Command Linux Pertama

Ceritanya rekan saya di Bandung, Fendi, ingin belajar mengenal Linux. Saya sudah kirim CD Ubuntu 7.10 untuk dipakai belajar. Fendi cukup giat belajar. Setelah beli PC baru dia sudah belajar menginstal sendiri Windows XP. Setelah berulang kali instal ulang Windows XP, Fendi mulai belajar menggunakan live CD-nya Ubuntu.

Tentu semuanya dibarengi dengan percakapan yang panjang di telepon dengan saya. Banyak hal yang saya pandu lewat telepon, salah satunya misalnya cara mengatur partisi harddisk supaya bisa double booting (Windows dan Ubuntu dalam 1 komputer). Singkat cerita Fendi sukses menginstal Ubuntu Linux ke dalam komputernya. Fendi juga sudah pernah saya suruh baca tutorial-tutorial yang saya buat sebelumnya (silakan lihat halaman Download blog ini).

Salah satu tutorial yang saya sarankan untuk dibaca adalah tutorial tentang Perintah Dasar Unix. Meskipun Ubuntu Linux sudah punya lingkungan grafis yang bagus (gampang digunakan), akan lebih baik bagi orang yang baru belajar Linux untuk melengkapi dirinya dengan kemampuan basic seperti command line misalnya. Jadi biarpun semuanya bisa tinggal klik klik, tetap sebaiknya kenal bagaimana mengoperasikan Linux lewat console (dengan perintah-perintah yang perlu diketik). Ada cerita lucu tentang command line ini.

Jumat sore lalu saya ngantuk sekali. Setelah merebahkan diri dan hampir tidur, Fendi telepon saya. Dia sedang mencoba belajar command line di Ubuntunya. Fendi bingung apa yang harus dipelajari dulu, walaupun dia sudah men-download PDF Perintah Dasar Unix. Karena saya sedang ngantuk dan ingin segera tidur, saya bimbing dia dengan cara begini :

“Fen u buka program yang namanya Terminal. Cari di menu utama Ubuntu”.

Setelah Fendi menemukan Terminal, saya pandu lagi begini :

” Fen u ketik perintah sudo halt

Fendi ikuti saja apa yang saya perintahkan, lalu dia bilang kalau dia diminta memasukan password.

“U ketik aja password Ubuntu u, lalu Enter”

Fendi lagi-lagi nurut, gak lama Fendi heran loh kok Ubuntu-nya malah shutdown dan komputernya mati mendadak. Saya tenang saja jawab (dalam hati geli juga) :

“Iya itu tadi perintah untuk matiin Linux, gua ngantuk mau tidur dulu, belajar command-nya lain kali aja ya” =))

Barulah Fendi sadar kalau sedang saya isengi. Mungkin itu command line pertama yang Fendi pelajari : sudo halt. Mudah-mudahan sampai mati Fendi tidak akan lupa bagaimana pengalamannya dengan sudo halt :))

Madwifi – Wireless LAN Dengan OpenSUSE 11

Beberapa minggu ini salah satu aktivitas saya adalah membantu teman saya migrasi ke Linux. Ada sejumlah komputer di kantornya yang saya migrasikan ke OpenSUSE 11. Termasuk notebook pribadi rekan saya itu. Selain menginstal OpenSUSE saya juga mengganti koneksi LAN di kantornya dengan koneksi nirkabel (wireless).

Pertama yang harus saya lakukan adalah memasang PCI Card Wireless Adapter. Gambar di samping ini adalah gambar wireless adapter merek D-Link yang akan saya pasangkan ke dalam PC-PC di kantor teman saya itu. Setelah itu saya harus menginstal driver untuk wireless adapter tersebut. Setelah Googling sebentar saya menemukan caranya untuk menginstal D-Link wireless adapter in.ย  Saya harus menginstal paket madwifi sebagai driver wireless adapter. Untung saya sudah punya DVD repository OpenSUSE 11. Jadi dengan bantuan Yast2 (paket manajer di OpenSUSE), saya mudah menemukan dan menginstal madwifi. Berikut ini gambar tampilan Yast saat menginstal madwifi (punya DVD repository memang memudahkan rupanya ๐Ÿ˜€ ).

Setelah paket madwifi sudah terinstal, saya perlu me-restart komputer 1 kali. Selesai rebooting, OpenSUSE sudah mengenali D-Link wireless adapter sebagai sebuah network interface dan sudah mengatur alamat IP-nya secara otomatis. Yang tinggal saya lakukan adalah mengatur wireless network mana yang dipakai. Di kantor teman saya itu saya juga memasang sebuah wireless modem ADSL (lengkap dengan access point). Gambarnya modem ADSL wireless-nya seperti ini :

Tulisan di dus modem ini Wireless G ADSL2+ Router (High Speed Internet Access). Tapi saya lebih senang bukan menyebutnya sebagai router tapi sebagai switch. Karena selain sebuah access point, modem ADSL ini juga dilengkapi dengan 4 buah port Ethernet layaknya sebuah switch. Dengan adanya beberapa port Ethernet komputer yang belum dilengkapi dengan wireless adapter tetap bisa terhubung dengan Internet. Hmm…tinggal satu lagi kerjaan saya, mengkonfigurasi printer multifungsi Xerox Workcentre PE220 di OpenSUSE 11. Printer Xerox yang ada di kantor teman saya itu memang canggih, dia bisa berfungsi sebagai printer, mesin fotokopi, fax, dan juga sebagai scanner. Saya sudah bisa mengatur OpenSUSE untuk menggunakan fitur printer-nya tapi belum bisa menggunakan fitur scanner-nya. Printer Epson R230 sih sudah terinstal sejak lama (baca ini), mudah sekali menggunakan printer Epson R230 ini di lingkungan OpenSUSE. Berikut foto tempat kerja dadakan saya Minggu sore tadi (Printer Xerox terlihat di dekat LCD sebelah kanan) ๐Ÿ˜€

Cukup senang saya karena ada banyak mainan akhir pekan ini :))

Shaft Predator 314

Mainan baru untuk bulan Agustus ini ๐Ÿ˜€ shaft Predator 3142. Mungkin Anda bertanya apa itu shaft? Silakan baca tulisan saya sebelumnya tentang cue stick. Gampangnya kita sebut saja stik biliar. Stik biliar terdiri dari 2 bagian yang bisa terpisah. Shaft itu bagian atas stik biliar sedangkan bagian belakang stik biliar (yang dipegang) namanya adalah butt. Nah ini gambar shaft Predator 3142 punya saya :

Sebenarnya shaft Predator 3142 hanya tambahan saja, karena Joss 101 saya masih bagus shaft-nya. Hanya saja 3142 katanya punya keunggulan tersendiri. Dia bisa meredam deflect yang terjadi saat bola dipukul. Defleksi itu apa? Defleksi adalah perubahan laju bola putik sesaat setelah dipukul. Jadi gampangnya kalau bola putih kita pukul lurus, sedikit banyak pasti ada defleksi pada lari bola (jadi miring/melenceng dari arah yang kita harapkan). Teknologi 3142 diciptakan untuk mengurangi defleksi/pelencengan arah lari bola saat dipukul. Memang pelencengan yang terjadi mungkin hanya sekian derajat, tapi bayangkan kalau jarak yang ditempuh bola putih cukup panjang. Perbedaan sudut sekecil apapun akan terasa perubahan arahnya bila jarak tempuh bola putih semakin jauh dari bola target. Jadi dengan memakai 3142 diharapkan akurasi pukulan saat main biliar bisa meningkat. Katanya juga dengan menggunkan 3142 spin yang dihasilkan bisa lebih kuat.

Oh ya, yang lebih hebat 3142 dibuat dari lapisan-lapisan kayu yang sangat rapat. Silakan lihat di webnya Predator untuk melihat anatomi shaft 3142 ini. Sebuah shaft 3142 tersusun dari 10 keping kayu yang direkatkan. Itu yang membuat harga 3142 ini jauh lebih mahal dari shaft konvensional. Kurang lebihnya seperti ini susunan kayu-kayu yang membentuk shaft 3142 tadi :

(gambar di ambil dari webnya Predator)

Terlepas dari apa saja keunggulan teknologiย  shaft 3142 ini, saya memang sudah merasakan enaknya main biliar dengan shaft 3142. Kemarin saya beli shaft 3142 ini dari rekan saya Ferry pemilik IB Pro Shop. Hari Minggu ini ngetes shaft baru di mana ya? ๐Ÿ˜€

Update (4 Agustus 2008) : Minggu malam tadi saya ngetes shaft baru di La Piazza Kelapa Gading. Saya main sebentar di Snooker, tempat biliar yang ada di La Piazza. Spin-nya terasa sekali lebih mantap dengan shaft 3142 . Karena tadi cuma main sebentar, sepertinya besok harus cari tempat main yang lain soalnya tadi belum puas mencoba shaft 3142 ini.

Beli Speaker

Sekalian mengantar rekan saya ke Mangga Dua Rabu siang, saya beli speaker. Dulu waktu di kamar saya masih ada PC, saya sebenarnya sudah punya speaker : Speaker Edifier 2.1 (2 satellite speaker & 1 subwoofer). Bulan Maret lalu, PC plus speakernya berpindah tangan ke adik saya di Cirebon. Tinggal saya dengan notebook kantor. Terpaksa kalau mendengarkan musik harus puas dengan kemampuan speaker Fujitsu Lifebook ini. Sejak itu saya punya rencana ingin beli speaker baru. Target akan beli speaker Altec Lansing. Seperti biasa, referensi saya adalah Bhinneka.com. Awalnya ada 2 pilihan saya : Altec Lansing VS2421 dan Altec Lansing VS4121. Harga di Bhinneka.com VS4121 lebih mahal Rp100.000,- daripada harga VS2421. Ternyata di Mangga Dua, harga VS4121 lebih murah Rp80.000,- daripada price list-nya Bhinneka.com (untung belum jadi pesan di Bhinneka.com).

Agak susah memotret speaker ini. Karena body-nya hitam semua, Nikon L14 saya kesulitan mendapatkan fokus. Selain itu karena beberapa bagiannya terbuat dari logam, cahaya blitz jadi menyebar. Pokoknya susahlah, kecuali saya bawa speakernya ke teras dan motret di tengah hari bolong dengan mengandalkan cahaya matahari saja :-p Ngomong-ngomong “speaker” itu sudah termasuk kata dalam Bahasa Indonesia belum ya? Atau yang betul seharusnya pengeras suara? Kalau belum termasuk Bahasa Indonesia berarti penulisan “speaker” di postingan ini salah semua ya. Teorinya kan penulisan kata dalam bahasa asing harus dicetak miring. Loh ini postingan tentang speaker atau tentang kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar sih?ย  :-/ Maafkan deh kalau jadi bingung sudah hampir jam 2 pagi soalnya saat ketik postingan ini.

Rax Billiard

Belakangan saya jadi sering main biliar di Rax Billiard Plaza Semanggi. Tempatnya ada di lantai 5 Plaza Semanggi. Awalnya 2 minggu lalu saya diajak teman saya main ke sana, gratis dibayari ๐Ÿ˜€ Suasananya kok sepertinya enak, tidak terlalu berisik. Walaupun musiknya jeduk-jeduk tapi kita masih bisa ngobrol tanpa harus teriak-teriak. Belakangan ternyata keras tidaknya musik tergantung ramai tidaknya pengunjung yang datang. Pertama kali datang ke Rax, tidak banyak orang yang main di sana. Sampai-sampai saya heran kenapa sepi. Tapi Selasa malam kemarin rupanya ramai juga. Saat saya datang belum ada meja yang kosong. Saya dan rekan saya masuk waiting list, setelah menunggu 15 menitan baru bisa main.

Secara umum meja di sana lumayan bagus. Lakennya masih licin-licin, meskipun ada juga yang pemasangan lakennya kurang pas sehingga jalan bola jadi agak melenceng. Harganya yang cukup mahal untuk ukuran tempat biliar di Jakarta. Saya tidak tahu tepatnya berapa tarif per jamnya, kira-kira sih per jamnya Rp40000,-. Lemon tea satu gelas (besar sih gelasnya) harganya Rp15000,- Service fee dan PPN 10% yang cukup membuat mahal. Hari Sabtu lalu misalnya saya main di sana 2 jam plus 2 gelas lemon tea, saya harus membayar Rp 124.879,-

Rax Billiard ini sepertinya lebih membidik orang-orang yang sekadar having fun, bukan para penggila biliar dengan budget pas-pasan seperti saya. Buktinya dia tidak memberikan harga khusus atau paling tidak happy hour price. Mau siang, mau malam harganya tetap sama. Tempatnya sebenarnya strategis, maksudnya cukup dekat dengan kantor saya :-p Enaknya sih di kantor titip cue stick sendiri, jadi tiap hari pulang kantor bisa mampir latihan di sana…atau bisa ngabur dari kantor main dulu di sana :)) . Ada yang mau menemani saya kabur dari kantor main di Rax?