Alias For Shorten Your Commands

For lazy Unix user like me, it’s quite nice to have private command which short as a replacement for long command. It can be implement by adding alias to replace some commands that too long to be typed. To make the alias permanently, we must registered it in the profile file. In my Ubuntu Linux, I can do that by edit $HOME/.bashrc file.

tedy@tedy-laptop:~$ tail $HOME/.bashrc
....
alias ceklog='tail -100 /var/log/messages'
....
tedy@tedy-laptop:~$ 

After adding that two aliases, I can type ceklog to saving time typing long command 'tail -100 /var/log/messages' Remember : after add item in the .bashrc we must close the current shell first to let the alias works. Look the example below; my alias works like a charm.

tedy@tedy-laptop:~$ ceklog
....
....
Apr 15 14:46:07 tedy-laptop kernel: [19512.722594] usb 1-2: new full speed USB device using uhci_hcd and address 2
Apr 15 14:46:07 tedy-laptop kernel: [19512.910427] usb 1-2: configuration #1 chosen from 1 choice
Apr 15 14:46:07 tedy-laptop kernel: [19513.477569] Bluetooth: Generic Bluetooth USB driver ver 0.3
Apr 15 14:46:07 tedy-laptop kernel: [19513.477666] usbcore: registered new interface driver btusb
Apr 15 14:46:10 tedy-laptop kernel: [19516.500204] usb 1-2: USB disconnect, address 2
Apr 15 14:47:29 tedy-laptop kernel: [19595.184588] sky2 eth0: disabling interface
Apr 15 14:47:29 tedy-laptop kernel: [19595.221700] iwlagn 0000:0c:00.0: PCI INT A disabled
Apr 15 14:47:34 tedy-laptop kernel: [19600.563508] sky2 eth0: enabling interface
Apr 15 14:47:34 tedy-laptop kernel: [19600.568480] ADDRCONF(NETDEV_UP): eth0: link is not ready
Apr 15 14:47:34 tedy-laptop kernel: [19600.575494] iwlagn 0000:0c:00.0: PCI INT A -> GSI 18 (level, low) -> IRQ 18
Apr 15 14:47:34 tedy-laptop kernel: [19600.575836] iwlagn: Radio disabled by HW RF Kill switch
Apr 15 14:47:34 tedy-laptop kernel: [19600.583516] ADDRCONF(NETDEV_UP): wlan0: link is not ready
Apr 15 14:47:36 tedy-laptop kernel: [19602.249848] sky2 eth0: Link is up at 100 Mbps, full duplex, flow control both
Apr 15 14:47:36 tedy-laptop kernel: [19602.250324] ADDRCONF(NETDEV_CHANGE): eth0: link becomes ready

You can see that the alias give me the same output when I executeย  tail -100 /var/log/messages :

tedy@tedy-laptop:~$ tail -100 /var/log/messages
....
....
Apr 15 14:46:07 tedy-laptop kernel: [19512.722594] usb 1-2: new full speed USB device using uhci_hcd and address 2
Apr 15 14:46:07 tedy-laptop kernel: [19512.910427] usb 1-2: configuration #1 chosen from 1 choice
Apr 15 14:46:07 tedy-laptop kernel: [19513.477569] Bluetooth: Generic Bluetooth USB driver ver 0.3
Apr 15 14:46:07 tedy-laptop kernel: [19513.477666] usbcore: registered new interface driver btusb
Apr 15 14:46:10 tedy-laptop kernel: [19516.500204] usb 1-2: USB disconnect, address 2
Apr 15 14:47:29 tedy-laptop kernel: [19595.184588] sky2 eth0: disabling interface
Apr 15 14:47:29 tedy-laptop kernel: [19595.221700] iwlagn 0000:0c:00.0: PCI INT A disabled
Apr 15 14:47:34 tedy-laptop kernel: [19600.563508] sky2 eth0: enabling interface
Apr 15 14:47:34 tedy-laptop kernel: [19600.568480] ADDRCONF(NETDEV_UP): eth0: link is not ready
Apr 15 14:47:34 tedy-laptop kernel: [19600.575494] iwlagn 0000:0c:00.0: PCI INT A -> GSI 18 (level, low) -> IRQ 18
Apr 15 14:47:34 tedy-laptop kernel: [19600.575836] iwlagn: Radio disabled by HW RF Kill switch
Apr 15 14:47:34 tedy-laptop kernel: [19600.583516] ADDRCONF(NETDEV_UP): wlan0: link is not ready
Apr 15 14:47:36 tedy-laptop kernel: [19602.249848] sky2 eth0: Link is up at 100 Mbps, full duplex, flow control both
Apr 15 14:47:36 tedy-laptop kernel: [19602.250324] ADDRCONF(NETDEV_CHANGE): eth0: link becomes ready

To make the alias works for all user in the system, we must register the alias in the /etc/bash.bashrc

root@tedy-laptop:~/bin# vi /etc/bash.bashrc
....
alias ceklog='tail -100 /var/log/messages'
....

Other UNIX/Linux distro maybe have different global profile definition file. Solaris for example, use /etc/profile to store all global profile parameters.

Yellow Duck

Kemarin mampir sebentar di rumah rekan saya Sandi, di halaman rumahnya ada mainan bebek ditaruh di atas jemuran baju. Sepertinya milik keponakannya Sandi. Ada 4 bebek di atas jemuran. Karena saya ke sana sambil membawa DSLR, langsung saya jepret bebek kuning itu. Bebeknya mengingatkan saya pada Mr Bean. Di film Mr Bean versi layar lebar, bebek ini jadi mainan Mr Bean saat dia mandi =)) Ya sepertinya memang bebek ini dirancang sebagai mainan anak-anak saat mandi (atau dimandikan) di dalam bak mandi. Bentuk & warnanya lucu ya…

Soal KTP

Ternyata tidak mudah (dan tidak murah) juga mengurus KTP di Jakarta. Sudah 2 tahun lebih saya tinggal di Jakarta, saya masih tercatat sebagai pemegang KTP Cirebon. Akhir 2008 lalu, KTP saya habis masa berlakunya. Bulan lalu saya mencoba mengurus surat pindah dari Cirebon supaya bisa mengurus KTP Jakarta. Repot juga tinggal di Jakarta dengan membawa KTP Cirebon, susah kalau mau ngurus apa-apa.

Katanya dulu cukup mudah membuat KTP di Jakarta. Sistem “nembak” alias jalur tidak resmi, cukup membayar sekian ratus ribu rupiah kita sudah bisa memiliki KTP di Jakarta.Sekarang katanya sulit mengikuti cara ini. Harus lewat jalur resmi. Resmi di sini maksudnya adalah harus menyertakan kelengkapan dokumen-dokumen. Dokumen yang dibutuhkan antara lain : fotokopi KTP asal, surat keterangan pindah dari kota asal, surat keterangan kelakukan baik dari kepolisian, surat pengantar dari RT/RW di Jakarta, plus pas foto. Saya harus membayar Rp350.000,- untuk biaya pengurusan KTP ini. Oknum Kelurahan Tomang yang memberi tarif sebesar itu walaupun saya sudah mengikuti prosedur pengurusan KTP secara resmi. Katanya biar prosesnya bisa cepat (cepat = 2 minggu). Kalau tidak ada biaya pengurusan ini bisa memakan waktu berbulan-bulan. Waktu saya baca tulisan-tulisan di Internet, tidak sedikit cerita tentang betapa sulitnya (dan mahalnya) pengurusan KTP di Jakarta. Jangankan mengurus KTP dari daerah di luar Jakarta, orang Jakarta yang pindah alamat saja susah sekali mengurus KTP. Kalaupun bisa, tidak sedikit uang yang harus dibayarkan pada petugas kelurahan.

Yang lucu adalah situs ini : http://www.kependudukancapil.go.id/index.php/produk-a-layanan/kartu-tanda-penduduk. Di situs Dinas Kependudukan & Catatan Sipil Pemda DKI, dituliskan tarif pembuatan KTP adalah GRATIS. Gratis dari Hongkong…mungkin gratis kalau saya datang ke kelurahannya ditemani Pak Fauzi Bowo. Kira-kira Pak Fauzi Bowo tahu gak ya kalau anak buahnya semua “bermain” dengan biaya pengurusan KTP? Kalau memang tidak bisa gratis kenapa Pemda menjanjikan pengurusan KTP tanpa biaya.

Beberapa waktu lalu rekan saya juga kena palak oknum kelurahan. Ceritanya dia ingin memperpanjang KTP. Biaya perpanjangan KTP Rp20.000,- tapi oknum kelurahan malah cerita susah karena rumahnya terkena musibah kebakaran. Alhasil teman saya harus “membayar” Rp50.000,- lagi untuk membuat proses perpanjangan KTPnya cepat selesai. Ah maafkan saya kalau jadi berpikiran negatif tiap-tiap berurusan dengan pegawai pemerintahan. Salah siapa kalau saya punya persepsi buruk dengan layanan publik dari pegawai pemerintahan?

The Bucket List

the bucket listSejak Minggu lalu HBO menayangkan film berjudul “The Bucket List”. Ini film benar-benar bagus. Film ini diperankan oleh 2 aktor kawakan Hollywood, Jack Nicholson & Morgan Freeman. Jack Nicholson memerankan tokoh Edward Cole, sementara Morgan Freeman memerankan tokoh Carter. Keduanya diceritakan sebagai dua orang pengidap penyakit kanker stadium akhir. Keduanya sama-sama divonis dokter memiliki harapan hidup yang tinggal beberapa bulan saja.

Edward Cole adalah seorang yang sangat kaya, sebagai seorang ahli kesehatan dia memiliki rumah sakit sendiri. Rumah sakitnya sedikit unik, karena semua pasien ditempatkan dalam kamar yang berkapasitas 2 orang pasien. Di rumah sakit itulah Edward bertemu dengan Carter untuk pertama kalinya. Carter sendiri sebagai orang kulit hitam adalah seorang dari kalangan biasa saja. Carter bekerja sebagai montir selama 45 tahun. Biarpun berprofesi sebagai montir, Carter adalah orang yang cerdas. Keinginannya untuk belajar tidak pupus dimakan usia. Profesi montir diambilnya saat dia keluar dari bangku kuliah yang baru dinikmatinya selama 2 bulan. Dia berhenti kuliah saat Virginia, pacarnya, mengabarkan kalau dirinya sudah berbadan dua.

Edward Cole dan Carter punya cara pandang yang bertolak belakang soal kehidupan. Carter seorang yang boleh dibilang religius percaya akan iman dan kehidupan setelah kematian. Sebaliknya Edward adalah orang yang skeptis, tidak percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian. Karena ditempatkan dalam satu kamar untuk beberapa waktu, Edward & Carter jadi berteman. Carter diceritakan sebagai pria yang setia pada istri dan keluarganya. Edward sebaliknya diceritakan sebagai pria yang gagal dalam membangun keluarganya, terbukti dari 4 kali pernikahannya yang tidak pernah berhasil dan anak perempuan satu-satunya yang membenci dirinya.

Bucket List sendiri adalah sebuah daftar yang dibuat oleh orang-orang yang sedang sekarat. Daftar hal-hal yang ingin dilakukan sebelum ajal datang menjemput. Carter yang sedang terbaring sakit menghabiskan banyak waktunya untuk membaca buku. Selain itu Carter juga menuliskan hal-hal yang ingin dilakukannya sebelum meninggal dunia. Tanpa sengaja daftar ini dibaca oleh Edward. Edward bahkan tertarik dengan yang namanya “the bucket list” dia menambahkan banyak hal dalam daftar tersebut. Beda kepribadian membuat keduanya menuliskan hal-hal yang jauh berbeda dalam daftar tersebut. Misalnya Carter menuliskan ingin mengendari mobil Mustang Shelby 350 (mobil yang diidamkannya sejak muda). Edward menuliskan hal-hal yang lebih gila dalam daftarnya, terjun payung, berburu singa, dll ๐Ÿ˜€

Edward mengajak Carter untuk memulai petualangan mewujudkan satu persatu dari semua daftar itu. Awalnya Carter menolak, tapi akhirnya mereka sepakat bertualang dunia mewujudkan semua hal yang mereka catat dalam daftar itu. Petualangan mereka seru semua, terjun tandem, mengendarai Mustang Shelby 350 di sirkuit, pergi ke Great Wall di China, ke Taj Mahal di India, mengunjungi Piramida di Mesir, melihat singa dari dekat di Afrika, jalan-jalan ke Hongkong, naik ke Gunung Himalaya. Gunung Himalaya adalah obsesi Carter, sayangnya cuaca buruk menghadang mereka untuk sampai ke puncak gunung. Semua petualangan mereka bisa terlaksana karena Edward punya uang banyak. Mereka bepergian dengan pesawat jet pribadi.

Banyak dialog yang cukup berbobot dalam film ini. Salah satunya adalah bagaimana Carter menasihati Edward untuk mencoba membuka hubungan kembali dengan putri tunggalnya. Di akhir petualangan mereka, saat mereka pulang ke Amerika, Carter bekerja sama dengan Thomas (asisten pribadi Edward) diam-diam membawa Edward ke rumah putrinya. Edward marah dan menuduh Carter mencampuri urusan pribadinya. Mereka berpisah di sana, Thomas pun kena pecat karena dituduh mengkhianati Edward. Menjelang akhir film, Carter menjalani operasi kankernya. Sebelum operasi Edward mengunjungi Carter lagi. Mereka bermaafan dan bisa tertawa bersama. Dia meninggal di meja operasi. Carter sudah menuliskan surat untuk Edward, lagi-lagi pesan dalam surat itu adalah supaya Edward menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Akhirnya Edward Cole mau datang ke rumah anak perempuannya. Di sana Edward bertemu dengan cucu perempuannya. Edward meninggal tidak lama setelah Carter meninggal. Keduanya dikremasi, abu jenazahnya ditaruh di dalam kaleng yang kemudian dikubur di puncak gunung Himalaya.

Hmm benar-benar film yang bagus dan layak ditonton. Ada banyak nilai moral yang disampaikan dalam film itu. Dari kacamata saya, nilai-nilai penting itu adalah :

  • Nilai hidup kita ditentukan bukan hanya dari kebahagiaan yang kita capai tapi juga dari seberapa besar kebahagiaan yang bisa kita bawa kepada orang lain.
  • Sahabat bisa jadi tempat orang mendapatkan saran & petuah hidup.
  • Keluarga yang harmonis adalah sesuatu yang perlu diperjuangkan.

Kalau Anda belum pernah menonton film ini, saya sangat merekomendasikan film ini. Selain nilai-nilainya yang luar biasa, film ini bagus juga teknik pembuatannya. Banyak tempat indah di dunia ditampilkan dalam film ini. Film ini termasuk film serius tapi dengan bumbu komedi menjadikannya sempurna. Oh ya, Kopi Luwak dari Indonesia juga masuk dalam cerita film ini. Edward diceritakan gemar sekali minum kopi Luwak. Carter menertawainya karena katanya kopi Luwak itu adalah biji kopi yang keluar dari pantat luwak :)) . Luwak (semacam musang) memakan buahnya, sementara bijinya dikeluarkan lagi bersama dengan kotorannya. Petani kopi mengumpulkannya untuk dijadikan bubuk kopi yang katanya terenak di dunia.

Ah saya tidak pandai menuliskan review film, sebaiknya Anda tonton sendiri film ini ๐Ÿ˜€

Gambar dipinjam dari sini : http://www.facinglife.tv/episode/season_3/episode_10/originals/The%20Bucket%20List.jpg

Motret Pemilu

Kamis pagi saya segaja bangun pagi walaupun malamnya saya baru tidur sekitar pukul setengah 4 pagi. Kamis 9 April 2009 ini serentak di seluruh Indonesia diadakan pemilihan umum untuk memilih “wakil rakyat”. Jam 8 lebih saya bangun tapi baru berangkat ke TPS sekitar jam 10. TPS itu singkatan Tempat Pemungutan Suara bukan Tempat Pembuangan Sampah loh ya ;)). Kalau dipikir-pikir aneh juga penamaannya, kata “pemungutan” memangnya apa yang terbuang sampai harus dipungut-pungut =))

Niat saya bangun pagi bukan untuk ikut memilih tapi untuk memotret. Saya pikir tidak rugi mengabadikan momen 5 tahunan ini. Kebetulan Pak Hendro – bapak kos saya – bertugas sebagai Ketua Penitia Pemungutan Suara. TPS-04 persis berada di depan kos saya di bangunan bekas sekolah yang sudah lama tidak dipakai. Selain TPS-04, bekas gedung sekolah itu juga digunakan sebagai tempat TPS-05. Acara di TPS – 04 dimulai sekitar pukul 7 pagi dan dijadwalkan selesai pukul 12 siang. Saat saya datang ke TPS suasana masih cukup ramai. Warga yang ingin memilih masih berdatangan, tidak berduyun-duyun tapi terus menerus 1 – 2 orang datang.Menurut ketua TPS – 04, cukup banyak juga warga yang tidak terdaftar. Kalau menurut Detik.com, itu terjadi karena buruknya pendataan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Selasa lalu saya baru menerima KTP Jakarta, jadi saya maklum saja kalau belum terdaftar. Wajib maklum donk, lah wong yang jadi warga selama puluhan tahun saja bisa luput dari Daftar Pemilih Tetap. Oh ya sebenarnya saya sudah menuliskan pengalaman saya membuat KTP di Jakarta tapi malah belum saya publish (menyusul saja).

Surat suara yang dipakai di Pemilu legislatif ini besar ukurannya, sepertinya hampir sebesar ukuran lembaran surat kabar. Yang menarik adalah banyak sekali pemilih yang tidak tahu bagaimana cara memilih yang benar. Yang saya perhatikan, ukuran surat suara yang hampir sebesar lembar surat kabar itu cukup menyulitkan pemilih. Petugas TPS beberapa kali membantu warga melipat surat suaranya. Surat suara yang besar itu berisi daftar nama calon legislatif dari masing-masing partai yang ikut Pemilu. Ah saya kok tidak yakin warga yang ikut Pemilu kenal orang-orang itu. Cerita 2 orang rekan saya juga senada dengan opini saya tadi, mereka hanya kenal AM Fatwa di antara sekian nama calon yang tercantum di surat suara mereka. Ah bukan urusan saya juga menilai sistem pemilihan umum di negara kita ini ๐Ÿ™

Seperti Pemilu-Pemilu sebelumnya warga yang sudah selesai mengisi surat suara & memasukannya ke dalam kotak, diwajibkan mencelupkan ujung jarinya ke dalam tinta khusus. Katanya tinta ini tahan menempel di kulit sampai lebih dari 1 hari. Tinta ini diharapkan bisa mencegah warga memilih lebih dari 1 kali….memangnya ada ya orang yang niat memilih sampai 2 kali? Hampir sejam lebih saya berada di area TPS, tapi tidak cukup puas dengan hasil foto-fotonya ๐Ÿ™ . Foto-foto lainnya saya taruh di Flickr.