Batam (part 1) – Panasnya Batam

Siang ini saya berangkat ke Batam dengan Lion Air (JT378) pukul 13.30. Penerbangan yang tidak cukup nyaman. Entah pilotnya yang belum mahir atau memang pesawatnya yang terlalu tua…landing-nya cukup membuat saya deg-degan. Ini foto pesawat Lion Air yang akan saya naiki, difoto sesaat sebelum saya naik ke pesawat.

Saya pikir awalnya bisa mencoba pesawat baru Lion Air Boeing 737-900ER, eh balik lagi naik pesawat lama Lion.

Saya tiba di bandara Hang Nadim Batam sekitar pukul 15.15. Pertama kali menginjakkan kaki di Batam, kesan pertama yang saya dapat Batam tempat yang panas. Matahari benar-benar terik sore ini. Nuansanya mirip kalau datang ke Bali, begitu keluar bandara langsung disergap cuaca terik yang menyengat.

Kali ini saya menginap di hotel Puri Garden Hotel, letaknya persis di depan mal Nagoya Hill. Hotel Puri Garden ini memilih gaya Bali, nuansa Bali sudah terasa dari saya masuk ke halamannya. Setidaknya hotel ini sepertinya lebih bagus daripada hotel Sandjaja yang saya tempati minggu lalu di Palembang. Kamar yang saya tempati cukup nyaman. Seperti ini fotonya :

Awalnya saya senang karena receiptionist mengabarkan kalau di hotel ini terdapat hotspot gratis di setiap kamar. Tapi setelah masuk kamar, saya sama sekali tidak mendapat 1 sinyal wifi pun. Saya pun komplain ke receiptionist, katanya kamar 203 saya memang tidak berada dalam jangkauan sinyal access point…halah. Saya malah disuruh berinternet di lobi saja. Ya sudahlah, namanya juga gratisan, gak bisa komplain banyak-banyak :-p

Gatel saya kalau gak ngeblog dulu 😀 jadi cepet-cepet ke lobi, tulis postingan ini. Perut sudah lapar, setelah ini mungkin saya harus segera cari makan keluar. Ke Nagoya Hill saja ah…cari makan di mal.

Mari Main Biliar

Silakan lihat komik sederhana ini (Anda diijinkan tersenyum setelah melihatnya) :

Komik di atas adalah hasil keisengan saya sewaktu menunggu pesawat pulang dari Palembang hari Jumat kemarin. Foto-foto bahan komik diambil saat saya, Manggar, dan Pak Rully (bos saya) training ke Jerman awal bulan Maret ini. Bosan menunggu, lihat-lihat foto, isengnya keluar saat melihat beberapa foto sepertinya bercerita sesuatu. Segera saya tangkap ceritanya dan saya tuangkan ke dalam komik 😀

Konro Bakar Gratisan

Sabtu kemarin saya ditraktir makan Konro oleh Erny rekan saya di rumah makan Maranu di Boulevard Kelapa Gading. Dulu pun saya pernah buat review tentang rumah makan Marannu, review-nya saya tulis di sini. Ini foto konro bakarnya :

Gak sampai seperempat jam kemudian, konronya tinggal tulang saja 😀 :

Seminggu sebelumnya pun saya makan di sana. Sama halnya seperti Sabtu kemarin, saya kebagian konro yang cukup keras. Biasanya konro di sini selalu empuk, heran juga sudah dua kali ini konronya keras. Ketika dikonfirmasi, pelayan di sana menyalahkan supplier-nya. Katanya empuk tidaknya konro tergantung daging yang dikirimkan supplier. Lah kok malah cari kambing hitam, rebus lebih lama donk biar empuk. Tapi biarpun dagingnya agak keras, rasanya sih masih enak…gratisan sih – ditraktir gitu loh :))

Thanks to Erny untuk traktirannya.

Palembang (part 6) – Pulang

Hari Jumat kemarin saya pulang dari Palembang. Setelah kemarin saya tidak dapat tiket untuk pulang hari Kamis, akhirnya saya dapat tiket pulang untuk hari Jumat kemarin. Saya terpaksa memperpanjang tinggal di hotel 1 hari lagi. Suasana bandara Sultan Mahmud Badaruddin II siang ini tidak sepadat Kamis siang kemarin. Jumat siang ini bandara cukup sepi, mungkin orang sudah pulang semua dengan pesawat Kamis kemarin. Berikut saya tampilkan foto suasana di lobi depan bandara :

Mungkin kepadatan penumpang Kamis lalu ada juga korelasinya dengan ditutupnya penerbangan Adam Air. Dengan dihentikannya operasional Adam Air oleh KNKT, penumpang yang biasanya menggunakan Adam Air mau tidak mau pasti menggunakan penerbangan lain. Saya lihat di bandara Palembang ini counter penjualan tiket Adam Air sudah tutup.

Dengan pesawat Garuda pukul 14.15 saya pulang ke Jakarta. Ini foto pesawat yang akan saya gunakan sesaat sebelum boarding :

Penerbangan dengan pesawat Boeing 737-500 ini berlangsung singkat hanya 45 menit. Saya tiba di Jakarta pukul 15.15. Enaknya kalau pulang tanpa membawa bagasi, begitu keluar bisa langsung naik taksi. Kalau bawa bagasi saya harus menunggu lagi bagasi keluar.

Palembang (part 5) – Jangan Bawa Pulang

Ada-ada saja pengumuman yang ditempal di dinding restoran Popeye ini. Tadi waktu saya makan di Popeye (di dalam Palembang Square) saya lihat ada peringatan seperti gambar berikut :

Tulisannya “mohon piring & gelas tidak dibawa pulang” . Biasanya aturan/peringatan muncul akibat dari kejadian pemicu sebelumnya. Pasti banyak juga pengunjung yang sudah pernah membawa pulang piring/gelas dari Popeye restoran ini. Kalau tidak ngapain juga Popeye memasang peringatan macam itu? Saya senyum-senyum sendiri melihat tulisan itu, segera saya ambil gambarnya. Karena memotret tanpa menggunakan blitz, gambarnya jadi sedikit kabur. Gak enak juga memotret di tempat umum seperti itu dengan blitz, pasti bisa memicu orang lain untuk berpikir “norak amat nih orang, makan di Popeye aja potret-potret” =))

Piring makan Popeye memang bagus sih, terbuat dari melamin dengan gambar-gambar kartun menarik. Piring yang bagus macam itu mungkin bisa menggoda anak kecil yang senang dengan gambar kartunnya untuk merengek pada ibunya minta piring itu, atau menggoda ibu rumah tangga yang kekurangan perkakas dapur untuk membawa pulang piringnya Popeye :)) Kalau piring yang dipakai Popeye restoran seperti yang dipakai KFC pasti jarang yang mau bawa pulang…piringnya KFC kan berat sekali. Mungkin ini ada hubungannya juga masalah mentalitas masyarakat……ah terlalu berat malam-malam bicara mentalitas masyarakat.