Motret Pemilu

Kamis pagi saya segaja bangun pagi walaupun malamnya saya baru tidur sekitar pukul setengah 4 pagi. Kamis 9 April 2009 ini serentak di seluruh Indonesia diadakan pemilihan umum untuk memilih “wakil rakyat”. Jam 8 lebih saya bangun tapi baru berangkat ke TPS sekitar jam 10. TPS itu singkatan Tempat Pemungutan Suara bukan Tempat Pembuangan Sampah loh ya ;)). Kalau dipikir-pikir aneh juga penamaannya, kata “pemungutan” memangnya apa yang terbuang sampai harus dipungut-pungut =))

Niat saya bangun pagi bukan untuk ikut memilih tapi untuk memotret. Saya pikir tidak rugi mengabadikan momen 5 tahunan ini. Kebetulan Pak Hendro – bapak kos saya – bertugas sebagai Ketua Penitia Pemungutan Suara. TPS-04 persis berada di depan kos saya di bangunan bekas sekolah yang sudah lama tidak dipakai. Selain TPS-04, bekas gedung sekolah itu juga digunakan sebagai tempat TPS-05. Acara di TPS – 04 dimulai sekitar pukul 7 pagi dan dijadwalkan selesai pukul 12 siang. Saat saya datang ke TPS suasana masih cukup ramai. Warga yang ingin memilih masih berdatangan, tidak berduyun-duyun tapi terus menerus 1 – 2 orang datang.Menurut ketua TPS – 04, cukup banyak juga warga yang tidak terdaftar. Kalau menurut Detik.com, itu terjadi karena buruknya pendataan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Selasa lalu saya baru menerima KTP Jakarta, jadi saya maklum saja kalau belum terdaftar. Wajib maklum donk, lah wong yang jadi warga selama puluhan tahun saja bisa luput dari Daftar Pemilih Tetap. Oh ya sebenarnya saya sudah menuliskan pengalaman saya membuat KTP di Jakarta tapi malah belum saya publish (menyusul saja).

Surat suara yang dipakai di Pemilu legislatif ini besar ukurannya, sepertinya hampir sebesar ukuran lembaran surat kabar. Yang menarik adalah banyak sekali pemilih yang tidak tahu bagaimana cara memilih yang benar. Yang saya perhatikan, ukuran surat suara yang hampir sebesar lembar surat kabar itu cukup menyulitkan pemilih. Petugas TPS beberapa kali membantu warga melipat surat suaranya. Surat suara yang besar itu berisi daftar nama calon legislatif dari masing-masing partai yang ikut Pemilu. Ah saya kok tidak yakin warga yang ikut Pemilu kenal orang-orang itu. Cerita 2 orang rekan saya juga senada dengan opini saya tadi, mereka hanya kenal AM Fatwa di antara sekian nama calon yang tercantum di surat suara mereka. Ah bukan urusan saya juga menilai sistem pemilihan umum di negara kita ini 🙁

Seperti Pemilu-Pemilu sebelumnya warga yang sudah selesai mengisi surat suara & memasukannya ke dalam kotak, diwajibkan mencelupkan ujung jarinya ke dalam tinta khusus. Katanya tinta ini tahan menempel di kulit sampai lebih dari 1 hari. Tinta ini diharapkan bisa mencegah warga memilih lebih dari 1 kali….memangnya ada ya orang yang niat memilih sampai 2 kali? Hampir sejam lebih saya berada di area TPS, tapi tidak cukup puas dengan hasil foto-fotonya 🙁 . Foto-foto lainnya saya taruh di Flickr.

Thinking of You

Thinking of You mungkin bisa diartikan “mikirin kamu”, atau kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa jadi “ngerasani kowe” (mudah-mudahan tidak salah…tolong dikoreksi kalau salah), atau kalau jadi bahasa Cirebon jadi “mikiri sira” =))

Kira-kira apa yang ada di pikiran Anda kalau foto anjing di atas diberi judul seperti itu? Anjingnya yang sedang mikir atau sebaliknya yang motret yang sedang mikirin anjing itu? Atau malah sedang mikirin yang lain? =))

Count The Balls

Count The Balls adalah judul foto saya ini :

Foto di atas adalah salah satu koleksi foto-foto saat liburan ke Singapura Desember lalu. Aslinya foto tersebut tidak terlalu menarik, terlalu luas tanpa POI (point of interest). Foto aslinya seperti ini :

Foto aslinya tidak mampu bercerita seperti apa yang saya pikirkan waktu itu. Bandingkan foto asli itu dengan foto pertama, menurut saya foto pertama sudah mampu bercerita. Orang sepintas akan mengerti mengapa judul fotonya adalah “Count The Balls”.

Saat sedang duduk-duduk di Marina Bay, saya lihat 2 anak itu bermain-main di dekat pagar pembatas. Tak lama mereka nungging seperti itu, entah melihat apa ke bawah sana.  Mungkin mengagumi bola-bola yang sedemikian banyak di air. Di latar belakang ada banyak bola-bola putih di air (itu laut atau sungai ya…lupa nanya waktu itu). Bola-bola itu katanya dipasang untuk acara malam tahun baru 2009. Posisi saya duduk dengan kedua anak itu cukup jauh. Sayang lensa saya terlalu pendek, zoom sudah maksimum tapi tidak mampu mengisolasi gambar pada kedua anak itu saja. Senin lalu saya iseng mencoba cropping foto aslinya. Cropping/pemotongan gambar saya pilih untuk menonjolkan POI di kedua anak tersebut, dan supaya fotonya bisa bercerita (atau paling tidak bisa seirama dengan judulnya).

Jadi kesimpulannya : foto yang kurang jelas Point of Interest-nya bisa diakali dengan cropping (memotong gambar) pada bagian objek yang ingin ditonjolkan saja. Kesimpulan kedua : belilah lensa tele segera =)) (supaya lain kali bisa mengambil foto momen-momen langka dari kejauhan).

Stay Away From The Water

Hmmm…. ini salah satu hasil utak-atik saya dengan GIMP. Crop fotonya, tambahkan frame, buat signature. Memang meniru apa yang rekan saya Jennifer lakukan dengan koleksi foto-fotonya. Tenang saya sudah ijin kok meniru gayanya 😀

(taken using Canon EOS 1000D + Canon EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS; Exposure=1/320; Aperture=f/5.6; Focal Length=55 mm; ISO Speed=100)

Fotonya saya ambil di Singapura bulan Desember lalu. Lokasinya di dekat Esplanade. Si bule sedang menangkap anaknya yang mencoba mendekati air. Walaupun belum bisa berjalan, si anak sudah bisa merangkak. Untung bapaknya masih memperhatikan anaknya, kalau gak mungkin si bayi bisa tercebur ke sungai ;))

Singapore (part 7) – Foto-Foto Terbaik Di Singapura

Setelah membeli Canon EOS 1000D di Singapura, saya banyak sekali memotret. Setidaknya ada 10GB foto yang saya ambil dengan kamera DSLR itu. Sepulangnya ke Indonesia, saya lihat hasil-hasil foto tadi dan di tulisan ini Anda bisa melihat foto-foto yang paling saya suka. Saya merasa ini adalah foto-foto terbaik yang saya ambil selama di Singapura, sangat puas dengan hasil-hasilnya. Tidak ada editing yang mengubah tampilan foto, saya hanya menambahkan signature di bagian bawah foto dengan bantuan Adobe Image Ready.

  1. Foto Fullerton Hotel Singapura

    (Canon EOS 1000D + Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS, shutter speed 1/10sec, aperture F/5, focal length 18mm, ISO 1600)
  2. Foto Riverside Point di kawasan Clarke Quay

    (Canon EOS 1000D + Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS, shutter speed 1/8sec, aperture F/4.6, focal length 18mm, ISO 400)
  3. Foto Sungai Singapura di kawasan Boat Quay

    (Canon EOS 1000D + Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS, shutter speed 1/5sec, aperture F/4, focal length 21mm, ISO 1600)
  4. Foto gedung parlemen Singapura

    (Canon EOS 1000D + Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS, using tripod, shutter speed 1/2sec, aperture F/5, focal length 42mm, ISO 400)
  5. Foto tempat parkir basement Esplanade Theatre Singapore

    (Canon EOS 1000D + Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS, shutter speed 1/99sec, aperture F/4, focal length 24mm, ISO 1600, white balance fluorescens)
  6. Foto Novotel Hotel di kawasan Clarke Quay SIngapura

    (Canon EOS 1000D + Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS, shutter speed 1/4sec, aperture F/4.6, focal length 20mm, ISO 400)
  7. Foto salah satu sisi Pulau Sentosa Singapura

    (Canon EOS 1000D + Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS, shutter speed 1/10sec, aperture F/5, focal length 18mm, ISO 800)
  8. Foto sisi lain gedung parlement Singapura

    (Canon EOS 1000D + Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS, shutter speed 1/5sec, aperture F/4, focal length 21mm, ISO 1600)
  9. Foto Lain Sungai Singapura

    (Canon EOS 1000D + Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS , shutter speed 1/5sec, aperture F/4, focal length 18mm, ISO 1600)