Bandung (part 2) – Ijazah Gajah Duduk

Sejak lulus Juli 2006 lalu, saya belum mengambil ijazah dari kampus. Tahun lalu saya sudah ke kampus tapi hanya mengambil transkrip nilainya saja. Waktu itu ijazah saya tidak bisa diambil karena terkait masalah legalisir fotokopi ijazah. Untuk meminta legalisir fotokopi ijazah (butuh tandatangan dekan) perlu menyertakan ijazah asli. Nah sialnya April 2007, dekan tidak berada di Bandung jadi harus ditinggal deh ijazahnya. Sejak itu saya tidak pernah balik lagi ke kampus untuk mengambil ijazah. Baru kali ini saya balik lagi ke kampus untuk ambil ijazahnya. Ini dia foto ijazah saya, aseli cap “Gajah Duduk” 😀 :

Siang ini saya ke kampus sekitar pukul 1 siang. Kampus ITB sepi, mungkin karena sedang musim ujian akhir semester. Siang yang teduh, mendung terus jadi cukup nyaman berjalan kaki dari hotel Royal Dago menuju kampus. Ini salah satu foto yang saya ambil, foto gedung teknik elektro & farmasi ITB :

Untung ijazahnya masih ada, saya pikir sudah bulukan karena terlalu lama tidak diambil :)) .

Bandung (part 1) – Hotel Royal Dago

Niat berangkat dari Jakarta dengan kereta pukul 6, terpaksa dibatalkan. Macet di mana-mana gara-gara demo (ngapain juga ya orang-orang demo, emangnya mereka pikir kalau demo sampai jerit-jerit gitu terus BBM jadi turun?? realistis aja lah). Lah kok jadi komentar soal demo…mungkin saya termasuk orang dengan kadar nasionalisme dan jiwa sosial yang rendah, gak peduli BBM naik apa gak.

So singkat cerita saya berangkat dengan kereta pukul 19.30. Teorinya kereta akan sampai Bandung pukul 22.00, faktanya pukul 22.40 baru sampai stasiun Bandung. Sudah lama saya tidak pergi pulang Bandung dengan kereta api. Seingat saya terakhir ke Bandung setelah wisudaan 2006 lalu. Dari stasiun saya naik taksi ke Dago. Kenapa ke Dago, karena saya sudah dipesankan kamar di hotel Royal Dago. Tadi pagi disuruh memilih antara 3 hotel, Royal Dago, Kedaton, atau Patra Jasa. Saya pilih Royal Dago sajalah…kasihan nanti ada yang kena omel kalau saya banyak maunya soal hotel. Dalam hati sih inginnya nginap di Sheraton atau Jayakarta Hotel…tapi seperti yang saya bilang di atas, realistis sajalah…engineer ya engineer. Terima saja hotelmu, jangan banyak komplain, dipecat baru tahu rasa lu !!!

Berikut liputan pandangan mata dari hotel Royal Dago.

Hotel ini letaknya tidak jauh dari Simpang Dago, tidak jauh pula dari kampus saya dulu. Entah mengapa saya baru ngeh kalau di kanan kiri jalan Dago ada hotel Royal Dago. Ternyata hotel Royal Dago itu ada 2 bagian. Masing-masing bagian saling berhadap-hadapan, yang satu di sisi kanan & yang lain di sisi kiri Jl. Ir H Juanda (Dago bekennya). Kalau kita berjalan dari Dago bawah (dari BIP), di sisi kiri jalan Juanda ada hotel Royal Dago yang versi mahalan dikit. Nah kalau Anda jalan dari Simpang Dago, di sisi kiri jalan ada juga hotel Royal Dago…nah ini yang lebih murah (katanya suite-nya aja cuma Rp300 ribuan). Pusing gak bacanya? Ya sudahlah gak penting. Pokoknya kalau mau nginap di Royal Dago masuk dulu lalu tanya saja sama resepsionisnya, mana hotel Royal Dago yang lebih murah ;)) .

Saya menginap di hotel Royal Dago (yang mahalan dikiiit). Nuansanya seperti masuk ke rumah jaman Belanda. Pilar-pilar di teras, bentuk jendela jendela, langit-langit yang dibuat tinggi….pas lah kalau dibilang hotel antik. Hotel ini cuma punya kamar 43 buah (kata sekuritinya), semuanya penuh malam ini saat saya datang. Ada calon tamu yang datang persis di depan saya terpaksa batal menginap karena kamarnya penuh. Setelah check-in, masuk kamar lalu foto-foto dulu seperti biasa. Cukup foto-foto baru pergi lagi. Malam ini ada pekerjaan upgrade HCP di server Fujitsu Primepower 1500 (mesin INny Telkomsel Bandung). Nanti saya update lagi cerita dari hotel Royal Dago.

Tes Kecepatan Baca USB Drive

Saat membaca tulisan di sini tentang cara membuat Ubuntu dalam USB drive, saya baru tahu command untuk mencoba kecepatan baca USB drive. Berikut ini adalah hasil tes kecepatan baca USB drive saya :

tedy@tedy:~$ sudo hdparm -tT /dev/sdb1

/dev/sdb1:
Timing cached reads: 1756 MB in 2.00 seconds = 878.23 MB/sec
Timing buffered disk reads: 38 MB in 3.01 seconds =
12.63 MB/sec

tedy@tedy:~$ sudo hdparm -tT /dev/sdb1

/dev/sdb1:
Timing cached reads: 1788 MB in 2.00 seconds = 894.19 MB/sec
Timing buffered disk reads: 40 MB in 3.14 seconds =
12.73 MB/sec

Lalu bagaimana ya cara tahu kecepatan tulis sebuah USB drive? Bagaimana juga ya cara memeriksa kecepatan baca tulis USB di lingkungan Windows? Apakah ada software benchmarking khusus yang bisa dipakai?

Network Printer on OpenSUSE 10.3 (part 2)

In the last post, I’ve explained about installing network printer on OpenSUSE 10.3. The next step must be configured is configure Windows on client PC. See the following illustration :

Driver for Epson Stylus Photo R230 can be downloaded here. The steps to using network printer over Samba protocol already written in this document.

Network Printer on OpenSUSE 10.3

Today I tried to configure my friend’s server to have network printer attached on it. It’s a PC server powered by OpenSUSE 10.3. The printer that must be configure as network printer is Epson Stylus Photo R230, see the photo of that :

I got some difficulties to configure Samba so that printer can be accessed by all Samba user in the network. So here is the conclusion that I’ve got after several hours tweaking OpenSUSE to provide network printer services :

  1. Connected the printer to the server. OpenSUSE recognized Epson Stylus Photo R230 directly as soon as I connected the USB connector to the server. I didn’t need to install or do anything….it’s just work when connected to OpenSUSE. Using lpstat we can know all the printer connected to the operating system. To see installed printer, I use this command :

    # lpstat -v
    device for EPSON_Stylus_Photo_R230: usb://EPSON/Stylus%20Photo%20R230

  2. I must configure /etc/samba/smb.conf. In the existing smb.conf file, I put some codes like this :

    load printers = yes
    printcap name = /etc/printcap
    printing = cups
    printcap name = cups
    [printers]
    path = /var/spool/samba
    browseable = yes
    guest ok = no
    writable = yes
    printable = yes
    printer name = EpsonStylusR230
    valid users = edi, tedy

    [print$]
    comment = printer driver
    path = /etc/samba/drivers
    browseable = yes
    guest ok = yes
    read only = yes

    To be honest, I still don’t know what is /etc/printcap and several other lines stands for. I just know that the path of the printer will announce to all Samba user that there is a network printer which can be used.

  3. The other file that must be configured is /etc/cups/cupsd.conf. This file will make server to provide network printer service to all Samba user. Network printer that use cups will used port 631 to listens printing request from all client. So I must defined that all server network interface that will used for network printer is 192.168.0.4:631 I also add some access control list using Allow From 192.168.0.* to guarantee that only client inside the network can access the printer. In the existing file, I put several lines like these :

    listen 192.168.0.4:631
    Browsing On
    BrowseOrder Allow,Deny
    BrowseAllow @LOCAL
    <Location />
    Order Deny,Allow
    Allow From localhost
    Allow From 127.0.0.2
    Allow From 192.168.0.*
    </Location>

  4. The other file must be edited is /etc/cups/mime.convs Just add this line :

    application/octet-stream application/vnd.cups-raw 0 -

  5. The last file must be edited is /etc/cups/mime.types Just comment out this line :

    application/octet-stream

  6. After edit those files, I must restart cups and samba services using this commands :

    # /etc/init.d/smb restart
    # /etc/init.d/cupsd restart