Bolpen Multifungsi

Tadi pagi saya dapat kiriman dari Citibank, sebuah kotak kaleng berukuran lebih kurang 11×9 cm. Kemasannya cukup menarik. Ternyata isinya adalah ballpoint multifungsi.Selain sebagai bolpen biasa, ada tambahan USB disk drive berukuran 2GB di dalamnya plus laser pointer. Ukurannya bolpennya agak gendut, di atas rata-rata bolpen biasa (setidaknya lebih besar bolpen yang sering saya pakai ;)) ).

USB disk drive-nya berada di tengah-tengah, jadi harus diputar lepas dulu sambungannya. Laser pointer-nya menggunakan 3 batere jam sebagai sumber tenaganya. Laser pointer ini biasa dipakai orang saat presentasi untuk membantu menujuk slide presentasi. Buat saya sendiri yang hampir tidak pernah presentasi entah apa ada gunanya laser ini. Bagi saya sekarang rasanya yang paling bermanfaat adalah USB disk drive-nya.

Saya baru ingat kalau ternyata beberapa waktu lalu saya pernah mengklaim poin reward kartu kredit Citibank saya dengan hadiah ini. Padahal saya juga klaim sebuah tas tapi entah mengapa baru bolpen ini yang datang.

Energy Saving Mode

Beberapa kali saya pernah melihat tampilan mode hemat energi di blognya Paman Tyo. Kalau saya tidak menggerakkan kursor, tidak menekan tombol apapun, sibuk browsing halaman lain, halaman blog itu akan menjadi hitam dengan tulisan “mode penyimpanan energi”. Begitu saya balik lagi ke halaman blog tadi dan mulai menggerakan kursor, halaman hitam itu menghilang.

Pagi ini saya baru tahu itu adalah plugin yang disediakan oleh OnlineLeaf.com. Saya pun tergerak untuk langsung mencobanya. Caranya mudah sekali, tinggal menyisipkan sepotong kode Javascript ke dalam header blog. Petunjuk instalasinya dijelaskan secara mudah di sini. Berikut tampilan blog saya jika tidak disentuh-sentuh selama 2 menit :

Tangkapan layar saat mode hemat energi

Tersedia beberapa opsi pada fitur ini, misalnya saya bisa memilih bahasanya bukan lagi bahasa Inggris. Ada 23 bahasa yang disediakan, termasuk Bahasa Indonesia. Blognya Paman Tyo menggunakan Bahasa Indonesia, saya masih suka dengan tampilan default-nya dalam bahasa Inggris. Opsi lain adalah saya bisa mengatur lamanya proses “time of inactivity” (lamanya waktu tidak ada aktivitas dalam halaman blog ini) menjadi beberapa detik atau menit, standarnya 2 menit.

Menurut websitenya menampilkan halaman hitam saat tidak dipakai itu cukup mengurangi konsumsi listrik. Entahlah saya juga tidak tahu seberapa hemat, sama seperti pernyataan mereka di blognya :

It might not seem like a lot of difference, but after all every little bit does count.

Lepas dari benar tidaknya hemat energi, cukup menyenangkan bagi saya memiliki blog dengan fitur seperti ini 😀

Sepenggal Bromo

Ini salah satu foto favorit saya selama ikut Premium Mentor Series Photo Trip bulan Oktober lalu. Foto separuh Gunung Bromo ini diambil dari atas Gunung Pananjakan 2. Di bagian depan adalah sepenggal Gunung Batok. Gunung Bromo sendiri sampai sekarang masih tergolong aktif, asap putih terus mengepul keluar dari kawahnya.

Bromo #5

Sayang waktu itu cuaca kurang bersahabat. Mendung terus dan kabut terus turun. Pagi itu kami baru selesai turun dari puncak Gunung Penanjakan 2 dan bersiap untuk pulang ke hotel. Saat itulah foto ini saya ambil.

Bebek Goreng H. Slamet

Begitu senang saya begitu ada restoran bebek goreng yang dekat dengan tempat saya tinggal sekarang. Awalnya saya tidak sengaja melihat ada rumah makan baru waktu melintas dengan taksi di jalan Musi. Langsung saya coba, dan ternyata ueeenakkkk….dagingnya sangat lembut. Selain daging bebeknya lembut, keistimewaan bebek goreng H.Slamet ini adalah sambalnya yang super pedas. Mereka sebut sambalnya adalah “sambal korek”, entah apa maksudnya disebut demikian. Bagi yang suka pedas, makan sambal ini bisa jadi kesenangan tersendiri…makan sambal sampai berkeringat. Tapi bagi yang tidak suka pedas, saya sarankan coba dulu sedikit 😛

Bebek goreng H.Slamet ini lembut sekali dagingnya.

Sambel korek Bebek Goreng H.Slamet, super pedas

Bebek goreng H.Slamet ini lokasinya di Jalan Musi Jakarta Barat (dekat dengan Cideng & Tomang). Kalau Anda melintas dari arah Tanah Abang menuju Cideng, silakan belok kiri tepat di lampu merah pertama. Belok kiri ke jalan Musi lalu belok kanan, tidak jauh setelah Anda belok kanan Anda akan menemukan papan nama yang cukup mencolok. Lokasi rumah makan bebek goreng ini tepat di depan show room Suzuki. Rumah makannya tidak mewah malah cenderung sederhana, interiornya didominasi cat warna hijau senada dengan papan nama di depan. Sekat-sekat antar ruangan dibuat dari bambu. Tidak ada pendingin udara hanya kipas angin yang ada. Meskipun demikian, disediakan akses WiFi gratis untuk pengunjung 🙂

Daftar menu sekaligus note bebek goreng H.Slamet

Harganya tidak terlalu mahal, sepotong paha/dada bebek goreng seingat saya harganya sekitar 18-20 ribuan. Beberapa kali pergi ke sana dengan beberapa rekan, makan bebek plus minum total tidak sampai Rp150.000,- Selain bebek goreng di sana ada alternatif penyajian bebek goreng, yaitu bebek remuk. Maksudnya daging bebeknya sudah di-suwir-suwir (jadi pakai bahasa Jawa ;)) ya maksudnya sudah dicabik-cabik lah). Kalau Anda ke sana sempatkan pula mencicipi tempe mendoan-nya. Di sana disediakan paket-paket makanan, bundle nasi+ bebek atau nasi + ayam.

Kotak Bungkus Bebek Goreng H.Slamet

Seringnya saya beli bebek ini titip rekan saya di rumah. Kotaknya dibuat senada juga dengan interior rumah makannya, warna hijau. Pemilik rumah makan ini sepertinya orang muslim yang religius. Di kotak bungkus bebeknya sampai ditulisi bahasa Arab “Bismillahir Rahmanir Rahim”, kalau menurut Google terjemahannya adalah “Dengan NAMA Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. Sepertinya H. Slamet ini sudah cukup lama membuka usaha rumah makan bebek goreng. Di kotaknya ditulis informasi bahwa bebek goreng ini sudah ada sejak tahun 1986. Mungkin awalnya dibuka di kota Kartosuro, karena ditulis asli Kartosuro 😀

Pokoknya bagi pecinta bebek goreng, silakan jangan ragu untuk mencicipi enaknya bebek goreng H. Slamet….so far buat saya ini bebek goreng terenak yang saya temui di Jakarta.

Busway Lewat Slipi

Sejak awal tahun ini beberapa koridor baru bus Trans Jakarta mulai dioperasikan. Salah satu yang saya tahu adalah koridor baru yang menempuh rute Pinang Ranti menuju Pluit. Saya tahu karena ini melalui area Slipi, area yang hampir setiap hari saya lalui. Koridor IX ini benar-benar menambah macetnya area Slipi. Tiap pagi saya berangkat ke kantor lewat jalan Jend. S Parman, sekarang dengan busway yang sudah lewat situ terasa sekali peningkatan kemacetannya. Titik kemacetan yang pertama saya alami kalau berangkat pagi ke kantor adalah di perempatan Tomang. Perempatan Tomang menuju Slipi memang tidak pernah sepi dari macet karena jalannya yang menyempit (bottle neck). Sekarang saat ada busway melintas, kondisinya makin parah. Apalagi bila tepat saat lampu menyala hijau dan kebetulan ada busway melintas. Mobil, motor harus berbagi jalan dengan busway…berebut jalan tepatnya untuk segera lewat dari area lampu merah X(

Update 11/01/2011 : Foto tadi pagi, busway, motor, mobil berebut jalan di perempatan Tomang menuju S Parman. Terjebak macet di tengah-tengah lampu merah.

Pulang kantor pun demikian, rute Senayan menuju Tomang sudah demikian padat mulai dari gedung DPR/MPR sampai perempatan Palmerah – Slipi. Biasanya macet hanya terjadi di jam pulang kantor, tapi belakangan jadi melebar sampai pagi & siang hari pula. Hari ini saya baca account twitter-ya TMC Polda Metro & Radio Elshinta, kemacetan menggila sejak siang hari di seputaran Slipi. Ini karena jalur busway yang dijaga aparat, sehingga total lebar jalan yang biasa dapat digunakan oleh kendaraan lain menjadi berkurang. Sebelum koridor IX beroperasi jalur busway yang sudah disiapkan beberapa tahun lalu itu digunakan juga oleh kendaraan lain. Macet dari depan DPR/MPR sampai lampu merah Slipi lalu dilanjut padat merayap terus sampai Slipi Jaya, jadi makin menyebalkan lewat jalan Jend. S Parman X(

Tidak cuma saya yang merasakan hal ini, beberapa rekan di kantor pun mengeluhkan hal yang sama. Perjalanan dari area Bekasi menuju Jakarta semakin lama waktu tempuhnya. Entah apakah busway ini bisa disebut sebagai cara mengatasi kemacetan atau tidak. Sepertinya kok malah menambah kemacetan ya?