Masalah Instalasi Windows XP

Sabtu malam saya mengalami sedikit kesulitan saat menginstal Windows XP ke dalam notebook Lenovo tipe 3000 N200. Notebook ini adalah properti kantor rekan saya. Notebook Lenovo ini sudah berisi Windows Vista (preinstalled), saya diminta mengganti Windows Vista yang ada menjadi Windows XP. Masalah yang muncul adalah sistem instalasi Windows XP tidak dapat mengenali harddisk yang terpasang di dalam notebook. Pesan error yang muncul mengatakan bahwa kemungkinan harddisk diproteksi oleh pabrikan (manufacturer) atau ada setting yang salah. Saya sempat foto error yang muncul seperti berikut ini :

Masalah di atas muncul saat sistem instalasi Windows XP baru saja mulai. Ini kali kedua saya mengalami hal semacam ini. Beberapa bulan lalu saya juga sempat dimintai tolong oleh Edi teman saya untuk “membuang” Windows Vista dari dalam notebook Fujitsu Lifebook S6410 milik Edi rekan saya. Pesan error yang sama terjadi.

Ok balik dulu ke masalah instalasi Windows XP di Lenovo tadi. Pertama saya coba boot dulu Windows Vista yang sudah terinstal di dalam Lenovo. Karena ada kata-kata “manufacturer-supplied diagnostic or setup program” pada pesan error di atas, logika saya mengatakan pasti ada partisi lain di dalam harddisk yang sengaja disembunyikan dan menghalangi proses instalasi Windows. Supaya mudah melihat bagaimana partisi harddisk, saya instal Acronis Disk Director supaya mudah mengelola partisi yang ada. Dengan bantuan Acronis Disk Director saya melihat ada sebuah partisi berukuran sekitar 6GB selain partisinya Windows Vista. Saya tahu bahwa partisi itu adalah tempat menyimpan program recovery Windows (bawaan pabrik). Saya hapus saja partisi tersebut, toh Windows Vista tersebut sudah tidak dibutuhkan lagi dalam notebook ini. Setelah partisi tersebut saya hapus, saya coba lagi boot CD instalasi Windows XP. Eh ternyata pesan yang sama tetap muncul, harddisk-nya tidak dikenali :((

Untung tadi malam saya masih dalam kondisi fit untuk ngoprek :-p Segera saya tanya Google, baca-baca sebentar saya dapat pencerahan di sini. Saya harus mematikan opsi SATA pada BIOS. Saya coba cari-cari di dalam BIOS-nya Lenovo ini. Menu tersebut terlihat seperti pada gambar berikut ini :

Saya ganti opsinya menjadi pilihan Compatibility. Entah apa bedanya cuma rasa-rasanya kok itu yang jadi masalah. Setelah itu saya coba jalankan lagi instalasi Windows XP dan ternyata memang benar langkah tadi menyelesaikan masalah. Dengan mengubah opsi SATA Controller Mode itu, sekarang Windows XP dapat mengenali harddisk dan segera masuk ke menu instalasi (sebelum menampilkan menu partisi, sistem menampilkan End User Agreement dulu). Proses instalasi Windows XP sendiri sama seperti sudah pernah saya jelaskan dulu di sini.

Merasa sukses menyelesaikan masalah pada Lenovo tadi, saya jadi semangat untuk membuktikan teori tadi pada Fujitsu Lifebooknya Edisaya coba menjalankan proses instalasi Windows XP di Fujitsu-nya Edi. Menu Bios Fujitsu Lifebook sedikit berbeda dengan BIOS-nya Lenovo. Saya harus mengubah setting AHCI yang ada di bawah menu “Internal Device Configuration“. Lihat gambar di bawah ini :

Tadi sempat baca-baca di Wikipedia, AHCI (Advance Host Controller Interface) itu adalah teknologi yang memungkinkan software untuk berkomunikasi dengan SATA controller untuk menyediakan kemampuan seperti misalnya hot-plugging dan native command queuingSelengkapnya silakan baca sendiri ya, agak-agak gak ngerti juga bacanya jadi daripada salah menjelaskan lebih baik Anda baca sendiri 😀 Jadi kesimpulannya adalah notebook-notebook dengan OS bawaan Windows Vista (yang rata-rata sudah menggunakan harddisk tipe SATA) sudah menggunakan teknologi AHCI. Hal itu akan menjadi masalah bila kita ingin men-downgrade Vista menjadi XP. Jadi untuk menginstal Windows XP ke dalam notebook yang preinstalled Windows Vista, kita perlu mematikan dulu fitur/opsi AHCI pada setting-an SATA controller.

Masuk Majalahnya Blue Bird

Tulisan ini masih ada hubungannya dengan 2 tulisan saya sebelumnya tentang taksi Blue Bird. Tulisan saya di sini berisi pengalaman saya dengan supir taksi Blue Bird yang niat mengembalikan uang kembalian ongkos ke rumah saya. Tulisan saya lainnya di sini berisi pengalaman saya ditelepon oleh customer service-nya Blue Bird yang membaca postingan saya tadi, dia ingin tanya siapa nama pengemudi taksi yang mengembalikan uang kembalian ke rumah saya.

Nah postingan kali ini masih ada hubungannya dengan 2 postingan tadi. Hari Senin lalu saat berangkat kerja dengan menumpang taksi Blue Bird, saya iseng membaca majalah Mutiara Biru (majalah internalnya Blue Bird Group). Saya iseng membuka-buka majalan tri wulanan tersebut karena majalahnya sepertinya edisi terbaru. Di bagian surat pembaca saya kaget juga menemukan postingan blog saya muncul di sana. Hanya judulnya saja yang diubah menjadi “Mengembalikan Uang Kembalian Ke Rumah”. Aslinya postingan saya tersebut judulnya adalah “Hebatnya Supir Bluebird“.  Langsung saya foto saja majalahnya 😀 nah seperti gambar di bawah ini fotonya :

Eh rupanya Blue Bird berhasil menemukan data siapa nama pengemudi yang mengantarkan uang kembalian saya itu. Canggih ya sistem GPS dan reservasi online mereka, nama pengemudi dan nomor lambung taksi bisa terlacak dari data pemesanan saya waktu itu. Kesalahan cetak yang cukup fatal adalah pencantuman nama saya, masa ditulis “Teddy” pakai 2 “D”. Anda tahu kan saya sebel dengan kesalahan cetak nama X( , kalau belum tahu silakan baca tulisan saya Tedy Dengan 1 “D” dan 1″Y”.

Puasa Ngeblog

Satu minggu ini benar-benar saya lewatkan tanpa menulis apapun di blog ini. Sibuk? Ah saya tidak senang menggunakan kata sibuk, karena sebenarnya saya tidak terlalu percaya pada sibuknya orang kerja 😀 Sesibuk-sibuknya orang harusnya punya waktu untuk menulis blog. Saya lebih senang berdalih cape kerja :-p (**ngeles mode is ON**), beneran satu minggu ini badan saya cape sekali. Mungkin karena itu pula pikiran saya jadi tidak fokus untuk menulis di blog. Sejak minggu lalu saya terlibat proyek instalasi server Primepower 1500 di Telkomsel (yang ada di TB Simatupang) untuk dipakai sebagai mesin IN (intelligent network). Mesin IN itu mesin yang dipakai untuk menghitung pemakaian pulsa pengguna selular pra bayar.

Instalasi ini sebenarnya sudah berlangsung sejak hari Kamis 28 September 2008 lalu. Waktu itu saya bekerja bersama minijer saya, Manggar. Sulit kah instalasinya sampai memakan waktu satu minggu lebih? Sulit secara teknikal sih tidak, tapi sulit secara fisik iya. Kesulitan terbesar saya adalah mengulur kabel puluhan meter melewati raised floor. Raised floor itu apa? Itu loh penutup lantai yang bisa dibuka-tutup semacam puzzle. Biasanya ruang server (datacentre) menggunakan raised floor dengan tujuan untuk meletakkan kabel jaringan, saluran AC, jaringan listrik di bawah lantai. Satu papan raised floor ukurannya 60cm x 60cm. Lihat foto di bawah ini saat saya pura-pura mengangkat satu papan raised floor =))

Papan raised floor itu cukup berat loh, punggung saya saja sakit gara-gara kebanyakan buka tutup papan raised floor. Teman saya bilang mungkin ada bagusnya saya kerja terus seperti itu, biar kurusan dikit katanya 🙁 Tidak biasa bekerja menarik kabel seperti itu membuat saya benar-benar tersiksa. Hari Sabtu minggu lalu pun Manggar terkapar sakit tidak bisa menemani saya lagi bekerja. Terpaksa mendatangkan bantuan, saya minta rekan-rekan engineer Fujitsu lainnya membantu saya. Ada Yudi, Subastian, Kusno yang sempat membantu saya bekerja. Foto di bawah ini sengaja saya ambil waktu memasukan kabel ke bawah raised floor dibantu oleh Subastian (narsis? bukan, supaya ada kenang-kenangan aja).

Kalau yang di bawah ini adalah foto Subastian yang saya ambil saat dia sedang berusaha keras merapihkan tumpukan kabel yang super ruwet (biar badan pegel, kedinginan yang penting foto-foto dulu :)) ) :

Jujurnya sempat malu juga dengan rekan-rekan engineer Siemens yang katanya mampu menarik kabel puluhan meter melewati & meletakkannya di bawah raised floor sendirian….iya sendirian (**sambil ngelirik Pak Nana 😀 **). Oh ya salah satu hambatan lain bekerja di bawah raised floor adalah hawa dingin yang menusuk. Di bawah raised floor ada saluran AC dengan hembusan angin yang kencang dan dingin. Di dalam ruang server saja suhu udaranya sudah dingin, apalagi di bawah raised floor. Untungnya Jumat tanggal 5 kemarin, hampir 95% pekerjaan saya di sana sudah selesai. Tinggal membuat dokumen saja, tanpa perlu tarik-tarik kabel lagi.

Thanks to Manggar, Yudi, Subastian, Kusno yang sudah banyak membantu. Thanks juga untuk Pak Nana & team yang sudah memberi banyak petunjuk 🙂

Nah jadi itu ceritanya mengapa satu minggu ini saya ikutan puasa, puasa ngeblog maksudnya. Pulang malam, badan pegel-pegel, boro-boro nulis blog 🙁 Hari ini saya akan coba menebus puasa saya dengan menulis beberapa postingan sekaligus.

Jakarta Hujan Lagi

Musim hujan sepertinya sudah datang. Sudah 1 minggu terakhir hujan turun beberapa kali di Jakarta. Sabtu kemarin saja hujan sudah turun dari jam setengah 12 siang. Seperti biasa hujan membawa efek yang tidak menyenangkan di Jakarta, genangan air & kemacetan di mana-mana. Ada beberapa kiat dari saya 😀 :

  • Bagi yang biasa pergi pulang kerja dengan kendaraan umum jangan lupa selalu bawa payung & jaket.
  • Bagi yang pergi pulang kerja menggunakan motor, jangan pernah ketinggalan bawa jas hujan…bawa payung juga boleh sih kalau Anda bisa naik motor sambil megangin payung :-p
  • Bagi yang sering pergi pakai taxi siap-siap bakal susah cari taksi.
  • Bagi yang ke mana-mana naik mobil pribadi, siap-siap mobilnya kotor kena air hujan.
  • Bagi yang rumahnya jadi langganan banjir, lebih bijaksana membuat perencanaan evakuasi sedari dini 🙂

Maaf postingannya gak mutu, benar-benar sedang kehilangan mood menulis blog 🙁

Uang Rusak Dari ATM BCA

Hari Senin kemarin saya mengambil uang di ATM BCA Gedung Kyoei Prince Sudirman. Di sana hanya ada mesin ATM pecahan Rp50.000,-. Seperti biasa, saat uang keluar saya hanya menghitung jumlah lembaran yang saya terima. Sorenya saya pergi belanja toolkit di Glodok Plaza. Saat membayar, penjaga tokonya mengembalikan 1 lembar uang lima puluh ribuan yang saya bayarkan. Dia minta tukar dengan lembaran yang lain. Saya juga kaget melihat satu lembar uang lima puluh ribuan yang cacat di bagian ujungnya. Lihat fotonya di bawah ini :

 

Saya begitu yakin uang itu berasal dari mesin ATM karena sebelum mengambil uang saya hanya punya beberapa lembar seratus ribuan di dalam dompet. Kok bisa ya BCA memasukkan uang rusak macam itu ke dalam mesin ATMnya. Kalau uangnya sobek lalu disambung lagi saya masih bisa maklum. Tapi lembaran uang tadi hilang potongan ujungnya. Jadi bagian ujungnya disambung dengan kertas biru menggunakan selotip. Angka 5 dan separuh angka 0 dibuat dengan tulisan tangan, sepertinya ditulis dengan spidol. Ada yang bisa beri tahu saya gak, uang macam ini masih sah sebagai alat pembayaran gak ya?