to configure.

That PC is belong to my friend who has a small medium company. He needs to prepare a file server because his company growing rapidly right now. And file server is one of the several things that he must to prepare to support his business. May be next month I will help him to configure proxy and internet gateway. To play as a file server I use the Samba services in OpenSUSE. For some of you, Samba is a network protocol that provide file sharing between Unix (Linux also) operating system and Windows operating system. So that both of the operating system can change the informations over the IP network.

Here is what I was do to set a cricket PC (in Indonesian = “PC Jangkrik” / PC rakitan =)) ) as a file server :

  1. Install OpenSUSE to the PC, just easy with a nice graphical menu and sophisticated menu.
  2. In the software/package selections, I give mark in file server choice.
  3. When OpenSUSE has been installed in the PC, I create a directory called “data” with this command :
    file-server:/etc/samba # mkdir /home/data
  4. The next step is edit /etc/samba/smb.conf file so that the file contain this configurations (using root account):
    file-server:/etc/samba # more /etc/samba/smb.conf
    # Global Parameters
    workgroup = home
    netbios name = Samba
    encrypt password = yes
    
    [data]
    path = /home/data
    read only = no
    browseable = yes
    valid users = tedy, edi
  5. After that restart the samba services using this command :
    file-server:/etc/samba # /etc/init.d/smb restart
  6. The next step is add some valid user to access the Samba file server using this command :
    file-server:/etc/samba # smbpasswd -a edi
  7. I turn off the firewall using yast (I think the firewall in OpenSUSE blocked the Windows client to access Samba directory). This one is another issue to fix next time, how to enable firewall in OpenSUSE without disturb Samba services.

It was done. I check to access the server using my Windows notebook (using cross cable). First I change IP address so that my notebook has the same network IP address. To access the Samba directory, I use Run menu in Windows Start Menu and type "\\172.168.1.1\data" and it’s works. One dialog box appear, I must complete username & password verifications to enter Samba directory.

Manager IT Kebakaran Jenggot

Hari ini saya ditanya manajer saya di kantor, apa yang kamu download beberapa hari belakangan. Saya juga diminta membuat daftar server-server apa saja yang saya manage di kantor. Rupanya manager IT di kantor saya kelabakan karena membaca report bandwidth usage yang meningkat di kantor beberapa hari belakangan. Dia kirim email ke semua manager untuk menelusuri siapa yang mengakses Internet untuk mendownload file dalam kapasitas besar.

Di tulisan sebelumnya saya cerita tentang penggunaan wget untuk mendownload file. Saya pakai server Linux di kantor untuk mendownload image CDnya FreeBSD. Ada 4 CD yang saya download, dengan total sekitar 1,2GB. Untung yang diambil CDnya FreeBSD, kalau saya download “yang aneh-aneh” apa gak gempar seisi kantor? 😀

Aneh juga nih manajer IT, katanya boleh download asal di luar jam kantor. Lah saya kan download malam. Saya tinggal proses download-nya dengan wget, saya lihat log hasil download-nya dan proses download sudah selesai sekitar jam 4 pagi. Apanya yang membebani bandwidth kantor. Aya-aya wae. Memangnya kantor berlangganan internet pakai kuota seperti saya langganan Speedy, takut kehabisan kuota? 😀 Takut mengganggu aktivitas kerja? Lah siapa sih yang kerja malam-malam di kantor? Nyamuk?

Saya kan turut membantu kantor supaya resource yang ada tidak terbuang sia-sia. Ada bandwidth internet nganggur semalaman kan lebih baik dimanfaatkan, daripada terbuang percuma tidak ada yang pakai =)) <mode ngeles, cari kambing hitam ;)) > Sebenarnya judul tulisan ini kurang pas…kebakaran jenggot. Manager IT di kantor saya kan perempuan, jadi kebakaran apa ya yang pas :-p (Eh kebakaran jenggot kan sudah istilah umum kan untuk “kelabakan”?)

Kamu Punya Esia Gak?

Judul di atas adalah pertanyaan yang sering ditanyakan orang pada saya saat mau menelepon saya. Statusnya yang punya kepentingan adalah dia, bukan saya. Lantas kenapa kalau saya tidak punya Esia? Tidak jadi telepon saya…ya sudah bukan urusan saya itu. Gila, dia yang butuh kok saya yang harus punya Esia? Teman saya yang seorang pengusaha agrobisnis pun punya cerita yang sama. Rekannya yang punya kepentingan bisnis dengannya (dengan orang tuanya tepatnya) bertanya apakah ada nomor Esia yang bisa dihubungi. Ya ampun, dah jadi pengusaha besar kok masih mikirin telepon murah urusan uang ribuan rupiah.

Saya tahu Esia memang murah (meskipun sekarang operator lain pun tak kalah murahnya. Mungkin karena Esia menjadi operator pertama yang berani menawarkan tarif murah (jauh lebih murah dari kompetitornya). Akibatnya sudah kepalang banyak orang yang pakai Esia dan brand image bahwa Esia adalah telepon murah sudah demikian kuat.

Saya sendiri memilih menggunakan Telkom Flexi. Dari dulu saya tidak pernah punya keinginan untuk menggunakan Esia. Seringkali nomor Esia susah untuk dihubungi. Promo-promo yang ditawarkan (Rp50/menit lalu jadi Rp1000/jam) juga banyak bohongnya. Lah bagaimana mau jadi seribu, wong belum sampai 1 jam sudah call dropped alias putus koneksi. Saya tahu dari cerita beberapa teman pengguna Esia. Ada anekdot katanya Esia cocok untuk orang yang lagi pacaran :-p …halah….mungkin benar juga sih, biar telepon sampai kuping panas ya murah. Ya mungkin karena saya tidak pacaran juga jadi saya tidak jadi pengguna Esia =)).

Di luar kejelekannya, saya harus mengakui kehebatan Esia menjaring pasar. Orang “dipaksa” tetap bertahan dengan layanannya yang pas-pasan. Bahkan dengan cara pemasaran seperti itu, Bakrie Telecom sukses “mencuci otak” para pengguna Esia, sampai-sampai mereka selalu latah “kamu punya Esia gak?”  Dengan efek-efek tadi pun sukses memaksa seorang blogger menulis tentang Esia…ya saya ini yang sebal kalau ditanya “kamu punya Esia gak?” =)) .

Masak Nasi Yuk

rice cookerTahukah Anda bagaimana sebuah rice cooker bekerja? Ide tulisan ini muncul karena belakangan saya sering masak nasi sendiri dengan rice cooker pinjaman 😀 .

Cara rice cooker memanaskan bagian dalamnya sama seperti cara kerja setrika. Panas dihasilkan dari sebuah elemen yang mengubah energi listrik menjadi energi panas. Prinsipnya persis sama seperti yang digunakan di setrika atau pemanas air elektrik. Rice cooker bekerja dengan memanaskan air sampai titik didihnya. Panas akan tersalurkan ke panci tempat beras dan air diletakkan. Air akan menguap pada temperatur 100 Celcius. Pada temparatur tersebut semua air akan habis menguap. Sehingga tepat ketika air di dalam panci sudah habis, nasi pun masak.

Di bagian bawah rice cooker terdapat sebuah termostat. Termostat akan mendeteksi apakah air sudah mencapai titik didihnya atau belum. Ketika air sudah mencapai titik didihnya (100C), rice cooker mempertahankannya beberapa saat (membiarkan semua air menguap) lalu menurunkan suhu menjadi sekitar 60 Celcius sehingga suhu di dalam panci akan bertahan untuk menghangatkan nasi di dalamnya.

Menurut Wikipedia, yang pertama memproduksi rice cooker adalah Jepang pada tahun 60an. Karena banyak orang di Jepang yang bekerja seharian, mereka butuh cara menanak nasi yang praktis dan cepat. Cuci berasnya, masukkan ke dalam panci (itu loh bagian dalam rice cooker), beri air sesuai takaran, masukkan ke dalam rice cooker, tancapkan stekernya ke power outlet…beres. Cukup tunggu sekitar 20 menit nasi pun matang. Jauh lebih praktis dan cepat dibandingkan menanak nasi secara konvensional.

Kenyang baru makan nasi & dendeng sapi, nasinya masak sendiri ;))

Terminal Emulator

Anda yang bekerja di dunia computer networking atau bekerja sebagai sistem administrator pasti kenal dengan yang namanya terminal emulator. Itu loh program yang bisa dipakai melakukan telnet, ssh, atau rlogin. Tiap sistem operasi komputer sebenarnya sudah dilengkapi dengan program ini. Windows misalnya sudah dilengkapi dengan MS DOS Prompt (yang kemampuannya pas-pasan). Sayang MS DOS Prompt ini tidak bisa dipakai sebagai ssh client. Di Unix atau Linux kita bisa langsung menggunakan terminal untuk membuka koneksi telnet, ssh, rlogin. Windows memang banyak kelemahan kalau dipakai untuk mengakses terminal remote computer….gak percaya? Coba saja bagaimana susahnya mau meng-copy keluaran telnet session, gak bisa langsung block-right click-copy. Tidak heran kalau banyak program terminal emulator di Windows yang bisa digunakan untuk pekerjaan tadi, mulai dari yang gratisan sampai yang berbayar.

Ada banyak program terminal emulator (di Windows) yang bisa dipakai untuk mengakses server secara remote; di antaranya adalah (sumber : Wikipedia) :

  1. PuTTY – gratis
  2. TeraTerm – gratis
  3. SecureCRT – tidak gratis
  4. Poderosa – gratis tapi repot karena butuh  .NET Framework 2.0

Dua program pertama adalah yang sering saya pakai saat ini. PuTTY adalah terminal emulator gratisan. Dibuat oleh Simon Tatham pada tahun 1997. Kalau Anda memerlukan PuTTY silakan download sendiri di sini. Saya sendiri kurang suka dengan PuTTY (meskipun kadang-kadang masih pakai). Saya lebih suka menggunakan TeraTerm. TeraTerm selain bisa dipakai sebagai telnet & SSH client, bisa digunakan juga untuk mengakses serial port. Aplikasi ini adalah hasil buatan T. Teranishi (orang Jepang) pada tahun 1996. Yang minat mencoba TeraTerm silakan download di sini.

Ada beberapa hal yang membuat saya lebih memilih TeraTerm daripada PuTTY :

  1. TeraTerm bisa dipakai mengakses serial port.
  2. Gampang menyimpan log (terminal ouput) dari tiap session yang dibuka.
  3. Bisa menyimpan banyak IP di cache-nya. Jadi gak perlu lagi mengetik ulang tiap IP yang sudah pernah diakses. Di PuTTY kita memang bisa menyimpan alamat IP yang sering kita akses. Tapi kok sepertinya lebih repot. Saya juga heran kenapa orang mau repot ketik ulang alamat IP setiap kali menggunakan PuTTY.
  4. Pengaturan jenis dan warna font/background lebih mudah dilakukan.

Kembali ke masalah selera sih. Yang penting kan pekerjaan bisa terselesaikan dengan mudah :D.