Balikpapan (part 1) – Back To Sagita

Kali ini saya balik lagi ke Balikpapan. Perjalanan yang tidak menyenangkan karena cuaca buruk hampir sepanjang perjalanan Jakarta Balikpapan. GA 561 yang saya tumpangi berkali-kali mengalami guncangan keras (hmm..belum sampai ada penumpang yang teriak-teriak sih 😀 ). Tadinya saya pikir di Balikpapan turun hujan deras, ternyata sewaktu mendarat cuaca Balikpapan cukup cerah meskipun mendung menghiasi langit Balikpapan. Hmm cuaca yang saya suka daripada panas terik seperti kalau mendarat di Denpasar.

Ada yang sedikit berbeda dengan kepergian saya ke luar kota kali ini. Biasanya dari bandara saya menuju hotel dengan menggunakan taksi alias tidak ada yang menjemput, tapi kali ini tidak. Saya dijemput di bandara Sepinggan saat mendarat sekitar pukul 17.10 (1 jam lebih cepat daripada Jakarta). Eh ini kali kedua loh saya dijemput di bandara dengan penjemput yang membawa kertas bertuliskan nama saya. Yang pertama saya masih ingat 15 Oktober 2007 lalu di Surabaya, waktu itu saya dijemput di bandara Juanda oleh stafnya PT Bumi Menara Internusa. Dulu disambut dengan tulisan “Selamat Datang Bpk Tedy Tirtawidjaja – PT Fujitsu Indonesia”. Nah yang kedua sore ini, saya dijemput oleh stafnya hotel Sagita Comfort. Yang jemput 2 perempuan dengan seragam karyawan Hotel Sagita, salah satunya pegang kertas bertuliskan : “Selamat Datang Bp Tedy Tirtawidjaya” =))

Kenapa saya dijemput? Ok ceritanya mundur sebentar kemarin. Hari Selasa siang Dwidaya Travel tidak bisa mendapatkan kamar di Hotel Sagita, tepatnya tidak ada kamar yang sesuai budget kantor saya (bukan salah Mbak Juli Dwidaya kok :-p ) Bingung juga karena saya tidak pernah menginap di hotel lain di Balikpapan, lah ke Balikpapannya aja baru 1 kali. Atas ide Bu Wawa, salah satu petinggi Fujitsu (petinggi maksudnya ngantornya di lantai 10…tinggi kan? =)) ), saya disarankan menelepon manajer Hotel Sagita yang pernah meninggalkan comment di tulisan saya tentang Hotel Sagita. Saya iseng coba menelepon manajer Pak Fuji (Business Development Executive Hotel Sagita), ternyata dia ingat pernah membaca review hotelnya di blog saya. Lewat Pak Fuji, dia memberi saya kamar yang sama seperti kamar yang saya dapat 11 September lalu. Tadi pagi Pak Fuji mengirim saya SMS, memberitahu akan mengirim jemputan di bandara Sepinggan. Nah kurang lebih seperti itu background ceritanya.

Cukup surprise dengan penyambutan yang diberikan pada saya oleh staf Hotel Sagita. Semua staf kok jadi tiba-tiba tahu nama saya, semua menyapa nama saya “selamat datang Pak Tedy”. Wah sepertinya pasti sudah ada briefing dulu sebelum saya datang, kalau tidak bagaimana bisa door man pun tahu nama saya. Mulanya saya disambut Pak Ridwan (room manager) lalu baru saya bertemu dengan Pak Fuji (hmm rupanya dia lebih senang dipanggil Raharja, tadi dia memperkenalkan diri dengan nama belakangnya). Pak Ridwan membawa juga 2 koleganya, sama-sama manajer Hotel Sagita. Geli juga rasanya diberi sambutan seperti ini. Pak Fuji bercerita kalau General Manager Hotel, Pak Dodhy, antusias membaca tulisan saya di blog. Ada 2 amplop titipan Pak Dodhy untuk saya. Amplop pertama adalah voucher makan di Chop Stick Restaurant, amplop kedua isinya seperti ini :

Yang menarik buat saya dari surat di atas adalah apresiasi Pak Dodhy untuk komik saya tentang Hotel Sagita. Istilah “E-Comic” menarik buat saya. Ternyata ada juga yang memberi apresiasi terhadap komik saya. Ya tentu saja apresiasi itu muncul karena komik tersebut ada kaitannya dengan hotel Sagita Comfort Balikpapan. Oh ya, dulu saya cukup heran mengapa staf Hotel Sagita bisa menemukan review yang saya publish di blog. Dulu saya berpikir, mereka kok bisa-bisanya menemukan link blog saya. Tadi itu menjadi hal pertama yang saya tanyakan pada Pak Fuji. Rupanya dia menemukan tulisan saya lewat Google dengan kata kunci pencarian “hotel sagita”. Hebat memang Google bisa menghubungkan 2 orang yang tidak saling kenal di dunia maya.

Sayangnya nama saya ditulis tidak tepat, masa nama saya ditulis “Tedy Tirtawidjaya” yang benar kan “Tedy Tirtawidjaja” :(( Perlu segera diklarifikasi nih secepatnya.

Makassar (part 5) – Tentang Pisang Epe

Selasa sore saya pulang dari Makassar. Sampai di Jakarta sekitar pukul 17.30, bukan waktu yang baik untuk pulang ke Jakarta karena pada jam-jam itu lalu lintas masih macet. Saya masih punya 1 cerita lagi dari Makassar yang belum sempat saya publish. Rencananya tulisan ini mau saya publish saat saya berada di Bandara Hasannudin Makassar, tapi sayangnya saya tidak bisa menemukan wireless internet gratis di bandara maupun di Garuda Lounge. Cerita ini tentang penjual pisang epe di Makassar.

Senin malam saya dan Rachmat keluar hotel makan ikan di restoran Lae-Lae. Lae-Lae ada di kawasan pantai Losari, tidak terlalu jauh dari hotel Quality tempat kami menginap. Karena baru pertama kali makan di tempat tersebut, kami baru tahu kalau kami harus memilih langsung ikan/udang/cumi yang kami pesan. Begitu datang langsung cari meja dan duduk, ah malunya ternyata lauknya harus kita pilih sendiri sekaligus tawar-menawar harga. Lewat mbak pelayan yang datang kami hanya bisa pesan nasi, minum, dan sayur-sayuran. Cukup puas kami berdua makan di Lae-Lae. Pulang dari Lae-Lae Rachmat ingin beli pisang epe, saya juga jadi ingin beli penasaran seperti apa sih pisang epe itu. Enam kali datang ke Makassar belum sekalipun saya makan pisang epe. Padahal di seputaran pantai Losari banyak sekali pedagang pisang epe. Di Trans TV pun pernah dibahas kalau pisang epe jadi salah satu jajanan favorit bagi orang-orang yang mengunjungi pantai Losari.

Sebelum ke inti cerita saya ceritakan dulu sepintas apa itu pisang epe. Pisang epe adalah pisang yang dibakar lalu disiram dengan saos. Saosnya sendiri bisa terbuat dari gula merah yang dicairkan, coklat, atau sari durian. Kita juga bisa minta pisangnya diberi parutan keju. Pisang yang digunakan kalau tidak salah pisang raja. Tentu pisang yang dipakai adalah pisang yang tidak terlalu lembek seperti layaknya pisang ambon. Dinamai pisang epe karena sebelum dan sesudah dibakar, pisang ditekan dengan alat pres sederhana (terbuat dari 2 buah balok). Jadi epe sendiri mungkin maksudnya pisangnya jadi gepeng karena dipencet-pencet dulu. Sepanjang pantai Losari itu kita bisa dengan mudah menemukan penjual pisang epe dengan gerobaknya masing-masing. Di jalan yang menuju Lae-Lae saja kami melewati setidaknya 3 penjual pisang epe.

Nah Rachmat yang sudah pernah membeli pisang epe lebih memilih membeli pisang epe lagi di penjual yang ada di sebelah utara hotel Quality. Padahal kalau mau cepat di depan rumah makan Lae-Lae juga ada pedagang pisang epe. Tapi saya malah nurut saja dengan Rachmat beli pisang epe di tempat yang lebih jauh daripada yang kami lewati tadi. Memang sih tampilan penjual pisang epe yang kami lewati kurang meyakinkan (itu versi Rachmat). Karena tidak semua penjual pisang epe menyalakan petromaxnya, gerobak terkesan gelap apalagi ditambah sepi pembeli membuat kita ragu membeli pisang epenya. Kalau saya perhatikan mereka memang mengirit pemakaian BBM dengan meyalakan petromax hanya kalau ada orang yang memesan pisangnya, tentu si penjual perlu penerangan untuk meracik pisang epenya. Rejeki orang memang tidak ada yang tahu, tepatnya mungkin hanya Tuhan yang tahu tentang rejeki seseorang. Ada juga yang berpendapat semuanya (rejeki, jodoh, mati) di tangan Tuhan. Dalam kasus tadi penjual pisang epe dalam foto di atas itulah yang beruntung, dari sekian penjual pisang yang kami lewati eh malah dia yang dapat pembeli. Sebungkus pisang epe coklat keju dijual dengan harga Rp7000,- (berisi 3 buah pisang). Seperti ini nih bentuk pisang epe :

Buat lidah saya, pisang epe ini terlalu manis. Campuran gula merahnya mungkin yang terlalu banyak. Kalau saja kejunya lebih banyak sepertinya lebih pas, keju memberi rasa asin dan gurih sekaligus membantu menetralkan manisnya kuah coklat & gula merah itu. Seporsi ini cukup bisa mengganjal perut kalau malam tiba-tiba lapar di hotel 🙂 Selain pesan dibungkus, kita juga bisa langsung makan di sana. Penjual pisang epe ini menyediakan beberapa bangku plastik berjaga-jaga kalau-kalau ada pembeli yang ingin makan di tempat.

**waduh sudah jam 9.24 dan saya masih asik ngeblog di kamar…kerja euy kerja =)) **

Makassar (part 4) – Tentang Predator

Di kalangan pehobi biliar, merek Predator adalah salah satu merek yang mungkin paling banyak dikenal. Predator adalah merek cue stick biliar yang cukup tersohor. Awalnya semua cue stick Predator dibuat di Amerika. Belakangan saya dapat info dari teman saya yang penjual stik, katanya semua cue Predator dibuat di China meskipun quality control tetap dilakukan di Amerika. Merek dengan logo “harimau merunduk” ini termasuk cue stick mahal. Belum tahu logonya Predator? Kurang lebih seperti terlihat pada foto di bawah ini :

Rata-rata cue stick Predator berharga lebih dari 4 juta rupiah, dari mulai dari tipe 4K1, 5K1 yang hitam polos sampai dengan tipe dengan motif yang rumit. Katanya beli Predator adalah sama dengan beli gengsi. Di Indonesia sendiri sepertinya memang benar, Predator sudah memiliki brand image yang di kalangan pehobi biliar. Saya juga baru ngeh kalau memang demikian adanya ketika beberapa kali bertemu orang di daerah. Beberapa kali bertemu dengan orang di luar Jakarta, mereka sepertinya hanya tahu cue stick mahal adalah Predator. Padahal ada banyak merek cue stick yang harganya sama bahkan lebih mahal dari Predator. Misalnya cue stick merek TAD yang harganya bisa puluhan hingga ratusan juta rupiah karena benar-benar dibuat tangan (hand made). Kalau menurut Ferry Danuarta, rekan saya yang importir cue, banyak cue yang bagus (kualitas & hit-nya) selain Predator. Dengan harga 1 jutaan saja sudah ada merek Player yang cukup bagus kualitasnya. Memang Predator unggul dalam teknologi pembuatan shaft-nya, 314 itu loh. Jadi memang selain kualitas, ada gengsi tersendiri bagi seorang pecinta biliar untuk memiliki cue stick Predator.

Kenapa tiba-tiba saya menulis soal Predator? Hmm ini hanya hasil pengamatan saya saja Minggu sore di Arena Pool & Cafe, Minggu sore saya mampir main biliar sebentar di Arena. Karena semua meja penuh, saya iseng saja mengamati orang-orang yang sedang main biliar. Biasanya kalau datang ke Arena saya main di lantai 1, meskipun di lantai 2 pun ada meja biliar. Saya lebih suka di lantai satu (yang katanya VIP karena ada sofanya) karena lebih sepi daripada di lantai 2. Memang dulu pun saya pernah main di lantai 2 karena meja-meja di lantai 1 penuh. Kalau saya perhatikan, orang-orang yang main di lantai 2 banyak yang memang penggila biliar sejati atau boleh dibilang master-masternya Makassar. Terlihat dari cue stick yang mereka bawa sendiri, terlihat juga dari caranya main biliar. Nah tadi selama mengamati beberapa meja yang digunakan oleh orang-orang, saya juga mengamati cue stick yang mereka pakai. Ada setidaknya 4 orang yang saya perhatikan menggunakan cue Predator. Saya mudah mengidentifikasi cue Predator dari logo harimau yang ada di butt (bagian paling belakang stik biliar).

Memperhatikan hal itu saya jadi berpikir, berarti merek Predator cukup mendapat hati di kalangan pecinta biliar Makassar. Mencoba menganalisis lagi (hmm dasar kurang kerjaan ya saya ini 😀 ), mungkin juga karena ketidaktahuan mereka bahwa ada cue-cue lain yang setara kualitasnya dengan Predator sebut saja misalnya merek Schon dari harga USD$400an sampai USD$1000an. Ya suka-suka mereka sih mau pakai cue apa, paling bijaksana analisisnya = berarti mereka duitnya banyak jadi pakai Predator :))

Di Cirebon, Solo, Batam, saya pernah bertemu dengan orang di tempat biliar yang tahunya cuma Predator. Kalau di Solo dan Batam waktu itu saya sedang tidak bawa cue sendiri, mereka yang ngobrol dengan saya bertanya cue apa yang saya pakai dan sekenanya mereka menduga-duga saya pakai Predator. Kalau di Cirebon lain lagi ceritanya, waktu itu saya main dengan cue sendiri, Joss 101. Joss 101 warnanya abu-abu polos dengan dengan ujung butt berwarna putih. Mungkin kalau dari jauh sepintas Joss 101 saya terlihat mirip dengan Predator 4K1 atau 5K1. Nah di Cirebon ada orang yang sok akrab menyapa saya dengan opening kurang lebih begini “sticknya Predator 4K1 ya?” Dari beberapa kejadian tadi (termasuk pengamatan saya Minggu sore) berarti wajar donk kalau saya berpendapat merek Predator cukup membumi di Indonesia.

Terus jadi ceritanya kamu pengen punya Predator? Memang saya juga masih ngimpi beli Predator BK2 (break cue). Kamu kan masih taraf belajar, ngapain harus pakai cue mahal-mahal? Analogi yang pernah disampaikan Ferry cukup bagus, kurang lebih seperti ini : belajar setir mobil bisa pakai mobil Kijang, bisa juga pakai BMW. Salahkah kalau belajar menyetir mobil dengan BMW, tentu tidak kan? Resiko nubruk lecet-lecet sih pasti ada, tapi kalau sudah punya BMW sendiri lecet ya biarin :-p Terus memangnya kalau pakai cue stick mahal terus langsung jago main biliarnya? Ya gak juga, balik lagi ke analogi nyetir mobil tadi : memangnya kalau belajarnya pakai BMW terus langsung mahir nyetirnya? Gak juga kan. Analogi nyetir mobil ini sepertinya cukup bisa dipakai untuk menjelaskan mengapa beli cue stick mahal. Ya namanya juga analogi yang saya dapat dari seorang pedagang stik biliar =)) Kalau saya yang ditanya ngapain lu pake stik mahal-mahal? Kalau ditanya gitu sih saya santai saja, di otak saya cuma bisa berpikir “ah lu aja sirik gak punya cue stick sendiri” =)) – eh ini bukan sombong loh ya, ini cuma ekspresi karena banyak juga orang yang usil nanya-nanya.

Loh kok lagi-lagi tulisan saya ngelantur begini, tadi awalnya ngomongin Predator kok jadi begini endingnya :-/

Makassar (part 3) – Hotel Quality Makassar

Ketika berangkat ke Makassar, saya hanya diberi voucher menginap 3 hari di hotel Sahid Jaya. Hari Jumat lalu saya minta dicarikan hotel lain untuk tinggal sampai hari Selasa. Jangan di Sahid lagi pokoknya. Dwidaya Travel berhasil memesankan kamar di hotel Quality Makassar. Postingan ini saya buat untuk sedikit mereview soal hotel Quality Makassar.

Saya dan Rachmat datang ke hotel Quality hampir setengah 2 Minggu siang. Setelah proses check in kami diminta menunggu karena belum ada kamar yang siap untuk kami. Siang kemarin hotel Quality terlihat ramai. Lobi hotel tampak dipenuhi tamu, entah tamu hotel atau tamunya tamu hotel. Sekitar 15 menit menunggu mbak resepsionis bilang baru ada 1 kamar yang siap, ya sudah kamar itu untuk Rachmat dulu. Sementara menunggu kamar siap saya duduk-duduk dulu di kamarnya Rachmat. Kasihan Rachmat, kamarnya tidak dingin. Biarpun AC sudah diset maksimum, tunggu punya tunggu suhu kamar masih tidak dingin juga. Malahan lebih dingin hawa di lorong hotel daripada di dalam kamar. Resepsionis berjanji pada saya bahwa kamar saya akan siap dalam 15 menit, faktanya hampir setengah 3 sore kamar saya baru siap. Itupun setalah 2x menelepon resepsionis. Tadinya saya sudah niat kalau sampai jam 14.30 kamar saya tak kunjung siap, saya sudah niat akan menemui manager hotel. Untung sebelum setengah 3 tepat, salah seorang staf resepsionis datang dan mengantarkan kunci kamar saya.

Ok tadi sepintas soal proses check in saya yang lama. Sekarang saatnya membahas tentang hotel Quality. Saya tahu tentang hotel Quality ini dari Pak Nana saat instalasi IN bulan Juli lalu. Waktu itu saya sempat mampir ke kamar Pak Nana yang menginap di hotel Quality. Nah dulu saya lihat kamar Pak Nana menghadap ke pantai dan fasilitas hotspot internet sampai di kamar jadi daya tarik tersendiri bagi saya. Sayang semuanya tidak bisa saya dapatkan sekarang, percuma juga saya merekomendasikan travel untuk mencarikan saya kamar di hotel Quality. Soal hotspot menurut resepsionis, sekarang tidak lagi ada layanan wireless internet sampai ke kamar. Katanya dulu memang ada layanan hotspot sampai ke kamar, cuma berhubung banyak yang komplain sinyalnya putus-putus maka layanan hotspot di kamar-kamar sekarang ditiadakan. Layanan wireless internet hanya ada di lobi dan di restoran. Sial…padahal itu salah satu pertimbangan saya memilih hotel Quality :(( .

Lalu soal view, ada 2 jenis view kamar yang disediakan di hotel Quality; ocean view dan city view (itu kalau menurut brosurnya hotel Quality). Sebenarnya ada 1 tipe kamar dengan spesial view yang tidak dicantumkan di brosur : Tembok View. Ya kali ini saya dapat kamar yang menghadap ke tembok. Entah tembok siapa, masih beruntung Rachmat meskipun kamarnya sedikit panas dia bisa memperoleh kamar dengan pemandangan kota Makassar. Di depan jendela kamar saya, banyak diletakan kompresor AC. Hmm aneh, padahal semua kamar menggunakan AC sentral lalu untuk apa kompresor-kompresor AC itu ya. Dengungan kompresor AC cukup mengganggu saya. Ok sekarang silakan lihat dulu review singkatnya dalam komik ini :

Dibandingkan dengan hotel Sahid, ukuran kamar di hotel Quality lebih kecil (sama-sama kelas Deluxe). Tapi saya kok lebih senang masuk ke kamarnya hotel Quality ini daripada masuk ke kemar hotel Sahid Jaya kemarin. Sepertinya saya memang kurang adil dalam menilai, mungkin saja suasana kamar hotel Quality lebih baik dibandingkan Sahid karena hotel ini relatif berumur muda dibandingkan hotel Sahid yang berdiri dari tahun 1995. Ya tapi tetap saja, saya sebagai konsumen berhak menilai kamar hotel mana yang lebih nyaman untuk ditempati. Eh entah benar atau tidak dugaan saya, sepertinya pemilik hotel Quality ini orang Chinese. Ini sih analisis bodoh-bodohan saja karena saya lihat ada 2 patung kilin di dekat tangga masuk hotel. Kilin itu binatang dalam dongeng klasik Cina, wujudnya adalah perpaduan singa & naga. (Update baru sempat menampilkan foto patung tersebut).

Ah lu ada-ada aja, emangnya orang Chinese doank yang bisa pasang patung Kilin? Ya maaf, namanya juga analisis bodoh-bodohan. Mulai kekurangan materi review kayanya jadi segala patung doank dibahas =))

Apa lagi ya yang bisa dibahas? Hmm..room service. Harga makanan room service menurut saya tidak terlalu mahal. Tadi saya sudah coba makan malam sapi lada hitam (lagi…?? ga bosen-bosen nyoba menu ini..) plus nasi putih harganya sekitar Rp65000,- Ini lebih murah daripada sapi lada hitamnya hotel Singgasana Surabaya. Lebih murah jelas, lebih enak? Tentu tidak…walaupun demikian daging sapi yang dipakai adalah sapi pilihan. Sapinya dipilih dari juara binaraga antar sapi se-Makassar =)) (keras euy dagingnya).

Cukup deh review-nya langsung saja kesimpulan sementaranya saja ya. Kalau head to head Hotel Sahid Jaya versus Hotel Quality, 1-0 untuk Quality…Quality win. Dari mana skor 1-0 itu? Gampang saja, saya ukur dari tingkat ketertarikan saya untuk kembali menginap di sana.

Makassar (part 2) – Hotel Sahid Jaya Makassar

Sejak tiba di Makassar saya tidak sempat mengupdate blog ini. Liputan tentang hotel pun telat saya buat, baru Sabtu malam saya buat liputan tentang hotel Sahid Jaya. Kunjungan ke Makassar kali ini, saya menginap di hotel Sahid Jaya. Tadinya saya minta hotel Singgasana (supaya dapat internet gratis), tapi ternyata Singgasana penuh dan jadilah saya menginap di hotel Sahid Jaya. Yah hitung-hitung mendapat pengalaman baru menginap di hotel lain.

Berikut komik review singkat hotel Sahid Jaya Makassar :

Boleh percaya boleh tidak, selama 3 hari menginap saya sudah bertemu kecoak 5 kali di kamar. Di komik tertulis 3 kecoak, itu masih pakai data statistik kecoak yang lama :-p Tidak lupa saya ambil fotonya, memang susah mengambil foto kecoak yang lari-lari. Mungkin sama halnya dengan Hotel Sahid Surabaya yang pernah saya buat review-nya beberapa bulan lalu, Hotel Sahid Jaya Makassar ini relatif tua sehingga wajar kalau saya menangkap kesan “bulukan” di kamarnya. Hmm…agak susah mendeskripsikan kata “bulukan”; sulit juga mendeskripsikan nuansa tidak fresh yang saya dapat waktu saya masuk kamar. Dari luar memang Sahid Jaya ini terkesan cukup megah, lihat fotonya :

Foto di atas adalah foto yang diambil oleh Rachmat rekan saya Minggu siang (Mat pinjam ya fotonya:-p ). Oh ya saya lupa cerita kalau keberangkatan saya kali ini ke Makassar bersama dengan Rachmat. Kali ini saya membantu Rachmat yang akan melakukan instalasi di Telkomsel.

Hotel Sahid Jaya ini menyediakan fasilitas hotspot (wireless internet) gratis ada di lobi (katanya sih menjangkau lantai 2). Berhubung saya dapat kamar di lantai 5, saya praktis tidak bisa mencoba fasilitas internet gratis tadi selama di kamar. Saya baru sempat mencoba hotspot-nya saat duduk di restoran. Lumayan sajalah ada fasilitas internet gratis walaupun lambat sekali aksesnya. Nah saya juga punya cerita soal restorannya hotel Sahid. Restorannya diberi nama Tanjung Bira Cafe, seperti ini ceritanya : Pelayanan restorannya jangan ditanya, sangat tidak profesional. Jadi ceritanya setelah check out hari Minggu siang, saya pergi ke restorannya untuk makan siang (karena Minggu pagi saya tidak breakfast). Restorannya adalah tempat yang sama yang dipakai untuk sarapan pagi. Pelayanannya di sini super lama. Saya pesan sirloin steak plus iced capuccino. Dari pesan sampai iced capuccino datang butuh waktu hampir 15 menit. Dari waktu saya memesan sampai steak datang butuh waktu hampir 30 menit.

Ketidakprofesionalan pertama, si mbak pelayan datang cuma membawa piring berisi steak dan tempat saos. Dibawa begitu saja dengan tangan tanpa nampan. Hmm…kok kesannya tidak profesional ya. Lucunya lagi dia datang mengantarkan steak tanpa membawa pisau garpu. Ok lah tanpa garpu, karena mungkin dia pikir sudah ada sendok garpu di setiap meja. Lah terus memangnya saya harus makan steak menggunakan sendok dan garpu? Saya diamkan saja dulu, saya pikir si mbak akan kembali lagi membawakan pisau. Tunggu punya tunggu ternyata dia tak kunjung balik lagi. Saya panggil mbak pelayan yang lain minta diambilkan pisau. Cuma minta diambilkan pisau saja lamanya bukan main. Heran, ambil pisau butuh waktu berapa lama sih? Apa dia perlu mengasah dulu pisaunya sampai butuh waktu yang lama? Ok, pisau datang saya siap makan. Tampilan steak di atas piringnya sih memang terlihat ok, tapi soal kualitas steak terbalik 180 derajat dari tampilannya. Ini foto steaknya :

Sirloin steak-nya keras. Ketidakprofesionalan lainnya adalah saat membayar. Saat saya minta bill, ada 2 mbak pelayan di dekat kasir. Saya minta bill kok malah cekikikan (cekikikan = ketawa-ketawa kecil sambil becanda)….benci banget liat orang cekikikan X( . Menyiapkan bill saja lama, eh si mbak datang bukannya membawa bill malah bertanya : “bapak mau bayar cash atau pakai credit card?” Halah…segera saya sodorkan credit card saya. Ini juga makan waktu lama. Tinggal gesek saja kok pakai lama, mereka akhirnya memanggil seorang pria berjas (mungkin manajer restoran) minta bantuan. Entah mereka yang bego tidak bisa mengoperasikan mesin credit card atau karena sebab lain. Ah untung sudah agak kenyang jadi saya tidak terlalu emosi. Saat saya konfirmasi, rupanya ada masalah dengan mesin kartu kredit.

Kapok deh balik lagi ke restoran ini, balik ke hotel ini juga kayaknya saya kapok.