Nikahan Buchari

Minggu sore kemarin saya pergi ke acara resepsi pernikahan rekan saya Buchari Muslim. Buchari adalah rekan satu kantor ketika sama-sama masih bekerja di PT Fujitsu Indonesia. Acaranya diadakan di gedung BKKBN di dekat bandara Halim Perdanakusuma. Resepsi dimulai jam 7 malam. Saya berangkat bersama teman-teman Fujitsu lain. Tiba di tempat acara, tamu-tamu sudah berdatangan dan cukup sesak memenui auditorium tersebut.

Berangkat ke acara tersebut saya juga bawa kamera. Niat motret teman-teman dan tentu motret Buchari dengan pakaian adatnya :-p Ternyata fotografer resmi acara nikahan Buchari tidak hanya 1 orang saja. Seperti yang saya cerita di tulisan saya yang lalu, kali ini saya malah tidak sempat minta ijin motret kepada fotografer resmi acara tersebut. Sang fotografer begitu sibuknya memotret, tamu undangan dan keluarga yang perlu difoto demikian banyaknya. Ya sudah masa nunggu ijin terus-terusan sambil ga motret-motret, tetap ikuti etika saya motret Buchari dari jauh saja – tanpa lampu flash tentunya.

Cahaya di panggung cukup terang, jadi tanpa flash pun saya masih bisa mengambil foto pengantinnya. Cukup sulit memotret kedua mempelai sendiri karena tamu undangan yang naik ke panggung ingin bersalaman tidak kunjung habis. Beruntung saya bisa memotret Buchari & Runi berdua saja saat rehat sejenak, saat tidak ada tamu yang naik ke panggung untuk bersalaman. Terlihat sekali Buchari kelelahan (atau mungkin kepanasan) terus-menerus menerima ucapan selamat dari para tamu. Tapi sepanjang acara saya lihat raut muka Buchari ceria terus 🙂 Foto di samping ini saya ambil saat menunggu giliran difoto. Pembawa acara sibuk memanggil rekan-rekan dan keluarga untuk berfoto bersama pengantin. Salah satu grupnya yang dipanggil foto adalah rekan-rekan Buchari di Fujitsu. Rekan-rekan saya pun bergegas bergerak mendekati panggung, demikin juga dengan saya. Lah padahal saya kan bukan orang Fujitsu lagi; kok pede amat ikutan maju? 😀 Ah cuek deh ikut foto grupnya Fujitsu :-p

Ada banyak macam hidangan yang disajikan di acara resepsi, tapi semalam saya hanya makan satu menu saja : mie yogya. Begitu sudah pegang kamera saya jadi malas makan. Sebenarnya bukan malas makan, tapi saya bingung mau taruh kamera di mana. Biasanya saya tinggal menyandang DSLR di bahu, tapi dengan flash eksternal terpasang saya kesulitan menyandang kamera. Bobot flash eksternal membuat kamera selalu “ambruk” ke depan. Halah malu-maluin ya…perlu belajar cara menyandang kamera di bahu dengan flash terpasang :)) . Hmm…atau mungkin kameranya perlu dipasangi battery grip untuk menambah bobot dan stabilitas body kamera ;)) Daripada bolak-balik menaruh kamera ke dalam tas, ya sudah saya pegang saja terus kameranya. Ga perlu makan yang penting bisa ambil foto teman-teman yang lain. Foto-foto lainnya dari acara resepsi kemarin saya upload di Flickr.

Untuk Buchari & Runi : selamat berbahagia

Hunting With Professional Photo

Sunday morning I went to Kota Tua Jakarta to join photo hunting. Hunting held by Professional Photo studio July 13, 2009. Kota Tua is a famous location in Jakarta for photographic activities. Kota Tua means “old city”, it’s a conservation district in Jakarta that has many colonial building, heritage from Dutch when conquered Indonesia over 350 years. Leave my home at 6 am and arrived there 20 minutes later. In Sunday morning, Kota Tua area was so busy, many people went there to many purpose. Some of them did sport activity (soccer, badminton, cycling, etc), the others just walking around, and some others like me taken photos.

The centre of those activities is Fatahillah Museum’s front yard. Fatahillah Museum was Hunting finished around 9 am since the sun start shined too bright. I only used 50mm lens during photo hunting. Since I only used 50mm lens, I must chose the unique object that fit to the frame 😀 It was my first time going to Kota Tua to take pictures. I’ve heard (and read) about Kota Tua regarding the photographic activities. My friend Fendi also recommend me to go there. Not like him who go hunting regulary, I never go photo hunting at Jakarta. Too lazy to go hunting 🙁 The only photo hunting that I did (before today) was last December at Singapore. It was the first time I used DSLR camera just after bought it at Sim Lim mall Singapore. Here is the result of my hunting :

I’ve upload the rest of the photos at Flickr. Hmm, I don’t know yet how to integrate my album at Flickr with my blog 🙁 I should find it out immediately, because it’s very stupid to upload the photo twice….on at Flickr and also at Picasa as well. Until now I only know how to put the picture in blog from Picasa, but I like Flickr as well. Ah forget one other place : Facebook. I’ve also put some of my photo at Facebook, never change the wall post or wall status but only upload some photo there. Not like many people I know that very addict to change wall post (status) :-p Ups….out of topic, just want to tell you about my photo hunting activity not to share my opinion about Facebook 😀

Shadowless Photograph

Have a lot of time today, I tried to shoot my pocket camera Nikon Coolpix L14. One year old camera which has been accompanying me when travel to a lot of places. I bought this camera last year (February 16th, 2008). It always hangs on my belt every time I go, even when I go to the office.

To shoot my camera I’ve no mini studio yet. I just want to explore my external flash, Canon Speedlite 430EX. So I prepare the environment before shooting. I just used a sheet of white paper. It was laid on the a pile of books closed to the wall. Some part of that paper reclined to the wall. Placing my Coolpix in certain angle and shoot it with my EOS 1000D with Speedlite 400EX II too. I used Lambency flash diffuser as well. I arranged the Coolpix in such position so that only white floor & background seen. Using the external flash with diffuser, I can get the minimum shadow below/beside/behind the object. Maybe my next experiment will using the other light source on both sides of the object. It will minimize the shadow much more. I don’t know why the result of background is not white enough, a little bit grey I think. Some possibilities there : the paper is not 100% white, my diffuser spread the light with some color effect, I used incorrect white balance, the room light gives those color effect, or maybe my picture style was not correct.

Overall, I’m satisfied with the result. It makes me know better about the importance of lighting in photography. I can get a shadowless photograph with correct lighting. No matter what kind of light sources we used, the angle of the incoming light should be in perfect ways to achieve best result. How about my picture on that picture? Ah it’s just a simple touch using GIMP (Photoshop-like software in Linux). I crop the LCD part of the Coolpix picture and put my picture as a layer behind the main layer. The idea of this composition taken from Ken Rockwell’s website. Of course my picture is not comparable than his pictures :-p

Wedding Shoot

Ceritanya akhir pekan lalu saya pulang ke Cirebon. Sepupu saya menikah di Cirebon. Kesempatan memotret bagi saya, kesempatan juga mencoba Speedlite dan diffuser-nya juga 😀 Tidak gampang memotret momen pernikahan. Apalagi saya hanya bermodal lensa fix 50mm. Untuk zoom in saya harus mendekat ke objek, untuk memotret beberapa orang sekaligus saya harus mundur jauh ke belakang. Untung mundur-mundur tidak sampai terjebur kolam…ah emangnya filmnya Dono Kasino Indro :))

Sebenarnya saya agak segan memotret di tengah acara seperti itu, karena sudah ada fotografernya. Untungnya lensa 50mm saya punya aperture cukup besar, sehingga saya masih bisa memotret tanpa harus menggunakan flash. Agak ragu juga saya menggunakan flash, takut mengganggu fotografer aslinya. Saya kan bukan fotografer resmi acara nikahan itu, malu mengganggu mereka. Untung juga lampu sorot milik fotografernya cukup kuat, foto di samping ini misalnya cukup menggunakan f/4 dengan ISO 800. Hmm niatan awal mencoba flash eksternal jadi dialihkan untuk memotret kerabat yang kebetulan datang di acara resepsi. Motret pengantinnya (seperti foto di samping ini) malah hampir semuanya tidak pakai flash sama sekali.

Ngomong-ngomong soal mengganggu fotografer resmi, tadi malam saya tanpa sengaja membaca postingan di forum fotografi (Fotografer.net) tentang keluh kesah salah satu wedding photographer. Ceritanya dia sebagai fotografer acara pernikahan merasa terganggu dengan adanya fotografer-fotografer lain yang ikut memotret di tengah acara. Ramai juga diskusi di forum itu, beberapa komentar juga mengiyakan pengalaman mereka memotret acara pernikahan dengan “selingan” fotografer tidak resmi. Fotografer tidak resmi bisa saja yang amatiran, fotografer beneran yang dibawa sebagai tambahan oleh pihak keluarga pengantin, atau bisa juga kerabat/saudara yang ikut memotret. Walah saya jadi berpikir, jangan-jangan apa yang saya lakukan kemarin mengganggu fotografer resmi acara nikahan kemarin itu (padahal paragraf pertama dan kedua sudah saya tulis di draft sejak hari Senin tapi belum selesai-selesai)

Flash back sebentar saya ingat-ingat apa saja yang saya lakukan. Hmm rasaanya saya motret pengantin tanpa flash, flash saya pakai juga sih tapi saat si fotografer tidak sedang memotret, rasanya saya berdiri tidak menghalangi area jepretan (frame) si fotografer….rasa-rasanya sih saya tidak mengganggu. Gak tau juga kalau ternyata fotografernya dongkol lihat saya motret-motret :-p Tapi saya penasaran juga dengan topik ini. Jadi saya putuskan untuk coba melemparkan topik di forum tentang apakah bolehkah memotret di tengah acara pernikahan. Sekadar ingin tahu pendapat mereka yang sehari-hari berkecimpung sebagai wedding photographer. Hampir semua komentar yang masuk mengatakan boleh-boleh saja seorang pehobi foto seperti saya mengambil foto di tengah acara pernikahan, tentunya dengan etika tertentu. Salah seorang anggota forum yang berprofesi sebagai wedding photographer menuliskan seperti ini :

  • Sudah mendapat izin dari yang punya hajat dan atau EO nya
  • Adanya komunikasi dengan fotografer utama, jika ada termasuk mengikuti aturan yang diterapkan fotografer utama.
  • Tidak menghalangi atau berdiri berlawanan dengan fotografer utama
  • Tidak mengganggu jalannya acara & mengganggu fotografer utama (mis. pemakaian flash yang malah mentrigger flash fotografer utama, jika ada slave flash)
  • Dapat menghargai fotografer utama dalam menjalankan tugas
  • Hanya mengingatkan kembali bahwa fotografer utama mempunyai tanggung jawab hasil foto yang baik utk klien nya sedangkan kita hanya sekedar ikut motret
  • Walaupun kita di minta bantuan / di sewa oleh salah satu mempelai, tetap harus komunikasi dan menghargai fotografer utama nya

Rangkuman yang bagus dan cukup menjawab pertanyaan saya. Dari sekian banyak daftar etika tadi, satu yang kemarin tidak saya lakukan : berkomunikasi dengan fotografer utamanya. Hmm mereka sibuk & saya segan untuk ijin motret (segan atau malu ya? 😀 ). Jadi pelajaran buat saya kalau memotret liputan yang punya fotografer resmi kudu ijin dulu sebelumnya.

Lambency Flash Diffuser

Postingan ini masih ada hubungannya dengan cerita saya minggu lalu soal beli flash eksternal. Bedanya waktu itu saya menulis dalam bahasa Inggris, sekarang saya tulis dalam Bahasa Indonesia…maklum sudah hampir tengah malam, kemampuan bahasa Inggris saya kadang pudar setelah jam 11 malam 😀 . Setelah punya flash eksternal saya jadi ingin beli flash diffuser. Flash diffuser sendiri gampangnya adalah alat yang dipakai untuk membantu penyebaran cahaya yang dikeluarkan oleh lampu flash secara merata ke segala arah. Masih ingat istilah difusi kan di pelajaran IPA dulu? 😀

Awalnya saya tidak begitu paham pentingnya (atau tepatnya kelebihan) menggunakan flash diffuser dalam dunia potret-memotret. Walau sudah dijelaskan oleh Budy rekan saya, tetap saja masih tidak punya bayangan. Sampai saya menemukan link yang cukup bagus di sini. Di website tersebut dijelaskan bagaimana flash diffuser mempengaruhi penyebaran cahaya dan menghasilkan pencahayaan yang lebih baik. Tidak perlu lagi tergantung pada langit-langit untuk melakukan bouncing cahaya. Saya masih ingat dulu saya diberi tahu alat seperti dalam foto ini namanya Gary Fong. Belakangan saya baru tahu kalau Gary Fong adalah salah satu merek flash diffuser. Harganya mak nyusss…setengah juta lebih. Mengikuti saran Budy lebih baik saya beli merek Lambency yang murah meriah. Satu Gary Fong mungkin ditukar dengan 3 Lambency :-p Jelas murah karena Lambency ini buatan China.

Saya cukup direpotkan dengan acara membeli difuser ini. Rabu malam saya pergi ke toko Bintang Mas di Mal Taman Anggrek. Menurut Budy, dulu dia juga beli flash diffuser di toko itu. Sampai di sana ternyata barangnya tidak ada yang cocok ukurannya. Setidaknya ada 4 jenis ukuran flash diffuser ini, sesuai dengan jenis flash eksternal yang digunakan. Akhirnya hari Kamis saya kembali lagi mengontak Pak Elyu, ternyata katanya dia punya stok Lambency yang cocok dengan Speedlite 430EX saya. Kamis siang barang sudah diantar ke kantor, mantap memang pelayanan Pak Elyu ini. Sepulang kantor saya langsung coba pasangkan Lambency ke Speedlite…ternyata ga masuk :(( Terlalu sempit, ukurannya kekecilan. Walaupun di dusnya tertulis tipe C2 ini memang cocok dengan Speedlite 430EX, tapi nyatanya tidak masuk. Saya kontak lagi Pak Elyu, katanya Lambency saya akan ditukar hari Jumat siang.

Jumat pagi saya dikabari oleh stafnya Pak Elyu, katanya Lambency penggantinya tidak ada…saya harus menunggu dulu beberapa hari. Walah….padahal Jumat siang saya harus pulang ke Cirebon. Ya sudah terpaksa saya akali saja. Dengan bermodal cutter pinjaman saya iris beberapa bagian gerigi Lambency tersebut. Ada bagian yang dibuat seperti gerigi fungsinya sebagai pegangan ke flash internal (di foto lihat bagian kiri bawah). Karena materialnya plastik, hal ini bisa dilakukan…cukup sulit karena plastiknya agak keras. Repot sedikit tak apa, yang penting saya bisa gampang memasang Lambency ini ke Speedlite.

Setelah terpasang di Speedlite 430EX II, foto diambil oleh Budy (sekalian mencoba Tokina wide lens barunya 😀 ) Cukup puaslah saya sudah punya flash eksternal dan Lambency flash diffuser ini. Tinggal cari acara untuk diliput…eh salah, cari acara yang memungkinkan saya mencoba flash diffuser ini :-p