Lunch @Blacksteer

Senin lalu kami tim Unix Fujitsu Indonesia pergi makan siang di Blacksteer Grand Indonesia. Makan steak ceritanya. Ada yang ulang tahun? Oh bukan…ini makan-makan merayakan hadiah Fujitsu President Award untuk NSN IN Project. Sebenarnya hadiah ini sudah cukup lama kami dapat, waktu acara Fujitsu Family Gathering Agustus lalu. Awalnya kami tidak punya rencana memilih Blacksteer sebagai tempat makan siang, kami ber-18 cuma berangkat ke Grand Indonesia tanpa tahu mau makan di mana.

Salah satu alasan memilih Blacksteer adalah adanya promo diskon 30% bagi pemegang kartu kredit UOB dan 50% bagi pemegang kartu kredit Mandiri. Hmm…saya sih bukan pecinta diskonan kartu kredit, tapi berhubung yang pegang dana bukan saya (yang pegang dana jagoan kartu kredit juga kali :-p ) ya saya sih manut saja mau makan di mana. Ternyata diskonan kartu kredit itu ada syarat dan ketentuannya juga. Diskon hanya berlaku untuk pembelanjaan makan sebesar Rp2juta. Jadi misalnya total makan adalah Rp3.5juta maka diskonan tidak berlaku. Bisa dinego dengan kasirnya jadi begini, Rp2juta dapat diskon sementara sisa Rp1.5juta tunai. Hmm…payah tidak transparan. Tapi ya memang tidak bisa disalahkan juga, lah wong namanya iklan kan harus semenarik mungkin apalagi bagi para pecinta diskonan kartu kredit seperti teman-teman saya itu tuh ;))

Oh ya tiap kali ada acara makan-makan kantor, bagi saya yang lebih menarik adalah foto-fotonya. Saya bisa mengambil foto banyak hal, dari foto dokumentasi acara sampai foto kekonyolan teman-teman saya 😀 Ujung-ujungnya tentu dikompilasi jadi komik seperti di bawah ini (tentu komentar yang ada di komik hanya rekaan saya saja).

Solo (part 4) – Bersepeda

Mampir sebentar di Solo 2 hari lalu saya mengamati fenomena bersepeda di sana. Yang pertama saya lihat adalah rombongan pelajar bersepeda saya jumpai di sekitar Jalan Adisucipto Surakarta. Perjalanan dari dan ke bandara, saya selalu berpapasan dengan pengendara sepeda. Tidak sedikit mereka yang bersepeda adalah anak-anak sekolah. Karena saya melintas sekitar pukul 1 siang, mereka pastinya baru pulang dari sekolah. Tidak cuma anak sekolah, banyak juga saya lihat ibu-ibu bersepeda, para karyawan bersepeda. Di taksi sewaktu menuju airport Rabu siang, saya berhasil memotret beberapa anak sekolah yang di bawah gerimis kecil mengayuh sepeda pulang dari sekolah.

Sepeda yang mereka gunakan juga berbagai macam, ada yang bertahan dengan sepeda kumbang (foto kanan), ada juga yang bersepeda dengan sepeda gunung (foto kiri). Mungkin harus dicari tahu apakah di Solo toko sepeda masih punya pasar yang cukup besar, mengingat masih banyak yang bersepeda di Solo. Hal yang unik bagi saya untuk mengamati mengapa di Solo masih banyak orang yang bersepeda di tengah jalan raya. Situasi kota Solo yang tenang dan tidak terlalu padat lalu lintasnya mungkin salah satu alasan mengapa orang masih gemar bersepeda ke sana ke mari. Tentu semuanya itu terlepas dari pikiran negatif kalau mereka cuma punya sepeda sebagai alat transportasi. Lalu lintas dan kota yang cukup tenang boleh jadi menjadi tempat yang menyenangkan untuk bersepeda. Di Yogyakarta saja yang katanya berpredikat kota pelajar, motor sudah jadi alat transportasi umum yang memenuhi kota. Jangan-jangan budaya bersepeda ini ada korelasinya dengan budaya orang Jawa yang “alon-alon asal kelakon”, pelan-pelan asal sampai (ah sok berfilosofi lu Ted :-p )

Di Jakarta belum tentu tiap hari kita bisa melihat orang bersepeda di tengah jalan protokol ibukota. Eh mungkin kalau melintas pagi-pagi di Sudirman masih bisa melihat rombongan Bike To Work. Bike To Work adalah kumpulan orang-orang yang senang bersepeda dari rumah menuju kantor. Jangan bayangkan kalau jarak rumah dan sepeda hanya dekat saja, salah satu rekan saya di kantor bersepeda dari Cibubur menuju Sudirman beberapa kali seminggu….terbayang gak sih jauhnya? Naik sepeda di jalan-jalan besar Jakarta mungkin bisa jadi sebuah aktivitas yang menguras adrenalin. Bayangkan saja bagaimana pengendara sepeda harus bersaing dengan ramainya kendaraan bermotor mulai dari bajaj, motor, mobil, bahkan kontainer. Lain kota lain juga memang motivasi orang bersepeda. Di Jakarta mungkin orang akan gembar-gembor soal mengurangi polusi udara dengan cara bersepeda ke kantor, atau bersepeda supaya sehat. Di Solo mungkin lain lagi motivasinya atau boleh jadi memang tanpa motivasi apapun saking terbiasanya bersepeda ke mana-mana.

**** woi buruan mandi terus berangkat kerja, jam 9 nih belum berangkat malah posting gak jelas soal naik sepeda :D….eh naik apa ya nanti ke kantor? sepeda, ojek atau taksi saja? ;)) ****

Solo (part 3) – Cuaca Buruk

Siang ini saya rencananya pulang dengan menumpang Garuda pukul 14.10. Dari hotel sebenarnya ada shuttle bus gratis menuju airport. Sampai jam 1 kurang 10, bus belum berangkat juga karena masih menunggu belasan tamu lain (1 rombongan) yang sedang makan siang. Halah…bosan menunggu saya putuskan naik taksi saja. Perjalanan menuju airport tidak sampai 20 menit. Saya langsung check-in & bergegas masuk ke Garuda Lounge berharap bisa internetan lagi. Ah sayang tidak ada fasilitas internet di lounge. Jadilah saya baca-baca majalah yang ada di sana.

Sekitar pukul setengah 2 hujan turun demikian lebatnya. Awal yang buruk pikir saya. Jam 2 lebih sedikit ada pengumuman bahwa GA224 dari Jakarta terpaksa dialihkan pendaratannya di Semarang karena cuaca buruk. Pesawat akan menuju Solo untuk mengangkut kami semua bila cuaca sudah memungkinkan untuk pendaratan. So here I am still waiting at Garuda Lounge. Without free internet, without power socket for my notebook, also without book. Just can post from my E51. Heavy rains still there….

Solo (part 2) – The Sultan Hotel

Saya tiba di Solo sekitar pukul 2 siang, hmm first time naik pesawat ke Solo 😀 Bandar udara Adi Sumarmo Solo ternyata kecil dan sepi. Terakhir saya mengunjungi Solo pertengahan tahun 2002 lalu. Waktu itu saya berangkat ke Solo dengan mobil rekan saya. Kali itu saya sengaja datang ke Solo, ke Rumah Sakit Dr.Oen Solo, untuk operasi mengeluarkan pen/platina yang ditanam di kaki saya. Platina itu 2 tahun tinggal di kaki saya setelah dipakai menyambungkan tulang kering saya yang remuk saat kecelakaan motor akhir tahun 1999 lalu. Ya sudah, ini bukan postingan tentang sakit penyakit 😀 saya mau cerita tentang Hotel The Sultan Solo.

Setibanya di Solo kemarin siang, saya langsung menuju Telkomsel. Memang kedatangan saya ke Solo kali ini untuk mengganti tape drive-nya Telkomsel. Tape drive itu apa? Bodoh-bodohannya tape drive adalah alat untuk menulis data ke dalam media tape, umumnya dipakai sebagai media backup data. Gambarnya seperti ini (yang dilingkari merah adalah bagian yang saya ganti kemarin):

Pekerjaan saya sebenarnya sudah beres sekitar jam 4 sore. Rupanya bos saya lupa memesankan hotel untuk saya, baru jam 5an rekan saya mencarikan hotel untuk saya dengan bantuan Dwidaya Travel. Tunggu punya tunggu sampai pukul setengah 7, Dwidaya belum bisa mencarikan hotel untuk saya. Semua rekanan Dwidaya di Solo sedang meeting & tidak bisa dihubungi…nah loh? So what kalau mereka meeting, kan saya gak perlu tahu itu; yang penting mana hotel untuk saya? Ah cape menunggu saya browsing saja di Google mencari informasi hotel di Solo. Ada Novotel juga, tapi kalau saya pesan kamar di Novotel itu sama saja ngeledek bos-bos di kantor :-p , mending cari yang lain. Dapat informasi Hotel The Sultan, segera telepon dan pesan kamar. Ada kamar Deluxe di The Sultan seharga Rp558.800,- ini sudah overbudget seorang engineer (by default budget hotel engineer maksimum Rp400.000,-) Ya sudahlah, tidak mau repot saya ok saja pesan kamar itu, resiko nombok pastinya…so what kalo nombok, taruhlah kantor Rp400.000,- saya bayar sisanya, simple kan?? 🙂

Dari Telkomsel saya naik taksi ke Hotel The Sultan. Dari awal masuk lobi, saya langsung tahu hotel ini akan nyaman disinggahi. Rupanya hotel ini dulunya bernama Hotel Quality. Entah kebetulan atau cuma sugesti saja, kamar hotel yang saya dapat memang mirip desainnya dengan Hotel Quality Makassar. Harga The Sultan sedang mengadakan promo Rainy Sunny selama bulan November ini. Promo tersebut termasuk harga kamar tadi, juga beberapa fasilitas tambahan lainnya. Misalnya : free creambath/refleksi di Happy Salon, free 1 minuman/makanan di restauran, free masuk ke Music Room, free antar jemput ke airport, dan beberapa diskon lain (diskon makanan/minuman di room service, diskon laundry, diskon fitness & spa).

Soal kamar silakan lihat review saya di komik berikut ini :

Soal room service menu, saya lihat harga-harga makanan di hotel ini cukup murah. New Zeland tenderloin steak saja cuma Rp76.000,- jarang-jarang ada steak di hotel semurah ini; langsung saya pesan 1 😀 . Steak-nya memang empuk, sayang black pepper sauce-nya terlalu sedikit. Porsinya cukup ngejeduk di perut :-p Kelemahan yang saya lihat di kamar cuma TV-nya. Mungkin karena TV-nya sudah tua sehingga waktu dinyalakan beberapa kali gambarnya bergaris-garis dan warnya kadang kabur (tidak tajam dan cenderung hitam putih).

Baru sekali datang ke Hotel The Sultan, komentar saya singkatnya hotel ini highly recommended.

Solo (part 1) – Upgrade Kursi

Selasa siang saya berangkat ke Solo. Sampai di bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 11.40. Setelah mampir sebentar makan siang di Garuda Lounge, saya bergegas masuk ke ruang tunggu F5. Baru sebentar duduk di ruang tunggu, nama saya dipanggil petugas ruang tunggu tersebut. Tidak jelas apa sebabnya saya dipanggil, boarding pass saya diminta oleh si petugas. Si petugas cuma bilang kalau kelas ekonomi penuh, ditanya detail si petugas cuma cengar-cengir gak lucu. Saya diminta duduk kembali sampai waktu boarding (naik pesawat).

Nah boarding berlangsung sekitar pukul 12.30, hampir semua penumapang sudah masuk pesawat. Tinggal saya yang bingung, balik lagi saya ke meja petugas tadi. Si mas tadi mengganti tempat duduk saya ke 2F, upgrade ke kelas bisnis 😀 Padahal di saya waktu check-in awalnya dapat tempat duduk 10C. Mungkin ini bisa terjadi karena ada beberapa kru Garuda yang ikut penerbangan ke Solo ini sehingga beberapa tempat duduk di kelas ekonomi terpaksa disisihkan untuk mereka. Mereka sepertinya adalah pramugari/a yang akan bertugas dalam penerbangan haji kloter Solo, terlihat dari tulisan yang ada di troli mereka : Hajj Crew Garuda Indonesia. Nah saya yang ketiban untung dipindah duduk ke kelas bisnis. Entah apa jadinya kalau di kelas bisnis tidak ada kursi yang kosong, disuruh pindah ke cockpit kali :))