Ditelepon Bluebird

Kalau biasanya saya yang menelepon Bluebird untuk memesan taksi, Selasa sore sepulang dari Makassar gantian saya ditelepon Bluebird. Si Mbak di ujung telepon bertanya tentang tulisan saya di blog tentang pengemudi Bluebird yang mengembalikan uang kembalian (karena waktu saya bayar dia tidak punya uang kembalian). Entah siapa si Mbak ini, customer service-nya Bluebird atau mungkin public relation-nya. Anda bisa baca tulisan lengkapnya di sini. Mbak tadi bertanya apakah saya ingat nama pengemudi Bluebird dan nomor mobilnya. Wah mana saya ingat, katanya sih si pengemudi tadi ingin dijadikan contoh bagi pengemudi Bluebird lainnya. Kok bisa ya si Mbak tadi mampir ke blog saya. Mungkin dia sedang iseng mencari artikel yang memuat kata Bluebird di Internet kali ya. Kasihan juga tuh si Bapak pengemudi, kalau saja saya ingat namanya/nomor taksinya dia pasti jadi ngetop di kalangan teman-temannya sesama pengemudi Bluebird πŸ˜€

Indovision

Setelah beli TV hari Minggu lalu, saya memutuskan untuk berlangganan Indovision. Tidak repot proses pendaftarannya. Minggu malam saya telepon hotlinenya Indovision, bicara sebentar dengan salesnya, lalu dia mengirimi saya formulir pendaftaran lewat email. Senin pagi saya isi formulirnya, transfer biaya pemasangan & iuran bulan pertama, lalu saya fax formulir, KTP, lengkap dengan bukti pembayarannya. Biaya instalasinya Rp150.000,- sementara iuran berlanggannya tergantung paket siaran yang saya pilih. Saya pilih paket Prime Family seharga Rp149.000,- plus paket Movie seharga Rp85.000,-.

Siangnya pihak Indovision menelepon saya untuk mengatur jadwal pemasangan perangkat. Padahal Senin sore lalu saya harus pergi ke Makassar. Untung ada orang di rumah yang bisa dimintai tolong mengawasi teknisi Indovision melakukan instalasi. Saya sempat pulang ke rumah sebentar mengambil baju sebelum pergi ke bandara. Sempat juga foto-foto teknisi Indovision saat memasang antena parabola di loteng πŸ˜€ :

Saya baru bisa mengetes siaran Indovision sepulang dari Makassar Selasa sore lalu. Waduh, gambarnya masih banyak yang jelek. Masih ada beberapa saluran televisi yang kurang bagus kualitas gambarnya. Dan repotnya itu terjadi pada saluran TV lokal (TPI, Metro TV, dll). Saya telepon teknisi yang kemarin memasang antena, dia bilang katanya di daerah Roxy-Tomang frekuensinya saling bertubrukan karena banyak pemancar radio amatir & BTS. Katanya untuk mengatasi masalah ini, saya perlu minta bantuan tim troubleshooter-nya Indovision untuk mengatur ulang antena dengan bantuan alat spectrum analyzer (supaya tahu persis frekuensi yang tidak kena interferensi). Rabu siang teknisinya datang mengatur ulang parabola. Siang kemarin sebelum berangkat ke Palembang, saya lihat masih ada channel TV yang belum sempurna gambarnya. Hmm memang harus diawasi sendiri nih tim instalasi dan tim troubleshooter-nya, supaya puas melihat hasilnya. Bosan juga telepon telepon terus ke customer service-nya Indovision.

Palembang (part 1) – Hotel Wisata Palembang

Siang ini saya berangkat dari Jakarta ke Palembang dengan Garuda pukul 14.50. Ternyata Garuda bisa delay juga, jadwalnya semula pukul 14.20. Hmm, tapi saya gak kesal tuh delay kali ini (gak seperti Senin malam kemarin waktu Lion delay :-p ). Tadi pagi sudah dikabari Mbak Julie (Dwidaya Travel), kalau dia tidak bisa menemukan hotel yang bisa di-booking di Palembang. Alhasil saya pusing juga saat datang ke Palembang. Semua hotel berbintang penuh semua. Permintaan Mbak Julie supaya cerita ini (gak bisa booking hotel) tidak dimasukkan ke blog terpaksa saya tolak πŸ˜€ Rasanya tidak afdol menuliskan pengalaman saya tanpa mencantumkan Dwidaya Travel. Tapi tenang aja Mbak, Dwidaya tidak salah kok memang Palembang sedang ramai banyak agenda jadi wajar kalau hotel-hotel rekanan Anda penuh semua.

Katanya sedang ada 2 event besar di Palembang, kongres PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) & IDI (Ikatan Dokter Indonesia) makanya semua hotel dari yang berbintang sampai yang berkomet penuh. Dulu saya pernah menginap di Sandjaja & Sahid Imara Hotel, niat mau kembali ke sana tapi keduanya pun sudah penuh. Novotel, Aston pun penuh (meskipun gak masuk budget kantor saya sih πŸ˜€ ). Dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II saya naik taksi ke kota. Untung supir taksinya baik, dia merekomendasikan hotel-hotel non bintang pada saya. Ada 4 hotel yang saya datangi dan semuanya penuh. Sampai hotel kelima barulah saya dapat kamar, hotel Wisata namanya. Di hotel ini pun ramai para peserta kongres PGRI.

Seperti biasa, memotret adalah rutinitas saya pertama kali masuk kamar untuk bahan cerita saya soal hote ini. Ini review hotel dalam komik :

Hotel Wisata ini berdiri tahun 1994 dan katanya sih merupakan hotel bintang 2. Dengan rate Rp295.000,- saya sudah bisa menempati kamar Superior Triniti…satu kelas di atas Superior (entah apa bedanya dengan kelas Superior biasa). Kata resepsionisnya kamar kelas Superior Triniti itu baru di-upgrade, lucu juga istilahnya (emangnya firmware bisa diupgrade =)) ) mungkin maksudnya baru direnovasi. Memang sih saya lihat kamar mandinya sepertinya masih baru, ACnya juga baru jadi masih dingin banget (iyalah saya set 16 derajat gitu loh). TVnya yang kurang OK, cuma ada saluran TV lokal plus ESPN tapi sayang rata-rata gambarnya jelek. Waktu buka-buka buku menu, saya cukup senang melihat daftar menunya murah-murah πŸ˜€ . Akhirnya pesan sup asparagus, nasi, sapi lada hitam, plus Coca Cola. Mantap nih makanannya, biarpun hotelnya di bawah standar kantor saya (yang katanya selalu pakai standar hotel bintang 3) tapi makanannya bisa direkomendasikan (**mode menghibur diriΒ  ON** =)) ).

Nah jadi kesimpulannya adalah hotel ini cukup bisa direkomendasikan untuk Anda yang cari hotel dengan rate sekitar Rp300.000,- Tapi saya jadi mikir, jangan-jangan gara-gara review ini minggu depan standar kantor diturunkan ke level hotel Wisata (alias dari standar hotel bintang 3 ke bintang 2) =)) .

Eh satu lagi yang ketinggalan : hotspot gratis. Saya buat komik di atas tadi malam dan sekarang baru posting dengan bantuan free wireless internet access di lobi. Ngeblog dulu sambil nunggu pesawat saya jam 4 sore nanti. Menyebalkan juga pulang ke Jakarta dengan pesawat sore, tapi berkurang tingkat sebelnya kalau menunggu ditemani akses internet seperti ini.

Ujung Pandang (part 2) – Hotel Singgasana (full review)

Kembali ke Jakarta, salah satu yang saya lakukan adalah membuat komik & menulis review tentang hotel Singgasana ini. Sebelum baca review lengkapnya, silakan lihat dulu komiknya di bawah ini (1 gambar bicara 1000 kata kan?) :

Yang buat saya cukup kaget adalah harga sewa kamar hotel ini. Kemarin malam sewaktu check-in saya lihat-lihat brosur room rate yang ada di meja resepsionis. Kaget juga melihat harga kamar paling rendah adalah USD $80. Yang buat saya kaget sebenarnya bukan karena mahalnya harga kamar, tapi kok saya dikasih gitu loh…ada angin apa kantor kasih saya menginap di hotel semahal ini? Atau bisa jadi juga sih kalau Dwidaya Travel langganan kantor saya punya special rate πŸ˜€ (nah loh, dikasih hotel jelek komplain, dikasih yang mahal bingung sendiri =)) ) Eh ternyata di Surabaya pun ada hotel Singgasana, tapi kok saya gak pernah disuruh menginap di Singgasana ya kalau ke Surabaya. Mungkin alasannya adalah : “kalau ada yang lebih murah ngapain juga pakai yang mahal” =))

Saya diberi kamar di lantai 9, begitu masuk kamar saya langsung tahu bahwa kamar ini enak untuk ditempati. Jendela kamar lebar menghadap ke luar, menyajikan pemandangan malam kota Makassar. Pemandangan pagi hari pun cukup menarik, dari jauh pantainya terlihat. Entah apakah itu yang disebut-sebut orang sebagai Pantai Losari. Berhubung waktu kunjungan yang super singkat, jadi saya gak ke mana-mana. Boro-boro lihat pantai, niat makan konro bakar saja gak sempat. Ok balik lagi soal kamar, kamarnya cukup luas, bersih, cukup lengkap fasilitasnya. Yang mengesalkan, waktu saya cek minibarnya. Kulkas kecil di dalam lemari itu kosong melompong. Halah…kenapa sih kalau kamar hotel dengan tarif paling murah sering mengosongkan minibarnya? Apa mereka pikir orang-orang yang memilih kamar termurah itu gak mampu beli minuman yang ada dalam minibar? Coca Cola sekaleng Rp16000 aja saya minum kok.

Saya cek kamar mandinya pun ok, cuma mungkin shower-nya saja pagi tadi saya coba kurang mantap semprotannya. Nilai plus lain yang paling penting bagi saya adalah hotspot gratisan πŸ˜€ Seperti yang sudah saya cerita di postingan sebelumnya, pagi tadi saya iseng menemukan bahwa di kamar saya juga terjangkau oleh jaringan internet wireless hotel Singgasana ini. Apa lagi ya yang bisa ditulis tentang hotel ini? Tinggal di hotel cuma hitungan jam jadi susah juga buat review-nya. Oh ya soal makan pagi, makan pagi yang disajikan cukup lengkap. Dari roti, aneka kue, nasi goreng (standar hotel banget πŸ™‚ ), jus, kopi….mungkin ini hal yang biasa ada di hotel-hotel cuma berhubung saya kehabisan bahan tulisan review ya saya tulis saja sekalian :))

Lokasi hotel Singgasana ini tidak terlalu jauh dari pusat kota. Sok tahu ya saya, padahal tau juga gak mana pusat kotanya :)) ya maksudnya gak jauh dari pertokoan gitu lah. Dari hotel menuju bandara Hasanuddin saya naik taksi, cukup jauh sampai memakan waktu 45 menit lebih. Mungkin pengaruh juga karena banyak jalan yang sedang diperbaiki. Dari kemarin malam saya sering sekali melihat perbaikan jalan di Makassar. Mungkin Gubernur/Walikota Makassar sedang giat-giatnya bikin proyek yang wah, berhubung mau Pilkada. Kok tahu Makassar bakal menggelar Pilkada? Ya saya kan lihat di mana-mana ada baliho, poster bergambar calon peserta Pilkada yang foto & tagline-nya narsis semua.

Ok lah itu saja review saya tentang hotel Singgasana Makassar. Thanks buat Dwidaya Travel (Mba’ Julie?) yang sudah rekomendasiin hotel ini untuk saya πŸ˜€

Ujung Pandang (part 2) – Hotel Singgasana

Hei…rupanya di Hotel Singgasana Makassar ada fasilitas akses internet gratis. Barusan setelah breakfast, saya iseng mencoba menyalakan WiFi di notebook dan ternyata ada akses internet di kamar saya. Sinyal WiFi yang tersedia cukup lemah, tapi kencang juga nih akses internetnya. Cukup kencang untuk bisa membuka webmailnya Fujitsu yang lemot & agak susah diakses. Gatel juga gak tulis posting blog dengan internet gratis :-p

Ok mundur sebentar ceritanya, tadi malam setibanya di Makassar, saya langsung menuju Hotel Singgasana. Entah seperti apa Hotel Singgasana itu, belum ada orang di kantor yang pernah ke Makassar. Dwidaya Travel merekomendasikan hotel ini pada bos saya. Jadilah saya datang ke hotel ini. Hmm…sebetulnya seperti biasa saya sudah foto-foto hotel ini, tapi belum sempat buat komik reviewnya. Nantilah sepulang ke Jakarta lah saya buat reviewnya. Secara umum, Hotel Singgasana ini cukup bagus dan layak untuk dapat rekomendasi dari saya (halah..emangnya saya siapa? :)) ).Loh penting kan rekomendasi dari saya, siapa tahu lain kali ada rekan-rekan Fujitsu Indonesia yang akan ke Makassar butuh rekomendasi hotel (atau mungkin nanti saya balik lagi ke sini).

Berhubung nanti saya pulang ke Jakarta dengan pesawat jam 12.00, pagi ini saya memaksa diri bangun pagi padahal tadi baru tidur jam 4 pagi. Seperti biasa, lembur di Telkomsel untuk ganti memori Primepower 1500nya Telkomsel. Tidak terlalu puas sih menikmati tinggal di Hotel Singgasana ini, sayang memang hotel bagus tapi disinggahi cuma sebentar.