Makassar (part 1) – Makan Di Hokben

Siang ini saya akan berangkat ke Makassar. Kali ini saya berangkat untuk instalasi IN sistem di Telkomsel Makassar. Sambil tunggu pesawat, saya ngeblog dulu…kebetulan kemarin ada 1 komik yang belum saya upload. Ini komik liputan makan-makan tim pwsupport Fujitsu.

Tidak ada momen spesial, hanya makan siang biasa di restoran Hoka-hoka Bento (di gedung BNI 46 Sudirman). Jadi siapa bilang makan-makan harus ada momen kan? Biasanya kan orang-orang pergi makan-makan kalau ada yang ulang tahun, kalau ada yang resign (farewell party), atau kalau ada diskon besar dari kartu kreditnya. Kasihan kan mereka kalau mau makan-makan harus tunggu ada yang ulang tahun atau ada yang resign; atau tunggu diskonan kartu kredit =))

Ancaman Bom Di Kyoei Prince

Benarkah pagi ini gedung perkantoran Kyoei Prince Building telah diancam bom? Pagi ini saya memang berencana tidak akan pergi ke kantor karena siang nanti saya akan pergi ke Makassar. Baru saja saya ditelepon rekan kantor saya, katanya pagi ini Kyoei Prince diancam bom dan semua penghuni gedung diminta keluar dari gedung. Agak sedikit menyesal tidak berangkat ke kantor, kalau saja tadi pagi berangkat ke kantor kan saya bisa foto-foto dulu suasana di sana 😀 Orang-orang panik gak ya? Atau jangan-jangan ini hanya latihan evakuasi saja? Hmm….feeling saya sih ini bohong-bohongan 🙁 Kalau memang si pengancam benar-benar akan meledakkan gedung, ngapain juga dia memberi teror ancaman via telepon? Lihat saja dari sekian banyak kasus bom di Indonesia, berapa banyak yang diawali ancaman di awal?

Update : siang ini semua yang berkantor di Kyoei Prince sudah boleh masuk gedung. Tidak ada bom yang ditemukan di dalam gedung.

Tagihan Telkom Ngaco

Di kamar, saya punya jalur telepon PSTN sendiri. Sejak awal line telepon ini jarang sekali saya pakai untuk menelepon. Line telepon ini saya pertahankan karena saya juga berlangganan Speedy yang notebene butuh saluran telepon sebagai carrier Internet. Pesawat telepon yang ada di kamar saya pun sudah lama tidak pernah saya pakai lagi; pertama karena pesawat telepon itu sudah rusak, kedua karena saya jarang menelepon lewat telepon rumah. Biarpun tidak pernah dipakai untuk bertelepon, tiap bulan saya tetep membayar tagihan telepon (biaya abodemen, dll).

Senin sore saat pulang kantor, saya mendapati tagihan Telkom sudah tergeletak di depan kamar. Seperti biasa saya buka sekadar ingin tahu berapa pemakaian jasa telekomunikasi saya bulan ini. Kasihan juga kan Telkom sudah mengirimkan amplop tagihan kalau tidak dibaca :-p Sambil buka amplop tagihan, saya menduga-duga tagihan bulan ini pasti lebih besar dari biasanya karena ada pemakaian jasa internet Telkomnet Instan selama Speedy saya bermasalah. Benar memang tagihan bulan Oktober ini lebih besar dari biasanya. Tapi yang saya heran adalah adanya perincian tagihan telepon interlokal. Waduh waduh…aneh bin ajaib, siapa yang pakai telepon saya untuk menelepon.

Di bukti perincian tagihan, saya lihat nomor telepon Bogor beberapa kali dihubungi oleh nomor telepon saya. Aneh, saya sama sekali tidak kenal nomor-nomor itu. Pemakaian telepon interlokal ke nomor Bogor itu besarnya hampir seratus ribu rupiah. Yang membuat saya kesal bukan nominal tagihan “tak bertuan” itu, tapi kekesalan saya adalah karena rasa penasaran siapa yang berani pakai nomor telepon saya tanpa ijin saya.

Tidak ada orang di kos yang bisa masuk ke kamar saya selain Bapak kos (karena cuma dia yang punya kunci duplikat kamar). Itupun mustahil kalau Bapak kos yang masuk ke kamar saya dan menggunakan saluran telepon saya. Segera saya hubungi 147, saya ceritakan masalah saya ini. Menurut petugas 147 saya dipersilakan datang ke kantor Plasa Telkom terdekat untuk mengajukan klaim atas kesalahan billing ini.

Memang sih tagihan tersebut sudah dibayarkan oleh Citibank lewat program One Billnya, jadi saya tidak perlu repot untuk membayar satu persatu tagihan telepon, internet, dan telepon seluler saya. Tagihan yang sudah terbayar, tapi dengan data yang salah tentu memicu saya kesal. Citibank tentu tidak tahu menahu bagaimana perincian penggunaan telepon saya. Rasa-rasanya kok kurang worthed sengaja pergi ke Plasa Telkom menghabiskan sekian waktu untuk mengkomplain kesalahan pembayaran sebesar itu. Tapi sepertinya saya memang perlu datang Plasa Telkom untuk memuaskan rasa penasaran saya. Penasaran bagaimana sebenarnya kesalahan billing ini bisa terjadi. Apakah ada orang yang menyadap telepon saya & menggunakannya sendiri? Apakah ada salah sambungan di jaringan telepon milik Telkom sampai-sampai saluran saya tertukar dengan saluran orang lain? Atau memang ada kesalahan pada sistem billing Telkom sendiri?

** ditulis dengan mata benar-benar ngantuk, baru pulang biliar dari jam 10 malam tadi :-p kurang afdol kalau sehari belum ngeblog :)) **

Meja Tanpa Tuan

Apa jadinya kalau karyawan yang sudah terbiasa duduk di meja sendiri harus berebut meja dengan rekan-rekannya? Wacana meja tanpa tuan kurang lebihnya seperti itu. Kebijakan efisiensi baru di kantor saya adalah mengoptimalkan pemakaian meja di kantor. Berhubung banyak engineer-nya yang sering bepergian keluar kota (saya salah satunya), akan ada aturan baru yang membebaskan setiap orang duduk di meja mana saja yang dia mau. Siapa cepat dia dapat, siapa yang datang lebih pagi berhak memilih hendak duduk di meja mana. Kebijakan ini khusus untuk engineer, minijer & manager punya meja/kursi yang tetap (tidak boleh ditempati orang lain).

Katanya alangkah tidak efisiennya meja-meja dibiarkan kosong sementara engineer-engineer berdinas di luar kota. Jadi daripada menambah meja baru tiap kali ada engineer baru, lebih baik manfaatkan meja yang sudah ada….demi kemaslahatan seluruh karyawan katanya seperti itu. Dan kamu setuju Ted dengan rencana itu? Tentu tidak X-( … setelah setahun lebih bekerja dan punya meja sendiri rasanya aneh kalau tiap pagi harus berpindah-pindah meja berebut dengan sesama engineer. Kembali ke kantor tiap saat dari luar kota dan duduk kembali di meja sendiri, sedikit mirip rasanya dengan kembali ke rumah. Semacam private area-lah kurang lebihnya.

“Di kantor lain engineernya juga pindah-pindah kok, tidak punya meja yang tetap”…lah itu kan kantor lain. So what kalau kantor lain begitu?!! Komplain lagi komplain lagi, sadar diri donk siapa lu, apa posisi lu di kantor, kok berani-beraninya komplain terus. Loh bukannya komplain itu salah satu representasi orang jujur? Jujur tapi kurang bersyukur ya jelek juga Ted……

Lalu apa hubungannya wacana meja tanpa tuan dengan komik di atas? Benarkah acara makan siang tadi siang membahas soal meja tanpa tuan itu? Tentu tidak begitu, komik di atas dibuat lebih banyak sisi fiksi dari hasil imajinasi saya saja. Obrolan soal meja hanya berlangsung sebentar saat kami berjalan menuju Solaria di BNI 46. Kenapa pilih makan siang di Solaria? Apakah makanan di sana enak? Bagi saya sih tidak ada yang spesial dengan menu makanan di Solaria, lebih ke tujuan mencari suasana baru saja sih. Bosan makan siang itu itu saja. Tapi Solaria bagi saya tidak bisa dijadikan tempat favorit, pelayanannya lama, rasa makanan biasa saja.

Agak gak nyambung ya tulisannya :-p terlalu banyak komplain sih jadi berantakan deh struktur bahasanya.

Kalender Salah Cetak

Karena bingung mau tulis postingan apa (sebenarnya sudah ada beberapa topik di benak saya), sementara iseng dulu lah :

Kamis lalu saat ingin mengajukan permohonan cuti, saya baru sadar kalau ada yang tidak beres dengan kalender meja saya. Sambil mengisi form cuti, saya lirik kalender untuk memastikan saya mengisi data cuti dengan benar. Ternyata tidak ada tanggal 10 Oktober di lembar kalender bulan Oktober ini 😀 . Payah nih produsen kalendernya, malu-maluin Fujitsu aja. Bayangkan berapa banyak kalender semacam ini yang sudah dibagi-bagikan ke customer.